CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD I'm Not Crying, Mom!



"Ah," rintih Joanna dengan memegangi perut bagian bawahnya.


William terperanjat, lalu ikut-ikutan memegang perut yang di dalamnya terdapat bayi yang semakin aktif bergerak.


"Lihatlah, semakin kesini dia memang semakin nakal seperti Louise," lanjut William.


Iya, anak itu sangat nakal, sampai tidak membiarkan William memeluk ibunya lebih lama lagi. Tanpa banyak bicara, William segera mengangkat Joanna dan memanggil Dokter untuk memeriksa perkembangannya.


"Istri anda akan melahirkan sebentar lagi," kata Dokter.


Dokter semakin sibuk untuk menyambut kelahiran satu jiwa baru itu. Sementara suster berjalan kesana kemari entah apa saja yang dilakukannya. Dalam kesempatan kali itu, William kembali mendekati Joanna.


"Jo, apa kau tak ingin operasi?" tanya William ketika melihat Joanna mulai berkeringat.


"Will, aku sudah mulai robek. Kalau operasi, perutku akan robek juga. Apa kau ingin aku robek di dua tempat?" jawab Joanna dengan menahan sakit.


Joanna sudah lebih sering kontraksi meskipun hilang timbul. William yang mengira anak nakal itu akan segera lahir harus lebih bersabar lagi. Dokter sepertinya sedang mempermainkan kesabarannya. Mereka bilang istri anda akan segera melahirkan, nyatanya sudah satu jam sejak Joanna masuk ke kamar dan berbaring seperti ini tapi dokter masih bilang tunggu sebentar lagi.


Joanna yang akan melahirkan, tapi William yang kesakitan. Itulah yang dirasakan William sekarang. Dia masih tidak habis pikir, bagaimana caranya bayi itu keluar dari lubang sempit itu. Membayangkannya saja sudah membuat William ngeri. Tapi merasa takjub disaat bersamaan saat melihat perjuangan Joanna untuk melahirkan anaknya.


Beberapa waktu kemudian, wajah Joanna semakin penuh dengan keringat. Seorang suster beberapa kali mengelapnya dengan lembut. Tangan Joanna menggenggam erat tangan William. Dokter sudah siap di tempatnya dan meminta Joanna menarik nafasnya dan mulai mengejan.


William sangat frustasi melihat hal semengerikan ini di depan matanya. Detak jantung William berdetak lebih cepat dan semakin cepat lagi. Saat Joanna menarik nafas, William ikut menarik nafas. Saat Joanna mengejan, maka William akan menahan nafasnya.


Keadaan seperti itu terus berlanjut selama beberapa menit. Nyawa William rasanya sedang berada di ambang batas antara hidup dan mati. Mungkin, jiwanya ingin meninggalkan raganya tapi tertahan akibat cengkeraman tangan Joanna yang luar biasa sakit di tangannya.


William akhirnya kembali sadar dimana dia berada. Sekarang, belum saatnya untuk mati. Tapi kalau pingsan, setidaknya tahan-tahan dulu sampai Louise junior lahir.


"Will, ini sangat sakit!"


Joanna, di saat genting seperti ini masih sempat-sempatnya mengeluh sakit pada William. Lalu apa yang bisa dilakukan William? Tidak mungkin dia menggantikan posisinya melahirkan. Itu tidak mungkin!


"Meskipun sakit, tapi kan tetap harus dilahirkan Jo," jawab William akhirnya.


"Itu aku juga tahu. Aku hanya ingin memberitahumu bagaimana rasanya," kata Joanna disela-sela usahanya mengejan.


"Nona Joanna, ayo terus. Kepalanya sudah terlihat, sedikit lagi akan segera keluar," kata Dokter.


William yang sempat menjadi normal kembali bergidik ngeri. Kira-kira bagaimana rasanya. Pasti berkali-kali lipat lebih sakit dari khitan.


"Astaga, Joanna benar-benar akan robek sekarang," pikir William.


William menelan salivanya, menutup matanya dan bersiap mendapatkan cengkeraman tangan yang lebih sakit dari Joanna. Selain itu masih harus menyiapkan telinganya untuk mendengar suara Joanna yang kesakitan saat mengejan.


Tapi beberapa detik berlalu, kenapa Joanna berhenti mengejan? Apa dia sudah kehabisan tenaganya?


William membuka matanya, melihat kearah Joanna yang sepertinya memang mulai kehabisan tenaga. Sangat terlihat dari wajahnya yang kelelahan.


"Louise junior, dasar anak nakal! Kenapa tidak punya inisiatif untuk segera merangkak dan keluar sendiri? Apa kau ingin aku mati karena terlalu lama menunggu ibumu melahirkanmu?" batin William gemas.


William memegang tangan Joanna lebih erat. Memantapkan hatinya, mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Joanna, bertahanlah. Tinggal sedikit lagi, aku tahu kau bisa, ayolah!" ujar William kemudian mencium kening Joanna.


