CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Louise, I Love You!



"Apa yang sudah kulakukan, kenapa aku bisa memanjat dan menyerang Louise seperti itu. Bagaimana bisa aku melewati malam pertamaku tanpa ingat bagaimana prosesnya. Ini sangat menyedihkan, memalukan dan tidak adil. Aku tidak akan hamil kan. Kenapa ceritanya harus begini. Ah, inikah yang ku bilang akan menjadi ibu yang baik untuk Oskar. Dia sedang sakit dan aku malah mabuk dan melakukan itu. Xiao O, maafkan mommy. Ayah, aku salah," batin Joanna.


Joanna masih meratapi nasibnya sendiri. Mengingat bagaimana kotornya pembungkus ranjang itu dan mengerikannya bekas ciuman serta gigitannya pada Louise, sepertinya banyak hal yang telah terjadi di luar kendalinya.


Dia sangat penasaran, kenapa dia bisa menjadi sangat liar. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya bahkan meskipun dalam keadaan mabuk berat. Lebih penasaran lagi kenapa Louise yang mesum itu sepertinya tidak melakukan banyak hal. Maksudnya adalah tidak ada peninggalan apapun di tubuhnya sendiri. Ini terlihat seperti Joanna yang brutal dan Louise tidak. Louise seperti korban keganasan seseorang dan Joanna lah seseorang itu.


Joanna memukul kepalanya lagi, tiba-tiba menyesal kenapa menghapus rekaman itu tanpa melihat sampai akhir. Tapi disisi yang lain tidak kuat jika terus melihat video syurnya.


"Dimana aku menyimpan wajahku saat bertemu Louise nanti?" batin Joanna kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Joanna saat ini sudah berpindah ke kamarnya sendiri. Keluar dari kamar Louise saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dia tidak berjalan sendiri karena Louise tanpa diminta langsung menggendongnya sampai ke kamar.


Joanna masih ingat bagaimana Louise mengatakan, "Apa masih sakit, maafkan aku!" dengan muka bersalah.


Joanna malu setengah mati saat itu. Lebih malu lagi saat maid hanya menunduk dan menyembunyikan senyuman mereka saat melihatnya keluar dengan digendong Louise. Dan serasa ingin meninggalkan bumi saat Mama Rose tersenyum lebar untuk menyambutnya dan sibuk merawat Oskar sejak pagi. Bukan hanya dia, Nenek Anne pun juga sudah sibuk bermain-main atau ngobrol dengan Oskar di kamarnya dan Papa Jordan sudah pergi bekerja setelah mengantarkan ibu dan istrinya ke villa.


Jika ini keluarga lain. Mungkin Joanna akan di marahi habis-habisan dan di cap sebagai calon menantu tidak punya etika. Tapi lihatlah, Joanna masih sangat bebas. Tidak ada teguran, tidak ada sindiran. Mereka semua seolah merestui kecelakaan yang terjadi semalam.


Tok


Tok


Tok


Joanna segera membungkus dirinya ketika mendengar suara pintu diketuk. Dua orang maid datang untuk mengantar makan siang untuknya.


"Nona Matthew, silahkan!" kata maid mempersilahkan.


"Tunggu!" tahan Joanna ketika mereka hendak pergi.


"Nona Matthew, ada apa?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa makanan ini tidak sesuai dengan selera Nona? Apa Nona ingin makanan yang lain?" tanya satu yang lainnya.


Joanna tersenyum canggung. Tidak yakin akan bertanya pada mereka. Tapi dia sangat penasaran. Apa memang dia yang tidak ingin ditinggalkan oleh Louise semalam?


"Itu ... apakah kalian melihat aku semalam. Kalau iya, bisakah memberitahuku apa yang terjadi setelah aku minum dengan Louise?" tanya Joanna. Dia ingin memastikan apakah yang Louise katakan benar.


Kedua maid itu saling berpandangan. Kemudian mengangguk bersamaan.


