CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Jatah Ranjang



"Kakak ipar, apa kau tidak terlalu berlebihan?" tanya Daisy.


"Sama sekali tidak," jawab Joanna santai. Tidak merasa bersalah atau sungkan sedikitpun meskipun telah memberikan jawaban yang pasti membuat Daisy marah.


Joanna menoleh, melihat William yang hanya jadi penonton setia saat dia dan wanita ini mulai beradu mulut karenanya. Joanna mulai jengkel. Apa pria ini benar-benar tidak peka. Apa William tidak tahu wanita bernama Daisy ini mengambil simpatinya hanya untuk mendekatinya. Apa harus Joanna lagi yang turun tangan agar masa depan William dan Marissa yang cerah tetap terjaga?


"William, Reagan sedang menangis di atas. Apa kau tidak ingin segera naik dan melihatnya?" tanya Joanna.


"Reagan menangis?" tanya William dengan wajah bingung. Dia tidak mendengar suara tangisan. Lagipula bayi itu tidak suka menangis selama ini, kenapa tiba-tiba menangis sekarang.


"Eum, dia mencarimu. Jadi pergilah sekarang juga!" kata Joanna tanpa membiarkan William berpikir lebih lama.


"Kakak ipar, jangan bercanda. Dia belum bisa berbicara, darimana kakak ipar tahu dia mencari ayahnya. Kakak ipar, tidakkah Reagan menangis karena kau tinggal. Kalau kakak ipar tidak bisa menenangkan anak sendiri yang menangis, bawa kemari saja. Aku bisa membantumu menenangkannya," tawar Daisy.


Daisy tersenyum. Berharap Joanna akan membawa Reagan turun. Selama ini, hanya beberapa orang saja yang diijinkan melihat wajah anak itu. Itu adalah hal biasa di keluarga Bangsawan Timur, bahwa tidak semua orang diijinkan untuk melihat wajah anak kecil secara sembarangan.


Lagipula, jika Joanna bersedia membawa Reagan turun. Bisa jadi itu adalah kesempatan yang bagus untuknya. Dia bisa mendekatkan diri pada anak yang dia kira anak William. Mendekatinya pelan-pelan dan membuatnya membenci ibunya. Lalu suatu hari nanti merampas William dan Reagan dari tangan Joanna. Sungguh trik licik dari wajah polos yang tidak disadari siapapun juga. Untungnya istri William saat ini adalah Joanna, bukannya Marissa ataupun Alexa yang lemah lembut dan baik hati. Jadi, trik semacam ini tidak berlaku sedikitpun di hadapannya.


"Daisy, dimana tata kramamu. Orang luar sepertimu kenapa bisa ikut campur urusan rumah tanggaku. Lalu, kenapa juga aku harus memberikan anakku padamu. Seingatku kau masih gadis dan tidak menyukai anak-anak. Apa tujuanmu sebenarnya. Kau tidak berencana menjadi ibu sambung anakku di masa depan kan?" tolak Joanna.


Daisy sangat geram mendengarnya. Tangannya mengepal sempurna. Darimana Joanna tahu dirinya tidak suka anak-anak. Lalu kenapa dia bisa mengatakan hak semacam ini secara terang-terangan? Tapi meskipun begitu dia tetap menjawabnya dengan lemah lembut untuk menjaga citra baiknya. "Kakak ipar, aku hanya ingin membantumu. Tapi sepertinya kakak ipar telah salah paham," kata Daisy.


"Joanna sialan ini, darimana dia punya keberanian berbicara seperti ini di depanku. Bukankah putri dari Kota Utara hanya Agria saja yang pantas untuk ditakuti. Bukankah hanya Agria yang tidak boleh disinggung?" batin Daisy.


Sama bodohnya dengan Anye, Daisy pun juga sama. Sebelumnya dia mencari tahu semua tentang Joanna. Dia tidak menemukan apapun di internet, tapi juga tidak mendapatkan informasi yang cukup melalui orang-orangnya. Sangat berbeda dengan Agria yang informasinya bisa di dapatkan dengan mudah. Bahkan di pencarian itu, selalu nama Agria yang diagung-agungkan daripada Joanna.


"Jo?" panggil William. Pria itu rupanya masih duduk di tempatnya dan belum beranjak meskipun Joanna sudah beralasan Reagan sedang menangis.


Joanna yang dipanggil akhirnya mengalihkan pandangannya pada William dan mendekat kearahnya. Lalu, tanpa mengecilkan volume suaranya dia mengatakan, "William, cepat lihat anakmu diatas atau tidak akan ada jatah untukmu mulai malam ini dan seterusnya."


"Jatah?" ulang William.


Perubahan ekspresi di wajah William itu jelas terlihat. Bahkan Daisy pun bisa melihatnya meskipun dia mengartikan dengan salah kaprah. Karena dimata Daisy, yang dia lihat adalah William terlihat sangat mencintai Joanna dan sangat patuh padanya.


"Oh, jadi ini hanya akting?" batin William.


Pria itu tersenyum, kemudian mendekati Joanna dan membalas omong kosongnya. "Sayang, apa aku sudah boleh melakukannya. Kebetulan aku sudah tidak tahan lagi. Kalau begitu, aku akan sangat menantikan malam ini," kata William kemudian pergi begitu saja.


