
"Apa yang sedang kau lakukan, Louise Matthew?" tanya Jordan Matthew dengan memegangi Rose agar tidak jatuh ke lantai. Suara pria paruh baya itu meninggi. Seharusnya ini pertama kalinya Jordan Matthew berani memarahi Louise saat Louise dewasa.
"Pa, ini urusanku!" jawab Louise datar.
Orangtua Louise sengaja datang hari ini karena Rose merasa ada yang salah dengan putra tertuanya. Louise yang sekarang sudah jarang ke kantor, Louise juga tidak pernah lagi membawa Reagan dan Oskar ke rumahnya. Joanna juga sudah tidak lagi sering menghubunginya untuk sekedar menunjukkan wajah Oskar dan Reagan.
Rose datang kemari untuk menemui Louise dan memastikan tidak ada masalah. Tapi Rose harus kecewa berat karena setelah dia masuk yang dia lihat pertama kali adalah Stella dengan perut yang sudah kelihatan membuncit.
"Katakan, apa anak di perut wanita itu anakmu?" tanya Rose dengan suara bergetar. Bukan hanya suaranya yang bergetar tapi juga seluruh tubuhnya juga gemetaran saking marahnya dia.
"Bukan," jawab Louise.
"Lalu kenapa kau membiarkan wanita itu tinggal disini bersamamu? Anakmu itu Reagan, Louise! Bukan yang ada di perut wanita itu!" bentak Jordan.
"Pa?"
"Jadi apa maksudnya ini. Apa maksudnya semua ini. Bagaimana dengan Joanna, bagaimana dengan Reagan dan Oskar. Bagaimana?" teriak Rose histeris.
"Aku tidak menginginkan Joanna lagi," jawab Louise tanpa ekspresi.
"Apa?" tanya Jordan dan Rose bersamaan.
Dua orangtua itu lunglai seketika. Tubuh Rose semakin lemas dan sudah tidak tertolong lagi kali ini. Terjatuh ke lantai begitu saja setelah mendengar jawaban yang keluar dari anaknya.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini, Louise? Apa kau masih manusia. Apa kau masih waras?" tanya Rose dengan suara yang melemah.
"Ma, ini yang terbaik!" kata Louise.
"Baik katamu? Apa mengkhianati wanita itu baik? Kau bahkan sudah punya anak darinya. Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" tanya Jordan.
"Pa, Ma, jangan membahas ini lagi Aku sudah memutusnya. Aku sibuk, aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal!" pamit Louise tanpa menggubris lagi omongan kedua orangtuanya.
Louise pergi begitu saja dari rumahnya sendiri. Meninggalkan orangtuanya yang masih syok dengan apa yang dia katakan. Kemudian segera menghubungi William setelah dia masuk mobil karena ada hal yang ingin dia bicarakan. Tapi lagi-lagi William tidak mengangkatnya sama seperti kemarin. "Apa sih yang bocah ingusan ini lakukan?" gerutu Louise dengan melempar ponselnya.
Louise segera menyalakan mesin mobilnya, mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi untuk menemui William di Kota Bangsawan Timur saat ini juga.
Sementara itu, Rose dan Jordan yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi segera menghubungi Joanna. Tapi tidak ada jawaban meskipun telah menghubunginya berkali-kali. Begitupun saat mereka mencoba menghubungi William.
Ketiga orang itu hanya tidak tahu bahwa ponsel William sedang berada di tangan Joanna saat ini. Lalu segera menyembunyikannya saat melihat William masuk ke kamar mereka.
"Kau sudah selesai sarapan?" tanya Joanna.
"Eum," jawab William. Kemudian sibuk dengan dunianya sendiri.
Joanna mengabaikannya, lalu duduk di depan meja rias seolah tak terjadi apa-apa.
"Jo, apa kau melihat ponselku. Tadi aku mendengar ponselku berbunyi. Tapi kenapa aku tidak bisa menemukannya sekarang?" tanya William sembari mencari keberadaan ponselnya.
"Aku tidak melihatnya," jawab Joanna.
