CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Calon Mertua Sialan



Louise dan Joanna masih sama-sama diam, tidak saling bersuara meskipun duduk berhadapan di ruangan yang sama. Jika Louise terus-terusan melihat Joanna karena merindukannya, maka yang dilakukan Joanna adalah sebaliknya.


Melihat Louise, adalah sesuatu yang masih sangat dia hindari. Yah, meskipun faktanya sekarang dia sedang membalut luka Louise yang sedikit terbuka karena cengkeraman Arthur di depan pintu tadi. Sakit sudah pasti, tapi Louise tetap harus berterimakasih nanti, karena atas ide gilanya itu membuat Joanna menjadi sedikit iba dan tidak mengacuhkannya sepenuhnya.


Louise menghela nafasnya, mengingat kembali kata-kata yang sempat dikatakan Oskar di pertemuan pertama mereka.


"Mommy tidak mengingat apapun saat aku lahir. Jadi melupakan daddy," kalimat itu adalah yang paling membekas di pikiran Louise saat ini. Menyadari betapa dirinya telah memberikan luka yang dalam untuk Joanna. Kehilangan ingatannya, seandainya saja Louise tahu lebih awal mungkin ceritanya akan berbeda. Seandainya saja dia lebih bersabar lagi, seandainya saja dia tidak meninggikan egonya, mereka pasti tidak perlu bertengkar seperti ini.


"Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku?" tanya Louise pelan tapi berhasil memecah kesunyian.


Joanna diam, tidak menjawab apapun selain fokus pada perawatan tangan milik Louise.


"Joanna?"


"Apa kau tak bisa diam. Kau mengganggu konsentrasiku," potong Joanna tanpa mengalihkan pandangannya.


Louise langsung diam, menutup mulutnya rapat-rapat meskipun banyak sekali yang ingin dia katakan. Presdir yang dihormati, CEO terkaya atau jabatan mentereng yang dia punya nyatanya tidak membuatnya berani melawan Joanna yang sudah terlanjur marah. Saat ini, dia hanya berharap Joanna segera menyelesaikan balutannya dan mulai membicarakan masalah mereka.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Joanna telah sampai pada ikatan terakhirnya. Menarik kembali kemeja yang sempat tergulung dan tak lupa mengaitkan kancingnya.


"Apa aku bisa bicara sekarang?" tanya Louise.


"Tidak perlu menemuiku lagi," kata Joanna singkat, masih tidak melihat Louise tapi tangannya cekatan merapikan kotak obat.


"Jika aku melakukannya, apa kau akan memaafkanku?" tanya Louise buru-buru sebelum Joanna berubah pikiran.


"Mungkin, aku bisa," jawab Joanna.


"Baiklah," kata Louise tanpa banyak berpikir.


Jawaban Louise rupanya membuat Joanna menghentikan aktivitasnya. Mulai melihat Louise yang sejak tadi dia abaikan meskipun sudah memohon-mohon untuk dimaafkan.


"Apa dia benar-benar akan pergi. Ini tidak seperti Louise yang biasanya, keras kepala dan selalu menang sendiri. Tapi kenapa, aku sedikit tidak rela dia menyetujui permintaanku?" batin Joanna. Joanna tersenyum tipis, menolak dengan keras bahwa sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Ada apa denganku. Bukankah ini yang ku mau?" batinnya lagi kemudian pergi untuk meletakkan kotak obat di atas meja.


Sementara itu, Louise juga tersenyum, tapi tidak lagi melihat Joanna, "Joanna, apa kau baru melihatku setelah aku bilang akan pergi. Kau ini, kenapa benar-benar menyebalkan dan keras kepala. Tapi, kau yang begini membuatku semakin menyukaimu," batin Louise sembari melihat Joanna yang saat ini membelakanginya.


"Ingatlah kata-kata yang kau katakan padaku hari ini, Joanna. Bahwa kau, akan memaafkanku jika aku tidak menemuimu lagi," kata Louise memperingatkan.


