CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Cosplay Jadi Cicak



"Paman Okta, bagaimana?" tanya Joanna melalui sebuah alat yang dia pasang di telinganya. Bukan hanya Okta dan Joanna saja yang memakai alat itu, tapi semuanya.


"Tuan William sudah dibawa oleh mereka sekarang," jawab Okta.


"Aku mengerti. Ingat jangan melakukan pergerakan apapun sebelum aku memberi perintah," kata Joanna.


"Saya mengerti, Nona. Tapi hanya segelas alkohol saja seharusnya tidak masalah kan. Tapi kenapa Tuan William sepertinya sangat mabuk. Apa dia hanya pura-pura?" tanya Okta.


"Paman, aku akan memberitahumu nanti!" jawab Joanna.


Meskipun sudah sangat penasaran, tapi Okta menurut saja. Toh dia juga akan segera tahu apa maksud Joanna barusan. "Baiklah!" kata Okta.


"Paman, bagaimana dengan keempat pengawal yang bersama William itu. Mereka tidak mati kan?" tanya Joanna.


"Tidak, Nona! Mereka hanya tak sadarkan diri. Aku sudah mengatur orang untuk mengurusnya," jawab Okta.


"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Kalau begitu aku harus segera melakukan tugasku. Aku akan menghubungi paman lagi nanti," pamit Joanna.


Kedua orang itu akhirnya menyudahi obrolan mereka. Okta melanjutkan tugasnya mengawasi dan Joanna melanjutkan perjalanannya mencari kamar yang ditempati Daisy saat ini.


"Seharusnya di sini!" kata Joanna.


Wanita itu bukannya berdiri di depan pintu atau mengendap-endap di lorong, melainkan menempel di tembok seperti Spiderman. Tapi tidak sepenuhnya seperti Spiderman karena ada tali pengaman yang melilit pinggang Joanna. Tidak sendirian, Joanna dibantu kelima pria berbadan besar yang saat ini menunggunya di atap. Menunggu Joanna memberikan kesempatan kepada kelima pria itu untuk bersenang-senang dengan seorang nona muda.


Joanna menyempatkan diri untuk melihat ke bawah sebelum sampai di balkon. Lantai lima tempatnya menggantung ini memang lumayan tinggi, tapi hanya dengan ketinggian yang seperti ini masih bisa membuat Joanna berlarian di dinding jika dia mau. Sudahlah, lupakan soal berlarian di dinding. Dia kemari bukan untuk cosplay jadi cicak, tapi memberikan hadiah yang luar biasa keren untuk Daisy.


"Memang sedikit merepotkan, tapi ini cukup mudah," kata Joanna setelah kakinya mendarat dengan sempurna di balkon kamar.


Joanna melepaskan semua pengamanan yang mengikatnya. Lalu membuka pintu geser itu dengan pelan saat memastikan pintunya bisa dibuka dan semuanya aman. "Bahkan Daisy tidak mengunci pintunya. Sepertinya dia sangat ingin cari mati," gumam Joanna dan menyingkirkan peralatan yang sudah dia siapkan untuk membobol tadi.


Di kamar mewah dengan penerangan yang sudah di ganti dengan lampu temaram itu, sayup-sayup terdengar suara tawa dari mulut Daisy. Dari sumber suaranya, seharusnya itu berasal dari ruangan rias dengan lampu yang menyala terang. Terletak di ruangan menjorok di sebelah ruangan yang digunakan untuk meletakkan pakaian dan sepatu.


Joanna memutuskan untuk mengintip. Melihat apa yang sedang Daisy lakukan. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat melihat Daisy sedang siap menyambut William. Berdandan cantik, memakai lingerine transparan yang seksi dan sekarang menyemprotkan wewangian di beberapa titik tubuhnya. Tidak hanya tubuh Daisy saja yang siap. Tapi sebuah alat perekam juga sudah Daisy siapkan di meja.


"Daisy, apa kau ingin mencuri calon suami sahabatku dengan cara seperti ini. Maaf aku harus mengatakan ini. Tapi, masih membutuhkan waktu setidaknya seratus tahun lagi jika kau ingin mencuri William dengan trik seperti ini," batin Joanna.


Selagi Daisy masih menyempurnakan sambutannya untuk William. Joanna segera bersembunyi di salah satu sudut ruangan yang minim pencahayaan.


Ting


Tong


Akhirnya suara bel pintu berbunyi juga. Daisy segera bangkit dan memakai luaran kimono sebelum membuka pintu. Beberapa orang pria tampak tergopoh-gopoh mengangkat William yang mabuk berat ke ranjang untuk dijadikan persembahan kepada Nona Daisy mereka. Lalu langsung keluar setelah pekerjaan mereka selesai. Praktis hanya menyisakan Joanna, William dan Daisy di kamar ini. Tapi yang Daisy tahu sudah pasti hanya dia dan William saja yang ada di kamar ini. Tanpa tahu pengalaman buruk siap menyambutnya beberapa menit lagi.


