CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Anak Katak (21+)



"Louise, kenapa membawaku kemari lagi?" protes Joanna frustasi.


"Bukankah kau yang memohon padaku untuk menolongmu tadi," jawab Louise.


"Aku memang minta tolong. Tapi bukan berarti aku minta di kurung di kandang buaya setelah di tolong," protes Joanna ketika Louise menghempaskan dirinya di ranjang.


"Joanna, siapa yang kau sebut sebagai buaya barusan?" tanya Louise.


"Tidak, aku ... itu lidahku hanya keseleo," jawab Joanna asal.


"Joanna, kau harus bertanggungjawab padaku," kata Louise.


"Apa aku membuatmu hamil, kenapa aku harus bertanggungjawab?" tanya Joanna.


"Oh, apa hanya harus membuat hamil seseorang baru boleh bertanggungjawab?" tanya Louise balik.


"Bu-bukan seperti itu maksudku. Maksudku adalah kenapa membawaku kesini?" tanya Joanna.


Louise, nyatanya dia membawa Joanna pulang ke villanya. Tanpa mampir kemana-mana dan di hadapan ratusan maid dan pengawal tidak malu untuk langsung memasukkan Joanna dan mengurungnya di kamarnya.


"Kalau tidak disini lalu dimana. Apa kau lebih suka melakukannya di mobil atau di tempat terbuka?" tanya Louise.


"Kenapa kau selalu mesum sih?" tanya Joanna. Lalu tangannya menjangkau selimut yang ada di sampingnya.


Dengan cekatan, membungkus dirinya dengan selimut tebal di hadapan pemiliknya. Bukan apa-apa, hanya saja dia sangat takut. Takut ketahuan kalau sebenarnya dia tidak sedang datang bulan dan Louise akan memakannya hidup-hidup. Pembalut yang dia pakai, sebenarnya hanya untuk menipu dan berjaga-jaga agar Louise itu tidak sembarangan.


Gelagat aneh Joanna membuat Louise geleng-geleng kepala. Apa Joanna tidak mengerti bahasa manusia. Bukankah dia sudah bilang tidak akan menerobos lampu merah. Apa Joanna tidak mengerti bahasa kiasan. Kemana dia saat pelajaran bahasa dulu. Apa dia membolos sekolah dan kencan terus dengan Edgar?


"Ada apa dengannya. Hanya dengan selimut ini, apa dia pikir aku tidak bisa mengeluarkannya dari sana?" batin Louise.


"Apa yang kau lihat?" tanya Joanna.


"Apa yang kau lakukan?" bukannya menjawab, Louise malah melontarkan pertanyaan yang membuat Joanna gagu seketika.


"I-itu ehm. Tiba-tiba aku merasa kedinginan," jawab Joanna.


"Dingin?" ulang Louise.


"Eum," jawab Joanna meyakinkan.


"Aku akan membantumu untuk tetap hangat," tawar Louise. Lalu segera mengambil beberapa selimut tebal lainnya dan membungkus Joanna di dalamnya.


"Aku bisa meminta pelayan untuk menyiapkan selimut tebal lainnya jika kau masih merasa dingin," tawar Louise mengumbar senyum.


"Terimakasih, tidak perlu. Karena ini sudah sangat panas," jawab Joanna lalu segera bangkit dan membuka selimut itu untuk membebaskan dirinya.


"Joanna, kumohon tolong aku!" pinta Louise ketika Joanna membuka dirinya.


Dengan tatapan sendu, mengiba pada Joanna. Memeluknya dan menuntun tangan Joanna untuk memijit juniornya lebih lama.


"Louise?"


"Ayolah!" pinta Louise.


"Kenapa aku harus?" tanya Joanna.


"Karena kau yang memancingnya," jawab Louise.


Louise mendorong Joanna untuk duduk. Dengan tidak tahu malu menunjukkan miliknya yang sudah sangat tegang. Joanna membuka matanya lebar-lebar melihat benda itu dan Louise secara bergiliran tanpa mengatakan apa-apa. Ini ... tidak pernah dia bayangkan akan berakhir seperti ini.


"Ayo, buka mulutmu dan makan lolipopmu. Jangan lupa memijitnya seperti tadi. Kau juga bisa menggigitnya dengan pelan," perintah Louise.


"Aku tidak mau!" tolak Joanna.


"Apa kau bisa menolak?" tanya Louise.


"Louise?"


"Ayolah, aku akan menyuapimu. Aaaaa." Louise, dia mencubit cookies Joanna sehingga membuatnya membuka mulut. Lalu menahannya agar tidak menutup mulutnya lagi.