"Aku, pasti akan mengingatnya," jawab Joanna. Sedikit bergetar, tapi berusaha menyembunyikannya. Matanya masih melihat Louise dari pantulan cermin tapi juga sudah merindukannya. Dan mulutnya masih terlalu gengsi untuk mengatakan 'aku membencimu, tapi juga merindukanmu beberapa hari terakhir ini.'


Louise menyunggingkan senyum kemenangan begitu mendengar apa yang Joanna katakan. Lalu bangkit untuk memakaikan jasnya untuk Joanna.


Joanna menoleh, "Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna.


"Menutupi punggung indahmu," jawab Louise lalu menarik tangan Joanna seperti biasanya.


"Louise. Maksudku adalah, kenapa kau masih tidak pergi juga?" tanya Joanna.


"Joanna, maaf aku lupa bilang. Aku memang tidak akan menemuimu, tapi itu baru dimulai besok," jawab Louise tepat di hadapan Joanna.


"Louise, kau?"


"Joanna, tidak bisakah kau sedikit saja memberikan toleransi di hari pernikahan temanmu?" tanya Louise, "ayo, Oskar kita sudah menunggu," ajak Louise kemudian menggenggam tangan Joanna dan membawanya pergi.


"Jaga bicaramu, dia itu milikku bukan milik kita," protes Joanna.


"Tapi bukankah kau juga sudah mendengarnya, dia selalu memanggilku daddy. Bukan hanya kau, bahkan semua orang yang ada di bawah juga tahu itu," respons Louise tanpa beban.


"Joanna, kau sendiri yang mengatakannya. Kau akan memaafkan aku jika aku tidak menemuimu lagi. Tapi, kau tidak mengatakan kalau aku tidak boleh menemui Oskar bukan. Lalu, asalkan aku mendapatkan hati Oskar seperti biasanya, bukankah pada akhirnya aku juga bisa mendapatkanmu. Lalu, setelah ini aku harus membuat perhitungan dengan pria tua sialan dari Kota Utara itu. Kenapa ayahmu itu sangat keterlaluan. Jelas-jelas sudah mengundangku makan dan mengulurkan tangan untuk membantuku, tapi kenapa tidak mengatakan bahwa kau adalah anaknya. Karena ketidaktahuanku itu, aku bahkan sempat mengancam dan berbicara tidak sopan padanya. Bukankah aku terlihat seperti calon menantu yang sangat kurang ajar sekarang. Tapi memangnya kenapa, itu bukan salahku tapi salahnya karena tidak mengatakan apapun juga. Benar-benar calon mertua sialan!" batin Louise geram.


.


.


.


Marissa termenung di depan meja riasnya. Sama seperti Joanna, dia pun juga sudah selesai dengan riasannya dan menikmati waktu sebelum turun kebawah. Marissa terlihat tenang, tapi sebenarnya juga tidak.


"Joanna, aku tidak menyangka bahwa kau sebenarnya seorang putri," batinnya.


Marissa menarik nafasnya panjang, mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu saat dia bertemu dengan Alexa dan Joanna di sebuah cafe.


Flashback On


"Apa, dipecat, kenapa?" tanya Joanna dan Alexa bersamaan ketika Marissa baru saja bercerita bahwa dia dipecat dari perusahaan.


"Aku tidak tahu," jawab Marissa.


"Aku akan menghubungi Arthur secepatnya. Aku ingin dia memeriksa mungkin ada yang salah tentang pemecatanmu," ujar Alexa marah.


Alexa mengeluarkan ponselnya bersiap menghubungi Arthur tapi ditahan oleh Marissa, "Jangan lakukan!" larang Marissa.


"Kenapa?" tanya Joanna.


"Kau ini sedang diperlakukan tidak adil, Marissa!" ucap Alexa.


"Mungkin Tuhan sedang memberikanku waktu untuk merawat Ebra," kata Marissa sedikit putus asa.


Jawaban Marissa membuat Alexa tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini Marissa memang terlalu sering meninggalkan Ebra. Mungkin benar apa yang dikatakan Marissa barusan, terlebih Ebra saat ini sedang lucu-lucunya di masa pertumbuhannya.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Joanna.


"Rencana, tentu saja merawat Ebra-ku dengan sepenuh hati," jawab Marissa dengan senyuman.