"Bisakah meminjamkan ponselmu untukku?" ijin William.
"Tentu saja," jawab Joanna.
Joanna memberikan ponselnya. Membiarkan William mencari ponselnya dengan bantuan ponsel miliknya. Tapi tidak ada bunyi apapun meskipun panggilannya tersambung karena Joanna sudah mengaktifkan mode silent tanpa getar.
"Kenapa tidak ada?" batin William.
William tidak menyerah. Dia masih terus mencari benda pipih itu. Di kasur, di lemari, di laci, di kamar mandi, di bawah bantal. William sudah mencari di semua tempat tapi tidak berhasil menemukannya. Akhirnya dia duduk di ranjang karena lelah. Tapi pandangannya tertuju ke arah Joanna yang sedang merias diri.
"Kau terlihat senang hari ini," tegur William.
Joanna yang sibuk menyisir rambut di depan meja rias dengan nyanyian kecil itu menoleh. Melihat wajah kacau milik William yang tidak baik-baik saja sejak semalam.
"Apa terlihat seperti itu?" tanya Joanna.
Senang ya?
Tentu saja dia senang. Karena sebentar lagi dia akan bercerai dan menepati janjinya pada Marissa untuk mengembalikan suami pinjamannya tanpa kurang suatu apapun.
"Eum," jawab William.
Pria yang sudah siap pergi mengurus perceraian itu mendekati Joanna karena tidak bisa berpaling dari pancaran ayu seorang wanita yang dia kira akan segera jadi kakak iparnya. Memiringkan kepala dan memperhatikan sedekat yang dia bisa selagi masih ada kesempatan untuk itu.
"Jadi apa yang membuatmu bahagia. Apa karena kita akan bercerai hari ini?" tanya William.
"Bukan," jawab Joanna.
"Lalu?" tanya William.
"Karena akhirnya aku bisa mengembalikanmu pada Marissa dan aku akan segera mendapatkan kebebasanku," jawab Joanna.
"Bukankah selama jadi istriku kau pun sudah mendapatkan kebebasanmu, Joanna?" tanya William tanpa terkontrol.
"Apa maksudmu, Will?" tanya Joanna.
"Di awal pernikahan, mungkin kau merasa terkurung karena pengawasan ketat dari sekumpulan tetua sampah itu. Tapi setelah Reagan menginap di perutmu kau sudah mendapatkan semua kebebasanmu. Tidak, bahkan jauh sebelum itu kau bebas melakukan apapun yang kau mau karena aku tidak pernah melarangmu sedikitpun," jawab William dalam hati.
"Will?" panggil Joanna.
"Eum?" sahut William yang baru sadar dari lamunan singkatnya.
"Apa maksudmu?" ulang Joanna.
"Bukan apa-apa," jawab William kemudian berpindah tempat ke belakang Joanna. Joanna tersenyum tipis saat melihat wajah galau yang William sembunyikan dari pantulan cermin.
"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Joanna ketika tangan William yang kekar merampas sisir yang dia pegang.
"Membantumu menyisir rambut," jawab William.
"Will, kau tidak mungkin menyukaiku kan?" pancing Joanna.
"Bagaimana kalau iya?" tanya William tanpa melihat bahkan tanpa berpikir.
"Maka kau harus siap patah hati," jawab Joanna.
William tidak menanggapi perkataan Joanna. Dia kan sudah cukup lama patah hati. Joanna baru mengingatkannya sekarang, apa tidak terlalu terlambat?
"Setelah kita bercerai nanti, kau harus segera menikah dengan Marissa. Jangan membiarkannya terlalu lama menjadi janda atau orang lain akan mencurinya. Apa kau mengerti, Will?" kata Joanna lagi.
"Lalu bagaimana denganmu. Apa kau juga akan segera menikah dengan Louise dan menjadi kakak iparku?" tanya William. Mengabaikan pembicaraan tentang Marissa dan mengangkat topik yang sama meskipun dengan tokoh yang berbeda.