"Nona, semalam nona mabuk berat. Tuan Muda yang saat itu sudah setengah mabuk segera membawa Nona masuk ke kamar untuk beristirahat. Tapi Nona meminta Tuan untuk tetap tinggal dengan terus memeluknya," jawab salah satu maid.


"Aku melakukannya?" tanya Joanna.


"Benar, Nona! Tuan Muda menolak karena tahu Nona akan marah jika Tuan tidur di kamar Nona. Tapi Nona memohon untuk tidur di kamar Tuan," lanjut maid yang satunya.


"Lalu?" tanya Joanna semakin penasaran.


"Apa tidak apa-apa jika kami mengatakannya?" tanya maid ragu. Tentu saja yang akan dikatakan selanjutnya adalah sebuah kebohongan yang sudah Louise dan Kepala Suh rencanakan kemarin malam.


"Cepat katakan!" perintah Joanna tidak sabar.


"Tuan Muda membawa Nona ke kamarnya. Di sepanjang jalan Nona terus mencium dan memeluk Tuan. Nona juga bilang kalau sebenarnya tidak sedang datang bulan dan ingin melahirkan anak Tuan," lanjut maid.


"Lalu, apa masih ada lagi setelah itu?" tanya Joanna lagi.


"Setelah itu kami tidak tahu karena Nona sudah masuk ke kamar Tuan. Hanya saja terdengar teriakan dan itu berkali-kali. Pasti Nona dan Tuan sedang bersenang-senang selagi mabuk," lanjut maid.


"Seperti itu?" tanya Joanna. Dia semakin kaku di tempatnya.


"Nona, jangan khawatir! Melahirkan memang sakit tapi saat mendengar suara tangisan dan melihat wajah bayinya rasa sakit itu akan segera hilang," kata maid menghibur.


"Nona, kami pergi pergi dulu. Kami akan kembali setengah jam lagi," pamit maid.


"Jadi itu benar?" tanya Joanna ketika maid sudah pergi. Joanna segera meminum susunya hingga habis tak tersisa. Tapi tidak punya selera untuk menyentuh makan siangnya.


.


.


.


Di kamar Oskar.


"Dokter tolong rawat aku!" pinta Louise ketika melihat dokter paruh baya itu selesai memeriksa kondisi Oskar secara berkala.


"Tuan Muda Louise, apa Anda sedang tidak enak badan?" tanya Dokter itu ramah.


"Tidak, aku hanya sedikit terluka," kata Louise kemudian mengulurkan tangan kirinya dan memperlihatkan goresan yang cukup dalam di telapak tangan itu.


"Kenapa bisa ada goresan seperti itu. Memangnya apa yang kau lakukan saat tidur?" tanya Rose yang memang berada di kamar itu sejak pagi dan melihat luka aneh yang di dapat putranya.


"Ma, aku sengaja menggoresnya," jawab Louise.


"Louise, apa kau punya kelainan. Sejak kapan kau punya hobi menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Ayo, mama akan membawamu pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi kejiwaanmu," ajak Rose.


"Ma, aku ini normal," tolak Louise.


"Kalau kau normal kenapa melakukan hal bodoh seperti ini?" tanya Rose.


"Ma, sudahlah. Hanya luka kecil saja," kilah Louise. Tidak menghiraukan mamanya yang semakin tidak habis pikir dengan kelakuannya.


Beberapa menit telah berlalu, Louise sudah mendapatkan perawatan dari dokter dan tangannya sudah di balut perban. Dia pun segera mendekati Oskar dan menemaninya walaupun hanya sebentar. Karena saat ini ada yang harus dia lakukan pada Joanna.


Louise bangkit, mencium Oskar beberapa kali sebelum meninggalkannya, "Daddy akan kembali setelah menyelesaikan beberapa urusan," kata Louise.


"Sampai jumpa, Daddy!" kata Oskar.


Louise tersenyum, sekali lagi mencium Oskar dan benar-benar pergi.


