
"Louise, menjauhlah sedikit. Aku tahu kau menyukaiku tapi apa perlu sedekat ini?" usir Joanna.
Louise mengalah, menarik kursi dan duduk dengan menyangga dagunya disana, "Joanna, kenapa kau selalu marah-marah padaku?"
"Bagaimana aku tidak marah kalau kau selalu mesum di depanku," jawab Joanna ketus.
"Lalu aku boleh mesum di depan siapa. Mesum di depanmu salah, mesum di depan orang lain jelas lebih salah lagi kan?" tanya Louise putus asa. Pria itu kini menyadarkan dirinya di kursi, melipat tangannya dan terus melihat Joanna yang tidak pernah tidak marah padanya.
"Hmph!" Joanna memalingkan wajahnya karena tidak tahu harus menjawab apa.
Dia sebenarnya sangat suka Louise tapi juga masih sangat benci saat mengingat Louise punya anak dari wanita lain. Untung saja bocah itu Oskar. Kalau tidak dia sudah pasti membenci anak itu setengah mati. Joanna, faktanya masih tidak tahu bahwa sebenarnya Oskar bukan anak Louise dan Louise enggan memberitahunya. Memberi tahu untuk apa, karena Louise ingin tahu sejauh mana Joanna bisa cemburu. Lalu memanfaatkan kesempatan dalam kesalahpahaman ini jika ada peluang nanti.
Louise ingin memberi pelajaran kepada wanita rubah yang dia puja ini agar dia bisa menurunkan sedikit ego dan keras kepalanya. Memberinya pelajaran agar tidak selalu menuduh dan tidak mempercayainya. Tentu juga harus memberinya pelajaran karena berani semakin liar dan tidak menuruti kata-katanya.
"Joanna, sebenarnya apa salahku?" pancing Louise.
"Sebenarnya salahmu hanya satu," jawab Joanna.
"Apa? Aku janji akan memperbaikinya. Tapi jangan marah-marah terus seperti ini," janji Louise. Sangat penasaran akan jawaban Joanna. Akankah dia jujur?
"Salahmu adalah punya anak dari wanita lain dan wanita itu sepupuku. Apa kau mengerti, aku sangat tidak suka itu dan aku akan membunuhnya sekarang," jawab Joanna kemudian pergi meninggalkan Louise.
"Bagus, akhirnya dimulai!" batin Louise. Menyorakkan kemenangan di dalam hatinya.
"Seandainya aku belum punya anak, maukah kau meminjamkan rahimmu untukku?" tanya Louise sebelum Joanna benar-benar pergi.
"Untuk apa?" tanya Joanna.
"Tentu saja untuk tempat menginap sementara calon anak-anakku," jawab Louise.
"Tentu saja!" kata Joanna percaya diri. Melihat Louise tapi meragukan apa yang Louise katakan dan menganggapnya sebagai candaan.
"Berapa banyak?" tanya Louise.
"Sebanyak yang kau mau!" jawab Joanna.
"Joanna, kau harus memegang kata-katamu barusan. Karena aku akan menitipkan sebanyak yang ku bisa," kata Louise memperingatkan.
"Apa kau pikir hanya kau yang selalu menepati janji?" balas Joanna kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Louise yang tersenyum kegirangan karena menitipkan anak hanyalah soal waktu. Dan lagi, Joanna tidak bisa menolaknya lagi nanti.
Joanna pergi, berjalan menuju tempat dimana keluarganya di ikat. Berjalan dengan tergesa-gesa dan terkadang menghentakkan kakinya di lantai. Dia masih sangat cemburu, masih sangat marah dan butuh pelampiasan untuk meluapkan amarahnya saat ini.
"Seandainya tidak punya anak katanya? Jelas-jelas anak itu sudah lahir dan ada di depan mataku. Apa dia senewen?" rutuk Joanna.
Joanna berjalan menuju sebuah ruangan. Tempat dimana sesepuh-sesepuh dan pengikutnya itu ditahan. Saat ini seluruh keluarga selain pengikutnya sudah ditangkap. Setengah dari mereka bahkan sudah terbunuh karena melawan. Mereka kira, dengan menyetujui permintaan Agria akan mendapatkan keuntungan yang besar. Tapi malang, mereka malah harus menyaksikan akhir yang tragis dari kehidupannya sekarang.