"Aku tidak terlalu buru-buru untuk menikah lagi. Setelah ini aku ingin menikmati hari-hariku dengan status 'jandanya William' dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menemani dan merawat anak-anak. Lagipula menikah atau tidak bukankah aku sudah seperti menikah?" jawab Joanna.
Joanna tersenyum tipis melihat William yang sudah sedikit lebih baik. "Will, terimakasih!" kata Joanna setelah waktunya dirasa pas.
William yang sejak tadi sibuk menyisir rambut akhirnya mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan terimakasih itu. Sangat simpel, hanya satu kata saja, tapi sukses membuat William melebarkan senyumnya yang sempat hilang.
"Terimakasih untuk apa?" tanya William.
"Untuk semuanya. Membantuku menjaga anak-anak. Memberiku nafkah, memastikan semuanya tercukupi dan masih banyak lagi. Kau tahu, kau sudah seperti suami sungguhan. Aku belum mengatakan terimakasih dengan benar sebelumnya. Jadi aku ingin mengatakannya dengan benar sekarang. Maaf selalu merepotkanmu selama ini, Will!" jawab Joanna.
"Itu adalah tugas suami, apa itu pantas mendapatkan ucapan terimakasih?" tanya William.
"Tentu saja pantas. Oh iya, setelah bercerai denganku nanti, semoga kau hidup lebih bahagia lagi. Membangun keluarga kecil yang sesungguhnya dengan Marissa. Mempunyai anak-anak yang banyak dan lucu. Will, Arthur sudah punya George, Louise juga sudah punya Reagan. Bukankah sekarang giliranmu? Jadi setelah menikah nanti jangan menunda lagi untuk punya anak. Kau sudah berpengalaman menemani melahirkan dan menidurkan anak. Selain itu, kau tidak akan membiarkan Ebra terlalu lama iri setengah mati pada Oskar karena sudah punya adik kan?" kata Joanna panjang lebar.
"Kita belum resmi bercerai dan kau sudah merancang masa depan yang indah untukku. Kenapa kau sangat tidak berperasaan?" keluh William.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Joanna.
"Setidaknya biarkan aku move on darimu, Jo!" jawab William.
"Tapi apa salahnya memberitahumu sekarang?" tanya Joanna.
"Baiklah, aku akan memikirkannya nanti," jawab William.
"Kau ini, memangnya apa lagi yang harus kau pikirkan? Marissa secantik itu, Ebra selucu itu dan uangmu sebanyak itu. Masih ada mama, papa, dan oma yang menanti cucu darimu. Wajahmu juga lumayan tampan jadi segera mengurus surat nikah saja setelah kita bercerai," oceh Joanna.
"Hanya lumayan tampan?" tanya William.
"Kalau aku mengatakan kau tampan kau akan ge-er nanti. Masih mending kalau ge-er saja. Kalau kau baper bagaimana?" batin Joanna.
"Will, ngomong-ngomong sampai kapan kau akan menyisir rambutku?" protes Joanna.
Joanna bangkit. Berbalik arah dan mengambil kembali sisir yang di pegang William. Karena sekarang, sudah saatnya mereka pergi untuk mengurus surat perceraian mereka.
.
.
.
"Ayo!" ajak Joanna. Dia sudah melepas sabuk pengamannya. Siap turun dan masuk ke sebuah gedung untuk mengurus surat perceraian mereka. Tapi terhenti karena William menahan tangannya.
"Jo, tunggu!" tahan William dengan tangan kirinya.
"Kenapa?" tanya Joanna heran.
"Tunggu sebentar saja," jawab William.
"Will, apa ada masalah?" tanya Joanna dengan alis terangkat. Sementara itu tangan kirinya mencoba melepaskan tangan kanannya dari genggaman William.
"Kemarilah, maksudku mendekatlah!" pinta William.
"Kenapa, kenapa aku harus mendekat?" tanya Joanna.
Jujur saja sedikit ngeri saat melihat William serius seperti ini. Terlebih saat menyadari dia gagal melepaskan tangannya dari genggaman pria kekar seperti William. Hal ini mau tidak mau membuatnya mengingat kembali pada peristiwa malam itu, malam dimana William menidurinya semalaman.
