CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Oskar, Kau Lewat Mana Saat Lahir?



"Apa kalian suka?" tanya Louise ketika mereka baru turun dan menginjakkan kaki di pulau destinasi mereka.


"Ini menakjubkan," puji Arthur.


"Seleramu bagus juga," timpal William.


"Hei, kalian ketiga wanita, apa kalian suka?" tanya Arthur dengan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut angin yang menerpa tubuhnya.


"Ini sangat indah," respon Alexa. Dia terlihat sedang berputar-putar dengan memegang dua anak yang sudah sangat beradaptasi dengan lingkungan baru di pulau ini.


"Aku juga menyukainya," jawab Marissa dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh pulau.


"Bagaimana denganmu, Joanna?" tanya Louise saat menyadari Joanna lambat bereaksi.


"Lumayan, 5 dari 10," jawab Joanna singkat.


"Lu-ma-yan, 5 dari 10 katamu?" ulang Louise.


Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Joanna. Pulau yang dipenuhi dengan pepohonan hijau yang rindang. Pemandangan yang indah tak terkira tersaji di segala arah. Air yang jernih, pantai berpasir putih yang berkilauan, udara yang menyegarkan, hewan dan tumbuhan yang beranekaragam. Pulau ini bisa dikatakan layaknya potongan surga yang jatuh ke bumi. Keindahan yang seperti ini, apakah hanya terlihat lumayan dimata Joanna. Dia bukan penderita rabun kan, bahkan William saja bisa melihat keindahannya meski tanpa menggunakan kacamata.


"Pemandangannya memang indah. Hanya saja suasana hatiku sedang buruk, terlebih kau selalu menggangguku. Jadi aku mengatakan lumayan," jelas Joanna tanpa ekspresi.


"Joanna, kau?" keluh Louise.


"Louise, mungkin Joanna sedang datang bulan," kata Arthur dengan menepuk pundaknya untuk menenangkan frustasinya yang ditolak dan di acuhkan berkali-kali.


"Ayo!" ajak William. Mendorong tubuh Louise yang sempat terhenti.


Rombongan itu disambut oleh puluhan pengawal dan pelayan. Membawa mereka ke sebuah hunian mewah yang di kelilingi taman dan kolam-kolam berisi ikan. Burung-burung saling bersahutan, suara dedaunan yang di tiup angin, bau khas daun gugur seperti aromaterapi menambah suasana menjadi lebih menyenangkan.


Dua anak kecil itu berlarian dengan bergandengan tangan. Beberapa pengawal dan pelayan sigap menjaga dan mengawal mereka kemanapun mereka pergi.


Tanpa menunda waktu, Louise membawa tamunya menuju pintu utama, "Ada tiga kamar di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Pilihlah manapun yang kalian suka," kata Louise mempersilahkan.


"Marissa, sebaiknya kau dan Ebra dilantai bawah saja," kata William kemudian membawa mereka berdua masuk ke salah satu kamar dan William masuk ke kamar yang ada di sebelahnya.


"Aku dan Alexa akan beristirahat. Sampai jumpa saat makan malam nanti," kata Arthur kemudian membawa Alexa pergi ke lantai atas.


"Xiao O, ayo!" kata Joanna menggandeng tangan Oskar untuk masuk ke satu kamar yang tersisa di lantai bawah.


"Kau mau kemana?" tanya Louise dengan menahan tangan Joanna.


"Istirahat," jawab Joanna.


"Joanna, aku sudah menyediakan kamar yang lain untukmu," kata Louise.


"Kamar lain?" tanya Joanna.


"Eum," jawab Louise. Kemudian membawa Joanna dan Oskar menyusuri jalanan setapak yang ditumbuhi rumput berhiaskan bebatuan. Menuju sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Dibangun diatas dataran yang lebih tinggi dari bangunan utama. Sebuah bangunan tunggal yang isinya hanyalah sebuah kamar yang luas dengan satu kamar mandi serta dapur mini. Kamar yang hampir seluruhnya berdinding kaca sehingga bisa melihat pemandangan alam dari segala arah.


"Kamarmu disini, bersamaku!" kata Louise setelah membuka pintu.


"Apa, bersamamu?" tanya Joanna.


"Hore, Xiao O akhirnya bisa tidur bersama daddy dan mommy malam ini!" seru Oskar kemudian berlari sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya ke ranjang yang empuk.


"Kenapa, mau bilang aku tidak boleh dekat-dekat denganmu lagi. Omong kosong macam apa itu, Joanna?" kata Louise dan menutup pintu.


"Louise!"


"Joanna, tidak perlu sungkan. Ini bukan kali pertama kita tidur bersama kan?"


