
Hari ini, William sangat sibuk karena harus menghadiri pertemuan dengan beberapa klien penting. Sejak Louise memutuskan untuk melebarkan sayap bisnisnya, tak terhitung banyaknya perusahaan menengah maupun besar yang ingin mendapatkan kontrak kerja sama.
Mereka semuanya bersaing satu sama lain agar bisa bergabung di bawah naungan Mattews Group. Perusahaan raksasa yang semakin meroket popularitasnya belakangan ini.
Setelah melalui pembicaraan yang cukup alot dan memikirkan berbagai pertimbangan, akhirnya William COO kepercayaan Louise dan beberapa orang penting perwakilan perusahaan pun sampai pada keputusan akhir.
Salah satu perusahaan yang beruntung dan berkesempatan masuk kedalam jajaran Mattews Group adalah sebuah perusahaan dimana Marissa bekerja dan menjabat sebagai salah satu manager.
Sudah satu bulan lamanya Marissa bekerja keras untuk mendapatkan kontrak kerjasama dengan Matthews Group. Selama itu pula dia sering bertemu dengan sekumpulan orang-orang terkenal dan memiliki kemampuan luar biasa milik Matthews Group, dan William Pradigta adalah salah satunya.
Tidak ada yang aneh, semuanya berjalan sangat normal dan alami. Tidak ada yang menyatakan keberatan saat perusahaan yang diwakili Marissa ditetapkan sebagai salah satu dari sekian perusahaan yang berhasil mendapatkan kontrak kerjasama.
Iya, semuanya sangat normal. Keberhasilan Marissa pun mendapat atensi dari berbagai pihak, termasuk William. Marissa berhasil mencuri perhatian semuanya dengan bakat dan ide yang sangat brilian meskipun dia seorang wanita.
"Selamat bergabung! Mulai sekarang perusahaan yang kamu wakili telah resmi menjadi salah satu perusahaan di bawah naungan Mattews Group kami. Kami berterimakasih atas kerja kerasmu dan menunggu performa kalian yang luar biasa di masa depan," kata William saat memberikan selamat dengan berjabat tangan dengan Marissa.
"Terimakasih, kami akan bekerja sekeras mungkin dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan. Saya mewakili perusahaan sangat berterimakasih atas kesempatan luar biasa ini," jawab Marissa dengan menyunggingkan senyum yang menawan.
Marissa segera meninggalkan gedung itu setelah acara selesai. Tergesa-gesa menuju sekolah untuk menjemput Ebra dan Oskar.
Dari lantai atas, William termenung melihat kepergian Marissa dengan tangan terlipat. Sejak pertemuan pertamanya sampai hari ini, Marissa tidak pernah mengecewakannya. Sekalipun tidak pernah.
Wanita berambut sebahu itu selalu saja bisa menyita semua perhatiannya dalam waktu kurang dari satu bulan saja. Tidak, tidak hanya perhatiannya tapi juga hatinya.
"Apa aku benar-benar menyukainya?" gumam William.
William memalingkan pandangannya, mengambil jas dan meletakkan di salah satu bahunya kemudian berlalu meninggalkan ruangan yang semakin sepi.
.
.
.
"Mommy," panggil Oskar setelah membuka pintu kamar Joanna.
Oskar berlari ke pelukan Joanna dengan menenteng mainan kesayangannya. Anak itu terlihat seperti boneka hidup saat mengenakan baju tidur berbulu yang lucu lengkap dengan topi bertelinga yang sedang ngetrend belakangan ini.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Oskar lah yang berinisiatif mencium Joanna. Sangat berbanding terbalik dengan perlakuannya sebelum ini yang acuh dan dingin ketika Joanna mencoba memeluknya.
Joanna menyambut pelukan Oskar dengan lembut, membalas ciuman Oskar dengan menciumi seluruh wajah Oskar yang menggemaskan.
"Mommy, aku mencintaimu!" ujar Oskar dengan memajukan bibirnya.
"Mommy juga mencintai Xiao O," balas Joanna. Joanna sangat gemas dengan bentuk bibir kecil itu, kemudian memukulnya dengan ringan.
"Mommy, sakit!" rengek Oskar dengan memegangi bibirnya yang sebenarnya baik-baik saja.
"Jangan berpura-pura. Mommy tahu kau bohong," ucap Joanna dengan senyum manisnya.
