
Sore ini villa itu sangat ramai. Villa yang sebelumnya hanya dikunjungi Louise dan anggota keluarganya kini sudah sedikit terbuka dengan menerima tamu lain.
Di halaman yang luas, mereka sedang barbeque an bareng. Ada orangtua Louise dan neneknya, ada Sir Alex dan beberapa pengikutnya, tentu saja ada juga Arthur dan William beserta pasangan mereka.
Hari ini adalah hari terakhir mereka dirumah. Karena mulai besok, mereka akan sering bolak-balik ke rumah sakit. Besok, William dan Oskar akan mulai menginap di rumah sakit untuk melewati beberapa tahapan sebelum akhirnya melakukan tindakan medis untuk memberikan sumsum William kepada Oskar.
"Oskar, cepat sembuh ya?" kata Ebra. Bocah lucu itu sedikit kurus karena kehilangan selera makan sejak Oskar tidak sekolah.
"Eum," jawab Oskar bersemangat.
Dua bocah itu kembali disibukkan dengan celotehan mereka ditemani orang-orang dewasa yang menyayanginya. Sampai harus terpisahkan karena Joanna membawa Oskar dan Marissa membawa Ebra untuk makan.
Sementara itu, Anne dan Rose terlihat sangat berbahagia melihat Louise dan William yang akhirnya sudah menunjukkan tanda-tanda melepaskan masa lajang. Sekali mantu langsung mendapatkan dua cucu yang lucu. Mungkin ini adalah buah kesabaran mereka setelah sekian lama menanti.
Sedangkan di sisi yang lain Jordan lain Sir Alex tampak sangat akur. Keduanya terlihat lebih sehat dan bugar. Sir Alex sudah tampil dengan penampilan aslinya. Pun dengan Jordan yang akhirnya kembali memamerkan otot-ototnya yang beberapa tahun dia sembunyikan. Dua pria paruh baya itu nyatanya masih sangat bugar dan sehat. Terlihat dari gelak tawanya yang sejak tadi mengudara dan menambah suasana ramai malam itu.
Disela-sela makan, Arthur sibuk mengurus Alexa yang sedang hamil muda. William sibuk mengurus Marissa dan Ebra. Dua pria itu terlihat sibuk dengan dunia kecil mereka. Sangat berbeda dengan Louise yang tampak santai karena tidak ada yang boleh dia lakukan selain duduk dan memangku Oskar.
"Bagaimana, enak kan?" tanya Joanna setelah Louise dan Oskar mendapatkan suapan darinya.
"Enak," jawab Louise kemudian tidak berhenti mengunyah.
"Masakan mommy yang terbaik!" puji Oskar.
"Tentu saja, selain cantik mommy kan juga pandai memasak," kata Joanna membanggakan diri.
"Joanna, bolehkah aku mencicipinya?" ijin Arthur.
"Tidak boleh!" tolak Joanna.
"Joanna, bagaimana denganku?" tanya William.
"Kau juga tidak boleh!" tolak Joanna lagi.
"Bibi, bagaimana dengan Ebra. Ebra rindu masakan Bibi!" pinta Ebra dengan memasang wajah memelas.
"Sini, ayo buka mulutmu!" perintah Joanna tanpa ragu. Joanna mengambil sepotong berukuran besar kemudian menyuapi Ebra dan menciumnya.
"Wow! Luar biasa!" puji Ebra.
"Ini untukmu, ingat jangan berikan pada siapapun!" kata Joanna setelah menyerahkan sepiring kecil masakan yang dia olah dengan penuh cinta.
PLAK
"Aish!" keluh Louise ketika sebuah pukulan mendarat di tangannya. Dia hanya akan mengambil sendok dan makan dengan tangannya sendiri tapi tiba-tiba Joanna memukulnya.
"Sudah ku bilang aku akan menyuapimu sampai kenyang!" tegas Joanna.
"Joanna," keluh Louise. Bukannya tidak suka tapi dia telah menunggu terlalu lama.
"Kenapa kau sangat tidak sabaran. Ayo buka mulutmu, aaaa!" perintah Joanna.
Louise patuh, begitupun dengan Oskar. Mereka terus meladeni Joanna yang tidak membiarkan mereka makan dengan tangannya sendiri.
"Dua bayiku memang yang terbaik. Kalian sangat imut," puji Joanna senang. Lalu mencium Louise dan Oskar secara bergiliran.
