CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Kenapa Mommy Merah-merah



Di dalam mobil yang melaju kencang itu, sedetikpun William tidak mengalihkan pandangannya dari Louise. Matanya terus menjelajah dari atas kebawah lalu beralih kesamping. Sesekali mendekat untuk melihat lebih jelas dengan tatapan menyelidik.


Pagi tadi, pria yang merupakan kakak jadi-jadiannya ini bertingkah seperti orang gila. Uring-uringan tanpa sebab dengan pendingin ruangan yang tak bermasalah, masih marah-marah tak jelas kepadanya yang tak tahu apa-apa. Kemudian pergi meninggalkan perusahaan begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun mengenai rapat besar hari ini.


Lalu siang harinya, disaat William sedang sibuk-sibuknya rapat untuk menggantikannya, Louise brengsek ini tiba-tiba kembali dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda. Bahkan, juga memamerkan seorang wanita kesana-kemari hingga ke penjuru lubang semut.


Entah berapa ratus pertanyaan yang William terima akibat ulah Louise itu, seperti : siapa wanita yang dibawa Presdir, apakah itu calon istrinya, apakah mereka akan segera menikah dalam waktu dekat, dan masih banyak yang lainnya.


Lalu, yang lebih ekstrim lagi datang dari kedua orangtua angkatnya. Mereka berdua tidak hanya memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan, tapi juga dilengkapi dengan guncangan yang hebat pada kedua bahunya. Sepertinya dua orang tua itu terlalu bersemangat setelah melihat Louise menunjukkan wanitanya. Soal sikap berlebihan itu William masih bisa memakluminya, tapi yang membuat William benci adalah saat mereka bertanya, "Kapan giliranmu, Will? Mama tidak hanya ingin menantu dari Louise saja."


Hanya satu pertanyaan, tapi sukses membuatnya menjadi orang paling bodoh sedunia.


Sekali lagi, William melihat Louise. Otaknya terus bertanya-tanya, kenapa pria ini bisa memiliki dua kepribadian ganda. Lalu, kenapa juga bisa merubahnya dalam waktu yang sangat singkat pula.


Apakah sebenarnya Louise sedang sakit? Inikah yang dikatakan orang tentang 'orang akan menjadi gila karena jatuh cinta?'


William membuang nafasnya dengan kasar. Seandainya bisa memberikan perumpamaan, pagi tadi wajah Louise terlihat seperti cuaca mendung berbalut awan hitam diiringi topan. Dan sekarang sudah berubah layaknya cuaca cerah di musim semi dengan bunga-bunga bermekaran bertahtakan pelangi, "Sialan! Bisakah Louise sedikit konsisten terhadap sifatnya dan tidak memberi begitu banyak masalah?" gerutu William dalam hatinya.


"Apa kau sedang mengutukku dalam hatimu?" tanya Louise disela-sela siulannya. Lagi, Louise sangat senang menggoda adik kecilnya yang sesungguhnya, William. Bukan adik kecilnya yang baru saja ditolak masuk rumah oleh Joanna.


"Kalau kau tahu, kenapa masih bertanya," jawab William dengan memalingkan muka ke arah jendela.


"Will, kurasa akhir-akhir ini kau jadi lebih sering marah-marah. Tidakkah kau pikir sebaiknya pergi ke dokter untuk memeriksakan diri?" tanya Louise.


Mendengar itu, kesabaran Willian lenyap sudah. Menguap di udara tanpa jejak, menyisakan amarah yang siap meledak kapan saja, "Louise, kau lah yang seharusnya segera memeriksakan dirimu ke dokter. Apa kau masih tidak sadar juga dengan perilaku anehmu itu?" protesnya.


"Dokter? Aku tidak memerlukan seorang dokter. Yang ku perlukan hanyalah Joanna," jawab Louise.


"Jadi Joanna yang kau bawa-bawa ke perusahaan siang tadi?" tanya William.


"Siapa lagi selain dia, apa di matamu aku ini memiliki banyak wanita. Aku ini setia pada satu pasangan tahu?" jawab Louise.


