CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Akhiri Saja



"Apa bercinta dengan William bisa membuatmu mati, Joanna?" tanya Louise.


DEG.


Joanna merasa waktu berhenti berputar. Semua gerakan juga terasa sangat lambat. Sorot mata kebencian itu, senyum sinis itu, Joanna sudah memutuskan untuk tidak akan melupakannya.


Mata Joanna terbuka sempurna saat Louise memberikan pertanyaan kejutan untuknya. Darimana Louise tahu. Seharusnya hanya dia seorang yang tahu kejadian malam itu. Dia belum pernah menceritakan rahasia ini kepada siapapun. Tidak, yang benar adalah dia ingin mengatakannya pada Louise tapi tidak memiliki kesempatan untuk mengatakannya.


"Kenapa, kenapa melihatku seperti itu. Apa aku salah bicara?" tanya Louise.


Joanna masih tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak tahu mengatakan apa karena pertanyaan yang datangnya tiba-tiba di waktu tak terduga. Joanna sama sekali belum siap.


Tapi Louise tidak berbelas kasih sedikitpun. Dia melepaskan cengkeramannya, melonggarkan mantel Joanna dan membuka paksa beberapa kancing baju itu.


"Lihatlah dirimu. Inikah yang kau bilang dengan hampir mati?" tanya Louise.


Joanna menunduk untuk melihat sendiri bagian tubuhnya. Lalu menggerakkan bahu dan tangannya untuk memperbaiki mantel tanpa mengancingkan bajunya.


"Bagaimana rasanya tidur dengan adikku. Apa kau sangat menyukainya sampai membiarkan dia meninggalkan bekas yang mengerikan seperti ini. Bukankah seharusnya ini semua milikku. Kenapa kau memberikannya pada orang lain?" tanya Louise.


"Bukan seperti itu Louise Matthew. Dengarkan penjelasanku!" jawab Joanna.


"Apa yang ingin kau jelaskan. Suaramu saat bercinta dengannya atau kau yang membiarkannya mencuri susu anakku?" tanya Louise.


"Cukup Louise Matthew!" teriak Joanna. Dia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia mulai mundur teratur sekarang. Memberi jarak yang lebih lebar antara Louise dan dirinya. Merasa tidak pantas lagi untuk berdiri di dekat Louise yang terhormat.


"Apa kau pikir aku sengaja. Apa kau pikir aku menyukainya?" tanya Joanna.


"Lalu kenapa kau tidak menolaknya Joanna?" sergah Louise.


"Aku sudah menolaknya. Aku sudah melawannya, tapi aku tidak punya kekuatan sebanyak itu, Louise Matthew!" jawab Joanna.


"Itu hanya alasanmu saja Joanna. Kau menyukai adikku kan. Kau tidak benar-benar serius melawannya!" bentak Louise.


"Aku menolaknya Louise Matthew. Aku menolaknya. Harus berapa kali aku bilang bahwa aku sudah menolaknya. Tapi berapa banyak kekuatan yang ku punya. Apa kau pikir aku bisa mencegah William yang mabuk dengan kekuatanku sendiri. Dia sama kuatnya sepertimu, sama persis seperti saat kau menahanku. Apa aku bisa lari darimu. Baiklah, aku memang punya satu cara untuk membuatnya tidak melakukan itu padaku. Tapi satu-satunya cara yang ku punya adalah jika aku menggunakan senjata. Tapi,-"


"Lalu kenapa tidak menggunakan senjatamu untuk melawannya saat dia mulai naik di atas tubuhmu?" potong Louise.


"Louise jangan bercanda. Hanya sebuah pistol yang kubawa. Kalau aku menembaknya, bagaimana kalau dia sampai mati?" tanya Joanna. Bukan masalah jika itu adalah orang lain. Joanna tidak akan ragu untuk menembaknya. Tapi malam itu adalah William.


"Maka dia akan mati. Setidaknya aku tahu kau berusaha melindungi dirimu," jawab Louise egois.


"Apa?" tanya Joanna.


Suara yang sempat meninggi itu akhirnya kembali melemah. Apa yang baru saja Louise katakan. Apa Louise serius mengatakan ini?


"Bukankah William itu adikmu. Dia baik padaku, dia selalu melindungiku saat kau tak ada. Selain itu dia juga tidak sengaja melakukannya. Jadi bagaimana bisa aku menembaknya. Katakan bagaimana bisa aku menembaknya?" tanya Joanna dengan mencengkeram kerah Louise.


