CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Samaran Louise



"Nona dari Kota Utara, apa kau sudah tidak perawan?" tanya Tetua Utama.


Joanna sedikit mengerutkan keningnya, tapi tidak mengalihkan pandangannya dari wanita tua itu. Apakah ini tidak melanggar privasinya? Kenapa orang itu menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi di aula dan di saksikan seluruh anggota keluarga?


"Tetua, apa Anda sedang meragukanku? Dan lagi apa hanya gadis perawan yang boleh menikah dengan William?" jawab Joanna lantang.


Tidak hanya mencoba membela dirinya, Joanna juga mencaritahu masa depan Marissa dalam jawabannya kali ini. Jika yang menjadi istri William harus perawan, lalu bagaimana dengan nasib Marissa yang seorang janda dengan satu anak?


"Kalau kau masih perawan, lalu kenapa tidak ada noda darah di malam pertamamu?" tanya orang tua itu lagi.


Kenapa mereka bisa tahu ada atau tidaknya noda darah?


Oh, Joanna ingat sekarang. Dua orang pelayan mengganti sprei miliknya pagi tadi. Apa pelayan tadi suruhan mereka?


"Tetua, Anda berpikir terlalu jauh. Kami belum melakukannya, jadi bagaimana bisa aku berdarah?" jawab Joanna.


"Kenapa, apa kau masih berharap bisa menikah dengan pria dari keluarga Matthew itu dan menolak William?" tanya Tetua itu lagi.


"Tetua, kemarin kami hanya terlalu lelah," jawab Joanna datar. Sedikitpun tidak takut dan melihat mata para tetua.


"Joanna, karena William sedang tidak ada, maka aku akan memberitahumu sesuatu. William, dia tidak akan pernah mendapatkan statusnya sebagai penerus keluarga sebelum mendapatkan keturunannya darimu. Jadi pernah berpikir untuk mengelabui kami. Selama kau masih belum hamil dan melahirkan, William tidak akan pernah menjadi siapa-siapa disini," kata Tetua tanpa menyembunyikan apapun.


"Apa tetua sedang mengancamku?" tanya Joanna.


"Kami hanya mengingatkanmu agar kau mengerti apa yang disebut dengan peraturan keluarga," jawab Tetua.


"Bagaimana jika ternyata aku tidak bisa melahirkan anak?" tanya Joanna.


"Apa maksudmu?" tanya Tetua.


"Bisa saja aku mandul kan?" jawab Joanna.


"Kalau begitu, dokter terbaik milik keluarga akan segera memeriksamu untuk memastikannya. Jika kau memang tidak bisa, tentu saja kami harus mengupayakan agar kau tetap jadi ibu dari anak-anak milik William nantinya," kata Tetua.


"Tetua jangan khawatir, cepat atau lambat William akan tetap mendapatkan posisinya sebagai pewaris yang sah. Tentang anak, itu hanya soal waktu. Kami hanya ingin menikmati waktu berdua sedikit lebih lama," jelas Joanna.


"Baguslah kalau kau mengerti, kau bisa pergi sekarang!"


"Terimakasih, Tetua!"


Joanna mundur beberapa langkah, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh.


Sementara itu di luar sana, Okta segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Louise. Selain menjadi pengawal pribadi William dan Joanna, dia juga sudah membuat janji dengan Louise untuk bertindak sebagai mata-matanya.


Dia harus melaporkan apapun yang terjadi disana. Tentu saja Okta juga harus melapor kepada William, karena sejatinya mereka berempat ada di kapal yang sama.


"Harus melahirkan seorang anak?" tanya Louise setelah Okta memberitahunya.


"Benar, Tuan. Bagaimana ini?" tanya Okta bingung.


"Aku akan memikirkannya. Jangan lupa segera memberitahu William. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan," jawab Louise dengan senyum tipis kemudian mematikan teleponnya.


Louise berpikir sejenak, memutar kursinya dan memainkan bolpoin di tangannya. Kemudian bangkit beberapa saat setelah menemukan sebuah ide.


"Kalau begitu, aku akan membuat Joanna melahirkan anakku. Dengan begitu semuanya beres. Setelah William mendapatkan posisi itu dan Dark Ocean, mereka bisa bercerai dan aku bisa segera menikahi Joannaku. Lalu kami bisa kembali berkumpul bersama Oskar," batin Louise.


