CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Apa Aku Bisa Menolak?



"Arthur, ada yang ingin ku bicarakan denganmu!" kata Louise.


"Katakan saja!" jawab Arthur santai.


"Tidak disini," tolak Louise. Lalu memberikan sebuah kode agar Arthur mengikutinya. Louise membawa Arthur menjauh, masuk ke sebuah ruangan yang dia gunakan menjamu Sir Alex tadi.


"Apa kau tahu Oskar bukan anak Joanna?" tanya Louise.


"Aku tahu," jawab Arthur.


"Lalu apa kau juga tahu Joanna masih seorang gadis?" tanya Louise tanpa menunda waktu.


"Aku juga tahu," jawab Arthur.


"Dan kau tidak mengatakan apapun padaku. Tidak memberitahuku hal ini?" tanya Louise.


"Ada apa denganmu, jangan mengatakan bahwa aku tidak pernah memberitahumu sebelumnya. Aku memberitahumu tidak hanya sekali," jawab Arthur.


"Kau pernah memberitahuku, kapan?" tanya Louise. Dia tidak pernah merasa Arthur memberitahunya sebelumnya.


"Apa kau lupa apa yang ku katakan padamu hari itu. Aku pernah bilang ingin memperkenalkan seorang gadis untukmu. Lalu, terakhir kali saat di hotel di hari pernikahanku, aku juga memarahimu karena kau masuk ke kamar seorang gadis sembarangan. Aku selalu menyebut Joanna sebagai seorang gadis. Apa pernah aku menyebut Joanna dengan sebutan single mom atau semacamnya?" tanya Arthur.


"Arthur?"


"Louise, aku sudah memberitahumu meskipun secara tidak langsung. Bukankah begitu?" jelas Arthur.


"Ah, kau memang selalu mengatakan seperti itu," kata Louise. Tidak bisa mengatakan apapun karena yang dikatakan Arthur ada benarnya. Hanya saja, dia sangat jengkel diperlakukan seperti ini. Kenapa tidak mengatakan dengan lebih jelas.


"Louise, lalu apa masalahnya. Mau dia punya anak ataupun gadis, bukankah kau tetap menyukainya terlepas dari bagaimanapun kondisinya. Kau ini, membuang-buang waktuku saja," ucap Arthur. Dia bersiap pergi tapi terhenti saat mengingat sesuatu yang penting, "Louise, darimana kau tahu tentang ini. Tidak mungkin dari Joanna bukan?" tanya Arthur.


"Kenapa?" jawab Louise.


"Karena Joanna selalu bersikeras bahwa Oskar adalah anaknya meskipun dokter mengatakan tidak," jawab Arthur.


"Aku tahu dari seseorang," beritahu Louise.


"Apa itu Diaz?" tanya Arthur.


"Bukan, itu orang lain," jawab Louise.


"Siapa?" selidik Arthur.


"Ayahnya," jawab Louise singkat.


"Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Arthur.


"Eum," jawab Louise.


"Sepertinya, kau baru saja mendapatkan restu darinya. Karena sudah begini, maka segeralah akhiri masa lajangmu itu," kata Arthur kemudian pergi.


Louise membiarkan saja ketika Arthur meninggalkan ruangan itu. Lalu juga ikut melangkahkan kakinya dan segera kembali ke kamar untuk mencari Joanna yang sedang membaca bukunya sembari bersantai di teras belakang. Sementara Oskar, anak itu sudah terlelap karena malam sudah sangat larut.


"Joanna?" panggil Louise.


"Eum, ada apa?" tanya Joanna tanpa melihat Louise. Sepertinya bukunya lebih menarik perhatiannya daripada kedatangan Louise.


"Segera nikahi putriku disaat dia belum mengingat masa lalunya jika kau ingin mengikatnya. Karena jika dia ingat, kau bukan satu-satunya calon menantuku."


Sebuah kalimat yang dikatakan Sir Alex terus mengusik pikiran Louise. Menikahi Joanna adalah impiannya, tapi bagaimana jika Joanna menolaknya lagi. Haruskah, dia memaksanya?


"Kau kenapa?" tanya Joanna ketika menyadari Louise hanya diam dan berdiri di tempatnya. Melihatnya, tapi tidak mengatakan apapun juga.


"Joanna, aku ingin kita menikah," kata Louise.


"Apa?" tanya Joanna.


"Aku bilang, aku ingin segera menikah denganmu," ulang Louise.


"Ada apa denganmu, Louise?" tanya Joanna.


"Apa kau menolakku lagi?" tanya Louise.


Joanna menutup bukunya. Lalu berdiri dan berjalan mendekati Louise, "Kau aneh, apa terjadi sesuatu?" katanya dengan mendekatkan wajahnya dan melipat kedua tangannya.


Louise tersenyum, tentu saja ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang sangat buruk, karena ada kemungkinan dia akan gagal memiliki wanita idamannya jika sampai Joanna mengingat masa lalunya. Tapi, Louise tidak memiliki niat untuk memberitahu Joanna. Satu kali ini saja, biarkan Louise menyembunyikan sesuatu yang penting ini dari Joanna.