"Alasan. Kau memang menginginkannya bukan. Kau menyukainya kan. Terbiasa menjadi istrinya membuatmu ingin jadi istrinya selamanya kan?" tanya Louise.


"Louise?"


"Kalau kau menyukainya maka hidup saja dengannya. Aku tidak menginginkan wanita yang tidak bisa setia hanya pada satu pria dan suka membangkang sepertimu," kata Louise.


Ah, bagaimana mengatakannya sekarang. Akhirnya apa yang Joanna tunggu dari mulut Louise keluar juga. Meskipun sudah memantapkan hati untuk mendengar penolakan ini, tapi kenapa rasanya masih begitu menyakitkan. Tidak bisa setia pada satu pria katanya, Joanna itu setia. Joanna itu sangat setia. Dia hanya terpaksa menerimanya karena William mabuk dan mereka terdampar di hutan.


"Louise Matthew, bukan aku yang tidak setia tapi dirimu. Kau lah yang tidak bisa setia hanya pada satu wanita. Jangan mengatakan seolah aku yang salah dan kau yang benar. Sama sepertimu aku pun juga sudah melihatnya. Aku melihatmu bermesraan dengan wanita itu, Louise Matthew. Katakan saja kalau kau ingin kembali dengannya. Tidak perlu menghakimiku atas kesalahan yang tidak sengaja ku lakukan bersama William," kata Joanna lirih.


"Cukup, aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Aku bertemu dengannya itu memang benar. Tapi bukan itu alasan utamaku tidak menginginkanmu lagi. Joanna aku membutuhkan wanita yang patuh dan menuruti kata-kataku. Lalu apa yang kau lakukan, tidakkah kau sadar kau sudah melanggar janjimu sendiri. Jadi cukup sampai disini saja dan jangan mencariku lagi di masa depan. Habiskan saja sisa hidupmu dengan William karena aku sudah tidak menginginkanmu lagi," kata Louise.


Kali ini Joanna tersenyum, menutup wajahnya dengan dua tangannya untuk membuang air mata yang hampir tumpah kemudian kembali melihat Louise yang masih berdiri di hadapannya.


"Aku tahu. Aku mengerti. Aku tidak akan mencarimu lagi. Tapi bisakah kau katakan siapa yang memberitahumu aku tidur dengan William?" tanya Joanna.


"Kenapa, apa itu penting bagimu?" tanya Louise.


"Tentu saja itu penting. Karena aku sudah tidak ada hubungannya denganmu, aku bebas membunuh siapapun yang aku mau. Jadi katakan siapa yang melihatnya agar aku bisa membunuhnya," jawab Joanna.


"Kalau begitu bunuh saja aku. Karena tidak ada siapapun yang memberitahuku," kata Louise.


"Bohong, kalau tidak ada yang memberitahumu lalu kau tahu darimana?" tanya Joanna.


"Aku melihatnya sendiri dengan mataku, Joanna. Aku melihat bagaimana kau menikmati malam yang menyenangkan itu dengan adikku. Aku melihatnya bagaimana dia berulang kali mengatakan perasaannya padamu. Iya, aku melihat semuanya," jawab Louise


Joanna tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya. Dia lolos begitu saja dan terduduk di atas bebatuan tebing dengan memegangi satu kaki Louise. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya menjadi sesak juga berat dan tangannya tidak berhenti gemetar.


"Kalau kau melihatnya, kenapa kau tidak menolongku?" tanya Joanna dengan suara yang nyaris tak terdengar dan tatapan mata yang menyedihkan.


"Karena kau sangat menikmatinya dan William mencintaimu," jawab Louise.


"Tidak. Kau pasti sengaja. Kau pasti sengaja mencari kesalahanku Louise. Kenapa, kenapa kau begini padaku. Apa salahku padamu Louise Matthew?" tanya Joanna.


"Joanna, aku tidak ingin membicarakan ini lagi. Karena William mencintaimu dan kau sudah jadi istrinya maka jangan berpikir untuk bercerai. Tetap saja jadi istrinya dan selamanya jadi adik iparku. Membesarkan Reagan bersamanya dan melahirkan anak-anak yang lainnya nanti. Jangan khawatir, aku akan tetap memberimu uang untuk Reagan karena dia anakku. Seharusnya begini sudah cukup kan?" jawab Louise.


