
"Selamat datang kembali, Nona Agria!"
Ucapan selamat datang membahana ketika Agria melangkahkan kakinya. Ruang pertemuan keluarga yang besar dan megah ini, sudah lama sekali dia tidak menapakkan kaki diatasnya. Terakhir kali, dia berada di tempat ini adalah malam dimana dia melimpahkan semua kesalahannya kepada Josephine, sepupunya.
Agria melangkah maju dengan sangat percaya diri. Langkah demi langkah membawa ingatannya pada malam itu. Dia ingat, bagaimana Jose yang malang memohon untuk tetap tinggal. Tapi tak ada satupun yang memperdulikannya bahkan ayahnya sendiri, Sir Alex yang saat ini duduk dengan tenang di salah satu kursi petinggi keluarga.
"Lama tidak berjumpa, Paman!" sapa Agria dengan senyuman yang mengembang ketika melewati Sir Alex.
"Selamat datang keponakanku, Agria!" balas Sir Alex pelan.
Sir Alex tampak tenang. Lebih tepatnya mencoba mempertahankan ketenangannya. Padahal kalau boleh, dia sangat ingin menampar wajah wanita berhati siluman itu sekarang juga. Sir Alex tidak bisa berbuat sembarangan mengingat dia berada di hadapan semua anggota keluarga. Terlebih status Agria saat ini adalah calon penerus kepala keluarga, status tinggi yang sebelumnya dimiliki Jose kecil putri kesayangannya.
Hari ini keluarga mereka mengundang seluruh keluarga bangsawan di Kota Utara untuk menghadiri pesta yang diselenggarakan atas kembalinya Agria. Agria, salah satu putri yang disegani di Kota Utara. Di mata mereka Agria adalah sosok yang cantik, baik, welas asih, penyayang dan suka mengalah. Mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingannya pribadi. Sangat berbanding terbalik dengan pandangan mereka terhadap Jose yang malang dan terbuang.
Malam ini menjadi malam yang panjang. Semuanya berpesta dan berbahagia atas kembalinya Agria yang lama menghilang. Benar, semuanya berbahagia kecuali Sir Alex dan pengikut setianya. Pria tua itu berjalan dengan tergesa-gesa. Ingin segera kembali ke kastil pribadinya tidak lama setelah secara resmi pesta dimulai. Tapi kakinya berbelok arah di pertengahan jalan.
Sir Alex berjalan menuju menara tertinggi ditemani Adam seperti biasanya. Di bawah sinar cahaya bulan malam ini, dia bisa melihat sebuah arena yang terletak di bawah sana. Sebuah arena yang selalu digunakan putra dan putri bangsawan untuk berlatih panahan ataupun menembak. Tempat dimana Jose sempat mendapatkan seluruh cinta dan pujian karena selalu menjadi pemenangnya.
"Apa kau kemari untuk mengenang Jose kecil?" tanya seorang tetua yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
Sir Alex menoleh ke sumber suara. Beberapa meter dihadapannya berdiri dua orang tetua yang merupakan kerabat dekat. Salah satu dari mereka adalah kakak ipar Sir Alex dan salah satunya lagi adalah sahabat baik kakak iparnya. Dua orang itu saat ini merupakan dua diantara sepuluh sesepuh yang sangat dihormati.
Sir Alex menundukkan tubuh bagian atasnya sebagai tanda hormat, "Seperti yang Anda lihat," jawab Sir Alex.
"Alex, apa kau berani menentang mereka dan mengembalikan status putrimu?" tanya kakak iparnya.
Sir Alex diam. Dia tidak tahu apa tujuan dua orang ini. Apakah mereka ingin menyatakan perang. Tidak ada hubungan baik diantara mereka sebelumnya. Dua orang ini bahkan yang berulang kali tanpa belas kasih memerintah pengawal untuk memukul atau mengurung Jose sebagai hukuman.
"Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu," jawab Sir Alex kemudian.
"Alex, bukankah kau tahu bagaimana posisi kami. Kami bisa membantumu jika kau menginginkannya. Tapi tentu ada syarat yang harus kau penuhi," kata orang itu dengan senyuman licik.
Orang itu berhenti berbicara, kemudian mendekati Sir Alex yang tak bergeming dari tempatnya.
"Aku akan membantu memulihkan status Jose asalkan kau menyetujui untuk menikahkannya dengan putra sahabatku ini. Bagaimana menurutmu?" tanya kakak ipar Sir Alex dengan licik.
"Kalau hanya itu yang kalian inginkan, lebih baik kalian pergi," usir Sir Alex geram.