"Biarkan aku menciummu!" jawab William.
"Apa?" tanya Joanna.
"Kau tidak ingin mendekat? Kalau begitu biar aku saja yang mendekat," kata William saat menyadari Joanna keberatan dengan permintaannya.
William tidak membutuhkan persetujuan dari Joanna. Karena mau atau tidak William akan tetap menciumnya. William segera melepaskan sabuk pengamannya dan sudah mulai mendekat. Bahkan jarak mereka hanya berjarak beberapa inci saja sekarang.
"W-William, apa yang akan kau lakukan?" tanya Joanna panik. Sangat panik melebihi paniknya saat akan melahirkan Reagan.
"Bukankah aku sudah bilang. Aku ingin menciummu," jawab William.
"Hei, Will! Kita sudah akan bercerai. Jadi jangan begini oke?" tolak Joanna mulai parno.
Mau bagaimana lagi. Posisi ini sangat tidak benar. Bagaimana kalau dari ciuman menjalar ke rabaan dan berakhir seperti malam itu?
"Karena belum bercerai bukankah itu berarti masih ada kesempatan untukku?" jawab William.
"William, sadarlah!" kata Joanna.
William tidak menggubris penolakan Joanna lagi dan langsung mencium bibirnya tanpa permisi. Memang ada perlawanan dari Joanna, tapi sekali lagi apakah kekuatan seorang wanita bisa menandingi kekuatan seorang pria? Selain itu, semakin dilawan William akan semakin brutal. Jadi akhirnya Joanna menyerah dan membiarkannya saja. Toh hanya sebuah ciuman saja apalah artinya. Bukankah mereka bahkan sudah pernah berhubungan badan meskipun William tidak mengingatnya?
Setelah puas menjelajahi bibir itu akhirnya William melepaskannya dan melihat mata Joanna lekat-lekat. Bukan untuk berhenti, tapi untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan ciumannya ke level yang berbeda. Wajah Joanna bahkan sampai merah saking panasnya ciuman dari William di hari perceraian mereka.
"Jo, kenapa mukamu merah. Apa aku membangkitkan gairahmu?" tanya William tepat di telinga Joanna.
"Tidak, aku hanya gerah karena cuacanya panas," jawab Joanna.
"Jo, jangan menipuku. Apa kau pikir aku anak kecil yang bisa kau tipu?" tanya William.
"Will,-"
"Jangan takut, aku tidak akan berebut dengan Louise. Maaf telah membangkitkan gairahmu, selanjutnya selesaikan saja dengan Louise nanti. Dia pasti akan memuaskanmu dengan baik kan?" potong William.
"Will, jangan bicara sembarangan lagi. Sudah kubilang aku tidak bernafsu!" kata Joanna.
William hanya tersenyum melihat Joanna yang terlihat malu. Lalu membelai pipinya seraya berbisik, "Jo, seandainya Louise tidak ada hubungannya denganmu, aku pasti tidak akan menceraikanmu."
"Apa sih yang kau katakan. Will, ada Marissa yang menunggumu. Jadi jangan berbicara sembarangan," kata Joanna.
"Bagaimana kalau seandainya Marissa dan Louise tidak ada?" tanya William.
"Aku tetap akan bercerai denganmu," jawab Joanna.
"Kenapa?" tanya William.
"Karena aku tidak mencintaimu, Will!"
"Kalau begitu, aku hanya bisa memaksamu!" kata William.
Joanna tersenyum tipis, kemudian mencubit hidung William dan memberikannya tamparan ringan.
"Candaan mu terlalu berlebihan, Will. Ayo, kita harus bercerai sekarang juga!" ajak Joanna.
William hanya mengikutinya saja. Tapi dalam hatinya membatin, "Tapi aku tidak bercanda. Aku serius. Seandainya Louise tidak ada hubungannya denganmu, aku pasti akan membuatmu jadi istriku."
...***...