"Apa Joanna masih di kamar?" tanya Louise pada maid yang kebetulan baru keluar dari kamar Joanna.


"Nona sedang makan siang, Tuan!" jawab maid sopan.


"Apa dia bertanya sesuatu?" tanya Louise.


"Benar, Tuan. Kami sudah mengatakan apa yang Kepala Suh instruksikan sebelumnya," jawab maid.


"Baiklah, kalian bisa pergi sekarang!" kata Louise.


Setelah dua maid itu pergi, Louise segera masuk ke kamar dan melihat Joanna yang baru saja meletakkan gelas susunya.


"Louise?" kata Joanna ketika menyadari siapa yang datang.


Louise tidak mengatakan apapun, tapi langsung naik ke ranjang dan rebahan diatasnya dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Joanna.


"Apa yang kau lakukan. Apa kau tidak pergi kerja?" tanya Joanna.


"Joanna bagaimana aku bisa pergi kerja dengan keadaan seperti ini. Apa yang mereka katakan jika melihat Presdir mereka penuh dengan bekas gigitan?" jawab Louise. Satu jawaban, tapi melontarkan pukulan telak untuk Joanna.


Louise bangkit, menyandarkan kepalanya ke pundak Joanna dan memeluknya, "Joanna, kapan kau berencana membayar denda untukku?" tanya Louise.


"Membuat seorang Presdir dari Matthews Group tidak bekerja. Memaksa tidur dengannya, menggigitnya sampai terluka di sekujur tubuhnya. Apa tidak ada kompensasi untuk itu?" urai Louise.


"Louise, itu hanya kecelakaan. Jangan terus-terusan bersikap seolah kau satu-satunya korban. Aku juga korbannya tahu," tolak Joanna.


"Apa putri bangsawan dari Kota Utara ingin menghindar dari tanggungjawab?" tanya Louise.


"Apa maksudmu?"


"Kalau orang-orang tahu seorang putri penerus dari Kota Utara memaksa tidur dengan Presdir kemudian menolak untuk bertanggungjawab, kira-kira apa yang mereka katakan?" tanya Louise.


"Asalkan kau diam saja, mereka tidak akan tahu kan?" protes Joanna.


"Joanna, mungkin aku bisa diam. Tapi bagaimana dengan ratusan pengawal dan pelayanku?" tanya Louise.


"Membuat mereka diam dan tidak bersuara, bukankah itu keahlian mu?"


"Joanna, sayangnya hanya mulut orang mati yang benar-benar tidak akan berbicara," kata Louise.


"Baiklah, berapa kompensasi yang harus ku bayar?" tanya Joanna.


"Satu hari aku bisa mendapatkan ratusan milyar dan kebetulan hari ini ada proyek besar mencapai puluhan triliun. Mengingat kita sama-sama menjadi korban, aku bisa memberimu keringanan dengan membayar setengahnya saja," jawab Louise.


"S-setengahnya itu berapa?" tanya Joanna emosi. Joanna bahkan belum pernah merasa memiliki uang sebanyak itu


Meskipun hanya setengah, tapi setengah dari puluhan triliun itu berapa pastinya. Puluhan itu banyak, ada sepuluh hingga sembilan puluh. Jadi yang mana yang Louise katakan?


"Hanya berikan aku 10 triliun saja, bagaimana?" jawab Louise.


"10 triliun?" ulang Joanna.


"Eum," kata Louise mengiyakan. Masih dengan memeluk Joanna.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa membayarnya?" tanya Joanna.


"Menikah denganku, maka semuanya lunas. Bukan hanya itu, aku akan memberikan 10 triliun untukmu," jawab Louise.


"Kenapa kau mau memberikan uang sebanyak itu padaku secara cuma-cuma?" tanya Joanna.


"Siapa yang bilang itu cuma-cuma. Lagipula itu bukan untukmu," jawab Louise.


"Bukan cuma-cuma dan bukan untukku, lalu untuk siapa?" tanya Joanna.