Baru kemarin mereka berpuas diri. Menyombongkan dirinya dengan berkoar-koar akan menjadi keluarga elit setelah Agria dan Louise menikah. Nyatanya mereka berada disini sekarang. Di kumpulkan dengan kaki dan tangan yang terikat serta mulut yang tak bisa berbicara.
Di antara orang-orang yang menyedihkan itu. Tentu saja ada tetua yang terikat, mereka yang sebelumnya bertindak arogan dan mendukung Agria. Mereka sama-sama terlihat menyedihkan dan tidak berdaya. Sementara Agria, dia ada di tempat yang lain.
Joanna berjalan santai, masih tidak mengira semua akan berbalik secepat ini berkat bantuan Louise. Dengan langkah yang pasti, dia mengayunkan kakinya untuk menemui sekumpulan orang terkutuk itu.
"Jose, anakku. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Sir Alex ketika melihat Joanna mendatangi tempat itu.
Orang tua itu sedikit cemas. Joanna meminta menyisakan belasan tetua juga pembunuh ibunya. Dia tidak akan berbuat sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri bukan. Maksudnya, Sir Alex takut jika putrinya akan menghabisi mereka dengan tangannya sendiri.
Tidak, Sir Alex tidak ingin itu terjadi. Joanna, tidak boleh melakukan kejahatan itu lagi.
"Jose," panggil Sir Alex ulang.
"Ayah, jangan khawatir. Aku tahu apa yang akan kulakukan," jawab Joanna.
Disaat yang bersamaan, Louise datang. Tapi mendapat panggilan dari William dan Arthur yang baru saja membereskan pekerjaan mereka. Jadi Louise meminta ijin keluar untuk menyambut mereka berdua. Begitupun dengan Sir Alex, sebagai orang yang menerima bantuan dia pun memutuskan untuk ikut menjemput kedua tamunya yang berharga.
Joanna tersenyum simpul, melihat mereka pergi. Jadi Joanna bisa melakukannya sekarang. Membunuh orang-orang yang menghilangkan nyawa ibunya dengan tangannya sendiri sesuai janjinya.
Joanna mengambil senjata yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dari balik celana oversize miliknya, sekumpulan orang itu bisa melihat moncong senjata yang akan mengakhiri hidup mereka.
Wajah ketakutan itu, Joanna sangat jijik melihatnya, "Saat kalian membunuh ibuku. Apakah kalian juga ketakutan seperti ini?" sindir Joanna.
Mereka hanya diam. Tidak bisa menjawab sudah pasti karena mulut yang terbungkam. Tapi mereka masih bisa menggelengkan kepalanya sebagai tanda ampun. Sayangnya, Joanna sudah menjadi Jose yang kejam. Dia tidak akan menarik kembali senjatanya meskipun mereka menangis darah sebagai permohonan ampun mereka.
"Diamlah!" kata Joanna pelan.
Mereka tumbang, hanya menyisakan setengahnya yang saat ini sangat ketakutan.
"Joanna!" seru Louise dan Sir Alex ketika mendengar suara tembakan.
Louise dan Sir Alex yang ingin menyambut William dan Arthur segera berlari kembali menemui Joanna. Masih dengan nafas yang memburu, mereka terkejut dengan apa yang baru saja Joanna lakukan.
Setengah dari orang itu sudah meregang nyawa dan berlumuran darah di tempatnya. Ah, Joanna yang terlihat manis itu, Louise tidak pernah mengira Joanna melakukan hal seberani ini bahkan disaat dirinya hanya meninggalkannya sebentar saja
"Cukup!" larang Louise, kemudian merampas senjatanya.
Joanna tersenyum, senyum yang tidak bisa Louise artikan apa maksudnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Louise.
"Apa kau terkejut. Tapi maaf, inilah aku yang sebenarnya, Louise. Kalau tak menyukainya, aku tak peduli," jawab Joanna.
"Ck!" dengus Louise.
