CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Joanna, Ayo Menikah! (21+)



Louise memilih jalan pintas tercepat yang akan membawanya ke kamar melalui pintu rahasia. Tidak membutuhkan waktu lama, karena sekarang Louise sudah melakukan serangkaian proses untuk masuk ke kamar. Terkadang, lapisan pengaman yang dia buat sangatlah merepotkan disaat-saat genting seperti ini.


Ceklek.


Pintu akhirnya terbuka, Louise berjalan lurus tanpa menoleh lagi. Pintu itu akan menutup dan terkunci secara otomatis. Lalu, hanya dengan menekan sebuah tombol melalui remote control, gorden yang awalnya terbuka langsung bergeser. Menutupi jendela kaca berukuran besar dengan sempurna. Dengan langkah pasti, Louise menurunkan Joanna di ranjangnya yang besar. Membuka kemejanya dan membuangnya ke sembarang arah. Joanna melihatnya, delapan kotak juga otot-otot di perut Louise yang melambai-lambai kearahnya.


Otak Joanna sepertinya tidak bekerja sehingga membuatnya lambat bereaksi. Tidak lari meskipun Louise siap menidurinya. Joanna bergidik, sedikit cemas juga takut melihat pemandangan seperti ini secara live tepat di depan matanya. Lalu, menelan ludahnya dengan kasar saat Louise naik ranjang dan tonjolan besar milik Louise terpampang nyata di hadapannya.


Pandangannya beralih ke wajah Louise, orang itu masih diam tapi tersenyum, "Mulai sekarang, itu juga jadi milikmu," ucapnya sambil membelai rambut Joanna.


Joanna mengalihkan pandangannya untuk mencerna apa yang terjadi. Kenapa semua milik Louise tiba-tiba menjadi miliknya sekarang. Dan lagi, Joanna merasa ngilu, jika benda besar yang dilihatnya barusan menembusnya, bukankah itu sangat menyakitkan?


"Jangan takut," kata Louise. Membelai wajah Joanna yang mulai pucat, menciumnya kemudian membaringkannya setelah meletakkan sebuah bantal besar nan lembut di belakangnya.


Sangat cepat, sampai Joanna tidak menyadarinya dan sudah melihat Louise mulai merangkak diatasnya, "Joanna, aku mencintaimu," itulah yang diucapkan Louise sebelum kembali menyerangnya dengan ciuman tanpa melepas sepatunya.


"Mmph," rintih Joanna. Tubuh kekar bertelanjang dada itu kini sepenuhnya telah menindih Joanna. Menguncinya sehingga tidak bisa melawan.


Joanna merasa semakin panas meskipun pakaian luarnya nyaris terhempas, kemeja berlengan pendek yang dikenakannya itu hanya menyisakan dua kancing yang terpasang sempurna. Selebihnya telah terbuka karena ulah tangan Louise sejak di arena tembak tadi. Perasaan aneh itu kian menjalar, dan tubuhnya meminta lebih. Semakin kebelakang Joanna menyadari bahwa sentuhan-sentuhan Louise sangat sukses membakar darahnya hingga mendidih.


Louise mengangkat tangan Joanna, menahannya dengan satu tangan kekarnya diatas sana. Lalu tanpa menghentikan ciumannya, tangan yang lainnya mulai melepas dua kancing milik Joanna yang tersisa. Bersiap untuk menyusuri dan memainkan bola kembar yang tersaji dihadapannya.


Joanna tidak bisa berbicara, tapi dia bisa merasakan tangan besar dan hangat milik Louise menyingkirkan penutup terakhir tubuh bagian atasnya, lalu meremas salah satu dari dua miliknya yang besar. Seperti ini selama beberapa saat tidak membuat Louise puas meskipun Joanna menikmatinya. Dia pun menyudahi ciumannya. Turun kebawah menjelajahi area leher Joanna dan meninggalkan jejak-jejaknya. Tentu saja terkadang juga harus menghalau perlawanan lemah dari Joanna. Lagi, Louise semakin turun dan turun, menyapu bersih dan menggigit kecil salah satu butiran cookies milik Joanna yang semakin menantang.


"Louise, apa yang kau lakukan?" tanya Joanna. Kenapa dirinya semakin panas saat Louise bermain-main disana?


"Melayanimu dengan keahlian terbaikku," jawab Louise kemudian melanjutkan aktifitasnya.


"J-jangan begitu!" tolak Joanna tapi sepenuhnya diabaikan oleh Louise yang semakin liar.


"Louise, cukup!" larang Joanna dengan suara berat dan nafas tak beraturan. Sepertinya dia sudah sepenuhnya terbakar gairah.