"Mommy, malam ini Xiao O ingin tidur dengan mommy, boleh?" tanya Oskar dengan wajah berbinar. Menghentikan aktingnya yang payah di depan ibunya.
"Tentu saja sangat boleh sayang, tidak ada yang tidak boleh untuk lelaki kecil kesayangan mommy ini, kan?" jawab Joanna gemas sambil mengambil bantal yang lain untuk Oskar. Oskar pun dengan patuh segera berbaring di sisi ranjang bagian dalam.
"Mommy, Oskar mau mendengarkan dongeng sebelum tidur dari mommy," pinta Oskar sambil memegangi tangan Joanna.
"Xiao O mau mendengarkan dongeng tentang apa?" tanya joanna.
"Terserah mommy saja," jawab Oskar.
"Baiklah, kalau begitu mommy akan menceritakan tentang seekor burung bangau yang angkuh."
"Tidak mau, Oskar ingin mendengar yang lain," tolak Oskar dengan wajah manja.
"Bagaimana dengan anak kambing dan serigala?"
"Tidak mau. Aku mau mommy menceritakan dongeng tentang pesulap Harry Potter," jawab Oskar semangat.
"Eh, Harry Potter?" tanya Joanna memastikan.
"Em," jawab Oskar mantap.
"Sayang, tapi Harry Potter itu bukan dongeng," jelas Joanna.
"Kalau begitu bagaimana kalau mommy bercerita tentang kisah cinta mommy saja?" seru Oskar.
"Ah, anak ini. Darimana dia tahu tentang cerita percintaan?" batin Joanna pening.
"Tidak, tidak ada cerita sebelum tidur yang seperti itu," tolak Joanna. Lagipula kisah cinta apa yang bisa Joanna ceritakan. Dia saja kehilangan semua ingatannya.
"Mommy, Xiao O hanya bercanda. Kenapa mommy panik seperti itu, atau jangan-jangan mommy punya pacar?" goda Oskar. Bocah itu kini sudah duduk manis di hadapan Joanna dengan mata dan senyuman yang sama lebarnya.
Bak melihat anjing pudel, Joanna langsung menggelitik pinggang Oskar, memberikannya pelajaran karena selalu menggoda dirinya.
"Mommy, ampun. Xiao O tidak akan mengulanginya lagi, ha ha ha," teriak Oskar kegelian.
"Lain kali tidak ada ampun lagi loh," goda Joanna.
Joanna pun berhenti menggelitik Oskar, kemudian berbaring di samping Oskar dan memeluknya dengan erat, bersiap untuk membaca dongeng.
"Uhuk, uhuk!"
Tiba-tiba Oskar batuk saat Joanna selesai dengan satu dongengnya. Joanna pun segera memeriksa Oskar dan mengecek suhu tubuhnya. Rupanya Oskar sedang demam, "Kenapa tiba-tiba bisa demam. Bukankah barusan Xiao O baik-baik saja?" batin Joanna.
"Mommy!" rengek Oskar manja.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Mommy akan mengambil obat untukmu, hm?" pamit Joanna setelah mencium dahi Oskar.
Oskar hanya mengangguk, sementara Joanna bangkit dan meninggalkan Oskar sendirian di kamar untuk mengambil obat. Baru saja Joanna meninggalkan kamar, dengan cepat Oskar menghubungi Paman Arthurnya dan mengadu bagaimana keadaannya saat ini.
"Paman, Xiao O sakit!" teriak Oskar dengan lantang sesaat setelah Arthur mengangkat teleponnya.
"Sakit?" tanya Arthur dari seberang sana. Dari nada bicaranya semua juga tahu bahwa Arthur sedang panik sekarang.
"Xiao O demam," jawab Oskar dengan gaya menarik ingus di hidungnya yang sebenarnya tidak ada.
"Dimana mommy?" tanya Arthur.
"Mommy pergi mengambil obat."
"Katakan pada mommy, paman akan sampai dalam waktu sepuluh menit dan membawamu kerumah sakit, mengerti?" tanya Arthur.
"Mengerti!" jawab Oskar pelan.
Setelah menutup teleponnya, Arthur bergegas untuk berputar arah. Sebelumnya, Arthur baru saja pulang dari kantor. Lalu mampir ke rumah sakit untuk menjemput Alexa dan mengantarnya pulang. Saat ini seharusnya Arthur sedang dalam perjalanan menuju rumahnya tapi membatalkannya begitu tahu Oskar sakit dan akan kembali kerumah sakit.
