
"Apa dia sudah tidur?" batin Joanna.
Joanna menarik nafasnya dalam-dalam, lalu meletakkan kembali ponselnya yang sepi di sudut meja. Barusan dia mencoba menghubungi Louise meskipun tidak ada jawaban darinya. Sudah sangat lama Joanna tidak melihatnya. Dia bahkan tidak tahu dimana saja letak luka yang di dapat Louise saat dia melawan Abixz99. Apa sudah normal, apa tidak membutuhkan perawatan darinya. Apa tidak ingin tiupan darinya seperti hari-hari sebelumnya?
Joanna melirik Oskar dan Reagan yang terbaring di kasur. Dua-duanya sudah tertidur lelap. Bahkan mungkin sudah terbuai dengan mimpi-mimpi indah mereka. Melihat mereka semakin membuat Joanna merindukan Louise.
Padahal, Joanna berharap bisa menemani Louise makan siang tadi. Berharap bisa memeluknya dan mencium harum tubuhnya seperti hari-hari yang mereka lewati sebelumnya. Bukan hanya itu, Joanna juga ingin anak-anaknya bergelayut manja dengan ayahnya. Tapi ternyata yang terjadi tidak seperti yang dia harapkan. Bahkan sangat jauh dari yang dia inginkan. Jangankan memeluk, bertemu pun tidak. Hanya Oskar saja yang bertemu Louise, itupun diakhiri dengan drama Oskar yang tiba-tiba meminta pulang tanpa membiarkannya bertemu Louise.
"Ada apa. Apa yang membuatmu marah. Apa kau marah pada daddy?" lirih Joanna.
Sekali lagi Joanna mencium dahi dua anaknya. Sekali lagi mencoba menghubungi Louise. Tapi kali ini ponselnya tidak aktif.
"Apa kau tidak ingin menerima panggilan dariku. Apa aku membuatmu marah. Apa ada kesalahan yang kulakukan?" batin Joanna.
Sangat berbeda dengan Joanna yang galau, Louise malah tenang-tenang saja di villa pribadinya. Sebenarnya dia masih belum tidur. Dia juga belum mengantuk. Dia hanya ingin menikmati waktunya sendiri dengan duduk di bar mini sembari menikmati alkoholnya.
Selain itu, sebenarnya Louise juga melihat saat Joanna meneleponnya. Tapi dia sengaja tidak mengangkatnya. Dia tahu apa yang akan Joanna katakan. Wanita itu pasti akan bertanya kenapa Oskar marah-marah sore tadi.
Setelah beberapa saat akhirnya panggilan itu mati. Louise segera menuang kembali alkohol di gelasnya yang kosong, tapi lagi-lagi teleponnya berdering. Hanya saja kali ini bukan dari Joanna lagi, tapi dari Stella dan anehnya Louise malah mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Louise.
"Aku ingin bertemu denganmu," jawab Stella dari seberang sana.
"Malam-malam begini?" tanya Louise.
"Eum," jawab Stella.
"Besok saja. Aku lelah," jawab Louise.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok!" kata Stella.
Setelah menerima panggilan dari Stella, Louise mematikan ponselnya. Dia tidak ingin diganggu siapapun lagi. Dia lelah, sangat lelah bahkan hanya untuk memikirkan hal ringan saja.
Setelah puas dengan alkoholnya, akhirnya dia bangkit juga. Tanpa tenaga berjalan ke meja dan mengambil sepasang cincin berkilauan yang disimpan di dalam sebuah kotak kecil.
Sebenarnya, Louise membohongi Joanna saat dia bilang akan mengambil barang yang tertinggal di rumah. Louise memang mengambil barang, tapi bukan dirumah. Tapi di sebuah toko perhiasan kelas atas. Dia kesana untuk mengambil sebuah cincin yang telah lama dia pesan. Sebuah cincin yang dia siapkan untuk Joanna. Tapi saat dia ingin kembali, dia bertemu dengan Stella dan berkahir dengan makan bersama.
Louise melihat sepasang cincin itu sangat lama. Memutar-mutarnya sembari memikirkan banyak hal. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Tapi, meskipun sudah menghabiskan waktu sekian lama dan terjebak akan pikirannya, nyatanya Louise masih tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk bangkit, menyimpan kembali cincinnya di dalam kotak dan meletakkannya di sudut terdalam di laci mejanya kemudian memutuskan untuk segera tidur.
.
.
.
"Kenapa tidak bilang kalau ingin datang?" tanya Louise.
"Aku ingin bilang tapi kau tidak mengangkat telepon dariku," jawab Joanna.
"Oh, aku tidak mendengarkannya," kata Louise.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah dan ingin beristirahat," jawab Louise.