"Setia, apa kau lupa berapa banyak wanita yang naik-turun ranjang di hotel bersamamu?" tanya William.


"Will, sopanlah sedikit pada kakakmu ini. Itu hanyalah masa lalu. Lagipula, bukan hanya kau satu-satunya yang telah bertobat," kilah Louise.


"Kau benar-benar brengsek!" umpat William.


"Hei, aku ini kakakmu. Sepertinya kau sangat tidak takut kualat padaku, Will. Lalu, Jangan mengatai aku brengsek lagi. Bagaimana pun juga kita ini pernah sama-sama menjadi brengsek," lanjut Louise membela diri.


"Meskipun begitu, setidaknya tidak pernah ada wanita yang mencariku dan mengaku hamil anakku," balas William.


"Will, ku akui aku memang brengsek. Tapi aku tidak pernah punya anak. Kalaupun punya, itu hanya akan terjadi di masa depan bersama Joanna. Membayangkannya saja sudah membuatku senang. Pasti mereka akan sangat lucu," kata Louise berandai-andai.


"Dasar gila!" seru William.


Louise tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa lagi. Tapi, memiliki beberapa anak dengan Joanna adalah tujuannya selanjutnya.


"Kalau begitu segeralah menikah!" lanjut William.


"Will, menikah itu hanya soal waktu," jawab Louise. Menyembunyikan sesuatu hal yang penting. Bahwa sampai saat ini Joanna masih menolaknya. Tentu saja Louise tidak berencana memberitahu William demi reputasinya yang tidak pernah ditolak oleh wanita.


"Turun, kita sudah sampai!" perintah Louise beberapa saat kemudian.


Tak terasa, mereka sudah sampai di tempat mereka janjian bertemu dengan Oskar dan Ebra. Sebuah bangunan besar yang di dalamnya terdapat arena untuk bermain ice skating. Awalnya, Louise dan William ingin menjemput anak-anak itu di sekolah, tapi ternyata mereka sudah dijemput seseorang yang tak lain adalah Bi Diaz. Akhirnya Bibi Diaz pun berinisiatif mengantar dua bocah itu ke tempat ini.


Di dunia ini akan selalu ada alasan tak terkira yang bisa membuatmu meredakan amarahmu. Seperti saat ini misalnya, begitu melihat Ebra dan Oskar yang berlarian menyambut Louise dan William, jiwa-jiwa William seolah baru saja mengalami pembaruan. William telah lupa akan lelahnya, lupa akan marah dan sebalnya. Senyum yang seharian ini hilang telah kembali, menghiasi wajah tampan William yang semakin berseri-seri.


Setelah menyapa Diaz dan berbincang sejenak, tanpa basa-basi mereka berempat berhamburan menuju tempat dimana Oskar dan Ebra akan memulai pelajaran dari Louise dan William. Meninggalkan Diaz yang tersenyum dari balik pagar besi yang berfungsi sebagai pembatas.


Louise dan William sangat telaten mengajari anak-anak itu. Tak terhitung berapa kali anak-anak itu terjatuh, sebanyak itu pula mereka berdua membantunya berdiri. Memastikan keduanya baik-baik saja atau orangtua mereka akan membunuhnya seperti yang Diaz sampaikan sebelumnya. Kesabaran, ketelatenannya membuat Oskar dan Ebra semakin menyukai dua paman barunya. Bahkan semakin berekspetasi tinggi dan berharap mereka benar-benar menjadi ayahnya.


Beberapa waktu berlalu, Oskar dan Ebra memang belum bisa berlari tapi setidaknya sudah bisa berdiri di atas sepatunya dan berjalan pelan tanpa terjatuh lagi.


Keberhasilannya itu, sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi. Tak terhitung berapa banyak ciuman dan pelukan yang dua pria dewasa itu berikan untuk dua jagoan kecil itu disana.


.


.


.


"Paman William, aku ingin jalan-jalan kesana?" ajak Ebra sambil menunjuk kearah wahana bermain.


"Bolehkah aku membawanya kesana, Bi? tanya William kepada Diaz.


"Pergilah, hati-hati!" jawab Bibi Diaz.