"Tidak ada. Aku hanya terlalu mencintaimu," jawab Louise.


"Louise, bukankah aku sudah mengatakannya kemarin. Aku akan memikirkannya," kata Joanna.


"Lama katamu, tapi aku baru mengatakannya kemarin, Louise!" jawab Joanna.


"Tapi aku sudah mengatakan ingin menikahimu sejak kita bertemu di toko bunga itu, Joanna."


"Ada apa denganmu. Apa kau takut?" tanya Joanna dengan memegang wajah Louise.


"Aku sangat takut. Aku takut kau berubah pikiran jika terlalu lama memikirkannya," jawab Louise, lalu memegang tangan halus Joanna yang memegangi di wajahnya.


Joanna tidak menjawab apapun, tapi dia bergerak dan berbalik arah. Melihat langit dan ombak di lautan di bawah sana, "Kalau begitu tanyakan saja pada anak itu, kalau dia mau kau jadi ayahnya, maka aku tidak akan keberatan menikah denganmu," kata Joanna.


"Joanna, apa kau tidak memiliki sedikitpun perasaan untukku?" tanya Louise.


"Apa maksudmu, Louise?"


"Apa masih kurang jelas. Aku sedang bertanya, apa kau tidak mencintaiku sedikitpun. Kenapa harus bertanya padanya, apa kau tidak akan menikah denganku jika Oskar tidak ingin aku jadi ayahnya?" jelas Louise.


Joanna tersenyum, kemudian kembali berjalan mendekati Louise yang masih terpaku di tempatnya. Tanpa Louise duga, Joanna memeluknya. Lalu mendongakkan kepalanya dan melihatnya dengan senyum tipis.


Dan, itu terlihat sangat cantik.


"Apa yang kau lakukan, Joanna. Tidak menjawab pertanyaanku, tapi memelukku seperti ini. Apa maksudnya ini, kau tidak sedang menggodaku kan. Karena kalau iya, kau tidak akan bisa lolos malam ini?" tanya Louise dengan menyentuh dagu Joanna.


"Kenapa kau selalu mesum. Siapa juga yang menggodamu?" jawab Joanna tanpa melepaskan pelukannya.


"Lalu?" tanya Louise.


"Meskipun aku mencintaimu, aku tidak akan menikah denganmu jika Oskar tidak menginginkanmu. Karena aku seorang ibu, aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya," jawab Joanna.


"Joanna, apa kau baru saja mengatakan bahwa kau mencintaiku?" ulang Louise.


"Eum," kata Joanna dengan menganggukkan kepalanya.


"Lalu bisakah kau berjanji satu hal?" tanya Louise.


"Janji?"


"Eum, berjanjilah bahwa kau, tidak akan pernah meninggalkanku untuk selamanya," lanjut Louise.


"Itu tergantung apa yang kau lakukan. Apakah kau setia atau tidak," jawab Joanna.


"Aku mengerti," kata Louise.


"Louise, kau berpikir terlalu jauh, bahkan Oskar saja belum memberikan ijin untukmu. Tidakkah kau terlalu percaya diri?" tanya Joanna.


"Joanna, asal kau tahu saja. Oskar itu, dia tidak akan mungkin menolakku," jawab Louise. Siap menundukkan kepalanya untuk menggapai bibir itu. Tapi terabaikan karena Joanna menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.


"Jangan berbuat mesum di depanku!" kata Joanna.


"Joanna, aku tidak mesum. Kau sendiri yang berinisiatif memelukku, aku hanya menyambut apa yang datang," ujar Louise.


"Diamlah, dan jangan bergerak. Ini sangat hangat dan nyaman," kata Joanna.


"Apa kau ingin sesuatu yang lebih nyaman?" tanya Louise.


"Tidak."


"Apa kau tidak ingin mencium calon suamimu?" tanya Louise lagi.


"Tidak."


"Joanna?"


"Pergilah, aku lelah!" usir Joanna dengan melepaskan pelukannya.


"Kau mengusirku dari kamarku sendiri?" tanya Louise.


"Eum," jawab Joanna.


"Baiklah, aku menuruti kata-katamu hari ini. Tapi tidak untuk lain kali," kata Louise kemudian pergi.


Pergi, sebenarnya Louise tidak benar-benar pergi. Karena dia akan menemui William saat ini. Untuk membicarakan masalah penting. Sesuatu yang sudah lama dia cari selama ini.


Sementara Joanna, dia segera merebahkan dirinya di kasur. Melihat Oskar yang sudah sangat lelap dengan tidurnya, lalu bergumam pelan, "Louise, kenapa kau sangat bodoh. Apa aku bisa mengatakan tidak di depanmu. Dan meskipun aku mengatakan tidak, bukankah akhirnya akan sama saja. Kau, akan memaksaku dan tidak akan membiarkan aku menolak seperti biasanya, kan?"


...***...