Joanna hanya bisa menutup matanya saat mulutnya mulai terisi penuh. Melakukan apa yang Louise perintah dan instruksikan. Bisa apa selain melakukannya, karena dua tangan Louise menahan kepalanya untuk tetap tinggal disana. Entah berapa lama, tapi Joanna merasa itu sangat lama.


Sesekali, Joanna tersedak. Tapi malah mendapat pujian dari Louise, "Sayang, kau sangat bersemangat. Kau menghisapnya terlalu kuat," kata Louise sambil meringis menikmati pelayanan Joanna.


Setelah sekian lama berjibaku, akhirnya Louise menunjukkan caranya. Meminta Joanna menyudahi makan lolipopnya dan mengurutnya dengan cepat sampai Joanna melihat semburan kental berkali-kali.


Joanna melihat wajah itu. Wajah yang terlihat sangat seksi dan menggairahkan saat Louise menikmati waktu pelepasan benih-benihnya meksipun di tempat yang tidak seharusnya.


"Louise?" panggil Joanna.


"Hm?" jawab Louise.


"Kenapa kau sangat tampan saat seperti ini?" tanya Joanna.


Louise mendekatkan wajahnya, tersenyum dan mendaratkan ciumannya berkali-kali di seluruh wajah Joanna sebelum memainkan rambutnya dengan memelintirnya, "Kalau begitu layani aku setiap waktu agar aku selalu terlihat tampan di matamu."


.


.


.


Flashback On


"Hei, berandal kecil. Apa kau marah pada daddy?" tanya Louise kepada Oskar.


Oskar melihat Louise hanya sebentar saja sebelum kembali menundukkan kepalanya. Anak itu sepertinya masih enggan melihat atau menjawab pertanyaan Louise meskipun Louise sudah membujuknya sejak satu jam yang lalu.


"Apa kau tidak ingin melihat daddy?" tanya Louise dengan menghela nafas super panjang. Masih sangat sabar menghadapi Oskar yang keras kepalanya kelewatan. Sangat persis seperti Joanna meskipun dia bukan ibu kandungnya.


"Oskar, bukannya Oskar merindukan daddy. Daddy sudah datang, kenapa masih tidak menyambut daddy, hm?" tanya Louise bertubi-tubi.


"Oskar, kalau Oskar terus mengabaikan daddy, nanti daddy diambil maling bagaimana?" tanya Louise lagi.


"Biar!" jawab Oskar. Akhirnya kalimat itu muncul juga meskipun masih tidak ingin melihat Louise. Membuat Louise yang hampir menyerah kembali menemukan setitik harapan.


"Oskar, kenapa kau sangat kejam pada daddy?" protes Louise.


"Xiao O hanya mau mommy bukan daddy!" jawab Oskar.


"Kenapa hanya mau mommy. Bukankah kau bilang suka daddy?" tanya Louise. Dua tangannya kini mengapit paha Oskar dan matanya melihat Oskar dengan jarak yang sangat dekat.


"Karena daddy jahat!" jawab Oskar. Mata itu akhirnya melihat Louise meskipun hanya tiga detik.


"Jahat?" ulang Louise.


"Kenapa memilih ibu yang jahat untukku?" protes Oskar.


"Daddy ... memilih ibu yang jahat untukmu, kapan?" tanya Louise.


"Sekarang," jawab Oskar cemberut.


"Hei, anak nakal. Kalau kau ingin protes, protes saja pada ayahmu sana. Tanyakan padanya kenapa memilih ibu yang jahat seperti itu," kata Louise.


"Xiao O kan sudah melakukannya sekarang!" lanjut Oskar.


"Apa bukan?" tanya Oskar. Oskar yang sebelumnya terlihat ogah-ogahan sepertinya mulai bisa diajak kompromi. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang berubah saat melihat Louise.


"Tentu saja bukan," jawab Louise.


"Tapi kenapa wanita jahat itu bilang Daddy Louise ayahku?" tanya Oskar.


"Mana daddy tahu!" jawab Louise dengan wajah yang sengaja dipolos-poloskan.


"Daddy tidak berbohong kan?" tanya Oskar.


"Sejak kapan daddy berbohong padamu. Lagipula daddy tidak pernah merasa menitipkan kecebong kecil sepertimu di perut siapapun kok," jawab Louise.


"Daddy, apa Xiao O anak katak?" tanya Oskar.


"Eum, kau itu anak katak. Katak yang sangat besar sekali. Apa kau ingin tahu siapa nama katak itu?" tanya Louise.


"Siapa?"


"Juan Matthew," jawab Louise.


"Dia siapa, kenapa namanya mirip dengan nama daddy?" tanya Oskar penasaran.


