
Joanna duduk dengan manis di mobil, menopang kepalanya dengan tangan kirinya dan memutar lehernya untuk melihat Louise dengan banyak pertanyaan yang tertahan di benaknya. Bagaimana bisa perusahaan itu bangkrut hanya dalam hitungan menit setelah Louise menelepon seseorang. Sebesar apa pengaruh Louise? Seberapa hebatnya dia yang sesungguhnya?
Joanna memainkan kuku-kukunya, ada sedikit penyesalan di hatinya karena dia sudah masuk kedalam jangkauan Louise yang terhormat. Jika saja Joanna tahu Louise bisa melakukan hal seperti itu lebih awal, Joanna memilih untuk tidak menghubunginya lagi setelah tragedi pemberian jas hari itu.
Joanna memukul kepalanya ringan, semakin tenggelam dalam pikirannya. Kalau memang benar Louise adalah pria yang memiliki kekuasaan sebesar ini, bukankah berada di dekatnya sama dengan mengantarkan satu-satunya nyawa yang dimilikinya?
Tiba-tiba Joanna merindukan kehidupannya sebelum bertemu dengan Louise. Menjalani hidupnya yang tenang dan nyaman dengan Xiao O kesayangannya dan orang-orang yang selalu ada untuknya. Tanpa harus tahu apa itu menghancurkan dan dihancurkan.
Ah, Joanna benar-benar merinding sekarang. Bisa saja ribuan wanita penggemar fanatik Louise menyerbunya setelah ini kan? Bukan hanya mereka, tapi barangkali juga musuh-musuhnya.
Tidak boleh, Joanna tidak boleh berada di dekat Louise lebih lama lagi. Dia harus segera memenuhi janjinya untuk mentraktir makan kemudian mengakhiri semuanya sebelum hal buruk terjadi. Bagaimanapun juga, Oskar masih kecil. Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, pada siapa lagi Oskar bergantung sementara ayahnya saja masih Joanna lupakan?
"Kau kenapa?" tanya Louise saat menyadari Joanna tidak mengeluarkan sepatah katapun meski sudah duduk disebelahnya sejak tadi.
Saat ini Louise sedang duduk di bangku kemudi dengan tenang, menggerakkan kaki dan tangannya dengan lincah. Sementara matanya awas memperhatikan jalanan di sekeliling. Tidak lupa, sesekali melihat Joanna yang pikirannya sedang membayangkan hari-hari gelap jika terus berdekatan dengan Louise.
Dengan kacamata hitam dan memakai kemeja yang terlipat sampai siku dengan kancing yang terbuka, sepertinya Louise sengaja membiarkan otot dadanya mengintip dari dalam sana.
Sial, Joanna sempat melihat kalung Louise yang masuk kedalam celah itu yang menunjukkan sedikit auratnya, "Apa dia ingin pamer?" batin Joanna.
"Jangan melihatku seperti itu, aku tahu aku tampan," ucap Louise ketika menyadari Joanna sedari tadi melihatnya tanpa berbicara.
"Memangnya kenapa kalau kau tampan, tidak perlu menyombongkannya di depanku juga," jawab Joanna meremehkan.
"Oh, begitu. Apa wajah tampan ini sama sekali tidak menarik untukmu?" tanya Louise.
"Tentu saja tidak," jawab Joanna.
"Bagaimana dengan ABS ku?" tanya Louise.
"Itu juga tidak menarik," jawab Joanna.
"Kau berbicara seolah pernah melihatnya saja," kata Louise sambil tersenyum.
Tidak tertarik ya, mana mungkin? Karena sejauh ini, tak terhitung banyaknya wanita yang menunggu kesempatan untuk melihat ABS nya yang berharga.
Joanna kembali diam, tidak berbicara lagi meskipun Louise sudah mencoba membuka obrolan.
"Joanna, jangan memperlakukanku seperti itu. Aku bisa marah lo," kata Louise memperingatkan.
Joanna kembali melirik Louise yang tersenyum, senyuman yang sebenarnya biasa saja tapi terlihat berbeda di mata Joanna. Senyum itu seolah mengirim sinyal ancaman yang mengatakan 'jangan pernah mencoba untuk mengabaikanku'.