Joanna merasa canggung. Bukankah Louise bilang dia bisa datang kemari sesuka hatinya. Lalu, kenapa seperti ada jarak diantara mereka. Biasanya mereka tidak kaku seperti ini. Louise akan menyambutnya dan mencium keningnya. Tapi kenapa hari ini berbeda? Tapi sudahlah, saat ini bukan itu yang ingin dia katakan.
"Kemarin, apa yang kalian lakukan. Kenapa Oskar marah-marah setelah keluar dari sini?" tanya Joanna.
"Joanna, bisakah tidak usah membahas masalah kemarin. Aku sangat sibuk hari ini," jawab Louise dengan membuka lembar demi lembar laporan di mejanya. Dia bahkan tidak lagi melihat Joanna sejak tadi.
"Sangat sibuk sampai tidak membiarkan aku tahu apa yang terjadi kemarin?" tanya Joanna.
"Joanna, apa kau marah karena aku sibuk bekerja?" tanya Louise.
"Bukan seperti itu, Louise. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi diantara kalian kemarin. Aku sama sekali tidak marah," jawab Joanna.
"Bukankah kau ibunya?" tanya Louise.
"Apa maksudmu?"
Joanna tidak mengerti dengan apa yang Louise katakan. Tentu saja dia ibunya tapi apa hubungannya dengan pertanyaan yang dia ajukan pada Louise. Karena Oskar tidak ingin bercerita, maka Joanna ingin bertanya pada Louise. Hanya itu saja sebenarnya.
"Karena kau ibunya bukankah kau seharusnya lebih tahu daripada aku. Beberapa bulan ini sejak aku pergi dia terus bersamamu kan?" tanya Louise.
"Louise?"
"Berapa banyak pelayan yang disiapkan untukmu, Joanna? Bukankah tidak ada pekerjaan lain yang kau lakukan selain menjaga anak. Lagipula menjaga anakpun kau tidak pernah sendirian. Apa saja yang kau lakukan sampai tidak tahu apa yang terjadi dengan anakmu?" cecar Louise.
Joanna tiba-tiba menjadi bisu untuk sesaat. Kenapa Louise tiba-tiba membahas ini. Bukan ini yang ingin dia bicarakan. Ada apa dengan Louise, apa ada masalah. Atau dirinya datang di waktu yang salah. Karena kau iya, dia bersedia pergi dan menunggu sampai Louise tenang kembali.
"Joanna, kalau kau merasa tidak bisa menjaga anak, maka berikan dia padaku. Aku akan meminta mama untuk berhenti bekerja untuk menjaganya," kata Louise lagi.
"Louise, bukan seperti itu maksudku,-"
Joanna mencoba menjelaskannya, tapi Louise sudah lebih dulu memotong pembicaraannya. "Lalu apa?"
"Bukan apa-apa," jawab Joanna.
Entahlah, tapi Joanna merasa hatinya sangat sakit. Ada apa dengannya. Kenapa dia menjadi sangat kasar. Karena merasa waktunya tidak tepat, akhirnya Joanna memilih untuk undur diri. "Maafkan aku. Kau sangat sibuk, tidak seharusnya aku kemari mengganggumu yang sedang sibuk bekerja."
Louise tidak menjawab apapun. Tapi saat itu juga ponsel Louise berdering. Joanna bahkan melihatnya dengan jelas nama pemanggil itu. Entah apa yang dibicarakan oleh wanita bernama Stella itu, tapi yang jelas Louise menjawab akan segera pergi menemuinya sekarang juga. Benar, Louise benar-benar pergi saat itu juga di depan Joanna. Meninggalkan Joanna diruangannya sendirian tanpa kata-kata.
"Inikah yang kau bilang sangat sibuk?" batin Joanna.
Joanna segera bangkit. Segera menyusul Louise sebelum dia kehilangan jejaknya. Apa wanita itu lebih penting daripada dirinya? Baiklah, katakanlah dirinya tidak penting untuk Louise. Tapi apakah Reagan dan Oskar tidak lebih penting dari wanita bernama Stella itu?
Secepatnya, Joanna mengambil ponselnya dan menghubungi Agria. "Kakak, sepertinya aku akan pulang terlambat. Bisakah kakak menjaga Reagan dan meminta ayah untuk menjemput Oskar untukku?" tanya Joanna.
"Bukan masalah, lagipula aku dan ayah tidak sibuk hari ini," jawab Agria dari seberang sana.
Joanna segera mengikuti mobil Louise. Memangnya kenapa kalau Louise ngebut, memangnya kenapa kalau Louise mengemudi dengan kecepatan tinggi. Apa itu bisa menghalangi seorang Joanna untuk mengikuti Louise. Tentu saja tidak, karena Joanna juga bisa melakukan apa yang baru saja Louise lakukan, yaitu kebut-kebutan di jalanan.
...***...