CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Rubah Betina



"Daisy, apa maksudnya ini. Bukannya kau yang bilang bahwa kakak iparmu mengeluh dengan jumlah pelayan yang terlalu sedikit saat kau berkunjung ke paviliunku?" tanya Tetua Utama.


Daisy yang tidak menyangka Joanna akan menggunakan cara seperti ini mulai gelagapan. Lalu mengarang cerita sebaik yang dia bisa untuk dijadikan alasan. "Tetua, aku memang pernah mendengarnya. Seseorang mengatakan seperti itu saat aku melintas. Aku kira itu adalah kakak ipar. Mungkinkah aku salah dengar?"


"Daisy!"


Tetua meneriakkan nama itu dengan lantang. Dia merasa dipermainkan sebagai seorang tetua sekarang. Padahal dia secepatnya menambah jumlah pelayan untuk menyenangkan Joanna. Tapi ternyata Joanna bahkan tidak membutuhkannya. Ini merupakan tamparan keras untuknya. Juga pembelajaran baru untuknya agar lebih berhati-hati sebelum memutuskan sesuatu dimasa depan.


Ada apa ini sebenarnya. Tidak biasanya Daisy seceroboh ini. Tidak biasanya Daisy melakukan kesalahan seperti ini. Bagaimana bisa Daisy melaporkan hal yang tidak jelas siapa yang mengatakan keluhan itu padanya. Beginikah sikap seorang nona yang terhormat dari Bangsawan Timur miliknya? Sepertinya, mereka harus lebih memberikan kelas lebih panjang soal tata krama untuk nona-nona muda mereka setelah ini.


"Joanna, maaf telah membuatmu tidak nyaman. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak langsung menerima laporan Daisy begitu saja tanpa memeriksa kebenarannya dan mengirim pelayan tambahan untukmu. Aku akan segera menarik mereka kembali. Kedepannya ini akan jadi pembelajaran untukku agar tidak ceroboh lagi," janji Tetua.


"Tetua, aku bisa memaafkan kesalahpahaman Tetua. Tapi seperti yang kukatakan di awal, seseorang mencoba mencelakai anakku. Meskipun Reagan baik-baik saja sekarang, tapi bagaimanapun juga keselamatan anakku sempat terancam. Tidakkah Anda ingin mencaritahu dalang dibalik semua ini dan memberikan hukuman kepada pelakunya?" tanya Joanna.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tetua. Dia sampai melupakan sesuatu yang penting. Apa penyebab mereka ketakutan dan berteriak histeris.


"Tetua, sepertinya Anda tidak tahu apapun. Kalau begitu aku akan menjelaskannya sekarang. Bibi Asha menemukan banyak bubuk gatal yang disebarkan di tempat-tempat yang biasa Reagan gunakan," jelas Joanna.


"Bubuk gatal. Ada hal semacam ini lagi. Siapa yang berani melakukannya?" tanya Tetua.


"Bi Asha, tolong tunjukkan tanganmu. Seharusnya bekas lukamu masih ada karena bibi sempat menyentuh bubuk itu. Tunjukkan pada tetua agar aku tidak dituduh mengatakan kebohongan," titah Joanna.


"Tetua, maafkan saya lancang berbicara. Saya tidak apa-apa karena sudah dewasa. Saya hanya merasa gatal luar biasa diawalnya. Tapi untuk bayi seperti Reagan kita ini pasti sangat menyakitkan. Tetua bisa memeriksa ayunan Reagan atau box bayinya jika tidak percaya," kata Asha.


"Cepat periksa untukku!" titah Tetua.


Beberapa pengawal dan tetua lainnya pun segera pergi untuk memeriksa. Dan kembali secepatnya untuk melapor.


"Tetua, alasanku mengumpulkan mereka sebenarnya karena ini dan kami sudah menemukan siapa pelakunya. Tapi aku belum menginterogasi siapa yang menyuruh mereka. Karena Anda sudah disini, bukankah Anda bisa bertanya pada mereka siapa yang menyuruh mereka?" bohong Joanna.


Langsung mengatakan bahwa Daisy yang menyuruh mereka tidaklah seru. Jadi biarkan Tetua menginterogasinya sekali lagi agar dia puas. Joanna menyingkir. Mempersilahkan Tetua itu duduk. Bukan hanya menyingkir, tapi juga membisikkan sesuatu kepada mereka. "Katakan saja dengan jujur. Aku akan melindungi kalian dan membebaskan kalian dari hukuman yang mungkin akan dijatuhkan oleh Tetua untuk kalian. Tidak hanya itu, aku akan membebaskan kalian. Kalau kalian takut tinggal disini, aku bisa mengirim kalian ke Kota Utara. Di tempat ayah dan kakakku."


"Katakan, siapa yang meminta kalian melakukan ini?" tanya Tetua lantang.


Daisy sempat memberikan tatapan yang tajam kepada mereka. Menyeringai seolah memberikan peringatan bahwa dia akan membunuh keluarganya jika berani menyebut namanya. Tapi pelayan itu tidak takut lagi karena keluarga mereka sudah berada di tangan Joanna.


"Maafkan kami, Tetua Utama. Kami tahu salah. Kami tidak akan melakukan hal keji seperti ini lagi dimasa depan!" kata pelayan.