"Joanna, bolehkah aku melakukannya?" tanya Louise diambang batas kesadarannya. Berbisik pelan ditelinga Joanna ketika tangannya memeriksa 'tokoh utama' dalam permainan ranjangnya. Joanna tidak lagi berkata-kata, dia ragu.


Bolehkah?


Tapi bagaimana?


Sepertinya ada hal yang sangat Joanna inginkan, tapi tidak tahu apa itu. Dia hanya diam, diam ketika Louise meminta persetujuannya bahkan menyentuh miliknya yang paling tersembunyi. Karena disaat terjepit seperti ini, hanya kaki-kakinya yang bisa bergerak dibawah sana.


"Aku tahu," kata Louise kemudian, mencium leher Joanna karena dia tahu jawabannya meskipun Joanna tidak mengatakan apapun, "kalau begitu, biarkan aku membantumu. Karena dia sangat menginginkannya."


Joanna tidak mengerti apa yang Louise katakan sampai dia melihat Louise bangkit. Diapun mengikutinya, duduk dihadapan Louise dengan menutupi dadanya yang terekspos sempurna menggunakan dua tangannya.


"Hanya, nikmatilah. Aku akan membantumu mendapatkan puncaknya," kata Louise. Kemudian menarik bawahan Joanna lalu menyentuh areanya yang paling sensitif untuk yang kedua kalinya. Tanpa ragu menarik seutas tali kecil di pinggang Joanna sehingga kain mini berbentuk segitiga milik Joanna pun lolos juga. Joanna terbelalak, tapi tidak melakukan apapun selain mundur dan menutupinya sebisa mungkin.


"Jangan malu, dia sangat cantik," puji Louise setelah menarik paksa dan memegang kuat tangan Joanna yang menutupi pemandangan indah itu. Pada akhirnya, Louise melihatnya dengan sangat jelas. Dan dengan dua matanya sendiri, Joanna melihat Louise tersenyum, kemudian mulai turun untuk memainkannya. Joanna meringis, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya juga terkesima dengan rasanya. Karena ini adalah sesuatu yang baru Joanna rasakan sampai lupa mengatakan jangan. Dan itu dimanfaatkan Louise untuk semakin memanjakan Joanna dengan sepenuh hatinya.


"Mmph," rintih Joanna. Gadis itu hanya bisa menggigit bibirnya agar tidak menimbulkan suara. Dia melihat Louise tanpa jijik bermain-main disana dan menyapu semuanya.


Menyadari tak ada lagi perlawanan dari Joanna yang mulai menikmatinya, Louise pun melepaskan tangannya dan menunjukkan keterampilan yang berikutnya setelah sekian lama. Menyelipkan jari-jarinya kedalam inti itu sehingga membuat Joanna tersentak karena kehadiran benda asing dari Louise.


Joanna meringis, beringsut mundur tapi ditarik Louise agar tidak meninggalkan posisinya.


Hari ini, tepat kali ketiga pertemuan mereka, Louise berani menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak dia sentuh. Sesuatu yang kecil dan tersembunyi tapi sudah pasti bisa mengimbangi keperkasaannya.


Menyesal, adalah sesuatu yang Joanna lupakan saat ini. Penasaran akan perasaan nyaman ini sepertinya membuatnya ingin merasakan lebih. Ya, sekarang Joanna tidak tahu apa itu menyesal. Tapi tidak dengan beberapa waktu kemudian, karena penyesalan hanya akan datang di waktu paling belakang.


Sementara itu, Louise semakin bersemangat ketika Joanna semakin memporak-porandakan tatanan ranjangnya dengan tarian liarnya. Sampai Joanna menggenggam erat, menggenggam dengan sangat erat ketika merasa sesuatu dari dirinya akan keluar.


Louise bangkit, mencium kening Joanna yang basah oleh keringat, masih memeluknya dengan satu tangannya ketika tangan yang lain sibuk menari-nari di bawah sana.


"Louise," rintih Joanna ketika Louise mulai menambah kecepatannya. Mencium leher pria itu, juga menggigitnya tanpa sengaja. Joanna menjangkau apapun di sekitarnya atas serangan yang membuatnya kehilangan kendali.


"Louise," rintih Joanna lagi. Sangat pelan hampir tak terdengar.


"Panggil namaku terus, Joanna. Aku menyukainya. Ingatlah aku, satu-satunya pria yang boleh menyentuhmu untuk hari ini dan seterusnya. Lalu, berteriaklah jika ingin berteriak. Jangan malu dan menahannya. Karena bersamaku, kau bebas melakukan apapun sesuka hatimu," bisik Louise pelan.