Daisy akhirnya memulai rencananya. Dia bangkit, melepaskan luaran kimononya begitu saja. Lalu berjalan mendekati kamera yang sudah dia siapkan dan mulai merekamnya. Setelah itu dia naik dan mulai melucuti kancing kemeja William dengan bersemangat. Tidak sabar membangunkan senjata William dan menikmatinya.


Sungguh Daisy yang malang. Dia kira, dia akan segera berpesta dengan membuat William tidur dengannya. Dia kira malam ini akan jadi malam yang panjang dan tak terlupakan untuknya. Dia kira setelah dia menyerahkan rekaman video mereka nanti, dia bisa merebut William dari Joanna. Tapi semuanya harus pupus karena Joanna sudah berdiri di belakangnya sekarang. Membiarkan Daisy menghirup obat bius yang membuatnya jatuh ke pelukan William bahkan sebelum Daisy sempat melihat benda tersembunyi milik William yang Joanna saja sebenarnya tidak pernah melihatnya.


Dengan sudah payah Joanna menyingkirkan tubuh Daisy dari atas William. Menggelindingkannya begitu saja sampai dia bisa merapikan kembali baju milik William.


"Paman Okta, paman sudah bisa menjemput William sekarang!" kata Joanna.


"Baiklah," jawab Okta.


Joanna tersenyum tipis. Kemudian mendekati Daisy yang sudah tidak sadarkan diri. Melihat sekali lagi wanita itu dari ujung kaki dari ujung kepala. "Setelah hari ini, aku jamin kau akan segera jadi orang gila."


Joanna mengambil sebuah bubuk yang telah dia siapkan. Mencampurnya dengan segelas jus yang ada di meja. Mengaduknya perlahan dan memaksa Daisy meminum minuman itu hingga tandas. "Berani menyentuh anakku, berani menjebak William untuk tidur denganmu. Hukuman dariku ini, kurasa sangat pantas kau dapatkan."


Joanna segera menghubungi kelima pria yang menunggu perintahnya di atap. Memintanya segera turun karena sekarang adalah saatnya bagi mereka untuk menjalankan misinya. Misi itu adalah menggantikan peran William. Tidak, bukan itu. Lebih tepatnya adalah menyelinap, merekam dan meniduri Daisy, lalu menyerahkan rekamannya pada Joanna nanti.


"Ingat, kalian harus segera pergi setelah misi kalian selesai. Jangan terlalu lama sampai mereka curiga dan berhati-hatilah!" pesan Joanna saat kelima pria itu sudah turun dan mulai mengeluarkan air liurnya saat melihat Daisy yang molek dan berpakaian seksi.


"Kami mengerti," jawab pria-pria itu tidak sabar.


"Bersembunyilah di balkon sebentar. Aku tidak ingin siapapun tahu apa yang kulakukan pada wanita ini termasuk Paman Okta. Setelah kami keluar, kalian bebas melakukan apa saja," kata Joanna.


Kelima pria itu lagi-lagi menurut. Mereka segera bersembunyi di balkon. Sementara Joanna segera membuka pintu kamar agar Okta bisa masuk. Dengan bantuan beberapa orang akhirnya William kembali di pindahkan.


Selesai sudah. Dengan bantuan Okta, akhirnya Joanna berhasil membawa William keluar dari rumah besar itu. Meninggalkan Daisy disetubuhi kelima pria itu secara bergiliran. Masih bagus kalau mereka pria biasa, masalahnya mereka bukan pria biasa-biasa saja. Karena mereka semua adalah pria-pria yang mempunyai penyakit kelamin.


"Inilah hadiah yang kusiapkan untukmu, Daisy. Kuharap kau menyukainya. Di kehidupan selanjutnya jika kau bisa mengingatnya, ku harap kau tidak akan pernah berani menyentuh orang-orangku," batin Joanna.


Sekali lagi Joanna tersenyum. Kemudian segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi.


Joanna kira semuanya benar-benar berakhir. Joanna kira dia bisa kembali secepatnya dan beristirahat dengan tenang. Tapi sayang sekali sepertinya Joanna harus gigit jari karena tiga puluh menit kemudian beberapa iring-iringan mobil berpapasan dengan mobil yang mereka kendarai.


"Nona, gawat. Mereka adalah rombongan Peter, kakak dari Nona Daisy. Sepertinya mereka baru saja kembali setelah mengantarkan Tetua Utama pulang," kata Okta memberitahu lewat alat mereka.


"Tambah kecepatan kalian dan jangan melihat kebelakang!" titah Joanna pada Okta yang berada di mobil yang berbeda.


Mereka benar-benar melakukannya. Semakin menambah kecepatan dan meninggalkan tempat ini secepat yang dia bisa. Tapi tetap saja akhirnya pria bernama Peter itu curiga dan memerintahkan anak buahnya putar arah dan mengejarnya.


...***...