"Aku sedang tidak ingin mendengar permintaan maaf dari kalian. Aku hanya bertanya siapa yang menyuruh kalian sehingga berani melakukan kejahatan ini. Hanya jawaban itu yang ingin aku dengar!" hardik Tetua. Tidak hanya mengeraskan suaranya, dia juga menghentakkan tongkat kayunya dengan keras. Sangat sukses membuat nyali pelayan itu semakin menciut.


"K-kami ... kami disuruh Nona Daisy!" jawab mereka serentak.


Daisy menggigit bibirnya. Matanya melotot dan tangannya meremas gaunnya kuat-kuat. "Benar-benar tidak berguna. Apa mereka tidak takut aku akan menghabisi keluarga mereka. Apa ancaman yang kuberikan masih belum jelas?" batin Daisy geram.


Daisy mulai mengatur nafasnya. Mencoba bersikap setenang mungkin seolah tidak tahu apa-apa. "Kapan aku menyuruh kalian. Aku tidak pernah meminta kalian mencelakai Reagan," kata Daisy mencoba membela diri.


"Nona, Anda menyuruh kami saat Nona Joanna sedang pergi. Jelas-jelas Anda yang memberikan bubuk itu dan mengirim kami kemari. Apa Anda lupa?" tanya seorang pelayan.


Daisy semakin geram. Tidak ingin rencana jahatnya terungkap, dia pun memberanikan diri melakukan hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Tangannya segera mencabut sebilah pisau dari pinggang seorang pengawal. Lalu mencoba menusuk pelayan yang menyebut namanya sebagai pelaku utama. Tapi Joanna segera menghalaunya dengan menendang tangan Daisy sekeras yang dia bisa.


"Apa yang kau lakukan. Kau ingin membunuh seseorang di depan mataku di paviliunku. Apa aku mengijinkan kau melakukannya?" tanya Joanna.


"Kau?"


"Kenapa kau melakukannya. Apa karena aku memintamu jangan datang dan mendekati William lagi setelah kau mencoba menggoda William hari itu?" tanya Joanna.


Seluruh manusia disana mulai berkasak-kusuk. Tidak menyangka ada kejadian seperti ini. Terlebih dilakukan oleh Daisy yang terkenal memiliki sifat welas asih.


"Aku tidak melakukannya!" kilah Daisy.


"Benarkah. Lalu, kenapa kau menahan keluarga mereka dengan pengawalmu. Kau mengancam mereka dengan keluarganya kan?" tanya Joanna.


"Joanna, apa yang kau katakan sekarang?" tanya Tetua Utama.


Joanna memberikan buktinya. Melakukan panggilan dengan pengawalnya yang saat ini bersama keluarga pelayan itu. Tidak hanya itu, dia masih ada bukti lainnya. Dua orang yang sengaja dia sisakan untuk diserahkan kepada Tetua.


"Bukan aku. Bukan aku yang melakukannya!" kilah Daisy lagi. Sampai kapanpun, dia tidak akan mengakui perbuatannya. Selamanya dia akan tetap mengatakan tidak.


Tetua sangat murka. Tidak menyangka seorang nona yang paling santun melakukan hal seperti ini. Bahkan masih tidak mengakui perbuatannya saat bukti-bukti sudah di depan mata.


"Daisy, cukup! Hanya katakan saja, apa kau benar-benar meminta mereka melakukannya?" titah Tetua Utama.


"Tetua aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apa-apa!" kata Daisy lagi.


"Kalau kau tak tahu apa-apa kenapa kau mencoba membunuh pelayan itu?" hardik Tetua.


"Itu karena mereka berbicara sembarangan. Aku ingin keadilan," kata Daisy.


"Daisy, aku akan menyelidiki ini sekali lagi sebagai keadilan untukmu. Tapi karena kau sebagai tersangka utama saat ini, maka kami harus menahanmu. Pengawal, tangkap Daisy. Kurung dia dan selidiki semuanya. Aku tidak ingin ada sedikitpun yang terlewat," titah Tetua marah.


"Baik!" jawab pengawal. Pengawal segera menangkapnya. Lalu membawanya menjauh.


"Tetua, aku tidak bersalah. Mereka memfitnahku. Tetua, tolong lepaskan aku. Jangan tahan aku?" teriak Daisy disepanjang jalan bahkan meskipun sudah berada di tahanan.


"Joanna, aku akan menyelidikinya dan memberikan hukuman yang pantas jika dia memang terbukti bersalah. Apa dengan begini bisa membuatmu puas?" tanya Tetua.


"Tetua, aku percaya pada Anda. Hanya hukum saja sesuai peraturan yang yang berlaku di sini," jawab Joanna.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Tetua. Pandangannya tertuju pada kelima pelayan yang masih berlutut di lantai dengan wajah ketakutan.


"Aku sudah memberikan hukuman untuk mereka. Aku ingin memberikan kesempatan pada mereka hidup. Melihat anak-anak mereka tumbuh besar dan berbuat baik dimasa depan. Tapi sepertinya akan sulit untuk tetap disini jadi biarkan mereka hidup bebas di Kota Utara," jawab Joanna.


Dasar rubah betina. Hanya itulah kata yang tepat untuk Joanna. Membiarkan Daisy diurus mereka? mana mungkin. Seandainya dia tidak berjanji pada Louise untuk tidak membunuh lagi, Daisy pasti sudah jadi mayat saat ini. Sekarang ini, dia hanya menunggu prianya kembali lalu membiarkan dia yang membereskan semuanya.


...***...