CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Menemui Louise



"Nona, maaf tidak semua orang bisa masuk ke perusahaan," tahan dua orang security bertubuh gempal.


"Hei, aku ini calon istri Presdir kalian. Aku hanya ingin menemui calon suamiku. Kenapa kalian menahanku seperti orang asing?" bentak Agria.


"Nona, kami hanya menjalankan perintah atasan. Siapapun yang tidak memiliki kartu pengenal milik perusahaan dilarang masuk," lanjut petugas.


"Minggir!" teriak Agria lagi.


Dua satpam itu tidak bergeming, masih setia dengan perintah atasannya. Dengan tubuhnya yang besar, sudah tentu bisa menghalangi Agria dengan mudah.


Tapi, apa yang dilakukan Agria sangatlah memalukan. Dia mulai memaki dua security dan membuat keributan.


Hal itu membuat sejumlah wartawan yang sejak tadi berkumpul menjadi semakin ribut. Mereka berlomba untuk mendapatkan rekaman untuk dijadikan headline berita terbaru.


Untung saja ada Arthur yang baru saja turun, dia membawa puluhan pengawal untuk mengamankan situasi dan menghampiri Agria.


Sejumlah wartawan itu sudah dibubarkan dengan paksa, menyisakan Agria dan Arthur juga puluhan pengawal.


"Apa yang kau lakukan disini? Berteriak di perusahaan seenakmu. Mengganggu staff yang bekerja, masih memaki mereka. Kau pikir kau siapa. Ini bukan tempat yang bisa sesuka hatimu kau kunjungi," ucap Arthur dingin.


"Kau siapa?" tanya Agria.


"Tak penting aku siapa. Kau hanya perlu tahu satu hal, bahwa selamanya kedatanganmu akan ditolak oleh kami," jawab Arthur.


"Jangan bercanda, aku ini telah melahirkan anak Louise. Jadi bagaimana bisa dia memperlakukan aku seperti ini," ucap Agria.


"Kurasa kau benar-benar gila karena Louise. Nona, kau harus tahu satu hal. Louise sudah memilih wanitanya sendiri. Dan orang itu bukan kau, jadi buka matamu dan sadarlah," kata Arthur.


"Omong kosong. Siapa ... siapa wanita itu, apa itu Jose? Sangat lucu, saat ini dia pasti sudah gila di penjara sana."


"Aku tidak percaya ini, tapi sepertinya kau sangat bodoh. Apa kau tidak tahu, Joanna sudah terbebas dari penjara sejak seminggu yang lalu. Kami hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk membuatnya kembali menghirup udara bebas," kata Arthur memberitahu.


"Itu tidak mungkin, kenapa aku tidak tahu ada hal semacam itu?" sanggah Agria.


"Apa kau pikir kami tidak bisa membongkar bukti kejahatan palsu yang kau gunakan untuk memenjarakan Joanna. Kau pikir hanya dengan menggunakan Oskar bisa menjerat Louise dan membuatnya jadi milikmu? Kalau kau berpikir seperti itu, maka dengan senang hati aku akan memberitahumu. Bahwa itu tidak akan pernah mungkin. Satu lagi, kurasa kau juga belum tahu ini. Joanna bahkan sudah mengingat masa lalunya sekarang. Jujur saja aku sangat tidak menyukaimu. Tapi aku juga perlu berterimakasih karena berkat dirimu Joanna bisa kembali mengingat semuanya."


"Ingat, hh. Malah semakin bagus kalau dia ingat semuanya. Asal kau tahu, saat dia mengingat semuanya maka tidak akan ada masa depan diantara Louise dan Jose. Karena sudah pasti Jose akan kembali pada cinta masa lalunya. Apa kau juga mengerti ini?" tanya Agria sinis. Masih sangat percaya diri dengan apa yang dia yakini bahwa Louise akan menikahinya karena Oskar.


Semua orang di keluarga bangsawan juga tahu, Edgar dan Jose tidak pernah terpisah awalnya. Mereka memiliki hubungan khusus yang dalam. Karena Jose sudah ingat semuanya, maka sudah pasti dia akan memilih Edgar, bukan Louise. Itulah yang Agria yakini hingga saat ini.


Arthur geleng-geleng kepala. Untung saja wartawan sudah pergi, kalau tidak semuanya akan semakin kacau. Disaat yang sama, Arthur melihat sebuah mobil masuk ke pelataran. Dia sangat tahu bahwa itu adalah Joanna.


"Akhirnya dia datang juga, aku baru saja akan menjemputnya dirumah. Karena dia sudah datang, aku harus mengurus yang lainnya," batin Arthur.


"Benarkah seperti itu?" tanya Arthur sinis.


"Tentu saja," jawab Agria percaya diri.


"Tapi maaf, sepertinya tebakanmu salah. Karena Joanna sudah pasti akan memilih Louise. Nona, jangan membuang waktumu disini. Sebaiknya kau mempersiapkan diri. Karena Louise, sudah siap menghancurkanmu," terang Arthur.


"Dia tidak akan melakukannya," tegas Agria.


"Dia akan melakukannya. Karena semua bukti sudah terkumpul. Pengawal, tangkap wanita ini. Bawa dia ke tempat biasanya," perintah Arthur percaya diri.


"Lepaskan aku!" teriak Agria.


