
"Sayang, aku masih belum!"
Lagi-lagi Louise mulai menggerayangi Joanna. Entah sihir apa yang Louise gunakan tapi hanya dalam sekejap sudah kembali menaikkan hasrat Joanna yang sempat redam.
Dia memompa dengan semangat, backsound kecipak-kecipuk dan ranjang berderit semakin membuatnya serasa berada di atas awan.
"Do you want more faster, Joanna?
"Yes, i want!"
Mendengar jawaban Joanna membuat Louise semakin bersemangat. Memegang kedua tangan Joanna dengan kuat, memastikan tubuh itu tidak lari dari tempatnya. Lalu, kembali memulai aksinya dengan kekuatan penuh sehingga membuat bola-bola besar itu bergerak bebas.
"Joanna, shhit!" racau Louise.
"Are you enjoying it, Joanna?"
"Louise, it's so amazing. That feels so good."
Louise merendahkan tubuhnya, menggigit kecil leher Joanna dan menusuk sedalam mungkin.
"Joanna, are you ready?" tanya Louise terbata-bata.
Louise semakin kesetanan, dia semakin cepat dan cepat. Membuat Joanna terus berteriak dan meracau.
"Joanna akh!" pekik Louise pada akhirnya. Dibarengi dengan keluarnya cairan cintanya yang menuju rahim Joanna. Pun dengan Joanna entah berapa kali dia membasahi sprei itu karena ulah Louise.
Keduanya terkulai lemas, mengatur nafas bersama-sama. Terus mencium, juga memeluk tubuh bermandikan keringat itu. Entahlah, Louise selalu ntidak bisa mengalihkan pandangannya, terlebih ketika Joanna terlihat semakin seksi disaat-saat seperti ini.
"Sayang, apa kau menyukainya?" bisik Louise.
Joanna enggan menjawab, terlalu malu untuk menjawab. Tapi tangannya menarik Louise untuk memeluknya semakin dalam dan erat.
Beberapa waktu mereka hanya diam dan berpelukan, berbagi nafas untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan bersama sampai akhirnya Louise duduk.
Joanna mengikutinya dengan malas, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan memeluk Louise dari belakang, "Apa kau sudah akan pergi?" tanya Joanna.
Louise menoleh, mendekatkan wajahnya ke wajah Joanna dan berbisik pelan, "Joanna, apa kau bercanda. Ada kemungkinan seorang bayi akan lahir meskipun hanya dibuat sekali. Tapi kita, kenapa hanya membuatnya sekali jika bisa melakukannya berkali-kali? But, i want to change my pose. Do you like being on top, Joanna?" tawar Louise.
"I don't know," jawab Joanna.
Joanna tidak sempat meneruskan kalimatnya karena Louise sudah merebahkan dirinya dan membuat Joanna duduk manis diatasnya.
"Let's try it, Joanna. Bergeraklah sesuka hatimu. Aku akan patuh," pinta Louise.
"Sesuka hatiku?" tanya Joanna.
"Jangan takut, aku akan menggantikanmu jika kau lelah," jawab Louise, "Tunggu, bisa kah membuang selimut ini. Bagaimana aku bisa menikmati pemandangan indah ini jika kau menutupnya?"
Malam ini, jadi malam yang sangat panjang untuk mereka. Dan malam ini, sepertinya Joanna baru mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat 'wanita akan menjadi miiyabi ketika jatuh di tangan lelaki yang tepat'.
.
.
.
Louise menggeliat ketika mendengar alarmnya berbunyi. Tangannya segera mematikan alarm itu sementara matanya mulai mengintip. Hari ini dia bangun pagi-pagi sekali.
Maklum, dia harus segera kembali ke villa sebelum William datang. Jujur saja, sebenernya dia sangat enggan meninggalkan wanita ini. Dia masih sangat ingin memeluknya dan tidur saling berpelukan seperti ini selamanya tapi dia benar-benar harus segera pergi.
"Hanya beristirahatlah di ranjang untuk hari ini," bisik Louise sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Joanna yang masih polos itu.
Pria itu tersenyum sangat manis, terlebih saat mengingat Joanna yang liar dan tertidur lelap di pelukannya dan tidak ingin ditinggalkan.
