
Jarum jam itu masih setia menari-nari mengitari sumbunya. Detik demi detik berlalu begitu lambat di hari yang semakin gelap. Sudah sangat lama Joanna duduk seorang diri hanya untuk menunggu Louise. Tapi pria itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya meskipun matahari telah kembali ke peraduannya.
Joanna melihat bintang-bintang di langit dari balik kaca, masih sempat tersenyum tipis meskipun baru saja bertambah lagi satu guratan di sisi hatinya. Dia sempat meregangkan tubuhnya sesaat, lalu sekali lagi melihat kearah jam dinding dan menghitung berapa lama dia menunggu Louise disini. "Sudah sembilan jam aku menunggumu disini. Kenapa kau tidak datang. Kenapa masih tidak mengangkat teleponku juga. Sebenarnya apa salahku, Louise?" gumam Joanna pelan.
Dia segera bangkit dengan sisa kesabaran yang dia punya. Menyandang tas miliknya ke bahu dan mengambil tas lain berisikan bekal makan siang yang sengaja dia buat untuk Louise tapi sekali lagi tidak tersentuh. Joanna melihat bekal yang dia buat penuh cinta itu dengan getir. Bekal yang dulunya sampai membuat Oskar, Ebra, dan Arthur saling berebut dengan memainkan hompimpa hanya untuk memakan potongan terakhirnya.
"Lain kali jika aku masih berada di kota ini, lebih baik aku membuat bekal untuk mereka yang bisa menghargai. Bukan membuat bekal untuk Louise yang sama sekali tidak peduli."
Joanna mulai melangkah meninggalkan perusahaan yang sebagian besar lampunya sudah padam dengan langkah kaki yang gontai. Menyembunyikan satu tangannya ke mantel untuk melindunginya dari angin malam yang dingin dan mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tujuannya malam ini bukan rumahnya di Kota Utara. Bukan juga rumah dimana dia biasa tinggal dengan William di Bangsawan Timur, tapi villa milik Louise. Karena seharian pria itu tidak datang ke perusahaan, jadi Joanna mencoba mencarinya di rumah. Tapi sepertinya dia harus kecewa lagi karena hanya Kepala Suh dan beberapa maid serta pengawal yang muncul.
"Dia tidak kembali sejak kemarin lusa?" tanya Joanna kepada Kepala Suh yang menyampaikan bahwa Louise tidak ada di villa.
"Benar, Nona!" jawab Kepala Suh sopan.
"Oh, baiklah! Kalau begitu aku permisi," pamit Joanna.
"Nona, hari sudah malam. Apa Nona tidak ingin bermalam saja?" tanya Kepala Suh.
"Tidak perlu, Oskar dan Reagan sedang menungguku," jawab Joanna dengan senyum yang dipaksakan.
Joanna berbalik arah, pergi meninggalkan villa besar nan megah yang penuh kenangan. Villa besar yang konon katanya akan menjadi rumah masa depan Louise dan Joanna tapi sepertinya tidak akan terealisasikan. Joanna masih mencoba tersenyum, menatap villa yang rencananya tidak akan dia kunjungi lagi setelah malam ini sebelum masuk ke mobil dan menghubungi orang terakhir yang mungkin tahu keberadaan Louise. Dia adalah Rose Matthew.
"Ma, apa daddynya Reagan ada di rumah mama?" tanya Joanna setelah wanita itu mengangkat teleponnya.
"Sudah lama Louise tidak datang kemari. Dia juga tidak pergi ke rumah oma. Bukankah seharusnya dia ada di villa. Kenapa tidak meneleponnya?" tanya Rose dari sambungan telepon.
"Itu,-"
Jawaban itu tersangkut di tenggorokannya. Haruskah dia mengadu? Tentu saja tidak perlu. Mengadu untuk apa. Sejak awal Louise sudah pernah mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau jika menginginkannya. Dia pun juga bisa membuang apapun yang tidak dia inginkan seperti sampah. Dan Joanna lah sampah itu sekarang.
"Sayang, ada apa. Apa terjadi sesuatu. Kenapa suaramu aneh?" tanya Rose khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Ma!" jawab Joanna.
"Kapan kalian datang lagi. Mama dan papa sudah sangat merindukan dua anak kecil itu," protes Rose dengan melirik suaminya yang sudah tidur.
Beberapa pekan yang lalu, hampir setiap hari pria itu uring-uringan karena calon besannya selalu pamer dengan menunjukkan fotonya yang sedang bermain-main dengan Reagan dan Oskar. Sementara dia tidak bisa berlama-lama bermain dengan cucunya karena kedua cucunya tinggal di Kota Utara sejak Louise pergi melawan Abixz99.
"Lain kali ya, Ma!" janji Joanna.
"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong mana anak mama yang satunya?" tanya Rose.
"Oh, William ada di rumah," jawab Joanna.