"Dia itu adik daddy. Ayahmu itu dia bukannya daddy. Daddy ini paman besarmu, apa kau mengerti sekarang?" jelas Louise.


"Sungguh?" tanya Oskar.


"Sungguh!" jawab Louise.


"Tapi kenapa mereka bilang seperti itu?" tanya Oskar masih tidak percaya.


"Daddy akan menjelaskannya saat kau sedikit lebih besar," jawab Louise.


"Apa itu berarti daddy tidak punya anak?" tanya Oskar.


"Anak kecil, kenapa mulutmu sangat pedas. Tentu saja daddy punya, hanya saja belum menyebar benihnya di tempat yang benar," jawab Louise.


"Daddy, apa bayi bisa di tanam?" tanya Oskar polos.


"Tentu saja, tapi di ladang yang berbeda," jawab Louise.


"Lalu, dimana ayahku sekarang?" tanya Oskar lagi.


"Dia lelah dan ingin istirahat. Kau tahu, dia sangat nakal sama sepertimu. Ayahmu itu, dia sudah tidur sejak 6 tahun yang lalu tapi masih enggan bangun juga meskipun daddy memanggilnya. Apa kau ingin melihatnya nanti?" jelas Louise.


"Apa ayahku sudah mati?" tanya Oskar.


"Eum," jawab Louise. Tangannya membelai rambut Oskar. Anak itu pasti sedih saat tahu ayahnya sudah mati, lalu harus menerima kenyataan bahwa ibunya seorang wanita jahat yang memisahkannya dari Joanna.


Oskar hanya diam. Ayahnya mati, memangnya kenapa. Dia sudah terbiasa hidup tanpa ayah. Malah dia senang menjadi anak orang mati itu. Lalu impiannya hanya melihat Mommy Joanna dan Daddy Louise jadi ayah dan ibunya suatu hari nanti.


"Tidak perlu sedih, bukankah masih ada daddy?" kata Louise menghibur.


"Tapi Xiao O hanya mau mommy," jawab Oskar.


"Oskar, daddy ada di depanmu. Tapi kenapa kau terus mencari mommy?" keluh Louise.


"Xiao O rindu mommy," jawab Oskar.


"Mommy pasti akan datang melihatmu lain hari," hibur Louise.


"Kapan?" tanya Oskar.


"Daddy tidak tahu."


"Bagaimana kalau mommy tidak datang?" tanya Oskar.


"Dia pasti datang. Hanya saja, mommy sudah berubah. Kau harus berhati-hati," jawab Louise.


"Berubah?"


"Kau tahu, mommy mematahkan tangan seorang pengacau saat dia di tahan di kantor polisi," jelas Louise.


"Apa mommy bisa?" tanya Oskar tidak percaya.


"Bisa," jawab Louise.


"Mommy ku memang hebat!" puji Oskar. Anak itu sudah bisa tertawa sekarang.


"Kau sudah tidak marah kan?" tanya Louise.


Oskar menggelengkan kepalanya dengan cepat kemudian meminta maaf, "Daddy, Xiao O minta maaf!"


"Bukan masalah," jawab Louise lalu mencium dan mengacak-acak rambut Oskar. Anak itu tersenyum, karena apa yang dilakukan Daddy Louise sangat persis dengan apa yang dilakukan Mommy Joanna.


"Sudah malam, ayo daddy akan menemanimu tidur!" perintah Louise.


Louise segera mengurus Oskar, mencoba menidurkannya meskipun sangat tidak mahir. Tapi meskipun begitu usahanya patut untuk di apresiasi karena beberapa saat kemudian Oskar sudah mulai menutup matanya.


"Paman?" panggil Oskar.


"Hm, bukannya aku daddymu. Kenapa memanggil daddy dengan sebutan paman?" tanya Louise.


"Paman kan bukan ayahku," jawab Oskar.


"Kenapa kau sangat tidak konsisten," keluh Louise


"Paman Louise?" panggil Oskar lagi.


"Hm, ada apa?" tanya Louise.


"Xiao O mau paman jadi ayahku, lalu mommy jadi ibuku," pinta Oskar dengan mata yang hampir menutup.


"Tentu saja, asal kau mau berjanji satu hal," jawab Louise.


"Apa?"


"Turuti semua kata mommy," jawab Louise lagi.


"Semuanya?" tanya Oskar


"Iya, semuanya."


"Lalu bagaimana dengan paman?"


"Jangan pikirkan paman," jawab Louise. Lalu menepuk-nepuk Oskar dengan pelan, sebelum menciumnya dan memeluknya.


"Nanti, paman akan membawamu menemui ayahmu. Kau mau pergi kan?" tanya Louise.


"Apa mommy juga ikut?"


"Tentu saja," jawab Louise.


...***...