"Aku janji akan sering-sering mengunjungimu," janji Louise kemudian segera memakai pakaiannya dan pergi.
Satu jam berselang. Kini giliran William yang masuk ke kamar tanpa menaruh curiga dan tanpa berpikiran aneh. Dia melihat Joanna sekilas saja sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar mandi.
Joanna baru membuka matanya saat mendengar gemericik air dari kamar mandi.
Gadis yang baru semalam menyerahkan keperawanannya itu kembali menguap, rasanya baru beberapa saat yang lalu Joanna tertidur, tapi tiba-tiba hari sudah pagi lagi.
Ting.
Ponselnya berbunyi. Senyum itu langsung terpancar saat membuka isinya.
"Datanglah sesering mungkin sesuai janjimu," gumam Joanna.
Senyum itu buyar ketika William keluar dari kamar mandi.
"Oh, itu William!" gumam Joanna.
"Bagaimana keadaan Marissa, apa dia baik-baik saja?" tanya Joanna ketika William sudah semakin dekat.
"Hanya luka lecet saja," jawab William terus terang.
"Tapi kenapa kau lama sekali baru kembali?" protes Joanna.
"Joanna, aku sudah lama tidak melihatnya. Jadi aku memutuskan untuk menemaninya hingga dia tertidur," jawab William.
"O-oh," jawab Joanna singkat.
"Benar juga, jika William tidak lama Louise tidak akan segila itu kemarin," batin Joanna.
"Jo, kau kenapa?" tanya William saat merasa Joanna menjadi sedikit aneh setelah dirinya menjawab pertanyaan terakhirnya.
"Ah, aku tidak apa-apa," jawab Joanna.
"Maaf!" lanjut William.
"Maaf untuk apa?" tanya Joanna tidak mengerti.
"Maaf, karena aku lebih mengutamakan Marissa daripada menemanimu di tempat yang sangat menyebalkan ini," jawab William.
"Will, aku sungguh tak apa," kata Joanna.
"Apa kau tak cemburu?" tanya William tiba-tiba.
"Tentu saja tidak," jawab Joanna.
"Ah, hatiku sangat sakit. Bagaimana bisa istriku tidak cemburu melihat suaminya menghabiskan malam dengan wanita lain," celoteh William mencoba mencairkan suasana.
Joanna seperti tersindir. Dialah sebenarnya istri yang menghabiskan malam dengan pria lain. William tidak tahu Louise mendatanginya dan menghajarnya habis-habisan semalam bukan?
"Jo, kau aneh hari ini. Apa kau sakit?" tanya William.
"I-iya aku sedikit sakit," jawab Joanna terbata.
"Mana, bagian mana yang sakit biarkan aku memeriksanya," tawar William sambil mendekat ke arah Joanna.
"Tidak boleh!" jawab Joanna panik.
Bagaimana mungkin Joanna membiarkan William memeriksanya. Karena bagian yang sakit adalah area sensitifnya. Itu sangat sakit bahkan untuk bergerak. Joanna menutup kakinya rapat-rapat, takut William akan menjadi pria kedua yang melihatnya.
"Kenapa harus sepanik itu?" tanya William kaget saat melihat Joanna kembali membungkus dirinya dengan selimut.
"Ah, tidak. Aku hanya ... ah sudahlah aku akan pergi mandi." Joanna menghindari William dengan pelan. Sangat pelan karena rasa sakit di pusatnya kembali terasa disaat dia melangkahkan kakinya.
"Ada apa sih dengannya?" gumam William.
William mengangkat kedua bahunya, tidak mengerti apa yang membuat Joanna terlihat sangat aneh pagi ini. Tapi keingintahuannya terjawab ketika pandangannya melihat sprei mereka yang terdapat bercak darah dari jarak yang cukup jauh.
"Oh, dia sedang datang bulan rupanya. Pantas saja menolak untuk ku periksa," ujar William.
William segera mengganti pakaiannya dan keluar kamar karena harus menemui seseorang. Pelayan sudah sibuk masing-masing. Pelayan yang disediakan khusus Joanna juga sudah berdiri di depan pintu. Melihat itu William pun sempat berhenti sebentar saat melewatinya, "Tolong ganti sprei kami yang kotor," ujar William kemudian pergi.
...***...