CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Tetua Memanggil Anda, Tuan!



"Tuan William, Tetua Utama ingin Anda pergi ke aula sekarang juga!" kata seorang utusan yang baru dipersilahkan masuk oleh Okta. Utusan ini terus menunduk hormat sambil menunggu jawaban dari William.


"Kenapa aku di panggil?" tanya William.


"Itu, itu,-" Utusan ini tidak berani menjawab karena takut. Jadi dia hanya melihat William tanpa mengatakan apa-apa.


"Apa Keluar Amber sudah datang?" tanya Joanna.


"B-benar, Nona!" jawab utusan itu gagu setengah heran. Darimana doa tahu?


"Katakan padanya aku akan segera kesana!" kata William mengiyakan. Untung saja kemarin tidak terjadi apa-apa jadi William tidak perlu ragu untuk datang. Malah ini kesempatan yang bagus untuk menyerang balik. Kenapa dia bisa di kamar Daisy dan bagaimana bisa mereka menyerang keempat pengawalnya hingga babak belur.


"Bolehkah aku ikut, Will?" tanya Joanna.


"Kau di rumah saja. Aku akan pergi dengan Paman Okta," tolak William.


"Tapi semuanya tidak akan seru kalau aku tidak ikut menunjukkan wajahku!" pinta Joanna.


"Baiklah, terserah kau saja!" kata William pasrah.


"Satu lagi. Jika ditanya apa kau masuk ke kamar Daisy kau hanya perlu menjawab tidak dan kalau mereka masih memaksa, tanyakan padanya apa mereka punya buktinya. Jangan lupa mengatakan bahwa aku dan Paman Okta sudah menunggumu di luar. Lalu katakan kau pulang bersamaku saat sudah tidak sadarkan diri dan kita mengalami kecelakaan ringan. Apa kau mengerti, Will?" kata Joanna memperingatkan.


"Kecelakaan ringan?" tanya William.


"Sebenarnya alasan itulah yang membuat kita memar-memar dan tergores seperti ini," jawab Joanna.


"Kenapa kau tidak mengatakan dari awal kalau kita kecelakaan. Kenapa,-"


"William, yang penting tidak terjadi apa-apa bukankah itu sudah cukup?" potong Joanna.


"Baru kali ini ada seseorang yang berani memerintahkan aku agar berbohong dam membuatku kecelakaan. Joanna, apa kau merencanakan sesuatu hari ini?" selidik William.


"Memangnya apa yang bisa direncanakan wanita lemah sepertiku. Aku tidak mau tahu, pokoknya katakan saja apa yang kukatakan tadi atau jangan jadi suamiku lagi mulai besok," ancam Joanna.


Mendengar itu William langsung menghentikan aktivitasnya. Melirik Joanna dan tersenyum tipis saat melihat istrinya mengatakan itu tanpa beban. "Aku tahu sebentar lagi aku bukan lagi suamimu. Tapi kalau bisa lebih lama menyandang status sebagai suamimu, kenapa harus cepat-cepat mengurus perceraian kita. Toh Louise itu sepertinya masih santai-santai saja," batin William.


Setelah mengganti bajunya dan bersiap-siap akhirnya mereka pergi juga. Joanna tersenyum puas di sepanjang jalan. Membayangkan bagaimana reaksi Peter jika melihatnya masih hidup. Membayangkan bagaimana malunya mereka nanti saat menunjukkan bukti rekaman pertunjukan semalam.


Lalu Okta hanya bisa melirik sebentar. Melihat Nona Joanna-nya yang berjalan sangat percaya diri. Pria seumuran Sir Alex itu kini sibuk menebak-nebak apa yang sedang Joanna rencanakan. Jujur saja dia masih belum bisa move on dari proses pembunuhan yang Joanna lakukan terhadap dua penjaga kemarin malam. Dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar Daisy karena saat dia masuk, Daisy sudah tergeletak di samping William.


Dia tidak tahu apapun selebihnya, termasuk tugas lima pria aneh yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba hilang. Iya lima pria itu tiba-tiba muncul saat mereka akan menyusup dan hilang setelah mereka menyusup. Anehnya mereka kembali lagi saat subuh tadi dan hilang lagi setelah menyerahkan sesuatu kepada Joanna dan Joanna kembali menyerahkan sesuatu kepada mereka.


Sementara William yang berdiri di depan sana dia sebenarnya sudah sangat malas berurusan dengan urusan seperti ini. Tapi penasaran dengan apa yang akan Keluarga Amber tunjukkan.


.


.