"Joanna, apa kau sedang tidak di rumah. Kenapa tidak meminta William mengantarmu kalau ingin pergi. Lihatlah sudah jam berapa ini. Katakan kau dimana, mama akan meminta Louise atau William menjemputmu!" omel Rose saat melihat jam sudah menunjukkan setengah sepuluh malam.
Jika Rose menghubungi Louise, sudah pasti pria itu tidak akan menjemputnya. Sangat berbeda dengan William yang pasti akan langsung meluncur untuk menjemputnya.
"Ya sudah, segeralah pulang. Anak-anak itu pasti menunggumu. Mama akan menutup teleponnya. Selamat malam!" pamit Rose.
"Selamat malam!"
.
.
.
Mobil yang dikemudikan Joanna menepi di tepian danau. Terparkir rapi di samping tiang lampu yang di bawahnya ada kursi kayu. Joanna segera melepaskan sabuk pengamannya lalu duduk menikmati suasana malam sendirian. Malam belum terlalu larut dan suasana masih ramai meskipun cuaca cukup dingin.
Beberapa pasang muda-mudi lewat di depannya dengan mesra tanpa rasa malu. Berpasang-pasang sejoli juga terlihat di setiap bangku taman. Jujur saja Joanna sangat iri melihatnya, terlebih saat melihat sepasang orangtua yang bermain-main dan bercanda dengan anaknya.
"Mungkin akan lebih baik jika ayah dari anak-anakku adalah pria biasa. Tidak terkenal, tidak jadi rebutan dan tidak memiliki kekayaan triliunan. Dengan begitu mungkin dia bisa lebih setia," batin Joanna
Joanna menundukkan kepalanya. Tersenyum tipis mengingat hari-hari indah bersama Louise yang telah dia lalui. Tapi senyum itu semakin pudar dan sesak saat mengingat wajah Stella yang menggelayut manja saat menggandeng Louise.
..."Joanna ayo menikah!"...
..."Satu-satunya yang membuatku takut adalah tidak bisa melihatmu lagi!"...
..."Sayang, aku ingin punya banyak anak dimasa depan. Lalu aku harus memberi mereka nama siapa. Axel, Prince atau Shidqy?"...
..."Aku tidak sabar melihat Reagan tumbuh besar dan mengajarinya berjalan. Lalu aku akan membuat dua anak nakal ini mengejarku karena aku akan menculik ibunya!"...
Beberapa potong kalimat itu terus melintas begitu saja di pikiran Joanna. Semua kenangan manis, mimpi, harapan dan cita-cita mereka yang indah masa depan. Semuanya itu mungkinkah masih bisa diwujudkan?
Kemarin, semuanya masih sangat indah. Tapi kenapa sekarang sudah berbeda? Masihkah dia menjadi kesayangan Presdir Louise?
Joanna mulai menggigit bibirnya di kesendiriannya. Duduk dengan memeluk bekal yang sudah dingin dengan beberapa butir air mata yang merembes di pelupuk mata. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan. Ada banyak rindu yang dia simpan. Bahkan ada rahasia yang ingin dia sampaikan. Tapi kenapa dia sudah tidak memiliki waktu untuk menemuinya. Apa cinta itu memang sudah tidak ada?
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Louise? Lalu bagaimana dengan anak-anak kita. Bukankah kau ingin menemani Reagan berjalan dan membuat anak-anak itu mengejarmu. Reagan bahkan belum merangkak tapi sepertinya kau sudah akan pergi. Lalu aku harus bagaimana?" batin Joanna.
Joanna mengusap wajahnya dengan kasar. Menghirup nafas panjang dan melihat keatas untuk memerhatikan bintang-bintang yang bertebaran di angkasa. Hanya tiga puluh detik, hanya membutuhkan waktu tiga puluh detik bagi Joanna untuk mengambil satu keputusan besar itu. Keputusan besar yang tidak pernah terpikirkan olehnya selama ini.
Kini Joanna bangkit, membuang makanan yang mulai basi ke tempat pembuangan sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Aku harus bagaimana Louise Matthew. Apa kau tahu, aku membutuhkan banyak keberanian untuk menemuimu hari ini. Aku datang melihatmu bukan hanya sekedar mengantar makan siang. Tapi aku juga ingin mengatakan sebuah kejujuran tentang kejadian malam itu bersama William. Aku tidak ingin menipumu, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Aku juga sudah siap dengan sumpah serapah yang pasti akan keluar dari mulutmu karena kesalahanku. Tapi aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan semuanya. Aku tidak punya kesabaran sebanyak itu Louise Matthew. Aku sangat sedih karena kau tiba-tiba berubah. Aku sangat kecewa karena tingkah lakumu yang seperti ini. Aku memang patah hati karena sepertinya kau sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi ada dua anak yang menungguku. Karena sepertinya kau sudah tidak menginginkan aku lagi. Maka aku pun juga harus sadar diri. Aku Josephine, tidak akan mengemis cintamu lagi. Aku Josephine, tidak akan mencarimu lagi. Aku Josephine, mungkin akan membawa Reagan dan Oskar pergi dan membesarkannya seorang diri tanpamu."
...***...