
Setelah penerbangan yang panjang, ketiga pasangan itu akhirnya sampai di benua bersuhu rendah dan bersalju tujuan mereka.
Di rumah yang hangat itu Arthur sibuk dengan bukunya untuk mengisi waktu luang. William sibuk dengan dunianya bersama Ebra dan Louise sibuk duduk di atas karpet hangat tidak jauh dari perapian dengan memangku Oskar.
Sementara ketiga wanita sibuk di belakang dengan persiapan makan malam mereka.
Tok tok tok tok
Suara pisau beradu dengan telenan itu mengalun seperti irama musik. Joanna sibuk memotong sayur dan buah. Marissa menyiapkan peralatan makan dan Alexa yang memasak.
"Seharusnya ini tugasmu!" kata Alexa saat menumis daging. Meskipun perutnya sudah kelihatan membuncit, tapi dia masih tetap lincah seperti biasanya.
"Aku sudah pensiun. Itu jadi tugasmu sekarang," jawab Joanna.
"Aku tidak pandai memasak. Jika aku bisa aku pasti menggantikanmu," timpal Marissa.
"Marissa anak di dalam perut itu tidak manja, dia harus mengerti apa yang disebut bekerja keras sejak di dalam perut agar dia terbiasa saat lahir nanti," potong Joanna.
"Aku lapar," kata Arthur.
Pria itu sudah duduk di meja makan. Tapi melihat makanan belum tersaji sepenuhnya. Jadi dia berjalan ke dapur dan menghela nafas panjang karena melihat dapur yang super berantakan. Terlebih saat melihat cucian menumpuk di samping wastafel.
"Bisakah kalian mencuci peralatan kotor itu selagi memasak?" protes Arthur. Dia mendekat kemudian memakai sarung tangan dan mulai mencucinya tanpa banyak bicara lagi.
"Aku sengaja, karena biasanya itu tugasmu. Lagipula aku tidak terbiasa memasak sambil mencuci piring," kata Joanna kemudian mencuci tangannya dan mengelapnya ke pakaian Arthur.
"Tolong lipatkan lengan bajuku!" pinta Arthur.
"Tapi aku sudah akan pergi!" tolak Joanna.
"Kau ini!" decak Arthur.
"Aku akan membantumu!" Marissa yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka segera mendekat dan membantu Arthur melipat lengan bajunya agar tidak basah.
"Wah kalian romantis sekali di belakangku!" puji Alexa setelah melirik apa yang dilakukan suami dan sahabatnya.
"Jangan bicara omong kosong, aku hanya membantu melipat lengan baju," protes Marissa. Dia sempat menoleh kearah Alexa, kemudian segera menyelesaikan tugasnya dan kembali menata makanan di meja.
"Bukankah ada pasangan yang lebih romantis daripada aku dan Marissa?" tanya Arthur.
Marissa tersenyum, Alexa pun juga. Sementara Joanna hanya melemparkan lap kearah Arthur dan pergi setelah mengakui siapa pasangan yang disebut Arthur llebih romantis itu, "Ada, itu aku. Aku bahkan tidur seranjang dengan William!" katanya kesal kemudian pergi menemui Oskar.
"Daddy, ayo main sekali lagi?" kata Oskar ketika Louise menyudahi gamenya.
"Lagi?" tanya Louise.
"Eum," jawab Oskar.
Meskipun hanya penonton tapi Oskar sangat menyukai ketika Daddy Louise mengalahkan musuh-musuh di dalam permainan itu dengan mudah.
"Ayo daddy!"
"Daddy, ada musuh dibelakang!"
"Ah, ada lagi di depan!"
Oskar terlalu sibuk berkomentar, sementara Louise terlalu sibuk memainkan dua jempolnya sampai tidak menyadari Joanna sudah mengintip apa yang mereka lakukan sejak tadi.
"Bisakah mengajari anakku sesuatu yang lebih bermanfaat. Berapa jam kau memainkan ini?" tanya Joanna dengan merampas remote control yang dipegang Louise.
"Tapi aku sudah melakukannya," jawab Louise. Dia hanya bisa pasrah saat Joanna merampas mainannya dan Oskar segera memeluknya karena tahu mommy akan marah.
"Memangnya apa yang kau ajarkan padanya?" tanya Joanna.
"Itu, aku mengajarinya bagaimana caranya menikmati waktu luang," jawab Louise.
"Kalau soal itu anakku tidak perlu kau ajari. Karena dia sudah pintar menikmati waktu luangnya," kata Joanna.
"Jangan marah, lain kali aku pasti akan mengajarinya sesuatu yang lebih penting," lanjut Louise.
"Xiao O, cepat kemari. Ebra, kau juga. Bereskan mainanmu, dan ikut bibi mencuci tangan!" perintah Joanna.
"Iya, Mommy!" jawab Oskar.
"Iya, Bibi!" sahut Ebra.
Kedua anak itu sangat patuh. Oskar segera menggandeng tangan Joanna dan Ebra segera membereskan mainannya sebelum berlari menggandeng tangan Joanna yang lainnya.
Setelah Joanna pergi, Louise segera menghampiri William yang baru bangun dari rebahannya. Dia sempat tertidur selagi menemani Ebra bermain dan terbangun saat Joanna memanggil Ebra barusan.
"Apa kau sudah kembali ke bumi?" tanya Louise kemudian memukul kepalanya dengan pedang mainan milik Oskar.
William hanya menganggukkan kepalanya dan menggaruk pipinya sambil menguap.
"Segera buka matamu. Makan malam sudah siap!" kata Louise.