"Nak Louise, bibi akan pergi membeli sesuatu, bisakah bibi titip Oskar sebentar?" tanya Bibi Diaz kepada Louise.


"Baiklah satu jam lagi kita bertemu di depan gedung. Oskar, jangan nakal ya! Nenek pergi dulu untuk membeli sesuatu," pamit Bibi Diaz kepada Oskar dan berlalu. Kini tinggal Oskar dan Louise disini. Bergandengan tangan layaknya ayah dan anak.


"Oskar, mau makan es krim?" tanya Louise sambil jongkok untuk menyetarakan pandangannya pada Oskar. Tangannya dengan lihai memperbaiki kupluk dan menarik resleting jaket milik Oskar agar bocah itu tidak kedinginan.


Oskar terdiam sejenak, dia sangat ingat mommy cantiknya selalu melakukan hal yang sama seperti yang Louise lakukan saat ini ketika berbicara dengannya. Tiba-tiba saja Oskar merasa tidak rela, saat Paman Louise-nya bilang dia telah menemukan wanita yang dia suka. Dan menyesal karena telah menyebarkan selebaran untuk melakukan pencarian calon daddy terbaik untuknya. Karena daddy terbaik itu, sedang berada di depannya sekarang, "Paman, semoga wanita yang paman cintai itu menolak cinta paman. Lalu Oskar akan membuat paman jadi daddyku," batin Oskar.


"Oskar, kau kenapa?" tanya Louise ketika Oskar tidak menjawab pertanyaan pertamanya.


Oskar menggeleng pelan, tidak ingin doa jahatnya diketahui oleh calon daddy idamannya, "Paman, ayo kita makan es krim!" jawab Oskar, kemudian menarik tangan Louise dan mulai berlari.


Louise akhirnya membawa Oskar ke salah satu kedai es krim yang ramai pengunjung. Setelah mendapatkan es krim yang mereka inginkan mereka pun duduk berdampingan di salah satu kursi panjang yang disediakan di bawah lampu yang terang. Mereka baru saja duduk beberapa saat dan memakan sebagian es krimnya, tapi tiba-tiba Oskar menoleh kesana-kemari seperti mencari sesuatu saat Louise melepaskan jaketnya.


"Oskar, apa kau kehilangan barang?" tanya Louise dengan lembut.


"Tidak," jawab Oskar.


"Lalu kau kenapa. Kenapa kebingungan seperti itu?" tanya Louise sambil mengelus pucuk rambut Oskar.


"Paman, sepertinya mommyku disini."


"Mommy?" tanya Louise.


"Em," jawab Oskar mengangguk.


"Tidak mungkin. Bukankah Nenek Diaz bilang mommy sedang tidak ada dirumah sekarang?" tanya Louise.


"Tapi Oskar mencium aroma parfum mommy di dekat sini," kata Oskar polos.


"Parfum?" tanya Louise.


Louise melihat sekeliling, tidak ada siapapun di dekat mereka, apalagi wanita. Setelah berpikir sejenak akhirnya Louise teringat sesuatu dan mulai mencurigai dirinya sendiri. Louise dengan canggung mencium kemejanya sendiri, masih ada jejak Joanna yang tertinggal akibat pergumulan mereka disana. Tapi, apakah mungkin aroma itu yang Oskar cari?


"Ah, ternyata aroma mommy berasal dari Paman Louise," seru Oskar yang ternyata juga mencium baju yang dikenakan Louise.


Kini Oskar semakin mendekati Louise, menghirup aroma mommynya di tubuh Louise yang berharga. Oskar terlihat sangat nyaman saat memeluk Louise dan mencari-cari jejak itu.


"Paman, kenapa aroma mommy bisa ada disini. Apa paman baru saja memeluk mommy? Bau ini sangat harum, membuat Oskar ingin tidur saja," kata Oskar dengan mata terpejam, tentu saja dengan tangan yang entah sejak kapan sudah melingkar dan tubuh kecilnya yang berada di pangkuan Louise.


Louise tak bisa menjawab, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia baru saja berpelukan dengan seorang wanita kepada anak sekecil ini bukan. Louise yang masih tidak tahu bahwa Joanna adalah orangtua tunggal Oskar pun hanya bisa memijit kepalanya. "Bagaimana bisa parfum mereka sama?" batinnya.


