
Marissa membawa Ebra menjenguk Oskar siang ini. Dengan membawa balon di tangan kirinya dan banyak lagi mainan di tas ranselnya, Ebra memasuki rumah sakit dengan perasaan was-was. Takut jika tiba-tiba ada bungkusan putih melompat-lompat di koridor atau lampu rumah sakit yang tiba-tiba padam setelah kedatangannya. Ebra semakin merapat kearah mamanya, saat sebuah ranjang pasien lewat di hadapannya.
"Mama, Oskar akan segera pulang kerumah dan pergi sekolah kan?" tanya Ebra dengan cemberut, berusaha mengalihkan ketakutannya.
"Tentu," jawab Marissa.
Mereka berhenti sebentar di depan ruangan VVIP dimana Oskar dirawat. Marissa mencubit gemas pipi Ebra yang manis, menggodanya sebentar agar dia tertawa, "Ebra, saat masuk nanti jangan memasang wajah cemberut begini, Oskar bisa sedih melihatnya," lanjut Marissa.
Ebra hanya mengangguk tanda setuju, kemudian menunjukkan senyuman di wajahnya.
"Nah, begitu baru benar," puji Marissa seraya mengelus pucuk rambut Ebra. Marissa membuka pintu, dia menangkap Oskar baru saja makan siang disuapi Joanna.
"Oskar!" panggil Ebra, langsung melepaskan pegangan tangan dari mamanya untuk berlari mendekati Oskar yang duduk di bangsal.
"Ebra!" sambut Oskar bahagia.
"Oskar, aku datang menjenguk," lapor Ebra.
"Naiklah!" kata Oskar sambil menepuk ranjang di dekatnya. Oskar tersenyum lebar, Ebra pun langsung melepaskan sepatunya dan naik ke ranjang tanpa menunggu lebih lama.
"Oskar, kapan kau pulang?" tanya Ebra dengan wajah polos dan menggemaskan, lengkap dengan kedua pipi yang kemerahan karena terkena sinar matahari ketika menuju kerumah sakit.
"Mommy bilang aku bisa pulang setelah aku sembuh," jawab Oskar.
"Apa masih lama. Apa kau tahu Oskar, sekolah jadi membosankan. Sangat menyebalkan tidak ada Oskar disana," rajuk Ebra manja.
Oskar hanya tersenyum, menunjukkan gigi-giginya, "aku tidak tahu."
"Oskar, mana yang sakit. Apa disini atau disini?" tanya Ebra penasaran, dia mencoba memegangi dahi dan tangan Oskar, memeriksa apakah benar bagian-bagian itu yang kesakitan.
Oskar patuh saja ketika Ebra memeganginya, "Hidungku yang sakit," jawab Oskar kemudian.
"Ha, hidung? Apa Oskar sakit pilek?" tanya Ebra.
"Mungkin, tapi hidungku mengeluarkan darah bukan ingus. Lalu mataku berkunang-kunang dan tidak ingat lagi setelahnya. Bangun-bangun aku sudah disini," jelas Oskar.
"Apa itu sakit, Oskar?"
"Sedikit," jawab Oskar.
"Sudah ku putuskan, saat besar nanti aku akan menjadi dokter agar bisa mengobati orang sakit seperti Oskar. Boleh kan, Ma?" tanya Ebra. Dia menoleh kearah mamanya yang sejak tadi melihat mereka.
"Ebra boleh menjadi apapun, asalkan itu baik kenapa tidak?" jawab Marissa.
Marissa mendekati Oskar, mengelus kepala anak yang sedang diinfus itu, "Hallo, pangeran kecil, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Marissa.
"Aku baik, Bibi Marissa. Kan ada mommy yang selalu menjaga Oskar," jawab Oskar.
Marissa tersenyum, begitu juga dengan Joanna, "Ebra, tolong temani Oskar bermain sebentar ya. Mama ingin berbicara dengan Bibi Joanna," pinta Marissa kepada Ebra.
Ebra mengangguk setuju. Toh kedatangannya memang untuk bermain bersama Oskar bukan untuk yang lainnya.
"Oskar, aku membawa begitu banyak mainan. Lihat, aku membawa ini, lalu masih ada ini, ada lagi disini, eh ini juga ada," cerocos Ebra.
Dalam waktu yang singkat anak-anak itu sudah sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mengabaikan dua orang tua yang sedang berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan mereka, "Mereka sangat lucu, iya kan, Joanna?"
"Eum," jawab Joanna lirih.
Joanna segera mempersilahkan Marissa duduk di sofa yang ada di samping ranjang. Marissa pun mengikutinya setelah meletakkan sekeranjang buah di atas meja. Di ujung sofa, Marissa melihat Joanna sudah mengemas barangnya. Sesuai rencana, Marissa akan menggantikan Joanna menjaga Oskar siang ini setelah hampir gagal membujuknya habis-habisan. Lalu, Bi Diaz akan membawa Ebra pulang.
Sementara Bibi Diaz datang setiap hari bersama dengan beberapa pegawainya secara bergiliran untuk menjenguk. Sebenarnya Bibi Diaz selalu memaksa untuk menggantikan Joanna, tapi Joanna selalu menolak. Bibi Diaz pun tak punya pilihan selain mengikuti saja kata Joanna. Sebagai gantinya, dia selalu berkunjung pagi dan sore untuk sekedar membawakan makan atau mengantar dan mengambil pakaian kotor.
