
"Tapi Louise belum datang. Bagaimana ini?" tanya Joanna.
"Kalau begitu tunggu dia datang dan temani dia makan. Setelah itu baru kau pergi kerumahku, bagaimana?" usul Alexa.
"Baiklah!" jawab Joanna.
"Kalau begitu aku menutup teleponnya sekarang. Aku akan menyiapkan beberapa cemilan untuk kalian!" pamit Alexa.
"Apa kau tidak ingin berbicara dengan Arthur?" tanya Joanna.
"Tidak perlu. Aku bisa bicara dengannya saat dia pulang kerumah nanti. Lagipula setelah dia makan makanan yang kau buat seharusnya dia tidak akan mati. Atau malah menjadi bahagia berlipat ganda," jawab Alexa kemudian langsung menutup teleponnya.
"Lihatlah, apa yang dilakukan Alexa?" keluh Joanna.
"Dia biasa seperti itu kan?" kata Arthur.
"Baiklah, karena kau sudah kenyang aku akan pergi dulu," pamit Joanna.
Joanna kembali memperbaiki gendongan Reagan. Sementara Arthur segera mengeringkan alat makan yang sudah dia cuci kemudian memasukkannya kembali ke tempatnya.
"Selamat bekerja, Paman. Sampai jumpa!" kata Joanna dengan melambaikan tangan Reagan.
"Sampai jumpa!" jawab Arthur.
Arthur menunduk. Menggendong Oskar yang sudah semakin besar dan menciumnya sebelum mencium Reagan. Lalu kembali menurunkan Oskar dan membiarkan mereka pergi ke ruangan Louise. "Terimakasih makanannya. Lain kali kau harus sering-sering membuatnya untukku!"
"Aku tidak janji. Tapi akan ku usahakan," jawab Joanna.
"Paman, dadah!" kata Oskar dan disambut lambaian tangan dari Arthur.
Ibu dan anak itu pergi. Kembali berjalan ke ruangan Louise yang berada di lantai yang sama. Mereka bisa melihat Marissa dan Ebra baru saja masuk ke ruangan William.
"Mommy, itu Ebra!" kata Oskar.
"Dia pasti rindu Papi William. Ayo, kita tunggu daddy di ruangannya saja!" ajak Joanna.
Mereka melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Masuk ke ruangan yang lebih besar dan lebih lengkap daripada ruangan milik Arthur dan William. Tapi yang mereka tunggu tidak kunjung datang meskipun mereka sudah menunggu selama setengah jam.
"Kenapa lama sekali. Bukankah hanya mengambil barang yang tertinggal saja?" batin Joanna.
Bukan hanya Joanna yang bosan menunggu. Oskar pun sama. "Mommy, kenapa daddy lama sekali?" tanya Oskar.
"Tunggu sebentar, mommy akan mencoba menelepon daddy lagi," jawab Joanna.
Joanna segera menghubungi Louise. Tapi nyatanya Louise masih tidak mengangkat panggilan darinya. Padahal sebelum ini Joanna juga sudah menghubunginya beberapa kali.
Drrtt
Akhirnya sebuah notifikasi muncul, itu adalah pesan masuk dari Louise. Pria itu meminta maaf dan mengatakan tidak bisa kembali ke kantor secepatnya karena bertemu rekan bisnisnya saat dalam perjalanan. Untuk itu dia meminta Joanna pulang saja. Meskipun begitu, Louise berpesan pada Joanna untuk meninggalkan bekal miliknya. Dia bilang akan memakannya nanti.
"Sayang, daddy bilang tidak bisa kemari sekarang. Daddy sedang bertemu dengan rekan bisnisnya. Karena kita tidak bisa bertemu dengan daddy sekarang, bagaimana kalau kita pergi ke rumah Bibi Al?" kata Joanna.
"Iya, mommy. Xiao O ingin lihat Adik George berjalan!" sambut Oskar senang.
"Kalau begitu tunggu apalagi, ayo!" ajak Joanna.
.
.
.
William hanya bisa melihat tanpa berkata-kata saat Ebra memakan bekal buatan Joanna dengan lahap. Seluruh isinya habis tak tersisa. Sebutir nasi atau setitik saus pun juga tidak ada.
Ebra, setelah masuk ke ruangan William dia langsung meminta ijin untuk memakan bekal buatan Joanna dan memberikan bekal buatan Marissa untuk William. Bukannya Ebra tidak ingin calon papanya memakan makanan buatan orang lain, hanya saja dia sudah sangat lama tidak merasakan masakan bibinya yang cantik itu.
"Papa, terimakasih. Ebra sudah kenyang sekarang!" kata Ebra.
"Apa itu yang enak?" tanya William sembari mengambil sebutir nasi di pipi Ebra.
Ebra menoleh sebentar. Memastikan mamanya tidak mendengar suaranya saat mamanya berada di kamar mandi. "Papa, apa papa tidak tahu. Masakan buatan Bibi Joanna kan yang terbaik," bisik Ebra.
"Benarkah?" tanya William.
"Tentu saja benar!" jawab Ebra.
"Apa kalian sudah selesai makan?" tanya Marissa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah!" jawab William dan Ebra berbarengan.
"Ebra, karena papa sedang sibuk sebaiknya kita segera pulang. Ayo!" ajak Marissa.