Kepergian William yang tanpa pamit membuat Daisy marah. Tapi membuat Joanna senang karena berhasil memanasi satu saingan cinta Marissa.


"Kenapa masih disini. Pulanglah selagi hujan belum turun. Jangan sampai kau beralasan hujan turun dan ingin berlama-lama disini. Satu lagi, jangan lagi mencari kesempatan untuk mendekati suamiku lagi dimasa depan!" usir Joanna.


Daisy hanya bisa menahan amarahnya di depan wanita yang dia anggap tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak boleh marah. Dia tidak boleh bodoh seperti Anye. Sekali ini saja, biarkan Joanna puas karena berhasil membuat William hanya melihatnya seorang. Tapi lain kali tidak lagi, karena cara apapun akan dilakukan Daisy untuk mencuri posisi Joanna sepenuhnya.


"Baiklah! Aku akan pergi sekarang, Kakak Ipar!" pamit Daisy. Daisy segera bangkit. Lalu diikuti pelayannya keluar dari paviliun miliknya.


Setelah kepergian Daisy, Joanna memanggil pelayannya. Meminta mereka menyingkirkan camilan yang ada di hadapannya lalu segera menyusul William di kamar mereka.


Apanya yang menangis, apanya yang mencari William. Reagan nyatanya masih tidur sangat pulas di box bayi miliknya. Bahkan William pun juga sudah rebahan di sampingnya untuk menyusulnya ke alam mimpi. Tapi lagi-lagi Joanna menggagalkannya.


"William!" panggil Joanna yang sudah berkacak pinggang di depan William.


"Apa aku bisa mendapatkan jatahku sekarang?" tanya William.


Pertanyaan itu membuat Joanna merinding. "Kenapa aku harus memberimu jatah. Kalau kau menginginkannya minta saja pada Marissa. William, cepat katakan padaku sejak kapan kalian sedekat itu. Kenapa dia kemari hanya untuk memberikan makanan ringan seperti itu?" tanya Joanna.


"Aku tidak dekat dengannya," jawab William.


"Lalu kenapa dia mencarimu sampai harus menyuapimu segala?" tanya Joanna.


"Aku tidak tahu!" jawab William.


"William, kau masih mencintai Marissa kan?" tanya Joanna.


"Tentu saja iya," jawab William.


"Kalau begitu jangan menemui Daisy lagi di masa depan. Aku punya feeling dia akan merusak cita-citamu yang mulia untuk menikah dengan Marissa. Apa kau mengerti?"


William diam saja. Ah, benar. Dia harus menikah dengan Marissa setelah ini. Kenapa dia sampai lupa. Seharusnya sudah seminggu juga dia tidak menemui Marissa lagi. Ada apa dengannya?


"William, kenapa kau diam saja. Kau tidak mungkin menyukai Daisy kan?" tanya Joanna dengan menggoyangkan bahu William.


William menatap nanar wajah Joanna. Menyukai Daisy, mana mungkin?


Karena yang William sukai adalah wanita yang sekarang sedang berdiri di hadapannya. Istrinya sendiri, tapi bukan miliknya. "Aku memang menyukai seseorang tapi orang itu adalah kau, Joanna!" batin William.


Pria itu menepis tangan Joanna, lalu meringkuk di samping Reagan dan memejamkan matanya. Tapi tetap menjawab pertanyaan Joanna, "Tidak!"


.


.


.


PRANG


Suara barang pecah memenuhi kamar Daisy. Pelayan ketakutan, tidak ada yang berani berkomentar ataupun mendekati Daisy yang sedang marah.


"Joanna, aku bersumpah akan merebut semua yang jadi milikmu. Tidak, aku hanya akan merebut suami dan posisimu. Lalu aku akan menyingkirkan dirimu dan anakmu seperti aku menyingkirkan Anye yang bodoh itu."


Daisy tertawa seperti orang gila. Menjatuhkan dirinya di lantai dan terus tertawa saking terobsesinya dengan cintanya yang besar pada William.


"Anye, ku pikir aku tidak perlu membunuh Joanna seperti aku membunuhmu karena dia tidak berguna dan bodoh. Tapi sepertinya aku salah, dia tidak hanya tidak bodoh. Tapi juga berani mengusirku seperti sampah. Karena sudah begini, tidak ada pilihan selain membunuhnya. Mengantarkannya ke lembah kematian untuk menemanimu di neraka."


Daisy tertawa lagi, lalu mengambil melihat sepotong foto milik Joanna. "Hanya seorang putri dari Kota Utara yang tidak bisa apa-apa. Apa yang bisa kau lakukan. Hanya bermulut pedas? Cih! Itu tidak berguna. Atas dasar apa kau pantas menikah dengan William dan melahirkan anaknya. Lihat saja Joanna. Aku akan membunuhmu bagaimanapun caranya."


Daisy bangkit, melepaskan alas kakinya dan membiarkan kaki-kakinya menginjak pecahan kaca. "Jatah seperti apa yang kau berikan sampai-sampai William sebucin itu? Kalau hanya soal ranjang, aku pun juga bisa memberikannya. Dan luka di kakiku ini, adalah jalan awal untuk mendapatkan kesempatan untuk memberikan jatah itu. Joanna, aku bersumpah akan membunuhmu. Secepatnya!"


...***...