
"Bagaimana bisa ini terjadi?" batin Anye geram dengan mengepalkan tangannya.
Beberapa bakat telah di gelar tapi tidak ada satupun kabar baik yang dia terima. Jangankan hinaan yang dilontarkan untuk Joanna seperti yang dia harapkan, mereka yang hadir malah menghujaninya dengan pujian yang tidak ada habisnya karena dari sekian banyaknya putri-putri yang mengikuti pertunjukan ini Joanna lah yang jadi pemenangnya.
"Bagaimana aku hebat kan?" kata Joanna dengan menyenggol William dengan sikutnya. Dengan senyum yang sangat lebar dia memamerkan kelihaiannya pada William.
"Sejak kapan kau jadi sehebat ini?" tanya William dengan mengangkat satu alisnya.
"Will, aku ini sudah sangat berbakat sejak dulu. Kau saja yang tidak tahu," jawab Joanna kemudian meminum sebotol air mineral yang diberikan William hingga tandas.
"Untung saja kau menang. Kalau sampai kalah, kau pasti akan di hujat habis-habisan," kata William.
"Mana mungkin aku kalah, tidak ada kalah dalam kamusku. Kalau dia ingin menang dariku, setidaknya dia harus berlatih seratus tahun lagi. Ngomong-ngomong, jangan lupa kau harus siap mengeluarkan uang pribadimu untuk enam orang," kata Joanna mengingatkan.
Enam orang yang dimaksud Joanna siapa lagi kalau bukan dirinya, Louise, William, Marissa dan tentunya dua anak kecil yang semalam sangat ribut karena masing-masing dari mereka saling memperebutkan William dan mengklaimnya sebagai papa mereka.
"Memangnya kau mau pergi kemana?" tanya William.
"Kemana saja. Asal bisa meninggalkan tempat menyebalkan ini beberapa hari saja itu sudah cukup," jawab Joanna.
"Baiklah," kata William mengiyakan.
Pembicaraan mereka sebenarnya tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Tapi entah bagaimana pembicaraan itu terlihat sangat romantis di mata orang. Terlebih saat melihat Joanna tersenyum lebar dan William menyerahkan sebotol air mineral setelah membuka tutupnya.
Romantis dimata orang-orang, tapi terlihat sangat memuakkan dimata Anye. Kalah telak adalah sesuatu yang baru dirasakan Anye seumur hidupnya dan dia tidak bisa menerimanya begitu saja.
Jadi, dia segera menghampiri Joanna dan menawarkan satu pertandingan terakhir. Satu pertandingan tapi dia bisa memanfaatkannya untuk mencelakai Joanna.
"Selamat atas kemenanganmu. Tapi, apa kau berani bertanding sekali lagi?" tanya Anye.
"Lagi?" tanya Joanna.
"Ini berbeda dengan sebelumnya," jawab Anye.
"Pertandingan apa?" tanya Joanna.
"Berenang," jawab Anye.
"Berenang?" tanya Joanna.
"Kenapa, apa kau tidak berani?" tanya Anye.
"Baiklah, atur saja sesuka hatimu," jawab Joanna.
"Kalau begitu, ayo!" ajak Anye kemudian pergi.
"Will, kalau dalam waktu dua menit aku tidak muncul ke permukaan. Kau harus segera turun menolongku ya? Aku tidak mau mati secepat ini dan membuatmu menjadi duda dengan cara yang tragis. Selain itu aku masih punya cita-cita untuk menikah dengan Louise dan menjadi kakak iparmu. Jadi segera tolong aku nanti," bisik Joanna sebelum bangkit dan siap menyusul Anye.
"Joanna, kalau tidak bisa berenang jangan berenang!" cegah William dengan memegang lengannya.
"Tenang saja, asal kau segera menolongku aku tidak akan mati!" jawab Joanna kemudian melepaskan genggaman William.
Joanna segera berlari mengikuti Anye yang sudah semakin jauh meninggalkannya dengan senyum licik.
"Dasar! Benar kata Louise, dia memang susah dikendalikan dan sangat keras kepala. Terserah kau saja. Berenang saja, aku tidak menolongmu saat kau tenggelam nanti. Mati saja kalau mau mati," gerutu William.
Sementara itu, Joanna tidak bisa berhenti tertawa karena dia telah menyiapkan sebuah rencana besar, "Berenang adalah keahlianku yang ke 99. Tapi tidak menyenangkan sama sekali jika aku menang terus kan. Jadi kali ini aku akan berpura-pura tenggelam untuk mengerjai Anye," batin Joanna cekikikan.