"Daddy, kenapa mommy jadi aneh?" tanya Oskar pada Louise saat Joanna pergi untuk mengambil buah.
"Sstt! Jangan membicarakan keburukan mommy atau mommy akan marah," jawab Louise.
"Daddy, apa daddy takut sama mommy?" tanya Oskar lagi.
"Tentu saja daddy takut. Mommy sangat galak. Oskar dengarkan daddy, jangan sampai membuat mommy marah atau dunia akan terbalik," kata Louise memperingatkan.
"Sepertinya begitu," jawab Louise.
"Daddy, lalu kita harus bagaimana?" tanya Oskar mulai mencemaskan masa depannya yang sepertinya terlihat suram.
Bayangan kekejaman Joanna sudah melayang-layang di pikiran Oskar. Seperti menghukumnya jika tidak segera mengerjakan PR. Memukulnya jika tidak mendapatkan nilai memuaskan di semua kelas. Dan melemparkannya ke kandang serigala jika tidak menuruti kata mommy.
"Jangan takut. Meskipun daddy takut tapi bukan berarti tidak ada cara untuk menghadapi mommy," kata Louise menenangkan Oskar.
"Bagaimana caranya?" tanya Oskar.
"Begini, nanti kalau daddy dan mommy sudah menikah, daddy akan membuat banyak adik perempuan untukmu. Kita lihat saja nanti, saat mommy merasa tersaingi karena kita lebih perhatian dengan adik-adikmu yang cantik dia pasti tidak akan menindas kita lagi," bisik Louise.
"Hihihi, daddy pasti di masa depan mommy akan memohon-mohon untuk tidak diabaikan karena kita terlalu sibuk bermain dengan adik bayi perempuan kan?" tanya Oskar. Otak kecilnya sepertinya sudah penuh dengan bayangan masa depan yang baru saja Louise rancang.
"Sstt, jangan keras-keras. Nanti mommy mendengar rencana kita," bisik Louise lagi.
"Sayang-sayangku apa kalian sedang membicarakan mommy di belakang?" tanya Joanna saat kembali dengan membawa piring berisi buah-buahan.
"Menurutmu?" jawab Louise singkat.
"Kalian tidak membicarakan keburukan ku kan?" tanya Joanna.
"Mommy, daddy bilang mommy sangat cantik," puji Oskar dengan memberikan dua jempolnya.
"Benarkah!" tanya Joanna.
"Tentu saja benar," jawab Louise.
"Kalau begitu aku akan mencium daddymu sebagai imbalannya!" seru Joanna.
Joanna siap mencium Louise, Louise pun siap menyambutnya. Tapi Oskar ikut-ikutan memasang kedua pipinya sehingga menghalangi ciuman dua orang dewasa itu.
CUP
Dua buah ciuman akhirnya mendarat di masing-masing pipi Oskar. Membuat Louise menggelitiknya karena harus kehilangan ciuman Joanna. Sementara Joanna merasa puas, karena dia tahu Oskar pasti tidak akan membiarkannya mencium Louise dan mengabaikannya.
"Oskar, daddy sangat marah. Kenapa kau mencuri ciuman mommy untuk daddy?" protes Louise dengan berbisik.
"Daddy, Xiao O tahu salah!" kata Oskar disela tawanya karena geli.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?" tanya Louise.
Oskar mengangguk, kemudian segera menghampiri Joanna, "Mommy, malam ini kita tidur bertiga ya?" pinta Oskar.
Joanna berpikir sejenak. Louise dan Oskar sudah menebak bahwa jawabannya adalah tidak. Tapi ternyata Joanna mengiyakannya.
"Baiklah!" kata Joanna mengiyakan.
Semua orang itu bermalam di vila malam ini. Tidak ada yang pulang. Mereka terus berbincang sampai malam. Hingga mereka memutuskan masuk ke kamar yang telah disediakan untuk mereka masing-masing.
Malam itu, Oskar tidur ditemani daddy dan mommynya. Tidur di tengah dengan pelukan dari ayah dan ibu pilihannya. Tapi posisi itu tidak bertahan lama, karena setelah Oskar tertidur pulas Louise meletakkan guling sebagai penggantinya dan pergi menyeberang untuk tidur dengan memeluk Joanna.
"Joanna?" panggil Louise.
"Eum?" jawab Joanna.
"Aku rindu!" kata Louise kemudian memeluk Joanna dan menciumnya.
...***...