"Ah, benar juga. Jangan sampai membuatnya marah atau kau akan mati," batin Joanna.
"Louise, apa kau memang sehebat itu?" tanya Joanna kemudian. Memberanikan diri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang tersimpan di kepalanya.
"Apa maksudmu?" jawab Louise.
"Menghancurkan mereka semudah itu. Apa kau selalu bisa melakukan hal-hal semacam itu?" tanya Joanna lagi.
"Aku bisa," jawab Louise santai.
"Oh," respons Joanna. Nyalinya semakin menciut. Menyadari bahwa sepertinya hidupnya tidak akan panjang.
"Joanna, kau hanya perlu tahu. Jika aku mau, aku tidak hanya bisa menghancurkan siapapun dengan mudah. Aku juga bisa mendapatkan semua yang aku inginkan dengan mudah juga," jawab Louise sambil melihat Joanna.
"Semuanya?" ulang Joanna.
"Ya, semua yang ada di dunia ini aku bisa mendapatkannya," jelas Louise meyakinkan lalu melihat ke depan untuk melihat jalanan.
"Kalau begitu bukankah seharusnya aku menjauh darimu?" tanya Joanna.
"Apa maksudmu?" tanya Louise dengan ekspresi tidak suka, lalu melihat kembali kearah Joanna.
"Jujur saja, aku akan mengatakan ini. Dengan wajahmu yang seperti itu ditambah dengan kekuasaan yang kau miliki, bukankah jutaan wanita sedang mengejarmu sekarang?" tanya Joanna realistis.
"Lalu?" kata Louise tak mengerti.
"Lalu, aku pasti akan dibenci oleh mereka bukan?" tanya Joanna.
"Kenapa kau harus dibenci?"
"Karena aku sedang duduk di tempat impian mereka sekarang, disini di sampingmu," jawab Joanna dengan tawa kecil. Tawa yang sangat dipaksakan.
"Asal kau tidak berbicara dan menjadikan ini rahasia, bukankah semuanya akan baik-baik saja?" kata Louise.
"Oh, jadi semuanya tergantung padaku?" tanya Joanna berbinar. Sepertinya masih ada harapan untuk membuat umurnya sedikit lebih panjang.
"Kurasa begitu," jawab Louise.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan menutup mulutku dan tidak akan membiarkan siapapun tahu bahwa aku pernah naik dan duduk di mobilmu," kata Joanna lagi. Kini, Joanna sudah bisa sedikit tenang. Kalau dengan diam bisa membuatnya aman, maka Joanna akan diam selamanya. Tidak akan memberitahu siapapun juga bahwa dia pernah duduk di kursi panas di samping Louise yang berkuasa.
Louise hanya tersenyum mendengar kalimat Joanna. Tapi dalam hatinya berkata, "Bahkan meskipun semua orang membencimu, aku akan tetap membiarkanmu berada di sisiku untuk menempati posisi yang diimpikan jutaan wanita itu. Lalu, aku tidak hanya akan membiarkanmu duduk dan naik di mobilku, tapi juga diranjangku. Bukan, bukan hanya di ranjang, lebih tepatnya membuatmu duduk di atasku suatu hari nanti."
"Mereka tadi orang-orangmu?" tanya Joanna lagi.
"Yang mana?" jawab Louise.
"Sekelompok pria berbaju hitam tadi," jelas Joanna.
"Kenapa, apa kau takut pada mereka?" tanya Louise.
"Tidak, hanya saja kau terlihat keren saat membiarkan mereka datang untuk melindungiku," jawab Joanna dengan pujiannya.
"Keren?"
"Iya, itu seperti adegan dalam sebuah drama tahu? Terlebih saat pria besar itu mematahkan tangannya. Sepertinya aku menyukai caranya," kata Joanna dengan senyum indahnya.
"Kau, tidak merasa ngeri?" tanya Louise penasaran. Seorang gadis biasanya tidak akan suka adegan kekerasan seperti barusan, tapi kenapa Joanna berbeda dan berkata menyukainya?
"Tidak. Tapi, hanya mematahkan tangannya karena dia sudah mencari masalah denganmu sepertinya tidak cukup," lanjut Joanna.
"Lalu bagaimana caranya agar menjadi cukup?" tanya Louise penasaran.
