
Rona bahagia mengembang di setiap wajah itu. Ucapan selamat tidak berhenti mengalir untuk keduanya. William, dia masih berdiri di luar. Menerima ucapan selamat dan pelukan dari kerabatnya dengan ekspresi yang tidak biasa.
Bagaimana tidak. Dia masih mencerna apa yang terjadi. Lalu, pantaskah dia merayakannya. Dia memang suami Joanna tapi anak itu bukan hasil karyanya. Jika mereka ingin mengucapkan selamat, Louise lah yang pantasnya mendapatkannya.
Saat ini, bahkan dua Tetua yang mendukungnya sudah membisikkan sesuatu kepada William disela-sela ucapan selamatnya, "Tunggu sampai anak itu lahir, maka posisi penerus itu akan semakin dekat dengan genggamanmu. Bukan hanya pewaris Kota Timur, tapi juga Dark Ocean. Lalu kau bisa bercerai dengannya dan menikah dengan wanita yang kau cintai itu."
"Aku tahu," jawab William.
"Satu lagi. Anye mungkin tidak akan tinggal diam. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjaga agar anak itu lahir dengan selamat. Sampai saat itu tiba, kau harus menjaga istrimu dan anak di perut itu baik-baik."
Setelah mengatakan itu, kedua Tetua itu segera menyusul Tetua Utama yang saat ini melihat keadaan Joanna di dalam. Tetua Utama itu bahkan langsung memberikan hadiah khusus sebagai bentuk syukurnya.
Bukan hadiah mewah dengan harga yang fantastis, melainkan sebuah gelang keberuntungan. Berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada ibu dan bayi dan selamat sampai hari kelahiran nanti.
"Terimakasih, Tetua!" kata Joanna sumringah.
"Terimakasih telah memberikan hadiah ulang tahun terbaik untuk orang tua ini. Beristirahatlah dengan baik. Aku akan sering-sering mengunjungimu kedepannya," kata tetua dengan memegang tangan Joanna.
Selepas ucapan selamat dari Tetua Utama, ucapan berikutnya datang dari Tetua lainnya dan kerabat terdekat. Hampir semuanya memberikan ucapan selamat, hanya Anye yang tidak. Orang itu berdiri di sudut yang jauh tanpa melakukan apa-apa.
"Joanna, aku tidak akan membiarkan anak itu lahir. Aku akan membuatnya tidak akan pernah bisa melihat dunia. Anak William, harus aku yang melahirkannya."
Anye meremas ujung bajunya. Wajahnya terlihat sangat tenang, tapi tidak dengan hatinya. Dada itu bahkan semakin bergemuruh, melihat pria yang baru-baru ini diincarnya akan menjadi seorang ayah.
Joanna melihatnya, melihat dendam kesumat yang menyala-nyala dari mata Anye. Tapi apakah Joanna takut. Tentu saja tidak. Seorang Joanna yang tangannya pernah berlumuran darah, mana mungkin takut kepada pecundang seperti Anye itu.
Takut untuk apa. Jika Anye kejam, maka Joanna sebenarnya jauh lebih kejam. Jika Anye jahat, maka sebenarnya Joanna jauh lebih jahat. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan?
Disaat Joanna menyadari Anye sedang melihatnya dari kejauhan, kebetulan saat itu juga William sedang menuju kearahnya. Joanna tersenyum, saat ini adalah waktunya memainkan sebuah drama bersama William.
Setelah menerima ucapan selamat dari semua orang, akhirnya dia punya kesempatan juga untuk menemui Joanna yang masih duduk manis di ranjang.
Pria itu semakin mendekat, lalu duduk di sisi ranjang dan segera mengkonfirmasi perihal kehamilan Joanna.
"Joanna, kau benar-benar hamil?" tanya William.
Joanna buru-buru memperbaiki ekspresinya. Menunjukkan senyum secantik mungkin dan sifat semanja mungkin.
"Anye, apa kau ingin tahu bagaimana rasanya tersiram air panas saat kemarau panjang. Aku akan membiarkanmu merasakannya sekarang," batin Joanna dengan senyum liciknya.
"William, bukankah aku sudah mengatakannya padamu malam itu. Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak terlalu semangat saat memompa, itu bisa melukai anak kita. Tapi kau tidak percaya dan menganggapnya sebagai lelucon dan terus menyiksaku sepanjang malam. Aku sangat sedih tahu," jawab Joanna manja.
"William, apa benar kau bersikap seperti itu pada istrimu?" tanya tetua.