"Marissa, kau baik-baik saja kan?" tanya Alexa.


"Al, apa yang kau katakan. Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Marissa.


"Baguslah kalau kau baik-baik saja. Aku senang mendengarnya," kata Alexa, lalu memeluk Joanna dan Marissa bersamaan. Lalu, ketiga sahabat itu pun menyudahi pertemuannya dengan pelukan.


Jika Joanna dan Alexa harus pergi, maka Marissa masih belum meninggalkan tempat itu. Dia tenggelam dalam lamunannya, bukan melamunkan tentang dirinya yang kehilangan pekerjaan tapi melamunkan William.


"Apa aku sedang patah hati?" gumam Marissa sembari memutar-mutar sedotannya.


"Nona, bolehkah aku bergabung?" tanya seorang pria paruh baya dengan sangat sopan.


"Eh, silahkan!" jawab Marissa mengiyakan.


"Maaf, sebenarnya aku tidak menguping. Tapi aku mendengar kau baru saja kehilangan pekerjaan. Kalau kau mau, apa kau mau bergabung di salah satu perusahaan milikku?" tanya pria tua itu tanpa basa basi.


"Kenapa Anda menawarkan pekerjaan padaku?" tanya Marissa keheranan. Mereka tidak saling kenal, pria ini tidak memiliki niat buruk kan?


"Karena aku tahu kemampuanmu yang luar biasa. Terlebih, kau adalah salah satu teman putri kesayanganku," kata pria tua itu memberi penjelasan.


"P-putri?" tanya Marissa.


"Iya, putriku Josephine. Tapi kalian memanggilnya dengan nama yang lain, Joanna."


"Apa?" tanya Marissa tak percaya.


"Bisakah aku memikirkannya dulu, Tuan?" tanya Marissa.


"Tentu, dan bisakah ini menjadi rahasia kita?" tanya Sir Alex.


"Anda tidak ingin Joanna tahu bahwa ayahnya selalu berada di dekatnya?" tanya Marissa.


"Tentu saja aku ingin, tapi waktunya tidak tepat. Tidak banyak yang bisa ku ceritakan. Tapi untuk saat ini, inilah yang terbaik," jawab Sir Alex.


"Aku mengeri, Tuan!"


"Aku menunggu kabar baik darimu," pamit Sir Alex sambil menyodorkan sebuah kartu nama kemudian pergi.


Marissa mengambil kartu nama itu, membuka matanya lebar-lebar begitu tahu bahwa yang berbicara dengannya barusan adalah salah satu keluarga bangsawan. Marissa masih tidak mengira bahwa Joanna ternyata berasal dari keluarga yang tidak sembarangan. Meski tidak sekuat Matthews Group, tapi keluarga ini memiliki bisnis yang sangat menjanjikan di Kota Utara.


Flashback off.


"Joanna, aku pernah sangat prihatin dengan keadaanmu yang melupakan ingatanmu. Tapi, akhirnya aku senang karena sebenarnya ayahmu tidak pernah meninggalkanmu sedikitpun. Baiklah, aku sudah memutuskan. Aku akan menerima tawaran dari ayahmu untuk bergabung dengannya," lirih Marissa kemudian bangkit untuk turun karena acara hampir dimulai.


.


.


.


"Kau kenapa?" tanya William saat melihat Arthur datang untuk menemuinya tapi dengan wajah yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Bukan apa-apa. Hanya tidak menyangka Louise itu ternyata sangat bodoh karena tidak tahu siapa ibunya Oskar," jawab Arthur.


"Kau tahu Oskar?" tanya William.


Arthur melirik kearah William, kenapa dua temannya ini bisa menanyakan sesuatu yang sangat menyebalkan, "Aku sangat tahu," jawab Arthur. Tidak ingin tensi darahnya naik di hari pernikahannya sekarang ini.


"Itu bukan salah Louise. Bagaimana dia bisa tahu siapa ibunya Oskar, mereka kan belum pernah bertemu. Tapi Louise sudah mengatakan akan menerima undangan makan darinya beberapa hari kedepan," bela William.


"Will, kenapa kau juga bodoh?" protes Arthur.