Menikahkan Jose dengan anak itu. Jangan pernah berharap meskipun hanya dalam mimpi. Sir Alex sangat tahu bagaimana sifat lelaki itu, dia hanya lontang-lantung menghabiskan waktunya untuk berfoya-foya dengan berjudi dan berkunjung ke rumah bordil. Daripada menyerahkan Jose ke tangan pria seperti itu, meskipun statusnya di pulihkan. Maka Sir Alex dengan tegas menolaknya tanpa perlu berpikir dua kali. Terlebih, sudah ada Louise Matthew yang terang-terangan menyukai dan menjaga putrinya di luar sana.
.
.
.
"Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tanya sesepuh utama kepada Agria setelah acara selesai.
"Ini tentang Jose, sepupuku malam itu," jawab Agria.
"Sudah bertahun-tahun, kenapa kau membahas kembali masalah ini?" tanya salah satu diantara sesepuh.
"Sesepuh, ijinkan Agria mengatakan sesuatu. Sebenarnya Jose tidak hamil waktu itu," ucap Agria terus terang.
"Apa maksudmu?" tanya sesepuh.
"Malam itu, disaat sebuah bukti kehamilan ditemukan. Itu bukanlah milik Jose, tapi milikku," jawab Agria tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Sesepuh itu saling pandang, beberapa diantaranya berdiri dan menggebrak meja karena marah, "Agria, apa kau tahu kau telah melakukan kesalahan besar. Tidak hanya melakukan kesalahan, tapi melimpahkan kesalahanmu kepada orang lain. Lalu dengan tenang mengatakannya sekarang tanpa beban sedikitpun, darimana kau mendapatkan keberanian sebesar itu?" tanya sesepuh tertua.
"Apa maksudmu baru mengatakannya sekarang. Apa kau merasa bersalah dan ingin mengembalikan status calon penerus kepadanya setelah sekian lama?" urai sesepuh yang lain.
"Agria, kejahatanmu ini tidak bisa dimaafkan!"
Agria nampak tenang meskipun mendapatkan ujaran kebencian dari sebagian besar sesepuh. Tidak gentar sekalipun meskipun tatapan mereka seperti singa yang akan melahap mangsanya.
"Sesepuh, jika sesepuh tahu siapa ayah dari anakku. Aku jamin sesepuh tidak akan berani mengatakan kalimat-kalimat seperti yang telah sesepuh katakan," terang Agria percaya diri.
"Memangnya siapa ayahnya. Pria mana yang tidur denganmu dan melakukan hal terkutuk itu kepada keluarga bangsawan yang terhormat ini?" geram sesepuh.
"Dia adalah orang terkaya yang baru-baru ini menjadi sangat terkenal, Louise Matthew. CEO dari Mattews Group," jawab Agria percaya diri.
"Apa?" tanya sesepuh sinis.
Sesepuh itu meragukan pangakuan dari Agria, jika mereka berdua memiliki hubungan yang sedekat itu, kenapa Louise tidak meminta bantuan Agria saat dia membutuhkan dukungan untuk mengembangkan bisnisnya waktu itu?
"Sesepuh, aku kemari bukan hanya untuk memberitahu hal ini. Tapi juga meminta restu kepada sesepuh untuk membantuku mendapatkan kembali anakku," pinta Agria.
"Anak?"
"Iya, anakku. Anak laki-laki yang dibesarkan oleh Jose saat ini. Anak itu adalah anakku dari Louise!"
"Agria, kau!"
"Sesepuh, daripada marah- marah hanya untuk kesalahan yang aku perbuat di masa lalu. Bukankah sebaiknya melupakannya. Bayangkan keuntungan apa yang akan kita dapatkan jika sesepuh membantuku menjadi istri sah Louise. Dengan adanya anak itu, jika kita membuat pengakuan dan membiarkan media meliput secara besar-besaran, apakah Louise bisa menolak?"
Sesepuh itu kompak tak bersuara. Tidak lagi marah-marah kepada Agria seperti sebelumnya. Karena saat ini, mereka sama-sama memikirkan keuntungan besar yang Agria katakan barusan.
Jika Agria bisa menjadi Nyonya Louise itu akan sangat menguntungkan bagi keluarga bangsawan mereka. Tidak hanya menjadi keluarga bangsawan terkaya tapi juga ditakuti oleh seluruh dunia. Terlebih sudah ada anak yang lahir diantara mereka, itu akan semakin mengokohkan pondasi mereka. Mengorbankan ketidakadilan yang mereka lakukan kepada Jose untuk mendapatkan hal luar bisa seperti ini, tentu saja itu sangat sepadan.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya sesepuh.
Dengan sangat pelan, Agria membisikkan semua rencananya kepada para sesepuh dan sepertinya mendapatkan dukungan penuh dari mereka.