"Tentu saja membunuhnya," jawab Joanna tanpa ragu.
"Membunuh?" tanya Louise.
"Apa kau takut?" kini giliran Joanna yang bertanya padanya.
"Tidak ada kata takut di kamusku. Salah, satu-satunya yang membuatku takut adalah tidak bisa melihatmu lagi," jawab Louise.
"Hentikan omong kosongmu!" kata Joanna datar, sedatar lirikan matanya.
Tapi anehnya, mereka kembali muncul lagi sekarang. Masih mengekor di belakang sana. Louise bisa melihatnya, melihat dengan jelas pria-pria misterius berbaju hitam itu terus menjaga jarak aman dengannya.
"Ah, sepertinya wanitaku selalu dilindungi oleh seseorang. Kira-kira, siapa orang itu?" batin Louise, lalu segera mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan hanya dengan satu tangannya.
Cari tahu siapa orang-orang berbaju hitam yang mengikutiku di belakang. Urus mereka dengan baik, tidak perlu menggunakan kekerasan dan jangan sampai melukainya. Mereka, bukan musuh.
Begitulah isi pesan yang Louise kirim kepada pengawal rahasianya yang tersebar dimana-mana. Seharusnya mereka tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Karena aku sudah melindungimu dengan keren, adakah imbalan darimu untukku?" tanya Louise.
"Imbalan?" jawab Joanna.
"Hm, semacam ciuman atau pelukan juga tidak masalah," usul Louise.
"Kenapa juga aku harus mencium atau memelukmu?" tanya Joanna.
"Karena aku pacarmu," jawab Louise.
"Siapa yang bilang begitu, sejak kapan ada status seperti itu?" tanya Joanna.
"Bukankah malam itu kau bilang mencintaiku, apa kau sudah lupa?" jawab Louise mengingatkan.
"Itu karena kau bertanya padaku apa arti eu te amo. Itu bukannya aku ingin menyatakan cinta padamu," kata Joanna memberikan penjelasan.
"Ah, benarkah. Padahal aku mengira ini kencan pertama kita setelah pacaran," lanjut Louise.
Joanna menelan ludahnya dengan kasar. Melihat Louise yang terus-terusan tersenyum karena puas menggodanya. Sepertinya, hari-hari gelapnya baru akan dimulai sekarang.
"Sudah kubilang jangan melihatku seperti itu. Apa kau berubah pikiran dan mau menciumku sekarang?" kata Louise.
"Apa kau pikir aku ingin mati?" tanya Joanna. Kemudian melihat kedepan yang penuh dengan kendaraan.
Saat ini mereka sedang berada di jalanan. Tertabrak sedikit saja, bisa-bisa mereka pindah alam.
"Joanna, tenang saja. Aku bisa melakukan dua hal sekaligus kok. Misalnya, menyetir sambil menciummu. Tentu saja syaratnya kau sendiri yang harus mendekat. Sini, aku bisa mulai kapan saja kok," lanjut Louise dengan menarik tangan kanan Joanna.
"Lepaskan, sudah kubilang aku tidak ingin," tolak Joanna.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, disebuah parkiran yang luas.
"Kita sampai," ujar Louise.
Joanna melihat ke luar. Dia sudah berada di halaman perusahaan milik Louise yang besar dan megah. Entah berapa banyak lantai di gedung itu, Joanna tidak bisa menghitungnya meskipun sudah mendongakkan kepala.
Mobil telah sepenuhnya berhenti di parkiran khusus, mesin juga telah dimatikan. Meskipun mereka sedang berada di parkiran, tapi masih sangat banyak orang yang berlalu-lalang. Terlebih saat ini adalah waktu setelah jam makan siang.
Selain itu hari ini adalah hari yang istimewa karena tepat saat ini, Mattews Group sedang mengadakan pertemuan dengan seluruh kolega bisnisnya untuk memastikan persiapan perjalanan bisnis yang akan dimulai besok.
Dari ratusan perusahaan dan puluhan orang yang dikirim untuk mewakili perusahaan, sudah pasti jumlah mereka mencapai ribuan. Belum termasuk jumlah karyawan dan staff utama yang sejak awal sudah bekerja di gedung ini.