"Aku bilang lepas!" teriak Agria lagi ketika perintahnya tidak di dengar. Dan tetap berteriak sampai Arthur tidak melihatnya lagi.


"Will, kau dimana?" tanya Arthur via sambungan telepon.


"Aku baru kembali ke ruanganku. Ada apa?" tanya William.


"Joanna ada di bawah. Bawa dia ke atas, aku ada urusan," perintah Arthur.


"Baiklah, aku akan turun sekarang."


"Xiao O, agar kau hidup mommy akan mengemis pada ayahmu. Hanya demi dirimu mommy rela menjadi apa itu yang disebut murahan," gumam Jose.


Jose, dia sudah memutuskan untuk kembali. Menjadi orang ketiga diantara Louise dan Agria hanya agar dia tidak kehilangan Oskar.


"Oh, Agria juga datang?" batin Jose ketika melihat Agria keluar dari Matthews Group tapi dengan keadaan yang menyedihkan. Di gelandang dengan paksa oleh beberapa pengawal dan memasukkannya ke mobil sebelum membawanya pergi entah kemana.


Jose menunggu beberapa saat, memastikan Agria benar-benar pergi kemudian memutuskan untuk turun. Sedikit ngeri, membayangkan bagaimana jika seandainya Louise Matthew juga akan memperlakukannya seperti itu.


"Jose, berjuanglah demi Xiao O!" lirih Jose sembari melangkahkan kakinya.


"Nona Joanna, selamat pagi!" sapa security dengan ramah saat melihat Jose sampai di pintu masuk. Kedua security itu bahkan langsung membukakan pintu agar Jose segera masuk.


"Terimakasih!" kata Jose mengumbar senyum. Sedikit canggung, karena menyadari bahwa sepertinya dia disambut disini.


"Selamat pagi, bisakah aku bertemu dengan Presdir kalian?" tanya Jose kepada resepsionis.


"Eh," jawab dua orang itu bingung.


Mereka tidak tahu harus menjawab apa, karena yang mereka tahu Presdir sudah memberikan pengumuman bahwa Joanna bebas keluar masuk perusahaan sesuka hatinya sejak kedatangannya waktu itu.


Untungnya William datang disaat yang tepat dan segera membawanya keatas.


"Aku tak mengira kau akan datang," ucap William.


"Aku pun juga tak menyangka akan kemari," jawab Jose.


"Masalahnya, sudah berlalu satu minggu setelah aku gagal membawamu hari itu. Jadi, jangan membuat Louise semakin marah. Karena kalau sampai dia marah, aku dan Arthur tidak yakin bisa menolongmu," kata William memperingatkan.


"Aku akan mengusahakannya," jawab Jose.


Jose terlihat santai tapi sebenarnya juga sedikit takut. Karena lagi-lagi seseorang menceritakan bagaimana mengerikannya seorang Louise, lebih parahnya kali ini keluar dari mulut William. Kalau William yang sedekat itu saja tidak bisa menolong, bukankah orang lain lebih tidak memiliki harapan?


"Daripada membuatnya jadi musuhku yang pasti hanya akan menyisakan jalan kematian untukku, bukankah sebaiknya membuatnya berada di pihakku? Tapi, semuanya tergantung pria brengsek itu. Jika dia memang menginginkan Agria, maka sudah dipastikan aku kalah dan tidak akan ada kesempatan lagi untuk mengambil kembali Oskar. Aku, hanya bisa bertaruh kali ini. Jika gagal membuatnya berada di pihakku, maka hanya ada satu akhir untukku, yaitu aku akan berakhir dengan cara yang paling tragis," batin Jose.


Jose berhenti ketika mereka sampai depan pintu, sementara William masuk sendirian ke ruangan Louise. Mendekati Louise yang sedang duduk di kursi dengan arah yang dia putar membelakangi William.


Sepertinya Louise sedang mencoba untuk tidur. Terlihat dari posisi kakinya yang di selonjorkan dengan posisi badan setengah rebahan yang nyaman. Hanya dengan mengenakan kemeja dan dasi yang sudah dilonggarkan. Tapi meskipun begitu, dia masih menyadari bahwa William masuk keruangannya.


"Ada apa, Will?" tanya Louise masih dengan menutup matanya.


"Kau memikirkan sesuatu?" tanya William balik.


"Sedikit," jawab Louise.


"Joanna kemari, dia ada di depan sekarang."


Louise akhirnya membuka matanya dan menoleh ke arah William, "Lalu, kenapa tidak membawanya masuk?"


"Baiklah!" kata William.


William pun kembali menemui Jose yang masih berdiri di luar, "Masuklah dan ingat pesanku. Aku tidak akan mengantarmu lagi," katanya sambil berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Jose diam sejenak. Mengatur nafas dan mencoba tenang sebelum masuk ke dalam. Dia tidak boleh terlihat gugup ataupun menyedihkan di depan Louise.


Setelah membuka pintu, Jose melihat Louise masih belum juga memutar kursinya. Masih berada di posisi yang sama ketika William masuk. Di posisinya yang seperti itu, Jose tidak bisa melihat apa-apa selain satu tangannya yang mengintip dari balik sandaran tangan yang ada di kursi.


Jose semakin mendekat, melangkah dengan pelan sampai berdiri di depan meja kerja milik Louise, "Apa begini caramu menyambut tamu?" tanya Jose datar