.


"Apa ini?" tanya William saat melihat Joanna melingkarkan tangannya saat mereka akan memasuki aula.


Ketiga orang itu akhirnya masuk. Memberikan hormat pada Tetua dan mengisi tempat yang menang sudah disediakan untuk mereka.


Keempat orang Keluarga Amber yang masih bersimpuh itu membelalakkan matanya sejak William dan Joanna memasuki Aula. Apanya yang mati, Joanna terlihat sangat sehat. Apanya yang berduka, William tampak bahagia karena terus tersenyum dengan menggandeng istri cantiknya untuk dipamerkan di hadapan semua orang.


"Peter, apa ini?" tanya Tuan Amber dengan berbisik.


"Kakak, kenapa dia masih hidup. Bagaimana sekarang?" tanya Daisy.


"Pa, tenanglah. Pasti ada kesalahan disini. Aku benar-benar membuatnya tenggelam semalam," jawab Peter pelan.


"Pasti ada sesuatu yang salah," timpal Nyonya Amber.


"Apa dia tahu kau yang membuatnya terjun ke jurang?" tanya Tuan Amber.


"Seharusnya tidak," jawab Peter.


"Bagus kalau begitu. Meskipun Joanna masih hidup, memangnya kenapa. Toh William tidak bisa lari dari tanggung jawabnya untuk menikahi Daisy. Nanti saja kita pikirkan cara lain untuk menyingkirkannya," kata Tuan Amber.


Daisy meremas ujung gaunnya erat-erat. Sangat murka dengan apa yang dia lihat. Setelah semalam menghabiskan malam dengannya, sekarang sudah bermesraan dengan istrinya di hadapan semua orang. Apa tubuh yang dia berikan semalam masih belum cukup. Apa dirinya benar-benar langsung terlupakan setelah dicicipi semalaman?


"William, lihat saja nanti. Aku akan merusak wajah wanita itu agar kau tidak akan melihatnya untuk selamanya!" geram Daisy.


Saat itu secara tidak sengaja tatapan mata Daisy dan Joanna bertemu. Joanna bisa melihat semuanya. Luapan amarah yang Daisy tahan, cemburu yang luar biasa dan sakit hati karena ada dirinya yang duduk di samping William. Tentu saja Joanna juga tahu umpatan dan ujaran kebencian yang pasti sudah meledak-ledak di dalam hati Daisy.


Joanna tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu lewat begitu saja. Jadi dia memegang tangan William dan tidak pernah melepaskannya. "Ini pelajaran terakhir untukmu selagi kau masih waras," batin Joanna.


Kini Joanna mengalihkan pandangannya ke arah Tuan dan Nyonya Peter. Joanna hanya tersenyum tipis. Senyuman tipis yang bisa diartikan sebagai ejekan untuk mereka. Lalu yang terakhir kali akhirnya Joanna melihat Peter dengan sorot mata yang tajam dan mengintimidasi dibarengi dengan senyum yang hanya ada di salah satu sudut bibirnya.


"Kalau bukan karena ulahmu, aku tidak akan terjun ke sungai. Kalau bukan ulahmu, aku tidak akan melakukannya dengan William. Tapi karena kau sudah berani menggangguku, setelah ini ku pastikan kau akan mati di tanganku," batin Joanna.


"Tetua, ada apa sampai Tetua tiba-tiba memanggilku ?" tanya William santai.


"William, apa yang kau lakukan semalam?" tanya Tetua Utama.


Joanna tersenyum tipis mendengarnya. Pertanyaan itu seharusnya tidak ditujukan pada William, tapi padanya. Karena hanya dialah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. "Apa yang dilakukan William semalam? Tetua, pria ini menghajarku semalaman di hutan," jawab Joanna dalam hati.


"Tetua aku hanya menghadiri jamuan makan. Lalu Tuan Muda Amber memaksaku minum segelas alkohol. Aku sempat menolaknya karena aku tidak terbiasa dengan alkohol, tapi Anda memaksaku minum. Aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku minum alkohol. Jadi aku berinisiatif untuk pulang. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya tapi saat aku membuka mata aku sudah di kamarku," jawab William.


"Bohong!" potong Daisy.


"Apa maksudmu. Kenapa menuduhku berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya," lanjut William.


"Bukan seperti itu ceritanya!" kilah Daisy.


"Kalau bukan seperti itu lalu seperti apa? Nona Daisy, apa kau berharap suamiku masuk ke kamarmu dan bercinta denganmu?" tanya Joanna langsung pada intinya.


...***...