"Kenapa aku juga ikut-ikutan kau bodoh-bodohkan?" protes William tak mengerti.


"Apa kau masih ingat siapa yang Louise bawa ke perusahaan waktu itu?" tanya Arthur.


"Gadis itu, meskipun aku belum pernah melihatnya tapi seharusnya namanya Joanna kan?" jawab William.


"Apa kau tahu Joanna itu siapa?" tanya Arthur.


"Tentu saja wanitanya Louise," jawab William.


"Bukan itu maksudku. Begini, dia memang wanitanya Louise, tapi masih ada yang kurang," kata Arthur.


"Apa yang kurang?" tanya William.


"Dia itu ibunya Oskar," jelas Arthur.


"I-ibunya Oskar. Oskar yang sering kami temui itu, yang hari ini memanggil Louise dengan sebutan daddy?" tanya William memastikan.


"Eum," jawab Arthur.


"Arthur, apa jangan-jangan Louise itu benar-benar daddynya Oskar?" tanya William mulai berprasangka.


"Will, kau berpikir terlalu jauh. Aku akan memberitahumu sesuatu. Oskar itu, tidak mungkin anak Joanna dengan Louise," kata Arthur meyakinkan.


"Kau berbicara seolah tahu saja," cibir William.


"Will, aku memang tahu kok. Makanya aku memberitahumu," jawab Arthur, "Will, ngomong-ngomong kenapa kau juga membawa-bawa Ebra bersamamu?" tanya Arthur ketika melihat Ebra selalu menempel pada William. Meskipun saat ini bocah itu sedang duduk dan fokus pada mainannya yang entah dia dapat dari mana bersama Rose dan Jordan.


"Mau bagaimana lagi, dia bilang ingin ikut denganku. Tapi, kenapa kau bisa kenal dengannya juga?" tanya William.


"William, ibunya Ebra kan temannya istriku. Makanya dia disini sekarang karena ibunya ada diatas," jawab Arthur.


"Sepertinya kau sangat populer di mata ibu-ibu muda," kata William mengalihkan pandangannya. Melihat banyaknya tamu yang hadir di bawah sana. Tapi sialnya malah melihat sosok yang Marissa yang membuatnya patah hati dari kejauhan. Arthur pun sama, karena Ebra ada disini Arthur pun memanggil Marissa.


"Marissa, kemarilah!" panggil Arthur.


"Kenapa kau memanggilnya?" tanya William.


"Memangnya kenapa?" tanya Arthur.


"Kalau dia kemari, suami dan anaknya juga akan kemari kan?" protes William.


"Hei, apa kau menyukainya?" tanya Arthur.


"Apa kau gila. Dia sudah memiliki suami kan?"


"Apa menurutmu suaminya akan bangun dari kubur?" tanya Arthur.


"Apa maksudmu, Arthur?"


"Suaminya sudah meninggal saat dia hamil anak pertamanya," jelas Arthur.


William terdiam, kalau suaminya sudah mati lalu siapa pria yang dilihatnya beberapa hari yang lalu?


"Tapi, bisa saja suaminya yang baru datang bersamanya kan. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya pergi dengan seorang pria dengan membawa dua anak," jelas William.


"Kapan?" tanya Arthur mulai dongkol.


"Mungkin seminggu yang lalu," jawab William.


"Dimana kau melihatnya?" tanya Arthur lagi.


"Di sekolah tempat Oskar dan Ebra bersekolah," jawab William.


"Apa itu siang hari?" tanya Arthur lagi.


"Eum," jawab William tanpa tenaga.


"Lalu, apa kau tahu siapa dua anak yang bersamanya saat itu?"


"Aku tidak melihatnya dengan jelas," jawab William.


"Anak-anak itu adalah Oskar dan Ebra. Lalu, apa kau tahu siapa pria yang kau tuduh sebagai suami barunya itu?" tanya Arthur.


"Tidak," jawab William.


"Itu aku, bodoh!" kata Arthur.


"Apa?" tanya William kaget.


"Lain kali, pastikan kau membawa dan memakai kacamatamu itu dengan benar. Hari itu aku sengaja menjemput mereka untuk membawanya ke rumah istriku," jelas Arthur.


...***...