
"Ayo, panggil dia sekali lagi. Dia pasti datang untukmu!" pinta Joanna dan menekan kedua pipi Oskar dengan tangannya.
"Mama!" panggil Oskar. Suara itu akhirnya meluncur juga. Tapi volumenya terlalu kecil untuk bisa di dengar manusia selain Joanna.
"Sayang, dia ada disana. Dia tidak bisa mendengar jika suaramu sekecil itu. Apa kau lupa bagaimana caranya berteriak seperti saat sedang marah kemudian memanggil mommy? Kau tidak amnesia setelah dilempar ke danau kan?" protes Joanna.
"Mommy!" rengek Oskar dan memeluk Joanna. Gengsi, dia sangat gengsi sekali. Entah Juan Matthew itu orang yang seperti apa sampai mewariskan keturunan yang gengsian tingkat dewa seperti ini.
"Ayo sekali lagi saja. Lebih keras dan lihatlah dia. Dia pasti akan datang," perintah Joanna.
Oskar menoleh, melihat Agria yang saat ini sudah berada di ambang pintu dan sedang di cium oleh kakeknya disana.
"Ayah, aku pergi dulu!" pamit Agria.
"Berhati-hatilah!" kata Sir Alex.
Agria sudah berbalik arah, siap melangkahkan kakinya menuju rumah sakit. Bukan hanya memeriksakan telinganya, tapi juga kejiwaannya. Tapi suara anak itu menghentikannya.
"Mama, jangan pergi!" teriak Oskar.
Agria berhenti. Agria merasa sangat hangat di seluruh hatinya. Tapi kenapa ini terjadi lagi. Apa dia berhalusinasi lagi. Kenapa dia mendengar Oskar memanggilnya mama lagi.
"Tidak mungkin. Ini pasti hanya halusinasiku lagi. Anak itu sedang bersama mommynya, jadi mana mungkin dia memanggilku mama. Aku harus segera pergi ke rumah sakit secepatnya. Sebelum aku menjadi gila karena terus berhalusinasi seperti ini," batin Agria.
"Mama, Xiao O bilang jangan pergi!" lanjut Oskar.
Semuanya diam. Sepertinya hanya Diaz yang mulai bersuara dengan sedikit isak tangisnya karena tidak bisa menahannya lagi. Sementara Sir Alex melangkah, menepuk pundak Agria dan memintanya untuk tinggal. "Apa kau tidak dengar itu. Anakmu tidak ingin ditinggal," kata Sir Alex.
"Ayah, apa dia benar-benar memanggilku mama barusan?" tanya Agria.
"Ya, dia memanggilmu mama. Tunggu apa lagi, cepatlah pergi atau adikmu akan menjadi satu-satunya pemilik hati anakmu," jawab Sir Alex.
Agria berbalik arah. Tidak, dia juga tersenyum lebar meskipun ada air mata di matanya. Sudah tidak ada rasa sakit yang dia rasakan selain suka cita. Dia tertawa, kembali melangkah ke rumah dan membuang tentengannya. Berlari ke arah Oskar dan Joanna yang menyambutnya. "Mama tidak akan pergi lagi mulai sekarang!"
Oskar sudah berpindah tempat sekarang. Berpindah ke pelukan Agria yang langsung mengangkatnya dan memeluknya. Puluhan bahkan mungkin ratusan ciuman mendarat bertubi-tubi di pipinya.
"Mommy, tolong! Kenapa mamaku berubah menjadi monster? Wajah tampanku bisa tidak berbentuk kalau monster ini melakukan ini padaku!" protes Oskar di sela-sela ciuman yang dia dapatkan dari mamanya.
"Maaf! Tolong maafkan mama. Mama hanya sangat senang," kata Agria dan kembali memeluk erat putranya. Tapi Oskar mendorongnya.
"Mama, dosamu banyak sekali. Kenapa tidak menyahut saat aku memanggil tadi. Kenapa terus mencium adik bayiku dan melupakan aku. Apa mama lupa kita baru saja berenang bersama di danau tadi. Aku sangat marah tahu. Lalu mommy bilang mama juga mencuri pipiku semalam. Pencuri harus dihukum. Aku akan menghukum mama. Apa mama setuju?" omel Oskar.
"Xiao O, yang benar kau tenggelam dan mamamu yang berenang," ralat Joanna.
"Mommy, ini bukan waktunya mommy berbicara," protes Oskar dengan mulut yang sudah mengerucut.
"Baiklah. Mommy akan diam saja. Tapi, Kak. Percayalah padaku, sebenarnya anak ini bisa berenang," kata Joanna membocorkan rahasia.