"Aku tahu," jawab William.
Louise bangkit, ingin menyusul anak-anak itu untuk mencuci tangannya tapi William menghentikannya.
"Hampir dua bulan, kenapa?" tanya Louise.
"Tapi kenapa aku merasa sudah sangat lama. Ngomong-ngomong, bukankah kau bilang punya rencana untuk mengakhiri pernikahan ini secepatnya. Apa kau sudah mulai menjalankan rencananya?" tanya William.
"Tentu saja sudah, apa kau pikir aku hanya bersenang-senang tanpa memikirkan kalian?" jawab Louise.
"Kalau sudah, kenapa aku dan Arthur tidak tahu?" tanya William.
"Aku sengaja tidak memberitahu kalian," jawab Louise.
"Memangnya apa rencanamu, mungkinkah itu gagal sampai kau merahasiakannya dari kami?" tanya William lagi.
"Aku akan memberitahu kalian nanti. Tapi yang jelas aku masih mencobanya. Kalau masih belum berhasil juga, sepertinya aku harus bekerja lebih keras."
.
.
.
Tengah malam saat Oskar tertidur,
"Louise, bisakah pelan sedikit?" tanya Joanna terbata-bata.
"Apa, kau ingin lebih cepat lagi?" bisik Louise di telinga Joanna.
"Louise, aku bilang pelankan gerakanmu!" ulang Joanna dengan suara yang tertahan.
"Kalau di pelankan bagaimana kau bisa pipis lagi?" tanya Louise nakal.
"T-tapi d-dia akan bangun kalau kau terus begini," kata Joanna sambil menunjuk Oskar.
"Tenanglah, setidaknya dia akan bangun setelah kita selesai melakukannya."
Louise mempercepat gerakannya. Tidak membiarkan Joanna menunggu lebih lama untuk merasakan kehangatan cairan miliknya.
Sungguh kasihan, Joanna sangat tidak leluasa berteriak karena takut membangunkan Oskar. Beberapa kali dia melihat kearahnya takut jika tiba-tiba dial bangun dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan.
Joanna tidak hanya menggigit bibirnya, tapi juga membungkam mulutnya dengan kedua tangannya agar erangannya tidak kelepasan. Sudah sangat lama Joanna bertahan seperti itu, ingin sekali berteriak sesuka hatinya seperti biasanya tapi dia tidak bisa.
Tusukan maut itu terus menghujamnya sampai dia mencapai batasnya. Seolah ingin terbang dibarengi dengan merembesnya cairan hangat yang merembes keluar dari dirinya dan mendapatkan semburan cairan kental dari Louise terasa hangat di rahimnya.
Joanna membebaskan mulutnya yang terbungkam. Terkapar bersimbah peluh setelah berkali-kali dijadikan mainannya Louise dengan nafas yang tersengal.
Baru juga merasa lega, benda milik mereka yang bersatu juga masih belum mereka lepaskan. Tapi tiba-tiba Oskar menggeliat dan mencari ibunya yang hilang dari tempatnya semula.
"Mommy mana?" tanya Oskar.
"Sayang, kau bangun. Apa daddy dan mommy terlalu berisik?" tanya Louise dengan nafas yang masih belum stabil saat melihat Oskar mulai membuka matanya.
"Oskar, kenapa kau bangun disaat seperti ini?" batin Joanna panik.
"Daddy, apa barusan ada gempa. Kenapa ranjangnya goyang-goyang?" tanya Oskar polos
"Tidak ada. Tadi mommy hanya bergerak sembarangan karena ada serangga liar," jawab Louise kemudian mengacak-acak rambut Oskar disaat dia masih menindih Joanna.
Untung saja mereka tertutup selimut jadi Oskar tidak bisa melihat apa yang terjadi di balik selimut itu.
"Kenapa daddy menindas mommy?" tanya Oskar setelah melihat rambut Joanna yang tergerai ke samping. Sementara Joanna, sejak tadi dia hanya menoleh ke arah yang lain untuk menyembunyikan dirinya dari Oskar dengan memeluk Louise erat-erat agar menutupi tubuhnya yang polos.
"Oskar, serangganya nakal. Dia merambat ke mommy. Jadi daddy memeriksanya. Sudahlah, cepatlah tidur lagi!" perintah Louise.
"Bagaimana kalau ada gempa lagi?" tanya Oskar.
"Kau hanya perlu tidur seolah tidak terjadi apa-apa," kata Louise.
Di balik selimut itu Joanna mendorong Louise ke samping, kemudian segera membungkus dirinya dengan piyama secepat mungkin. Sementara Louise, dia segera menutup tubuh bagian bawahnya dengan handuk sebelum keluar dari balutan selimut.
"Ah, apa mommy ngompol?" tanya Oskar lagi ketika melihat sprei yang basah setelah selimut itu tersingkap.
"Sayang, ini bukan ompol," jawab Joanna panik.
"Jangan sembarangan bicara. Mommy tidak sengaja menumpahkan air," kata Louise kemudian berbaring di samping Oskar, "Ayo cepat tidur lagi, sini daddy peluk!"
Oskar menurut, dia memeluk Louise dan mencoba tidur lagi. Matanya sudah mulai menutup dan Joanna segera bangkit setelah mata itu benar-benar tertutup.
"Kau mau kemana?" tanya Louise.
"Mandi," jawab Joanna.
"Tapi dia masih mau," kata Louise dengan menunjuk juniornya yang sudah kembali bangun.
"Lagi?" tanya Joanna.
"Sampai kau hamil," jawab Louise.
...***...