"Oskar, apa yang sedang kau bicarakan. Bagaimana bisa paman memeluk mommymu?" jawab Louise.


"Seandainya Oskar bisa tidur diantara Paman Louise dan mommy, pasti sangat menyenangkan," lanjut Oskar berandai-andai.


"Jangan berbicara seperti itu, mommymu akan memukulku nanti."


.


.


.


Joanna masih duduk di meja riasnya. Mematut dirinya sendiri di depan cermin dan melihat bayangannya sendiri yang terlihat berbeda, terutama di bagian dada dan sekitarnya. Joanna mencoba menutupi bagian yang bisa ditutupi, setelah itu mengambil obat dan mengoleskannya ke bibirnya yang sedikit terluka karena gigitan Louise. Dia, masih tidak percaya dengan apa yang dilaluinya. Kenapa sangat bodoh dan bisa tergoda hingga sejauh ini di hadapan pria itu, "Sial!" rutuknya dalam hati.


Joanna menundukkan kepalanya, memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Kenapa Louise membuatnya mengingat ingatan yang sebelumnya ingin dia relakan. Kenapa merasa sangat terbiasa saat orang-orang itu menyambut dan memberikan hormatnya, kenapa tiba-tiba dia menjadi pintar menggunakan senjata. Apa dulunya dia orang kaya yang jahat? Lalu, kenapa dia seperti tersihir dan diam saja saat Louise menjelajahinya sampai membiarkan hal itu terjadi. Apa, Joanna pun mulai menyukainya?


"Sekarang, apa yang harus kulakukan?" keluh Joanna dengan menutup wajahnya. Sangat malu, bahkan untuk melihat bayangannya sendiri. Sangat marah, untuk kesalahan atas kelalaiannya sendiri.


"Mommy," panggil Oskar setelah membuka pintu dengan mata sedikit tertutup. Sepertinya Oskar baru saja terjaga dari tidur malamnya.


"Xiao O?" kata Joanna terkejut. Tidak menyangka Oskar kecilnya mencarinya setelah tertidur pulas.


Joanna menyambut Oskar, memeluk dan menciumnya kemudian membawanya duduk di ranjang. Ada sedikit ngilu yang Joanna tahan ketika dia berjalan.


"Apa Xiao O terbangun karena mimpi?" tanya Joanna dengan lembut, mengabaikan rasa sakit di area sensitifnya. Tersenyum seperti biasanya seolah tak terjadi apa-apa.


Oskar hanya mengangguk pelan. Kemudian berjalan menuju meja rias Joanna dan mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dia cari, Oskar kembali menghampiri Joanna dan menyodorkan obat jenis salep kepada sang mommy. "Apa mommy pergi ke hutan, kenapa mommy bisa digigit nyamuk sampai merah-merah begini?" tanya Oskar polos. Meskipun mengantuk, rupanya penglihatannya masih sangat awas.


Joanna memegang bagian yang dikatakan Oskar. Belahan piyamanya memang sedikit rendah sehingga Oskar bisa melihatnya. Tanda-tanda peninggalan dari Louise memang terlihat jelas meski Joanna sudah mencoba membersihkannya. Bahkan mungkin masih membekas saat Louise kembali nanti.


"Lain kali, mommy akan lebih berhati-hati dan tidak akan pernah pergi ke hutan lagi," jawab Joanna berbohong.


Tanpa diminta, Oskar pun memeluk mommynya dengan manja, "Mommy, aku menyukai paman baikku. Paman bilang akan kemari setelah menyelesaikan pekerjaannya," ucap Oskar pelan. Menyampaikan pesannya kepada Joanna sebelum matanya semakin menutup karena mengantuk. Sepertinya, Oskar tertidur di pelukan Joanna karena kelelahan akibat bermain ice skating tadi.


"Oskar, maafkan mommy. Karena mommy, tidak bisa menjaga diri dengan baik," batin Joanna. Memeluk tubuh putranya dan menciumnya dengan menahan air mata.