CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Sebuah Fakta



"William, ini milikku!" tegas Joanna.


"Sejak kapan itu jadi milikmu. Itu milikku!" tegas William.


"Sudah ku katakan ini milikku. Aku sudah memiliki benda ini sejak aku masih bayi," kata Joanna percaya diri.


"Omong kosong, aku juga memilikinya sejak aku kecil," kata William tak mau mengalah.


"William, kau ini benar-benar menyebalkan. Liontin ini milikku, lihatlah di dalamnya ada inisial 'J'," lanjut Joanna.


Joanna segera melepaskan liontinnya, ingin membuktikan pada William bahwa liontin itu miliknya. Membukanya untuk menunjukkan inisial 'J' yang dia katakan. Tapi yang dia lihat setelahnya meruntuhkan kepercayaan dirinya.


"Eh, kenapa bukan J? Kenapa jadi E dan S?" tanya Joanna ketika melihat inisial yang berbeda. E dan S, entah kenapa Joanna sangat tidak asing dengan dua huruf itu.


"Karena itu milikku, itu namaku. Apa kau percaya sekarang?" tanya William kemudian merampas liontin yang masih di pegang Joanna.


"T-tunggu dulu. Seharusnya ada foto dua anak kecil di dalamnya kan?" tanya Joanna.


William menatap Joanna curiga. Darimana Joanna tahu, seingatnya hanya Louise yang pernah melihatnya. Itupun sudah sangat lama. Setidaknya beberapa tahun yang lalu saat mereka masih di luar negeri.


"Darimana kau tahu?" tanya William.


"William, biarkan aku melihatnya!" ijin Joanna.


Meskipun tidak tahu kenapa Joanna bersikeras melihatnya, William tetap membuka dan menunjukkan isinya pada Joanna.


William tidak menunjukkan ekspresi apapun karena dia tidak tahu cerita di balik liontin itu karena dia hilang sejak kecil. Jadi tidak ada yang memberitahunya tentang tunangan atau apalah itu. Berbeda dengan Joanna yang bahkan untuk menanggalkan liontin itu dari lehernya harus menunggu selama lebih dari 10 tahun.


"Kau kenapa?" tanya William begitu melihat Joanna menatapnya.


"Ini benar-benar milikmu?" tanya Joanna meyakinkan.


"Eum, ini milikku," jawab William.


"Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Joanna.


"Lelaki ingusan itu aku. Tapi aku tidak tahu siapa bocah ingusan lainnya yang memegang tanganku itu," jawab William.


"William, bayi perempuan itu aku," kata Joanna.


"Apa?" tanya William.


William memicingkan matanya. Bagaimana bisa bayi perempuan itu Joanna. Kenapa dia memangkunya, kenapa dia bisa bertemu Joanna saat bayi. Kenapa Joanna bersikeras benda ini miliknya. Apa mereka punya benda yang sama, tapi kenapa bisa?


"Aku tahu foto ini diambil saat aku masih menjadi seorang anak bangsawan. Tapi kenapa harus Joanna. Mungkinkah orangtuaku dan orangtuanya berteman?" batin William.


Joanna menggigit bibirnya, ingatannya melayang ke empat belas tahun yang lalu. Tepatnya saat dia berusia kurang dari 11 tahun.


Saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke Kota Timur. Mengikuti orangtuanya dan beberapa tetua untuk menghadiri upacara doa untuk mendiang tunangannya. Hari itu bangsawan dari timur memutuskan untuk menganggap salah satu calon penerus mereka, Eduardo Silva mati karena tidak kunjung ditemukan pasca kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan mencari selama sepuluh tahun lamanya.


"Ayah, karena dia mati apa berarti aku tidak memiliki tunangan lagi?" tanya Jose kecil.


"Sepertinya begitu. Kau terlihat sangat senang, kenapa?" tanya Sir Alex.


"Karena aku bisa memilih pangeran pilihanku sendiri saat dewasa nanti," jawab Jose senang.


"Apa pangeran pilihanmu itu Edgar?" tanya Sir Alex.


"Mungkin," jawab Jose kecil dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Baiklah, dia tidak buruk juga. Pilihlah sesuka hatimu. Asal kau mencintainya dan dia pun mencintaimu seharusnya itu bukan masalah," kata Sir Alex. Kemudian mencubit pipi Jose kecil.


"Kalau begitu, apa aku boleh membuang benda ini?" tanya Jose dengan menunjukkan liontin yang selalu dia pakai sejak lahir.


"Jangan, kau harus menyimpannya sebagai bentuk penghormatan. Meskipun dia sudah mati, dia sempat menjadi calon suamimu," jawab Sir Alex.


"Apa aku harus memakai ini selamanya?" tanya Jose lagi.