Oskar sudah dibawa ke rumah sakit dan saat ini sudah kembali kerumah. Awalnya Joanna melarang membawanya pergi karena itu hanya demam biasa. Tapi Arthur bersikeras untuk membawanya. Melihat Arthur yang sangat peduli pada Oskar, Joanna pun tak bisa menolak dan hanya bisa menuruti permintaannya.
Oskar memeluk Arthur sangat erat saat Arthur membawanya masuk. Sepertinya anak itu sedang merindukan sosok ayah seperti yang selalu Alexa katakan.
Kini, Arthur sudah berdiri di tepian ranjang dan siap untuk menurunkan Oskar. Tapi Oskar sepertinya enggan. Dia menyembunyikan wajahnya di leher Arthur, menutup matanya rapat-rapat dan memeluk Arthur dengan kuat.
"Xiao O sayang kita sudah sampai rumah. Turun ya! Paman Arthur bisa capek kalau begini terus," kata Joanna. Tangannya yang lembut membelai rambut Oskar sebelum mencoba mengambilnya dari gendongan Arthur.
"Aaa, Xiao O mau di gendong Paman Arthur," ucap Oskar lengkap dengan mulut yang mengerucut seperti terompet.
Mendengar jawaban Oskar, Arthur tersenyum. Dirinya tidak tahan untuk mencium kepalanya dan menepuk pundaknya. Sementara Joanna, dia merasa tidak enak hati kepada Arthur. Dia sudah bekerja keras seharian, masih harus mengurus Alexa dan sekarang harus mengurus Oskar lagi. Betapa lelahnya Arthur?
Dan, sebenarnya Joanna lebih tidak enak lagi karena dirinya merasa canggung setelah mengingat apa yang Alexa katakan sebelumnya.
"Xiao O, Paman Arthur sudah bekerja seharian, paman pasti lelah. Sini, kalau Xiao O ingin gendong kan bisa sama mommy?" bujuk Joanna lagi.
Sepertinya Oskar sedang tidak ingin diajak kompromi, karena tangan kecilnya menepis tangan Joanna, "Paman, Xiao O mau tidur sama paman," kata Oskar kemudian.
Wajahnya yang polos melihat Arthur dengan tatapan yang memelas. Sebenarnya Oskar tidak sedang sedih. Dia hanya rindu, rindu dengan paman yang merawatnya sejak bayi.
Anak nakal itu sepertinya tahu kelemahan Arthur. Karena selama ini, jika Oskar sudah bersikap manja dan melihat Arthur dengan tatapan seperti ini, Arthur akan lupa bagaimana caranya bilang tidak.
"Oskar, besok paman akan kemari lagi. Tapi biarkan paman pulang dulu hari ini ya?" bujuk Joanna lagi.
Bukannya menjawab, Oskar malah mengabaikan Joanna dan kembali bersembunyi di pelukan Arthur, "Kalau begitu Xiao O mau ikut pulang ke rumah Paman Arthur."
Mendengar jawaban Oskar, Joanna kembali canggung tapi tidak dengan Arthur yang terlihat biasa-biasa saja.
"Joanna, tidak apa-apa. Aku tidak lelah. Malah lelahku hilang saat melihat Oskar," kata Arthur, "Baiklah, malam ini paman sepenuhnya milik Oskar," lanjut Arthur tanpa ragu.
"Sungguh, paman mau bermalam disini?" tanya Oskar berbunga-bunga.
"Sungguh, apa paman pernah berbohong?" tanya Arthur.
"Yeay, hore!" teriak Oskar. Sepertinya, dia sudah tidak demam lagi. Terlihat dari gerak cepatnya yang langsung turun ke ranjang dan melompat kegirangan.
"Joanna, beristirahatlah. Aku akan menjaganya malam ini," ucap Arthur.
"Maaf, selalu saja merepotkanmu," kata Joanna pada akhirnya.
"Bukan masalah," jawab Arthur, "Oskar, ayo bilang selamat malam sama mommy!" perintah Arthur.
"Mommy, good night!" kata Oskar.
"Good night!"