Saat ini, Joanna tidak tahu harus bagaimana. Seolah berada di persimpangan jalan, ingin berhenti tapi akhir dari rasa ini membuatnya sangat penasaran. Karena, bahkan saat ini pun Joanna sudah merasa sangat nyaman seolah ingin terbang. Dan pilihannya adalah menuruti Louise. Mulutnya mulai meracau tak jelas, tidak menahannya sama sekali sehingga menambah seni dalam aktivitas percintaan mereka. Tangan Joanna menarik Louise ke pelukannya, membiarkan wajah tampan itu terjerembab di benda kenyal miliknya dan sekali lagi menyusurinya.


"Joanna, kau sangat menggairahkan dan aku suka," puji Louise.


"L-louise, hen-ti-kan!"


"Kenapa, bukankah kau sangat menyukainya. Nikmat bukan?" tanya Louise


"T-tapi a-ku, a-aku ingin pipis," jawab Joanna terbata-bata.


Louise tersenyum, apa pipis adalah istilah yang digunakan Joanna untuk menyebut puncaknya.


"Joanna, jangan khawatir kau bisa pipis disini."


"Ah, tidak. Louise, aku tidak bisa menahannya lagi, tolong!" pinta Joanna dengan gerakan tubuh yang semakin liar.


"Maka jangan ditahan lagi," jawab Louise dengan senyum puas.


"Mphh, Louise ahh!" teriak Joanna panjang. Memeluk Louise dengan erat, nafasnya memburu diiringi dengan sesuatu yang meledak di bawah sana. Mengalir deras mengotori lapisan pembungkus ranjang milik Louise.


Sementara Louise, dia memicingkan matanya karena jari-jarinya seperti dihisap medan magnet dari dalam. Tapi, juga menyunggingkan senyum kemenangan di sudut bibirnya.


Kini Louise mulai merangkak. merangkak naik dan berbisik pelan, "Aku memaafkanmu hari ini. Tapi lain kali, kau tidak akan bisa lari lagi," kemudian menarik Joanna dan membiarkannya berbaring di pelukannya.


Tangan kekar itu menepuk-nepuk punggung Joanna, membiarkan Joanna beristirahat dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Lalu, tidak pernah berhenti untuk terus mencium pucuk rambutnya.


"Joanna, apa kau sudah merasa nyaman sekarang. Percayalah, itu akan lebih nyaman jika benda tumpul milikku yang masuk kesana, bukannya jari-jariku," ucap Louise pelan. Menyingkap rambut Joanna yang tergerai menutupi wajahnya.


Joanna tidak menjawab, tapi berpaling ke sisi yang lain. Menghindari pelukan Louise dan semakin menutup wajahnya dengan dua tangannya, "Apa yang sudah kulakukan?" sesalnya, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Joanna tidak menyangka dia akan tergoda sampai seperti ini. Apa yang harus dia lakukan setelah ini. Joanna sangat malu, Louise sudah melihat semuanya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki sampai bagian-bagian tersembunyi miliknya. Setelah ini, apakah dia masih punya keberanian untuk melihat dan sekedar berbicara dengan Louise setelah membuatnya seperti pelayannya barusan? Lalu, bagaimana dengan ranjang yang sangat berantakan dan kotor karena dirinya?


"Joanna, ayo menikah!" bisik Louise. Memeluk Joanna dari belakang dan menciumi tengkuknya. Ini adalah kali ketiga Louise menawarkan pernikahan untuk Joanna.


Joanna terus berpikir, berpikir bagaimana baiknya setelah ini. Karena Louise telah melihatnya, haruskah dia menerima tawarannya. Tapi, bagaimana dengan Oskar. Joanna belum pernah bercerita, lalu apakah Louise bisa menerimanya dengan kondisinya. Joanna larut dengan pikirannya, dan tak kunjung mendapatkan jawaban meskipun menit demi menit telah berlalu. Dia bisa merasakannya, Louise masih terus memeluknya di belakang sana. Tangannya juga melingkar di pinggangnya. Sangat lama terus seperti itu sampai Joanna terlelap tanpa sempat memakai kembali pakaiannya. Hanya berbalutkan selimut yang menutupi hingga bokongnya saja dan mengekspose punggungnya untuk Louise.


"Sayang, apa kau tidur?" tanya Louise saat menyadari tangan Joanna terhempas dengan sendirinya. Juga mendengar suara nafas yang teratur.


Karena tidak ada jawaban, Louise pun semakin memeluk Joanna dengan erat. Tak lupa meninggalkan tanda lebih banyak lagi di tubuh Joanna sebagai bekalnya seminggu kedepan. Lalu ikut-ikutan masuk ke dalam selimut dan memeluknya selagi masih ada sedikit waktu sebelum menemui Oskar, "Joanna. Aku benar-benar mencintaimu. Jadi tolong, jangan menolakku lagi. Karena aku, bisa saja marah."