"Untuk calon anakku yang sekarang sedang berjuang di dalam perutmu. Tentu saja bukan cuma-cuma karena kau meminjamkan rahimmu untukku, kan?" jawab Louise.


"Oh, sepertinya benih yang belum jelas akan jadi bayi itu akan lebih kaya dariku?" tanya Joanna.


"Tentu saja tidak, kaulah yang paling kaya karena aku akan memberikan sebanyak yang kau mau saat kau jadi istriku," jawab Louise.


"Kenapa kau sudah membahas itu, kapan aku setuju menikah denganmu?" tanya Joanna.


"Joanna, apa kau tidak ingat berapa kali kau mengatakan mencintaiku semalam. Karena kau mencintaiku dan aku mencintaimu jadi kenapa kita tidak segera menikah. Terlebih sepertinya anakku akan segera lahir. Jujur saja, aku tidak yakin kau bisa menolak lamaran dariku sekarang," kata Louise.


"Louise?"


"Jadi bagaimana?" tanya Louise tanpa melepaskan pelukannya dan masih menyandarkan kepalanya di pundak Joanna.


"Louise, bukan seperti ini caranya melamar seseorang," kata Joanna.


"Baiklah, aku akan mengulanginya," kata Louise.


Louise melepaskan pelukannya, mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya. Joanna awalnya sangsi, mengira isinya kancing baju seperti waktu itu. Tapi menjadi sangat gugup saat Louise membuka kotaknya dan melihat isinya.


"Joanna, maukah kau menikah denganku?" tanya Louise dengan menyodorkan sebuah cincin bertahtakan berlian yang mewah.


"Louise?"


"Bukankah begini caranya melamar seorang gadis?" tanya Louise.


"Gadis?" ulang Joanna.


"Eum," jawab Louise.


"Apa aku masih gadis?" tanya Joanna.


"Tentu saja masih," jawab Louise.


"Be-benarkah?" tanya Joanna.


"Tentu saja. Haruskah aku melakukannya sekarang untuk membuktikannya?" jawab Louise.


Joanna mematung. Jika dia masih gadis kenapa dia bisa sakit, lalu dimana asalnya darah itu. Joanna masih bertanya-tanya, sampai dia melihat tangan Louise yang di perban.


"Louise, kau sengaja mengerjai aku kan. Darah itu milikmu kan?" tanya Joanna.


Louise tertawa, menertawakan kebodohan Joanna yang begitu percaya, "Ayolah, sekarang jawab aku. Kau mau menikah denganku atau tidak?" tanya Louise.


"Tentu saja aku mau," jawab Joanna lalu menubruk Louise dan memeluknya. Tidak tahu apa itu malu meskipun posisi mereka sebelas dua belas dengan semalam.


"Hei, apa yang aku lakukan?" tanya Louise.


"Louise, aku mencintaimu."


"Aku tahu."


"Kenapa kau tidak mengambil kesempatan itu?" tanya Joanna.


"Aku lebih suka melakukannya saat kau melihatnya. Bahkan meskipun harus memaksamu karena kau menolaknya seperti hari itu. Bukankah seperti itu lebih menarik?" jawab Louise.


"Tu-tunggu. Tapi kenapa milikku sakit?" tanya Joanna.


"Mau bagaimana lagi kau sangat menginginkannya. Jadi aku memuaskanmu dan kau pun memuaskanku dengan cara yang berbeda. Apa kau tahu, kau sangat seksi semalam?"


"Louise, jangan bicara sembarangan!"


"Kenapa, mau marah lagi. Jangan malu, itu bukan pertama kali aku melihatnya kan?" kata Louise.


"Terserahlah, tapi terimakasih!" kata Joanna lalu memeluk Louise dengan penuh cinta.


"Hei, setidaknya terima dan pakai dulu cincinnya!"


"Louise, apa kau bodoh. Kau yang seharusnya memakaikannya untukku!"


"Oh, begitu?"


"Tentu saja!"


...***...