Dari semua perwakilan itu, tidak semuanya berkesempatan mengikuti rapat. Mereka yang rapat adalah orang-orang terpenting seperti pemilik saham atau orang-orang dengan jabatan tertentu.
Selebihnya, mereka mendapatkan kesempatan untuk berkeliling dan mempelajari apapun yang mereka inginkan.
Tentu saja, meskipun termasuk event yang besar Louise tidak tertarik untuk menghadirinya. Louise memilih untuk absen, toh sudah ada William adik angkatnya sebagai penggantinya. Selain itu, ada juga mama, papa dan Arthur yang juga turut hadir di rapat kali itu sebagai salah satu pemilik saham terbesar. Jadi keberadaan Louise sama sekali tidak ada pengaruhnya karena mereka bisa mengurus semuanya.
Saat ini, setidaknya mereka berempat masih berada di ruang rapat. Jadi Louise tidak perlu khawatir untuk bertemu dengan mereka yang pastinya akan bereaksi heboh jika melihatnya membawa Joanna kemari.
"Joanna, ikutlah denganku. Aku akan menunjukkan sesuatu," pinta Louise sambil menyodorkan tangannya.
Joanna menerima uluran tangan Louise, "Apa yang ingin kau tunjukkan?" tanya Joanna.
"Hanya terus berjalanlah bersamaku. Kau akan tahu nanti," jawab Louise.
Louise membawa Joanna masuk melalui pintu utama. Beberapa petugas bertubuh gempal dan berseragam lengkap menyambut Louise dengan hormat.
Kedatangan Louise yang sangat berbeda menarik perhatian semua yang ada disana. Secara refleks mereka menyapa dengan menundukkan kepala.
"Selamat siang, Presdir!"
"Selamat siang Nona!"
"Selamat siang," jawab Louise ramah disertai senyum tipis untuk yang pertama kalinya di hadapan mereka.
Jawaban Louise membuat orang-orang terkejut. Biasanya Louise tidak pernah menjawab salam dari mereka, hanya Williamlah yang menjawab salam-salam itu untuk menggantikan Louise. Tentu hal ini membuat mereka bertanya-tanya. Terlebih saat mengingat Louise meninggalkan perusahaan dengan mood yang sangat buruk siang tadi dan kembali lagi dengan senyum cerah dengan menggandeng seorang wanita.
Telunjuk Louise memainkan tangan Joanna yang masih berada di genggamannya, berharap Joanna tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Louise ingin tahu, apa yang akan Joanna lakukan di hadapan bawahannya saat berjalan disampingnya.
Joanna refleks melihat kearah Louise, kemudian tersenyum. Tapi dalam hatinya membatin, "Louise apa yang kau inginkan?"
"Ehm," dehem Louise, kemudian mengedipkan satu matanya kepada Joanna seolah berkata, 'apa yang akan kau lakukan sekarang?'
"Louise, aku menyukai mereka. Mereka sangat sopan. Sepertinya juga sangat berbakat," ujar Joanna dengan suara yang bisa didengar semuanya.
"Tentu saja mereka sangat berbakat. Tidak ada satupun dari orang-orang Matthews Group yang tidak berbakat," jawab Louise membanggakan bawahannya.
Ya Tuhan.
Sekumpulan karyawan itu hampir muntah darah. Seorang CEO berhati dingin yang biasanya bersikap acuh dan menganggap mereka layaknya butiran debu rupanya bisa memuji sampai begini?
Jika saja Presdir Louise sedang tidak berdiri disini sekarang, mungkin mereka akan melompat kegirangan.
"Ayo, masih banyak tempat yang harus kau lihat," ajak Louise dengan tatapan penuh kasih sayang.
Joanna tahu, seharusnya di perusahaan besar seperti itu akan ada lift khusus untuk orang-orang tertentu. Tapi sepertinya Louise sengaja membawanya menggunakan lift umum, entah apa tujuan Louise membawanya kemari.
"Louise, apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan?" tanya Joanna tidak mengerti.
"Tunggulah sebentar, kau akan tahu sebentar lagi," jawab Louise masih dengan memegang tangan kanan Joanna dengan tangan kirinya.
"Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku ingin menunjukkan padamu bagaimana caranya menjadi musuh jutaan wanita kan?" batin Louise.
...***...