Berbeda dengan Louise yang bisa berpikir jernih dan menemukan solusi meskipun solusinya sangat menyimpang, saat ini William semakin uring-uringan di tempatnya setelah mendapatkan laporan dari Okta.


"Sialan! Kenapa aku harus terjebak dalam posisi ini. Bagaimana mungkin Joanna melahirkan anakku, itu sangat mustahil. Kalau tetap begini kapan aku bisa menikahi Marissa. Kapan Dark Ocean bisa ku dapatkan untuk membantu Louise?" kata William dengan mengacak-acak rambutnya.


"Aku harus segera menemui Tetua untuk mengulur waktu sambil memikirkan cara," katanya pelan.


.


.


.


Joanna duduk di tepian ranjang, membolak-balikkan buku tanpa membacanya. Mukanya terlihat tidak ramah karena berbagai alasan.


Pertama, karena memikirkan tetua yang terlalu ikut campur masalah pribadinya. Kedua, karena William sedang tidak ada dirumah sekarang. Dia sedang pergi menemui Marissa yang katanya kecelakaan. Okta pun bahkan tidak tahu William sedang tidak ada sekarang.


Bukannya cemburu, hanya saja beberapa pelayan menyebalkan itu terus saja mengetuk kamarnya disaat-saat tertentu. Jika mereka tidak melihat William terlalu lama, maka mereka bisa curiga.


Dan yang ketiga, kenapa selalu saja ada yang mengganggu dirinya disaat dia ingin menikmati waktu luangnya?


Seperti saat ini. Hari sudah gelap, Joanna sudah mengatakan tidak ada yang boleh masuk ke kamarnya. Tapi seorang pelayan pria masuk bahkan tanpa mengetuk pintu.


Bagaimana pelayan ini bisa masuk, Joanna ingat selalu mengunci pintu kamarnya.


"Bukankah aku sudah bilang tidak ingin di ganggu?" kata Joanna kepada pelayan itu tanpa melihatnya.


Bukannya menjawab, pelayan itu malah semakin mendekati Joanna. Joanna yang menyadari gelagat aneh itupun langsung berdiri ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah.


"Apa kau sudah melupakanku setelah menikah dengan William?" kata pelayan itu dengan melepaskan samaran juga pakaian pelayannya.


Joanna yang sempat gemetar langsung sumringah. Karena pria yang ada di depannya saat ini ternyata adalah Louise.


"Louise?" sambut Joanna dan memeluknya.


"Sstt, jangan berisik! Pelayan diluar akan mendengar," kata Louise pelan. Matanya melihat sekeliling, mengamati penjuru kamar dengan teliti.


"Aku merindukanmu!" kata Joanna.


"Apa kau sendirian, dimana William?" tanya Louise.


"William pergi menemui Marissa, dia kecelakaan," jawab Joanna.


"Kecelakaan?" ulang Louise.


"Eum," kata Joanna.


"Kenapa, kau terlihat tidak senang?" tanya Louise.


"Sepertinya William akan lama. Aku hanya takut, bagaimana jika mereka menanyakan keberadaan William. Apa yang harus ku katakan?" jawab Joanna.


"Bukankah sudah ada aku disini. Apa yang perlu kau takutkan, hm?"


"Apa kau mau menemaniku?" tanya Joanna.


"Itulah tujuanku kemari, bodoh!"


Joanna memeluk Louise lagi. Meskipun tidak ada William, semuanya pasti akan baik-baik saja asalkan ada Louise disini.


Louise melepaskan pelukan Joanna, kemudian beralih memegangi pipi Joanna dengan kedua tangannya, "Joanna aku merindukanmu."


"Louise, aku bahkan sudah mengatakan lebih awal tapi kau mengabaikannya," protes Joanna.


Louise tersenyum, hanya dengan melihat Joanna kenapa bisa langsung tergoda untuk segera merengkuh manisnya. Kenapa Joanna bisa semenggairahkan ini?


"Joanna, aku punya cara agar kalian bercerai secepatnya. Aku sudah mengatakanya dengan William dan dia bilang setuju apapun caranya," kata Louise.


"Benarkah? Bukankah itu bagus?" tanya Joanna.


"Bagaimana denganmu, apa kau setuju jika aku melakukannya?" tanya Louise.


"Kenapa tidak?" kata Joanna merestui.


"Kalau begitu aku tidak akan sungkan," bisik Louise.


.