Joanna melangkahkan kakinya, keluar dari kamar Oskar dan menutupnya dengan pelan. Untuk beberapa saat Joanna masih berdiri di depan pintu dan menyandarkan dirinya disana. Dari tempatnya berdiri, dia bisa mendengar Oskar kecilnya sangat bahagia. Entah apa yang mereka lakukan, tapi tawa riang itu tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka.
.
.
.
"Lain kali, kau tidak perlu seperti ini," kata Joanna ketika Oskar sudah tidur.
"Kenapa, bukankah aku selalu seperti ini lima tahun ini?" tanya Arthur sembari membuka kancing baju di tangannya.
"Arthur, apa kau tidak merasa terlalu memanjakannya?" tanya Joanna.
"Tidak, bagian mana aku terlalu memanjakannya. Dia sedang sakit, dan aku hanya menemaninya sesuai permintaannya."
"Arthur, kau tidak boleh seperti ini terus."
"Kenapa tidak boleh, apa karena aku bukan ayahnya?" tanya Arthur.
"Bukan seperti itu, hanya saja-"
"Joanna, ada apa denganmu. Sepertinya kau sedikit berbeda akhir-akhir ini. Kenapa?" tanya Arthur.
"Arthur, itu hanya perasaanmu saja. Tidak ada yang berbeda denganku, aku masih sama seperti yang dulu."
"Lalu kenapa kau seperti ini?"
"Seperti ini, apa maksudnya?" tanya Joanna.
"Kenapa kau menjadi sangat sungkan hanya untuk hal-hal sepele yang sudah biasa ku lakukan selama ini?"
"Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja aku merasa ini menjadi semakin aneh."
"Aneh?" tanya Arthur.
Joanna mengangguk pelan. Mendengar itu, Arthur mendekati Joanna dan memegang kedua pipinya dan berkata pelan, "Tidak ada yang aneh. Jika ada, itu adalah kau, Joanna."
"T-tunggu, apa yang sedang kau lakukan ini?" tanya Joanna.
"Apa yang kulakukan, aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting. Aku tidak ingin menyembunyikannya lebih lama lagi darimu. Joanna, malam ini aku ingin menjawab pertanyaanmu waktu itu. Benar apa yang kau katakan, bahwa aku memang mencintaimu," jawab Arthur tepat di depan wajah Joanna.
Joanna membuka matanya lebar-lebar atas pengakuan Arthur. Ingatannya kembali menerawang kejadian hari itu. Hari dimana Joanna selalu diperlakukan khusus oleh Arthur saat mereka liburan bersama.
"Joanna, makanlah ini."
"Joanna, ini untukmu."
"Kenapa kau sangat ceroboh. Apa kau hobi melukai dirimu sendiri?"
"Gunakan ini untuk menghangatkan tubuhmu."
Itu hanyalah beberapa penggal bentuk kasih sayang dari Arthur untuk Joanna waktu itu.
Saat itu, menyadari sikap Arthur yang berbeda membuat Joanna mengatakannya secara tidak sadar, "Arthur, kau tidak sedang mencintaiku kan?" tapi tidak mendapatkan jawaban dari Arthur selain senyuman.
GLEK.
"Arthur?" seru Joanna, dia tidak menyangka Arthur akan menyatakan perasaannya. Dadanya bergemuruh. Bukan karena Joanna mencintainya, juga bukan karena membencinya. Joanna hanya tidak ingin persahabatan diantara mereka ternoda karena ini.
"Joanna, jangan berpikiran macam-macam. Aku tahu aku salah karena mencintaimu. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan Alexa karena ini. Aku hanya ingin mengatakannya agar kau tahu, bukan untuk memintamu menjadi milikku atau menerima perasaanku. Karena aku tahu, kau pasti akan membenciku dan menjauh jika aku melakukannya. Dijauhi olehmu adalah sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku sudah cukup puas berada di sekitarmu dan bisa membantumu seperti ini. Dan aku juga akan berbahagia jika suatu hari nanti kau menemukan seseorang yang kau cintai. Jadi kumohon, berhentilah merasa sungkan padaku."
"Arthur, sebaiknya kau menepati semua kata-katamu ini," kata Joanna memperingatkan.
Mendengar jawaban dari Joanna membuat Arthur tersenyum. Dia senang, Joanna bisa mengerti apa maksudnya, "Aku janji!" jawab Arthur kemudian memeluk Joanna untuk pertama kalinya.
"Arthur, apa yang kau lakukan?"