
"Begini baru benar, Reagan. Dengan begini orang-orang akan tahu kau ini anak daddy, bukan anak Papi Will," puji Louise.
Pria yang sebenarnya kurang tidur itu tak henti-hentinya menimang Reagan. Menciuminya, meletakkan jarinya agar di genggam Reagan, dan menggigit pipinya saking gemasnya.
Malam ini mereka semua sedang makan bersama di sebuah restoran kelas atas bersama-sama. Tidak hanya mereka, ada juga William dan Marissa bersama Ebra. Ada juga Arthur dan Alexa bersama bayi mereka. Lalu masih ada Nenek Anne, Jordan Matthew, Rose Matthew, Sir Alex, Agria dan tentunya Diaz bersama Okta.
Di ruangan besar yang hanya berisikan mereka itu, Louise sibuk mengurus Reagan disaat yang lainnya sibuk makan. Bahkan disela kesibukannya, sesekali masih menyempatkan untuk mengambil daging atau sayur untuk dimakan Joanna dan Oskar.
"Terimakasih, daddy!" kata Oskar. Lalu kembali makan dengan lahap. Agria yang menemaninya makan hanya geleng-geleng kepala. Padahal di tangan kanannya masih ada sepotong paha ayam, tapi Louise sudah memberinya sepotong paha ayam yang lainnya lagi.
"Berikan dia padaku dan makanlah!" kata Joanna.
Joanna bangkit, siap menggantikan Louise tapi Louise menolaknya. "Kau sudah bersama Reagan dua puluh empat jam sehari setiap hari. Tapi aku baru saja memegangnya kurang dari sepuluh menit dan kau sudah memintanya lagi. Joanna, apa kau lupa. Reagan bukan hanya milikmu seorang, dia milikku juga," protes Louise.
"Aku memang bersamanya dua puluh empat jam sehari. Tapi kau juga harus makan. Lihatlah dirimu, kau semakin kurus dan tak terawat. Lagipula apa yang kau katakan barusan. Kau sudah mencium dan menggigitnya selama satu jam bukan sepuluh menit," kilah Joanna.
"Apa kau cemburu karena hanya Reagan yang aku cium dan gigit. Maka kemarilah, kau tidak tahu kan kalau aku bisa menggigitmu selagi menggendong Reagan?" goda Louise.
"Apa yang kau bicarakan, Louise?"
"Pokoknya aku tidak ingin makan. Aku juga tidak ingin menyerahkan Reagan padamu," tolak Louise.
Reagan yang masih belum tahu apa-apa itu mulai menggeliat. Menggerakkan kaki dan tangannya karena orangtuanya terlalu berisik. Lalu membuka matanya secara perlahan. Wajah itu sangat datar dan tidak ramah sedikitpun, tidak bereaksi apapun selain hanya melihat wajah daddynya yang semakin tersenyum lebar karena akhirnya Reagan bangun juga.
"Lihatlah, dia bangun. Dia pasti tidak kenal denganmu karena akhir-akhir ini kau jarang menemuinya," protes Joanna.
"Maafkan aku, aku sangat sibuk akhir-akhir ini," jawab Louise.
Memang benar, Louise jarang datang seminggu terakhir. Bukan hanya Reagan yang sedikit terabaikan, Oskar pun juga sama. Untung saja anak itu sering di culik mamanya atau kakek dan neneknya jadi Louise tidak perlu terlalu khawatir.
"Tidak apa-apa aku tahu kau sibuk mencari uang untuk memberikannya susu," kata Joanna.
Louise tersenyum lagi. Beli susu apanya, ASI Joanna saja tumpah ruah. Jadi kenapa dia harus membeli susu lagi. Lagipula ASI lebih baik untuk anaknya. Kecuali keadaan darurat seperti ASI Joanna mampet atau tidak mengeluarkan ASI sama sekali.
"Sayang, kenapa anakku kejam sekali. Lihatlah, dia bahkan tidak tersenyum pada daddynya sendiri. Padahal aku sudah mencoba melucu sejak tadi. Apa kau yang mengajarinya begini?" tanya Louise.
"Apa yang kau katakan. Kapan aku mengajarinya begitu. Lagipula dia masih terlalu kecil untuk mengerti wajah lucu milikmu," jawab Joanna.
"Oh, benarkah?" kata Louise.