"Will, karena wanita sialan itu sepertinya menyukaimu. Maka biarkan aku memberinya pelajaran. Aku akan membiarkannya melihat apa yang akan kau lakukan saat aku tenggelam nanti dan membuatnya cemburu sampai ingin mati. Marissa, kau berhutang terimakasih padaku karena menjaga calon suamimu dari pelakor liar seperti Anye," gumam Joanna lagi.
Setelah beberapa saat beberapa putri bangsawan itu akhirnya berjejer rapi di pinggiran kolam dan siap bertanding.
Setelah aba-aba dimulai dan peluit ditiup, mereka semua langsung terjun ke kolam khusus sedalam lima meter. Kepala mereka bermunculan setelah beberapa saat, tapi tidak dengan Joanna. Dia bahkan masih tetap tidak muncul meskipun peserta lainnya sudah mulai berenang meninggalkan garis start. Yang muncul hanyalah gelembung air yang berasal darinya.
William langsung bangkit. Apanya yang tidak menolong, apanya yang membiarkannya mati. Dia bahkan sudah mulai berlari ke pinggiran kolam.
"Apa Nona Joanna tidak bisa berenang?"
"Apa Nona Joanna tenggelam?"
Beberapa suara ribut mulai terdengar. Beberapa tetua juga mulai panik, terlebih Tetua Utama. Jadi dia segera meminta beberapa pengawal untuk terjun dan membawanya naik ke permukaan.
Tidak ada yang boleh terjadi padanya. Tidak boleh, dia belum melahirkan seorang anak yang di ramalkan. Mana bisa dia mati?
Pengawal segera berlarian untuk terjun, tapi mereka kalah cepat dari William yang saat ini sudah menceburkan dirinya dan menyelam di dalamnya.
"Kau benar-benar sangat merepotkan!" keluh William.
William mencarinya di bawah sana, lalu segera menariknya ke
atas setelah menemukannya.
"Pufftt"
William akhirnya naik ke permukaan. Beberapa pengawal langsung bergerak cepat membantu memindahkan Joanna yang berpura-pura lemas dan menyimpan sedikit air kolam dimulutnya.
Dengan panik, William langsung melakukan CPR. Berharap Joanna segera sadar kembali. William sudah melakukannya berkali-kali, menekan dada itu berkali-kali dengan tangannya tapi Joanna tidak menunjukkan reaksi apapun meskipun sudah menyemburkan air dari mulutnya.
Memang benar dia tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi dalam hatinya mengumpat berkali-kali karena bukan ini yang dia harapkan. Seharusnya William segera memberikannya nafas buatan agar Anye sialan itu melihatnya.
"Tuan William, sepertinya Nona butuh nafas buatan!" kata Okta. Dia sudah panik, sekarang masih lebih panik lagi karena nona yang dia jaga tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
"Maafkan aku, Joanna!" kata William sebelum memutuskan untuk memberikan nafas buatan.
CUP
Momen ketiga itu akhirnya datang. Momen dimana William berkesempatan untuk mencium bibir Joanna tanpa bisa menghindarinya.
"Begini baru benar, Will!" batin Joanna.
"Kenapa dia masih belum bangun?" tanya Tetua yang juga sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"William, cepat beri dia nafas bantuan lagi. Tim medis akan segera datang!" perintah tetua yang lainnya.
William menurut, dia terus memberikan nafas buatannya berkali-kali tapi Joanna tetap tidak bangun juga. Sampai William melihat sekelebat senyum yang sempat terukir di bibir Joanna.
"Oh, kau menipuku? Kau hanya berpura-pura tenggelam dan tidak sadarkan diri kan?" batin William.
"Tuan, kenapa berhenti. Nona bisa mati!" tanya Okta semakin panik.
"William, apa yang kau lakukan?" tanya Tetua saat melihat William malah membuat Joanna bersandar di tangan kirinya.
"Tetua, istriku ini sedikit spesial. Dia tidak akan bangun dengan cara yang biasa," jawab William. Kemudian sengaja menciumnya karena telah membuatnya panik setengah mati.
Joanna langsung membuka matanya. Lalu mendorong tubuh William saat menyadari pria itu malah menggigitnya. Tapi William enggan, dia malah semakin memainkan lidahnya untuk memberikannya sebuah pelajaran dan baru berhenti setelah Okta dan Tetua mengatakan, "Apa ini masih bisa disebut memberikan nafas buatan?"
"Ini nafas buatan gaya baru," jawab William kemudian segera mengangkat Joanna.
"Kalian mau kemana?" tanya Tetua.
"Tetua, aku sangat kepanasan dan aku butuh istriku untuk mendinginkannya," jawab William.
"Will, turunkan aku!" pinta Joanna.
"Tidak akan!" tolak William.
...***...