Sepertinya anak itu enggan beranjak. Tapi William benar-benar sibuk sekarang. Pekerjaannya ini harus dia selesaikan secepatnya karena besok dia tidak bisa ke kantor. "Nanti papa akan mampir kerumah. Sekarang dengan mama dulu ya?" bujuk William.
"Janji?" tanya Ebra dengan menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji!" kata William dan membalas Ebra dengan jari kelingkingnya.
"Mama, kata papa Oskar ada disini. Apa Ebra boleh menemuinya. Ebra sudah rindu!" tanya Ebra.
"Kemarin kan kalian sudah bertemu seharian di sekolah. Apa masih kurang?" tanya Marissa.
"Mama, sebentar saja. Please?" kata Ebra memohon.
"Marissa, biarkan saja mereka bertemu. Seharusnya dia masih di ruangan Louise atau Arthur sekarang," bela William.
"Mama?" ijin Ebra dengan menarik tangan Marissa.
"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu," pamit Marissa. Marissa segera membereskan peralatan makan mereka. Lalu cipika-cipiki sebentar dengan William sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
Mereka baru saja keluar dari pintu. Tapi Oskar sudah keburu melihat keduanya dan memanggil Ebra. "Ebra, apa kau juga tidak sekolah hari ini?" tanya Oskar riang.
"Itu karena kau tidak sekolah makanya aku juga tidak ingin sekolah," jawab Ebra sok marah.
"Joanna, karena Oskar tidak sekolah, Ebra pura-pura sakit perut agar diijinkan pulang kerumah. Bukankah Oskar juga sakit, tapi dia terlihat sangat sehat?" kata Marissa.
"Oh itu. Marissa, jadi begini. Sebenernya anakku ini tidak sakit. Dia hanya berpura-pura saja. Dia tidak ingin ke sekolah karena ingin melihat Reagan," kata Joanna.
"Dasar, kenapa mereka sangat kompak bandelnya!" keluh Marissa dengan memijit kepalanya. Sepertinya di masa depan dia akan semakin pusing dengan tingkah dua anak itu. Tapi meskipun begitu, Marissa tidak melupakan Reagan dan mencoba menggendongnya.
Saat kedua orangtua itu sibuk, Oskar dan Ebra kembali melanjutkan pembicaraan mereka dan itu dimulai oleh Oskar. "Ebra, apa kau baru saja menemui papiku?" tanya Oskar.
"Xiao O! Siapa juga yang menemui papimu, aku kemari menemui papaku tahu?" jawab Ebra.
"Tapi kan papi menikah dengan mommy. Tentu saja dia papiku!" kata Oskar.
"Tapi sebelum menikah dengan mommymu kan dia sudah hampir jadi papaku!" kata Ebra lagi.
"Tapi, meskipun begitu Papi Will kan tetap papiku!" kata Oskar tak mau kalah.
"Sampai kapan kalian akan bertengkar?" tanya Marissa saat suara mereka semakin keras.
"Mama?" jawab Ebra merajuk.
"Bukankah kau bilang rindu Oskar. Apa yang kau rindukan sebenarnya. Apa kau rindu bertengkar dengannya?" omel Marissa.
Dua anak itu diam. Saling melirik sebelum saling mengacuhkan. Untung saja ada Joanna. Dia tidak ingin membujuk keduanya. Tapi melangkah sendirian dan disusul Marissa sebelum mengatakan, "William itu papi dan papa kalian. Tidak perlu berebut seperti itu. Lagian apa kalian ingin ditinggal. Reagan sudah akan pergi menemui George sekarang."
"Mommy!"
"Mama!"
Dua anak kecil itu langsung akur. Mulai berlari menyusul ibu mereka dengan bergandengan tangan. Tapi tetap saja Oskar tidak mau kalah. Jadi dia tetap menggoda Ebra sesuka hatinya.
"Ebra, apa kau tidak ingin memanggilku kakak?" tawar Oskar.
"Kenapa juga aku harus memanggilmu kakak?" tanya Ebra.
"Tentu saja karena aku ini kakakmu," jawab Oskar.
"Sejak kapan kau jadi kakakku. Aku tidak mau punya kakak yang merepotkan sepertimu. Titik!" tolak Ebra.
"Tapi kan Papi Will menikah dengan mommy duluan. Jadi kau jadi adikku sejak setahun yang lalu," goda Oskar.
"Pokoknya aku tidak mau. Tidak mau!" kilah Ebra.
"Ebra, kenapa kau sangat nakal pada kakakmu. Apa kau lupa dengan apa yang dikatakan Miss di sekolah?" tanya Oskar.
"Aku ingat kok," jawab Ebra.
"Apa coba?"
"Seorang kakak harus melindungi adiknya dan seorang adik harus menyayangi kakaknya. Harus saling mengasihi dan menjaga. Oskar, aku sudah menyayangimu tapi kau tidak pernah melindungiku. Kau ini sungguh kakak yang buruk," keluh Ebra.
"Hehehe, baiklah mulai besok aku akan jadi kakak yang baik!" janji Oskar.
Oskar tersenyum lebar. Merangkul Ebra dan terus bersuka cita karena memiliki tiga adik yang lucu dan tampan. Mereka bertiga siapa lagi kalau bukan Ebra, George dan Reagan. Lalu Ebra meskipun mulutnya menolak, tapi hatinya tertawa di dalam sana. Tidak masalah tidak jadi kakak, toh dia masih punya dua adik yang menggemaskan dan satu kakak yang tampan.
...***...