Joanna tidak menjawab apa-apa lagi sekarang. Tapi dia mengambil piring dan mulai menyuapi Louise agar pria itu makan. Hanya tidak bertemu selama satu minggu, entah kenapa Joanna melihat penurunan berat badan pada Louise. Memangnya apa yang dia pikirkan sih. Kenapa tidak membaginya dengannya?
Dua orangtua itu kelewat romantis. Dunia ini serasa jadi milik mereka berdua tanpa menghiraukan yang lainnya. Termasuk William yang melihat kemesraan mereka sejak tadi. Enggan mengakui, tapi dia memang cemburu dengan kakaknya sendiri.
"Aku sudah kenyang. Aku akan keluar sebentar untuk merokok," pamit William.
"Tiba-tiba aku ingin merokok malam ini. Sekali saja, aku akan membersihkan mulutku nanti," jawab William.
"Papa, cepat kembali ya?" pinta Ebra yang juga memegang satu paha ayam.
"Makanlah yang banyak," kata William dan mencubit pipi Ebra kemudian pergi.
"Alexa, aku ingin menyusul William sebentar. Bolehkah?" ijin Arthur.
"Pergilah. Jangan terlalu lama disana. Kita akan segera pulang setelah ini," jawab Alexa sembari menyusui anaknya yang sudah berusia enam bulan.
Setelah kepergian William dan Arthur. Kebetulan juga Louise sudah kenyang. Bayi besar Joanna itu pun ingin merapikan dirinya di kamar mandi karena mereka akan segera pulang setelah ini. "Sayang, bisakah menggantikanku menjaga Reagan. Aku akan pergi ke kamar mandi sebentar," pamit Louise.
"Berikan Reagan padaku," jawab Joanna.
Joanna ingin mengambil bayi itu dan meletakkannya di kereta bayi yang terparkir di samping kereta bayi milik Alexa tapi Rose menghalanginya. "Joanna, biar mama saja. Sini, mama belum menggendongnya sejak tadi karena Louise tidak memberikannya pada mama," pinta Rose
"Ma, jangan sampai anakku lecet!" oceh Louise.
"Mama tahu, Louise!" jawab Rose kesal. Baru juga menyentuh, anaknya sudah sangat protektif dan cerewet sampai-sampai mengomelinya seperti ini.
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan segera kembali," pamit Louise setelah mendaratkan ciumannya di kening Joanna.
Joanna hanya tersenyum dan mengangguk. Membiarkan Louise pergi kemudian melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Louise pun bergegas ke kamar mandi. Mencuci tangannya dan merapikan pakaiannya disana. Louise keluar dari sana setelah sepuluh menit. Tapi hal yang tidak terduga terjadi. Karena saat ini Stella, satu-satunya wanita yang diakui Louise sebagai mantannya melihatnya.
"Louise?" lirih Stella.
Stella. Wanita itu tidak sengaja melihat Louise saat dia sedang makan bersama Felix, seorang CEO lainnya yang merupakan kenalannya. Felix kesini hanya sementara saja karena suatu urusan.
"Siapa Louise. Apa itu Louise Matthew, mantanmu?" tanya Felix.
"Eum, dia mantanku yang berharga," jawab Stella.
Felix tersenyum licik. Melihat Louise Matthew yang lewat begitu saja di depan sana tanpa menoleh kemana-mana. "Karena sudah bertemu disini, kenapa kau tidak mengejarnya. Barangkali saja kau ingin balikan. Lagipula, anak di dalam perutmu itu butuh sosok ayah semacam dia kan?" kata Felix.
"Tapi Louise Matthew bukan orang yang bisa dijebak seperti itu. Tapi untuk mendapatkan simpatinya, anak di perutku ini sudah cukup," urai Stella.
"Kalau begitu pergilah. Aku akan mencari udara segar diluar. Beritahu aku jika kau sudah selesai," pamit Felix.
"Terimakasih. Baiklah, aku harus pergi untuk menangkap ikan besar sekarang."
Stella meminum wine terakhirnya. Lalu membersihkan mulutnya dengan tissue dan bangkit untuk mengejar Louise. Jarak mereka semakin dekat dan dekat, sampai Stella berhasil menarik lengan Louise sehingga membuat Louise berhenti dan menoleh. "Louise?"