"Kau boleh melepasnya, tapi jangan membuangnya. Simpan saja di suatu tempat yang menurutmu pantas" jawab Sir Alex.


"Jo, kau kenapa?" tanya William ketika menyadari Joanna aneh.


"Aku ... aku,-"


"Kau ... kau ini siapa. Bukannya kau itu adiknya Louise?" tanya Joanna.


"Aku memang adiknya," jawab William. Meskipun dirinya masih bingung, tapi dia tetap menjawab pertanyaan dari Joanna.


"Tapi kenapa kau bisa punya benda ini?" tanya Joanna lagi.


"Benda ini sudah bersamaku sejak papa dan mama menemukanku," jawab William.


"Apa?"


"Aku hanya anak angkat yang ditemukan di jalanan saat sedang sekarat," jawab William.


Joanna merasa tiba-tiba pundaknya berat. Saat itu juga dia teringat dengan apa yang Louise katakan hari itu.


..."Joanna, aku sangat mencintaimu. Apa menurutmu kita bisa menikah. Bagaimana jika ternyata tunanganmu itu masih hidup dan harus menikah denganmu. Bagaimana jika aku tidak bisa menyingkirkannya?" ...


Joanna menelan ludahnya, inikah alasannya. Inikah yang membuat Louise aneh belakangan ini. Tentu saja Louise tidak bisa menyingkirkannya. Bagaimana mungkin dia menyingkirkan William, adiknya sendiri. Pria yang sebelumnya Joanna kira adik kandung Louise?


Joanna gemetaran, lalu memenatap William dalam-dalam dan mengatakan, "William, aku tidak ingin menikah denganmu. Jika aku menikah, aku hanya akan menikah dengan Louise," kata Joanna.


William kaku di tempatnya, apa maksudnya. Kenapa tiba-tiba Joanna membicarakan pernikahan dengannya. Apa dia sudah gila. Mana mungkin dia menikah dengan calon kakak iparnya. Jika dia ingin menikah, sudah pasti Marissalah yang jadi pengantinnya, bukan Joanna. Ada apa ini, apa ada kesalahpahaman disini?


"William apa kau ingin menikah dengan Joanna?" tanya Arthur yang kebetulan sudah membuka pintu. Bukan hanya Arthur, tapi juga ada Alexa dan Marissa di belakangnya.


William dan Joanna menoleh. Lalu tanpa mengatakan apapun Joanna pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan William dan semuanya yang masih tidak tahu maksud dari perkataan Joanna barusan.


"William, apa ini?" tanya Marissa.


"Apa kau ingin menikahi calon kakak iparmu?" timpal Alexa.


"Ini bukan seperti yang kalian pikirkan," jawab William panik.


"Lalu?" tanya Arthur.


"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba dia menjadi aneh saat melihat liontin ini dan mengatakan tidak ingin menikah denganku. Sungguh aku tidak melakukan apapun, aku juga tidak berbuat yang aneh-aneh. Kalian harus percaya padaku, Marissa kau percaya padaku kan?" jawab William.


Marissa bimbang. William memang bisa dipercaya, begitu pun dengan Joanna. Tapi apa yang membuat Joanna mengatakan tidak ingin menikah dengan William?


Saat Marissa sibuk mengira-ngira, Arthur dan Alexa sibuk memperhatikan liontin tua itu. Setelah beberapa saat, Alexa dan Arthur yakin liontin ini benda yang sama dengan milik Joanna. Hanya saja memiliki inisial yang berbeda. Sedangkan alasannya kenapa, mereka juga tidak tahu.


"Apa ini milikmu?" tanya Alexa.


"Eum, ini milikku," jawab William.


"Joanna juga memiliki liontin yang sama persis seperti ini. Hanya saja dengan inisial yang berbeda," kata Arthur.


"Dia juga punya, darimana kalian tahu?" tanya William.


"Kami pernah melihatnya saat pertama kali menemukan Joanna," jawab Alexa.


"Pantas saja dia bersikeras bahwa liontin ini miliknya. Tapi, apa kalian tahu ada foto di dalamnya?" tanya William.


"Foto?"


William segera membuka liontin itu dan menunjukkan isinya. Selama ini Alexa hanya tahu ada huruf J. Tapi tidak tahu ada foto di dalamnya.


"Dia bilang bayi perempuan ini dia," kata William.


"Lalu apa lelaki kecil ini dirimu?" tanya Marissa.


"Iya itu aku," jawab William.


"Kalian, bisakah keluar sebentar. Ada hal yang ingin ku bicarakan berdua dengan William," ijin Arthur.


Alexa dan Marissa mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan itu hanya menyisakan Arthur dan William.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya William.


"William, katakan dengan jujur. Apa kau sudah tahu siapa dirimu?" tanya Arthur.


...***...