Tapi hari ini berbeda, Joanna akan pulang sebentar dan kembali malam harinya atas permintaan Marissa, tentu saja masih harus di bujuk Bibi Diaz dan Alexa sebelumnya.
"Bisakah aku tetap disini?" tanya Joanna pada Marissa.
"Joanna, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi tidak baik bagimu terus-menerus seperti ini. Kau butuh mengistirahatkan tubuh dan pikiranmu untuk sejenak, saat ini biar aku yang menjaga Oskar. Tenanglah, aku akan menjaganya dengan baik sama seperti kau menjaga Ebra saat aku tak ada. Lagipula keadaan Oskar sangat stabil sekarang, jadi jangan terlalu cemas, hm?" bujuk Marissa.
Joanna hanya mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya untuk menghampiri Oskar dan Ebra yang masih sibuk dengan mainannya, "Xiao O, mommy pulang sebentar boleh?" pamit Joanna dengan membelai rambut Oskar.
"Kapan mommy akan kembali?" tanya Oskar.
"Mommy akan kembali sebelum malam. Sebagai gantinya, Bibi Marissa akan menemani Oskar sampai mommy kembali," jelas Joanna.
"Eum," jawab Oskar dengan senang.
.
.
.
Tidak lama setelah kepergian Joanna, Marissa kedatangan tamu yang juga sangat peduli pada Oskar. Mereka adalah Nenek Anne, Rose dan Jordan.
Begitu mendengar kabar Oskar sakit, mereka langsung pergi untuk menjenguk terutama Rose. Dia selalu datang setiap hari untuk menemani Joanna, calon menantu idamannya.
Jika hari-hari biasa Rose terlihat kuat dan selalu menyunggingkan tawa di hadapan Joanna, maka hari ini sangat berbeda. Melihat wajah Oskar yang terlihat pucat meskipun masih ceria, itu mengingatkannya pada luka lama saat dia kehilangan anak keduanya. Luka lama itu kembali merajam hati dan perasaannya sebagai seorang ibu.
Rose tak tahan lagi. Perlahan dia mulai menjauh, membiarkan Oskar bermain bersama mertua dan suaminya. Lalu diam-diam keluar dan mulai menangis di depan ruangan.
"Kenapa harus dia?" rutuk Rose jauh di dalam hatinya.
Sebagai seorang ibu yang pernah kehilangan seorang anak, Rose sangat mengerti bagaimana rasanya. Sakitnya bahkan selalu hidup seiring dengan aliran darahnya.
Rose tidak pernah bisa melupakan hari itu, hari dimana sebuah kabar buruk datang disaat Keluarga Matthew sedang berbahagia dengan rencananya untuk menetap di luar negeri. Anak keduanya, Juan Matthew meregang nyawa tepat di depan matanya. Hari-harinya menjadi tak berwarna.
Sampai pada akhirnya warna kebahagiaan itu kembali datang. Bahagianya tak bisa dia sembunyikan lagi semenjak Louise menunjukkan kedekatannya dengan Joanna. Hari-harinya yang awalnya bagaikan bunga yang layu kembali bermekaran dengan banyak kupu-kupu. Rose kira akhirnya akan bahagia, tapi tak ada yang menyangka kabar buruk tentang penyakit Oskar merampas kembali asanya yang sempat naik tahta.
"Tante!" panggil Marissa.
Rose segera menghapus air matanya, rupanya Marissa sudah berdiri disampingnya tanpa ia sadari kedatangannya. Marissa menyodorkan sebuah sapu tangan. Rose menerimanya, kemudian menggunakannya untuk menghapus sisa-sisa air yang menggenang di kedua matanya, "sejak kapan kau datang?" tanya Rose.
"Sejak tante keluar," jawab Marissa.
"Marissa, anak itu akan sembuh kan?" tanya Rose. Matanya kembali memerah menahan tangis yang sempat terhenti.
Marissa memeluk wanita paruh baya itu, menangis bersamaan di lorong yang sepi, "Oskar harus sembuh demi Joanna."
Tidak ada kata apapun diantara mereka setelah itu. Hanya ada tangisan, uluran tangan dan pelukan untuk saling menguatkan. Kedua orang itu terlalu larut dalam kesedihan, sampai-sampai tidak menyadari keberadaan manusia lain yang juga menahan sesak di dadanya. Manusia itu adalah Alexa, yang sejak tadi sembunyi di ujung lorong. Alexa pikir, dia akan menemui Oskar sebentar saja. Tapi sepertinya dia harus mengulur sedikit waktu karena keadaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Alexa kembali berjalan ke ruangannya, tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang lewat dengan pandangan iba. Ya, Alexa terus berjalan dengan menundukkan kepalanya, sampai seorang pria menariknya ke pelukannya.
"Arthur?" kata Alexa kaget. Alexa tidak tahu suaminya sudah berdiri di hadapannya sekarang. Sejak kapan dia datang?
Arthur menghapus air mata Alexa, kemudian menggelengkan kepalanya, "Jangan menangis, anak itu pasti sembuh. Louise pasti menepati janjinya untuk mendapatkan pendonor yang cocok untuk Oskar. Kita tidak boleh kalah dari Louise yang sangat optimis itu kan?" ucapnya pelan kemudian kembali memeluk istrinya.