"Ah, itu,-"
William tidak tahu harus menjawab apa. Ini tidak seperti yang dia harapkan. Yang dia harapkan hanyalah jawaban iya atau tidak. Bukannya jawaban ngelantur dan tidak jelas seperti itu. Kapan dia memompa Joanna, kapan dia menyiksanya sepanjang malam. Yang ada adalah Joanna yang menyiksanya di malam pertama itu.
"Maafkan aku," kata William kemudian tersenyum tipis.
William melihat ke arah yang lain. Sejak kapan dia menjadi sebodoh ini. Seharusnya dia lebih peka. Pantas saja Louise membiarkan saja saat Joanna memeluk dirinya. Pantas saja Louise memintanya untuk menuruti semua permintaan Joanna. Ternyata ini alasannya, ada Louise kecil di dalam perut itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya William ketika menyadari Joanna menarik kedua tangannya.
"Apa kau tidak ingin menyentuh anakmu. Dia ada di dalam."
"Apa ada yang melihat. Kenapa kau bersikap aneh," bisik William.
"Tentu saja ada. Anye melihat kita sekarang. Dia pasti cemburu setengah mati sampai ingin," jelas Joanna.
William tersenyum, kenapa wanita ini masih sempat-sempatnya memperhatikan wanita lain saat dirinya menjadi pusat perhatian. Tapi, karena Joanna sudah memulai aktingnya, maka dia akan membuat akting ini jadi lebih menarik lagi.
William melepaskan pelukannya, kemudian membuka selimut yang menutupi setengah badan Joanna.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna.
"Aku ingin mencium anakku. Apa tidak boleh?" tanya William.
Dia tidak butuh jawaban Joanna, lalu tanpa menunda lagi sudah mendaratkan ciumannya berkali-kali di perut istrinya yang masih rata.
"William, sepertinya kau sangat senang sampai lupa masih ada kami disini," tegur salah satu Tetua yang masih berada di tempat itu.
William tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi malah melingkarkan tangannya di pinggang Joanna dan melihat perutnya, "Tetua, aku tahu aku salah. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat senang istriku hamil. Tetua, apa aku masih waras. Kenapa aku bisa melihat wajah anakku dari sini. Apa kalian bisa melihatnya juga. Lihatlah, dia sangat cantik seperti ibunya kan?"
William melihat perut itu, memutar-mutar jarinya di atas perut Joanna seperti orang gila.
Sekumpulan orang-orang itu geleng-geleng kepala. Sementara Joanna, dia tertawa semakin lebar saat melihat Anye marah besar dan memaki pelayan pribadinya.
"Tetua, maaf! Tapi bolehkan kami pamit lebih awal?" tanya William.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Tetua.
"William, aku baik-baik saja sekarang. Anak ini sudah tidak nakal lagi. Aku bisa ikut merayakan ulang tahun Tetua Utama," kata Joanna.
Pulang. Kenapa dia harus pulang jika masih bisa membuat Anye marah tanpa bisa melakukan apa-apa untuk membalasnya. Sekalian saja memberinya pelajaran agar kedepannya dia tidak memiliki niat untuk merebut William saat William menikah dengan Marissa nanti.
Joanna bangkit dari duduknya. Ingin mengikuti serangkaian acara yang sempat tertunda. Tapi William menahannya, "Kau memang baik-baik saja, tapi aku tidak sedang baik-baik saja," tahan William.
"William, apa kau sakit?" tanya Joanna lalu memeriksa dahinya yang tidak panas.
"Beristirahatlah disini saja. Aku akan meminta orang untuk memanggil dokter," timpal Tetua.
"Tetua, aku tidak butuh dokter. Aku hanya butuh istriku," kata William.
"William?" panggil Joanna.
"Joanna, karena kau baik-baik saja. Maka tolonglah aku yang sedang tidak baik-baik saja ini," pinta William.
"Aku ini bukan dokter, bagaimana caraku menolongmu?" jawab Joanna.
"Tetua, maaf! Sebenernya aku hanya terlalu bahagia sampai ingin menjenguk anakku sekarang juga," jawab William.
"Apa?" tanya Joanna. Dia mematung di tempatnya sekarang. Dia tahu ini hanya akting tapi apa perlu mengatakan hal seperti ini di depan tetua?
"Kalau begitu cepatlah pergi. Ingat, jangan sampai kau melukai anakmu atau aku akan meminta kau membuatnya lebih banyak jika sampai terjadi apa-apa padanya!" jawab Tetua sedikit emosi.
...***...