Joanna berpaling, menepis tangan yang hampir bersemayam di dagunya. Tidak mengatakan sepatah katapun dan memanggil Oskar, "Xiao O, cepat kemari. Mommy akan membantu membersihkan tubuhmu!"


"Joanna, sebenarnya apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?" batin Louise kemudian merebahkan dirinya di kasur dan terlelap karena kelelahan dengan posisi tengkurap selagi menunggu Joanna.


.


.


.


Louise masih tertidur dengan posisi yang nyaris tidak berubah. Masih tengkurap juga masih berpakaian lengkap. Yang membedakan hanyalah ikat pinggang, jam tangan, dan kaos kaki yang sudah tidak menempel di tubuhnya karena Joanna sudah melepaskan semuanya.


Buk.


Buk.


Buk.


Louise terbangun karena ranjangnya mengeluarkan suara aneh. Mencoba membuka matanya selebar mungkin, tapi kembali menutupnya setelah tahu darimana suara aneh itu berasal.


"Oskar, apa yang kau lakukan?" tanya Louise dengan mata yang kembali menutup. Membuat Oskar yang sedang melompat-lompat di atas ranjang menoleh kearahnya dan langsung melompat ke pinggang daddy-nya dengan sengaja.


"Auchh, Oskar!" keluh Louise ketika Oskar telah melakukan pendaratan sempurna dan melompat-lompat diatasnya.


"Daddy kenapa?" tanya Oskar. Kemudian duduk selanjutnya berbaring diatasnya.


"Anak nakal, pinggang daddy bisa patah kalau kau melompat disana," jelas Louise.


"Daddy, ayo bangun!" kata Oskar.


"Apa yang kau katakan, daddy kan sudah bangun," jawab Louise bermalas-malasan, "dimana mommy?" tanya Louise ketika menyadari Joanna tidak ada di kamar.


"Mommy sedang berenang," jawab Oskar. Anak kecil itu segera bangkit, lalu menarik tirai lebar-lebar. Membuat Louise bisa melihat Joanna yang sedang mengelilingi kolam dengan gaya renang yang membuatnya tegang.


"Kenapa aku selalu saja begini saat melihat Joanna?" gerutu Louise kemudian menenggelamkan wajahnya di bantal.


Louise menghela nafas panjang, kemudian bangkit dan melangkah menuju sofa datar di pinggiran kaca. Mengintip Joanna yang masih tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengintainya. Dengan menyangga dagunya, Louise memanggil Oskar untuk mendekat.


"Oskar, kemarilah!" pinta Louise.


Oskar segera berlari, lalu tanpa ijin langsung duduk di pangkuan Louise yang sedang memperhatikan mommynya. Dua pria beda generasi itu duduk di tempat yang sama tapi tidak melakukan hal yang sama. Oskar, dia sibuk dengan robot kecilnya disaat Louise pusing karena mengingat kembali sesuatu yang sempat dia lupakan. Bahwa dirinya tidak yakin jika Joanna pernah melahirkan. Tapi darimana munculnya tuyul kecil yang ada di hadapannya ini?


"Oskar, apa daya ingatmu itu bagus?" tanya Louise putus asa.


"Memangnya kenapa, daddy?" jawab Oskar.


"Ada hal yang ingin daddy tanyakan," kata Louise.


"Apa itu?" tanya Oskar sambil gelandotan di pelukan Louise. Lalu membuang mainan mahalnya yang baru dibeli hari ini ke lantai begitu saja.


"Saat kau lahir, kau sebenarnya lewat mana?" tanya Louise dengan menyentil dahi Oskar.


"Memangnya ada berapa banyak jalan, daddy?" tanya Oskar tidak mengerti.


"Ada dua jalan. Jadi katakan, kau lewat perut, atau lewat jalan yang satunya?" tanya Louise.


"Jalan yang satunya, dimana daddy?" tanya Oskar.


"Itu, pokoknya jalan yang satunya. Jalan selain perut," jawab Louise.


"Daddy, Xiao O tidak tahu. Tapi saat Xiao O keluar sepertinya itu sangat terang," kata Oskar.


Louise memijit keningnya, "Tentu saja itu terang. Di dalam perut mommy kan tidak ada mataharinya," batin Louise. Sepertinya percuma meskipun sudah menanyakan hal ini pada Oskar.


"Daddy, tapi kata Paman Arthur Xiao O tidak berasal dari mommy," kata Oskar tiba-tiba.


"Lalu kau darimana?" tanya Louise.


"Dari telur," jawab Oskar.


"Oskar, kau ini anak manusia. Bukan anak buaya. Lain kali, jangan mendengarkan kata Paman Arthurmu itu lagi," larang Louise sambil memukul pantat Oskar.