Entah siapa yang mengajarinya melakukan hal romantis ini. Sepertinya tidak ada hal semacam ini di buku-buku seputar persalinan yang telah dia baca. William hanya melakukan apa yang nalurinya rasakan. Soal dia akan digantung Louise sampai mati sekembalinya dari luar negeri nanti, itu urusan belakangan. William tidak takut, toh William saat ini juga sedang mengalami apa yang dinamakan proses menuju kematian.


Joanna mengatur nafasnya, kembali mengumpulkan kekuatannya dan mengejan sekali lagi sekuat tenaganya dan terkulai lemas setelah itu.


"Bayinya sudah lahir!" kata Dokter.


"L-lahir, k-kapan?" tanya William plonga-plongo.


Apa telinganya tuli? Sumpah dia tidak mendengar tangisan apapun bahkan sampai saat ini.


Dokter segera melakukan serangkaian pemeriksaan agar Louise junior menangis. Tapi bayi itu nyatanya sangat sehat. Nilai APGAR-nya bahkan mencapai angka 10.


Karena bayi itu sehat, akhirnya dokter memberikannya kepada Joanna untuk dipeluk sebentar.


William melihat bayi itu sangat anteng saat diletakkan di dada Joanna layaknya sedang tidur siang. Mungkin, dia terlalu nyaman dan dia tidak sadar sudah lahir ke bumi.


Joanna tersenyum lega, dia memegangi jari-jarinya yang masih merah dan mungil. Ada air mata bahagia yang jatuh dari pelupuk matanya. Melihat itu, William pun ikut tersentuh. Dia mencoba ikut-ikutan menyentuh tangannya yang lucu.


Tapi senyuman mereka hilang saat melihat wajah bayi itu.


"William, k-kenapa anakku sangat mirip denganmu?" protes Joanna.


"T-tunggu, s-seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau yang membawanya kemana-mana, tapi kenapa kau melahirkannya sangat persis denganku?" tanya William.


"Apakah papa ingin menggendongnya?" tanya dokter.


Satu pertanyaan itu berhasil menghentikan keributan mereka.


"P-papa?" tanya William.


Dokter tertawa, "Anak anda sudah lahir, tentu saja anda sudah jadi seorang papa sekarang," kata dokter pelan, "Mari sayang, dokter akan membiarkan papa menggendongmu sebentar," kata Dokter dengan lembut.


Dokter mengambil bayi yang masih belum membuka matanya itu, dengan sangat hati-hati memberikannya pada William untuk mendapatkan sentuhan William sebentar.


"Ah, benar juga. Mereka hanya tahu anak ini milikku. Tapi, bagaimana nanti saat Louise kembali. Apa aku akan dicincang saat dia melihat wajah anaknya?" batin William.


Meskipun pikirannya kacau, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebuah rasa yang tidak bisa William jelaskan ketika kulit bayi itu menyentuh kulitnya. Kekhawatiran dan ketakutan William lenyap hilang entah kemana. Nyawanya juga sudah masuk kembali ke raganya dengan sempurna.


William baru saja menikmati pelukan pertama dari bayi yang orang kira adalah anaknya. Iya hanya beberapa detik, sebelum William kaget setengah mati karena tiba-tiba bayi itu menangis dengan mengerahkan kekuatannya sepenuhnya.


Dokter segera mengambilnya dan menyerahkannya pada suster untuk dilakukan perawatan selanjutnya. Semuanya bahagia menyambut tangisan bayi yang mereka tunggu-tunggu. Senyum ceria sangat jelas terukir di wajah mereka. Sangat berbeda dengan William yang masih terkejut dan akhirnya duduk di sofa.


"Louise, anakmu memang sangat nakal. Dia hampir membuatku mati bahkan disaat dia baru saja lahir ke dunia. Aku rasa aku tidak akan hidup lama jika terus bersamanya," umpat William.


Karena anak itu sudah lahir dan Joanna akan dijahit, William memutuskan untuk keluar sebentar. Menenangkan perasaannya yang sedang kacau-kacaunya.


Saat seperti ini, entah apa yang merasuki William. Tapi, setelah hampir setahun menikah dengan Joanna, dia baru menyadari satu hal yang penting malam ini. Bahwa dia, sepertinya tidak bisa menghindar dari hal yang paling dia takutkan selama ini, yaitu jatuh cinta pada istrinya sendiri.


Sekeras apapun dia mencegah, sekeras apapun dia menolak, sekeras apapun dia menyangkal tapi dia tetap tidak bisa lari. William, nyatanya benar-benar telah jatuh hati pada wanita yang seharusnya tidak dia cintai dan itu baru dia sadari malam ini.


"Ini tidak benar. Louise, seandainya aku tahu begini akhirnya, aku akan menurut padamu untuk tidak menikah dengan Joanna waktu itu. Tidak seharusnya aku menikah dengan calon kakak iparku sendiri meskipun dia tunanganku. Sebaiknya, kita memang harus menyelesaikan masalah Abixz99 tanpa melibatkan wanita."


William terduduk di teras, mengusap wajahnya yang kusut. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Ini tidak benar, yang benar adalah dia harus segera menceraikan Joanna agar perasaan itu tidak tumbuh semakin liar.


...***...