CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Makanan Ikan



"Setelah ini, kau akan kemana. Apa langsung kembali ke villa?" tanya William.


"Tidak, aku ingin pulang ke rumahku," jawab Joanna.


"Kapan kau berencana pulang?" tanya William.


"Hari ini, secepatnya," jawab Joanna.


"Kalau begitu tunggu aku kembali. Aku akan mengantarmu pulang nanti. Sekarang aku harus segera ke perusahaan," kata William.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," tolak Joanna.


"Tapi aku ingin mengantarmu. Ayahmu bisa mengatakan aku tidak sopan jika membiarkanmu pulang sendirian," kukuh William.


"Terserah kau saja," kata Joanna.


"Kalau begitu aku pergi sekarang. Aku akan pulang lebih awal nanti," pamit William.


"Eum," jawab Joanna singkat.


"Bu Asha, aku tidak menemukan ponselku dimana pun. Maaf merepotkanmu, bisakah membantuku mencarinya?" tanya William sebelum benar-benar pergi.


"Tentu, Tuan!" jawab Asha.


William langsung pergi setelah mendengar jawaban dari Asha. Sementara Joanna tersenyum tipis melihat kepergian pria itu dan mengeluarkan ponsel milik William yang sejak tadi dia sembunyikan.


"Bi, tidak perlu mencarinya. Aku yang menyimpan ponsel William," kata Joanna ketika melihat Asha memberitahu beberapa maid untuk mencari ponsel William.


"Nona, kenapa tidak memberikannya pada Tuan?" tanya Asha bingung.


"Aku lupa memberikannya," jawab Joanna asal.


Joanna pergi begitu saja setelah menyerahkan ponsel William pada Asha. Naik ke kamarnya untuk membereskan beberapa barang yang dirasa penting.


"Bi, ayo pulang sekarang!" kata Joanna sembari mengambil Reagan.


"Bukannya William sudah bilang akan mengantarmu nanti?" tanya Diaz.


"Aku tidak perlu diantar," jawab Joanna.


"Tidak ada satupun Tetua yang tahu bahwa kalian sudah bercerai. Mereka pasti marah. Apa yang akan kau katakan nanti jika mereka melihatmu pergi. Setidaknya, jika ada William dia bisa mengurus semuanya," kata Diaz.


"Aku tidak takut pada sekumpulan tetua bodoh dan naif itu. Kalau aku bilang ingin pulang, berarti kita pulang," kata Joanna.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu beres-beres," kata Diaz.


Wanita tua itu membiarkan Reagan berbaring di ayunannya. Kemudian segera membereskan barang-barang sebelum Joanna marah.


"Akhirnya selesai," batin Joanna.


.


.


.


"Paman Louise menjemput Oskar lagi?" tanya Joanna pada Ebra.


"Iya, Bibi!" jawab Ebra dengan memandangi Joanna dengan wajah polos seperti biasanya.


Joanna menunduk, memegang pipi itu dan tersenyum. "Sayang, hari ini Nenek Diaz dan Kakek Okta akan mengantarmu pulang. Maaf Bibi tidak bisa mengantarmu. Tidak apa-apa kan?" tanya Joanna.


"Apa Bibi mau mencari Oskar di rumah Paman Louise?" sahut Ebra lengkap dengan sebuah pertanyaan.


"Eum," jawab Joanna.


Joanna segera menyerahkan Reagan pada Diaz. Meminta Ebra masuk ke mobil dan segera mengantarnya pulang. Lalu setelah itu hanya pulang ke Kota Utara, tidak mampir atau berhenti di manapun bahkan jika siapapun meminta mereka berhenti. Lalu dirinya sendiri segera meninggalkan sekolah itu untuk menjemput Oskar.


Dan disinilah Joanna sekarang. Berdiri di depan pintu masuk dan melenggang begitu saja meskipun tidak ingin kesini lagi. Tapi apa boleh buat, Oskar ada di dalam jadi dia harus menjemputnya. Di ujung sana, Joanna melihat mobil Louise yang terparkir yang menandakan pemiliknya sedang di rumah.


"Kau siapa?" tanya Stella saat melihat Joanna melintas.


Wanita itu sedang menikmati waktunya dengan pijatan yang dilakukan beberapa orang maid lengkap dengan jus dan buku di tangannya.


"Minggir, kau menghalangi jalanku!" kata Joanna tanpa mengabaikan pertanyaan Stella.


Stella tersenyum licik. Selama hidupnya tidak pernah ada orang yang berani berbicara seperti ini. Stella memandangi Joanna lebih lama, perlu waktu cukup kama untuk mengingat siapa Joanna.


"Oh, bukankah kau adik ipar calon suamiku?" kata Stella menerka-nerka.