Louise salah, Joanna tidak berubah. Inilah Joanna yang sebenarnya, yang kejam dan tak berperasaan. Louise menarik wanita itu, memeluknya untuk menenangkannya sebelum dia menghabisi semuanya.
"Jangan lanjutkan lagi. Percayalah padaku, aku bisa membereskan semuanya untukmu," lanjut Louise. Memeluk Joanna semakin erat.
"Louise, aku hanya ingin melakukannya dengan tanganku sendiri sesuai janjiku," kata Joanna pelan. Mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Louise.
"Aku bilang hentikan. Jangan mengotori tanganmu lagi," kata Louise dengan tegas.
Joanna hanya bisa menggigit bibirnya di pelukan Louise. Sementara Louise bisa merasakan pakaiannya yang basah. Louise pikir, itu tetesan air mata Joanna. Louise pikir, Joanna menyesal karena menyesal telah membunuh manusia itu. Tapi, Louise telah salah sepenuhnya.
Itu bukanlah air mata, melainkan hanya keringat Joanna. Dia berkeringat karena akhirnya kembali melumuri tangannya dengan darah setelah sekian lama. Tapi itu tidak apa-apa, dia akhirnya bisa membalaskan dendam atas kematian ibunya. Akhirnya, Joanna sedikit lega karena telah menepati janjinya pada ibunya yang sudah tenang di surga.
Menyesal, adalah sesuatu yang tidak pernah Joanna rasakan saat ini. Sedikitpun tidak meskipun pada akhirnya Louise tahu siapa dan bagaimana sifatnya yang sebenarnya. Joanna sama sekali tidak peduli. Dia hanya perlu menjadi dirinya, bahkan meskipun dihadapan Louise.
"Jose, apa yang telah kau lakukan?" tanya Sir Alex panik.
Sangat panik karena Joanna melakukannya disaat Louise masih berada disini. Sir Alex takut, Louise akan memandang Joanna dengan cara yang berbeda setelah ini.
"Aku hanya membereskan sampah masyarakat," jawab Joanna singkat.
Joanna menghapus butiran keringatnya yang sempat memberondong. Kemudian mengumpulkan keberaniannya untuk mendorong Louise. Tapi yang Louise lakukan adalah sebaliknya. Seorang pria tidak akan membiarkan wanitanya berlumuran darah. Jadi Louise mengangkat senjatanya, membereskan sisanya untuk Joanna.
Dor
Dor
Dor
Belasan, bahkan lebih banyak daripada jumlah yang Joanna singkirkan mati ditangan Louise. Louise, dia melakukannya disaat dirinya memeluk Joanna disaat yang bersamaan.
Wanitanya tidak boleh berlumuran darah. Wanitanya tidak boleh melakukan kejahatan. Wanitanya harus terlihat baik seperti malaikat dan di kagumi anak-anaknya kelak. Jika ada yang harus membunuh, Louise lah orangnya. Karena dia tidak akan pernah membiarkan Joannanya memiliki cela di mata anak-anaknya nanti. Louise, ingin memberikan semua keindahan untuk Joanna dan mengambil semua keburukan untuk dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Joanna.
"Membereskan sisanya untukmu," jawab Louise.
"Kenapa, bukankah aku sudah bilang sebelumnya. Aku sendiri yang akan membunuhnya. Kau tidak perlu,-"
"Joanna, urusanmu menjadi urusanku sekarang. Aku akan memaafkanmu kali ini karena kau tidak patuh dan membangkang. Tapi lain kali, aku tidak akan memaafkannya. Hari ini adalah hari terakhirmu membunuh dan mengangkat senjata. Apa kau paham?" bisik Louise di telinga Joanna.
"Tidak. Masih ada satu yang harus ku bereskan," tolak Joanna.
"Siapa?"
"Agria, aku akan membunuhnya. Apa kau keberatan?"
"Terserah, tapi berjanjilah ini yang terakhir. Kalau kau masih melakukannya lagi di masa depan, aku pun tidak tahu hukuman apa yang akan ku berikan padamu, Joanna!"
"Aku janji, ini yang terakhir."
...***...