"Bukan itu yang kuinginkan. Bukan itu," kata Joanna.


"Apa kau masih berharap bisa menikah denganku?" tanya Louise.


"Tentu saja iya karena aku mencintaimu," jawab Joanna.


"Tapi aku sudah tidak mencintaimu," tolak Louise.


Joanna tidak lagi mengatakan apapun sekarang. Dia sudah memohon, dia sudah mengatakan ingin menikah dengannya dan mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Dia sudah menunggunya, dia sudah melakukan apa yang dia bisa untuk tetap bersamanya. Tapi jika yang dia dapatkan adalah penolakan berkali-kali maka dia cukup sadar diri dan tahu kapan waktunya untuk menyerah.


"Aku membencimu seumur hidupku, Louise Matthew!" kata Joanna dengan menghapus satu air mata yang sempat jatuh dari pelupuk matanya.


"Terserah!" ucap Louise.


Joanna meremas pakaiannya yang sudah koyak. Menggigit bibirnya karena sakit hati yang tak terperi. Bukan masalah jika Louise sudah tidak menginginkannya lagi. Dia masih bisa menerimanya meskipun sakit hati. Tapi yang membuat Joanna tidak habis pikir adalah kenapa dia tega membiarkan William tidur dengannya saat dia melihatnya. Kenapa tidak segera menghentikannya?


Lalu sekarang dengan mudahnya dia menyarankan untuk tidak bercerai. Apa Louise sadar dengan apa yang sedang dia lakukan?


Ah, Joanna tahu sekarang. Louise pasti sengaja membiarkannya bercinta dengan William agar ada alasan yang masuk akal untuk mengakhiri hubungan mereka. Dengan begini seolah Joanna yang selingkuh, bukannya Louise. Sudah selingkuh ditambah membunuh orang, alasan itu memang sangat cukup untuk membuat Louise membuang Joanna.


"Kalau kau sungkan mengatakannya pada William, aku bisa mengatakannya untukmu," tawar Louise.


"Tidak perlu. Urusan rumah tanggaku aku bisa mengurusnya sendiri. Orang luar sepertimu tidak perlu ikut campur. Urus saja urusanmu sendiri. Lalu masalah Reagan, aku tidak butuh uang darimu," kata Joanna.


Joanna bangkit dengan sisa-sisa kekuatannya. Menatap wajah itu sekali lagi dan tersenyum tipis. "Di masa depan sebaiknya jangan menunjukkan dirimu lagi. Karena mungkin aku bisa membunuhmu," kata Joanna.


Louise menatap Joanna tanpa ekspresi. Masih sangat datar dan berdiri santai dengan meletakkan tangannya di saku celananya.


"Minggir, kau menghalangi jalanku!" kata Joanna lagi.


Joanna bersiap pergi. Sudah melangkah dan meninggalkan pria itu beberapa langkah tapi Louise menahan tangannya. "Aku belum selesai bicara. Masih ada yang ingin ku bicarakan tentang Reagan."


"Tapi tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Sampai matipun, aku tidak akan pernah memberikannya padamu," kata Joanna kemudian kembali melangkah.


Tapi yang dilakukan Louise selanjutnya sangat tidak Joanna sangka. Louise memang tidak menahannya lagi melainkan menariknya dan terus membawanya sampai mereka tiba di tepi jalan dan disambut beberapa pengawal.


"Segera bawa nona kalian pulang dan jangan biarkan dia berkeliaran mulai sekarang!" titah Louise sembari mempersilahkan Joanna masuk mobil dengan kasar.


"B-baik, T-tuan!" jawab Okta.


Okta segera masuk ke mobil. Lalu segera meminta sopir menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu sebelum Louise marah.


"Kenapa kau disini, Paman?" tanya Joanna.


"T-Tuan Muda Louise memintaku kemari, Nona!" jawab Okta.


"Apa Paman mendengar apa yang kami katakan?" tanya Joanna.


"Tidak," jawab Okta jujur.


"Kalau begitu jangan katakan pada William kalau aku bertemu dengan Louise malam ini," kata Joanna.


"Tapi kenapa?" tanya Okta tidak mengerti.


"Tidak ada apa-apa," jawab Joanna.


"Baiklah, Nona!" kata Okta.


...***...