"Apa itu penting?" tanya Joanna.


"Tidak, kau atau William itu sama sekali tidak penting untukku. Tapi kau masuk ke rumah orang sembarangan. Bukankah kau hanya adik ipar Louise, darimana kau mendapatkan keberanian ini?" kata Stella.


Beberapa maid itu sedikit gugup. Bagaimana mereka menyikapi situasi seperti ini. Mereka sangat ingin mengatakan Joanna lah nona mereka tapi Louise sudah mengatakan siapapun dilarang menyebut atau mengungkit Joanna dan Reagan.


"Kau salah. Aku bukan adik iparnya," jawab Joanna.


"Lalu?" tanya Stella.


Stella mengitari Joanna. Sekali lagi memperhatikannya dengan seksama dan lebih jelas lagi. Apa dia salah. Seharusnya tidak. Karena menurut informasi yang dia dapat, wanita ini hanyalah seorang wanita amnesia yang merawat Oskar. Seorang wanita yang sebenarnya putri bangsawan dari Kota Utara yang ternyata memiliki perjanjian pernikahan dengan William.


Kenapa Stella tidak tahu bahwa Joanna adalah wanitanya Louise, itu karena Louise sudah menghapus semua jejak kebersamaannya dengan Joanna. Tidak ada seorangpun yang boleh mengatakan mereka pernah memiliki hubungan khusus. Semua orang hanya boleh mengatakan Joanna adalah istrinya William dan adik ipar Louise Matthew. Junior bahkan hampir mati karena harus lembur hanya untuk mengurus semua itu agar menjadi sebuah rahasia.


"Bukan adik ipar Louise? Bagaimana bisa?" batin Stella.


Maid semakin gugup. Tidak berharap Joanna mengatakan sebuah fakta yang sudah Louise tutup rapat. Untungnya Joanna mengatakan sesuatu yang membuat mereka bisa bernafas lega. Tapi kaget setelah mencerna dengan baik apa yang Joanna katakan.


"Aku dan William sudah bercerai. Jadi aku bukan adik ipar dari calon suamimu lagi," kata Joanna.


"Lalu kenapa kau kemari. Mau menggoda calon suamiku?" tanya Stella.


"Ck, aku bahkan sudah melahirkan anaknya. Apa kau sangat bodoh?" batin Joanna.


"Bukan urusanmu!" jawab Joanna.


Joanna mendorong Stella minggir. Lalu bergegas masuk mencari Oskar. Tapi Stella menarik rambut Joanna untuk menahannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna.


"Pergi dari sini!" usir Stella.


"Cari mati!" umpat Joanna lalu memelintir dan mematahkan tangan Stella kemudian mendorongnya ke lantai.


Itu masih belum cukup. Karena setelah melihat rambut yang panjang itu, Joanna tidak tahan untuk menarik dan menyeretnya hingga ke tepian kolam ikan.


"Sakit, apa yang kau lakukan?" teriak Stella.


"Memberi makan ikan," jawab Joanna kemudian menceburkannya ke kolam.


"Wah, mommy sangat hebat!" puji Oskar yang sedang menonton pertunjukan itu dari dinding kaca lantai dua kamarnya.


"Memangnya apa yang mommy lakukan?" tanya Louise.


Pria itu masih anteng di tempatnya. Memeriksa catatan perkembangan Oskar yang ditulis guru setiap hari untuk diperiksa walinya. Dia juga tidak punya niat turun untuk melerai keduanya.


"Mommy melempar wanita pengemis cinta daddy itu ke kolam sebagai makanan ikan," jawab Oskar sumringah.


Louise melirik Oskar. Tersenyum tipis saat mendengar sebutan yang Oskar berikan untuk Stella. 'Wanita pengemis cinta daddy' katanya, apa itu tidak terlalu panjang?


"Mulai hari ini kau akan tinggal dengan pengemis itu. Kau bisa melemparnya seperti itu jika dia berani mengganggu atau membuatmu tidak senang," kata Louise.


"Daddy, tapi Xiao O tidak mungkin kuat. Wanita gendut itu pasti berat!" kata Oskar.


"Kalau begitu kau bisa melakukan yang lainnya kan. Ada banyak minyak, garam dan tepung di dapur. Ada banyak jebakan tikus di gudang. Apa kau tidak bisa memanfaatkannya?" tanya Louise.


"Apa itu boleh. Apa daddy tidak marah?" tanya Oskar.


"Tentu saja boleh. Bukankah daddy sudah janji kau boleh melakukan apapun di rumah?" jawab Louise.


Oskar hanya tersenyum. Kemudian Louise segera menutup buku yang dia pegang untuk menyambut wanita yang dia kira masih jadi adik iparnya.


...***...