"Apa kau sengaja menenggelamkan dirimu agar mamamu terjun bersamamu. Dasar anak nakal!" kata Sir Alex. Kakeknya itu sudah mendekat mencubit Oskar dengan gemas sebelum memukul kepalanya dengan ringan.
"Kakek, bukan seperti itu. Xiao O hanya lupa bagaimana caranya berenang. Habisnya wanita ini menakutkan dan danau itu dalam sekali," jelas Oskar dengan memegangi kepalanya.
"Baiklah, hukuman apa yang ingin kau berikan pada mama?" tanya Agria.
Itulah hukumannya. Hukuman dari anak kecil yang akhirnya bisa menerima mamanya kembali. Mereka tertawa bahagia sekarang. Tak terkecuali termasuk Okta yang berada di ruangan itu dan duduk dengan Diaz.
Suara tawa itu baru berhenti saat perut kecil milik Oskar berbunyi. Pagi tadi dia makan sedikit. Dia marah karena papinya tidak mau menemaninya main dan siangnya harus tenggelam. Praktis dia jadi kelaparan sekarang.
"Oops!" kata Oskar dengan wajah malu.
"Apa Xiao O lapar?" tanya Joanna.
"Diaz, tolong atur pelayan itu untuk memasak makanan kesukaan Oskar!" kata Sir Alex.
"Baik, Tuan!"
Diaz bangkit, menyerahkan Reagan kepada Sir Alex yang sudah siap menjaga cucu keduanya. Tapi Agria buru-buru memberikan Oskar pada Joanna. "Bi, aku yang akan masak untuk anakku. Bibi duduk dan beristirahatlah. Bibi pasti lelah karena mengurus Reagan sejak tadi," kata Agria.
Agria segera turun ke dapur. Dengan dibantu banyak pelayan, dia akhirnya memasak untuk Oskar untuk yang pertama kalinya.
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
Berbagai macam makanan sudah tersaji di meja. Hari ini, Agria memasak sangat banyak. Tidak hanya anggota keluarga saja yang makan tapi juga seluruh pengawal dan pelayannya. Mereka makan secara bergantian secara bergantian.
Suasana di rumah itu sangat ramai. Sampai-sampai ramainya menarik perhatian ketiga pria yang baru kembali dari paviliun Anye untuk melihat mayatnya. Mata ketiganya membesar dan saling lempar pandangan saat melihat apa yang terjadi.
Arthur dan William yang nyinyirannya melebihi pedasnya nyinyiran tetangga itu pun mulai berkomentar.
"Apa begini sikap anak kecil yang baru dilempar ke danau dan hampir mati. Sepertinya dia baik-baik saja, tidak terlihat trauma sedikitpun," kata Arthur.
"Bajingan kecil itu. Apa dia tidak tahu orang yang akan membunuhnya baru saja mati karena ketakutan. Lalu apa yang dia lakukan disini sekarang. Berpesta atas kematiannya kah?" tanya William.
Dua pria itu melihat Louise secara bersamaan. Lalu menggelengkan kepalanya dan membuang muka. Sementara Louise, dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa karena sebenarnya dia juga kikuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Mau bagaimana lagi. Itu pasti karena dia terbiasa tinggal bersama dengan pria tak bermoral ini sehingga mewarisi semua sifatnya kan?" sindir Arthur.
"Benar juga. Anak itu pasti terkontaminasi selagi tidur bersama pria ini setiap malam," lanjut William.
"Jaga ucapan kalian. Kenapa jadi menyalahkan aku. Aku ini juga kaget melihatnya yang sangat sehat seperti itu," protes Louise.
Akhirnya ketiga pria itu masuk. Ikut bergabung dan makan malam bersama seolah tak terjadi apa-apa hari ini.
"Oskar, kau mau jadi apa saat dewasa nanti. Kau berasal dari seorang ayah yang menyukai kebebasan dan tak tahu aturan seperti Juan. Ditambah memiliki gen dari seorang ibu yang bar-bar dan tidak ragu membunuh tepat di depan matamu. Lalu sekarang kau tinggal bersamaku yang bajingan, menang sendiri dan keras kepala seperti ini. Dan, kau selalu menuruti kata Mommy Joannamu yang memiliki kepribadian yang kejam dan sadis. Tidak hanya itu, dua kakekmu pun sebenarnya juga memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan daddymu ini. Jadi apa cita-citamu saat dewasa nanti. Kau tidak akan menjadi perampok bank atau pembunuh bayaran kan? Daddy mohon jangan lakukan itu, jadi ketua mafia yang merangkap sebagai CEO seperti daddy saja agar kau punya modal jika ingin mengencani banyak wanita," gumam Louise mulai pusing memikirkan masa depan Oskar.
yang sepertinya sangat membuatnya iri.
...***...