CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Ingin Bertemu Adikku?



"Xiao O, cepatlah sedikit. Ebra dan Bibi Marissa udah menunggumu di bawah!" seru Joanna ketika anak kesayangannya belum juga turun meskipun jam sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Sebentar mommy, Xiao O masih mencari sepatu," jawab Oskar dari kamarnya.


Mendengar jawaban Oskar, Joanna pun menunduk dan membelai rambut Ebra, "Ebra sayang, masuk dan duduk dulu ya? Bibi Joanna akan membantu Oskar mencari sepatunya dulu," pamit Joanna kepada Ebra.


"Iya, Bibi!" jawab Ebra dengan senang.


"Marissa, aku akan melihat Oskar dulu. Kau masuklah bersama Ebra," pinta Joanna seraya berlalu.


Marissa mengangguk pelan, kemudian menggandeng tangan Ebra memasuki rumah Joanna. Ukuran rumah itu tidak terlalu luas, beberapa kardus terlihat memenuhi sudut-sudut ruangan. Sepertinya Joanna sudah mulai bersiap-siap untuk pindah ke rumah barunya yang baru dibeli beberapa waktu lalu.


Sementara itu di lantai atas, terjadi keributan karena Oskar melupakan dimana dia meletakkan sepatunya.


"Sepatu yang mana, biar mommy mencarinya untukmu," kata Joanna begitu masuk ke kamar Oskar.


"Sepatu untuk bermain ice skating. Sepulang sekolah nanti Xiao O dan Ebra akan bermain ice skating bersama," jawab Oskar polos. Tangannya yang kecil sibuk membuka lemari khusus sepatu miliknya.


"Tidak boleh!" cegah Joanna.


"Kenapa, mommy?" tanya Oskar dengan wajah memelas dibarengi dengan menghentikan pencariannya terhadap sepatu pemberian Alexa.


"Memangnya Xiao O dan Ebra bisa. Mommy kan belum mengajari kalian, lain kali saja bagaimana? Mommy janji akan mengajari kalian sampai pintar nanti. Lagipula kemarin Oskar baru saja demam kan?" bujuk Joanna.


"Tidak bisa, Xiao O sudah ada janji dengan Paman Baik. Dia bilang akan mengajari Xiao O," jawab Oskar.


"Xiao O, apa paman ini adalah paman yang sama dengan paman yang menjemputmu waktu itu?" tanya Joanna.


"Iya, dia sangat baik. Xiao O menyukainya."


"Ah benarkah. Kalau begitu baiklah, tapi Xiao O harus berhati-hati. Jangan sampai ada luka sedikitpun atau mommy akan marah. Oh iya, sampaikan salam dari mommy untuknya. Tolong katakan terimakasih karena bersedia mengajari Xiao O bermain ice skating."


"Em."


"Lalu, bisakah Xiao O bertanya apakah paman itu punya waktu luang?" tanya Joanna.


"Apa mommy mau kencan dengan 'paman baikku'?" tanya Oskar


"K-kencan?" tanya Joanna lengkap dengan ekspresi wajah yang tidak bisa digambarkan.


"Paman itu tampan lo," bisik Oskar ditelinga Joanna.


"Sayang, apa sih yang kau katakan. Karena paman itu sering membawa Xiao O bermain, jadi mommy ingin mengundangnya makan dirumah sebagai ucapan terimakasih. Hanya karena itu kok," jelas Joanna.


Meskipun sedikit manyun, tapi Oskar menyanggupi permintaan mommynya, "Xiao O akan menyampaikannya nanti."


"Anak pintar. Kalau begitu baiklah, Ebra dan Bibi Marissa sudah menunggu dibawah. Ayo, segera temui mereka dan berangkat ke sekolah."


Mendengar perintah ibunya, Oskar segera berlari mengambil tas ranselnya yang ada di meja. Sedangkan Joanna mengambil sepatu beserta perlengkapannya dan turun bersama-sama.


"Selamat pagi Bibi Marissa! Selamat pagi Ebra!" ucap Oskar begitu menemui dua orang yang menjemputnya.


"Selamat pagi ,sayang!" jawab Marissa ramah, memeluk dan mencium Oskar dengan lembut.


"Ayo berangkat!" ajak Oskar dengan menggandeng tangan Ebra.


Joanna dan Marissa saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya. Lalu berjalan beriringan untuk mengikuti anak-anak mereka dari belakang.


"Joanna, sepertinya aku akan merepotkanmu lagi satu minggu ini. Aku akan ada perjalanan bisnis ke luar kota, bisakah aku menitipkan Ebra padamu seperti sebelumnya?" tanya Marissa saat mereka sampai di halaman depan.


"Jangan khawatir, kami semua akan menjaga Ebra dengan baik," jawab Joanna.


"Kalau begitu kami pamit. Oskar, Ebra, cepat peluk mommy Joanna dulu dan katakan sampai jumpa padanya," perintah Marissa kepada anak-anak.


"Mommy, aku pergi dulu," pamit Oskar sambil mencium Joanna.


"Pergilah, jangan lupa pesan mommy!" urai Joanna. Mengingatkan Oskar untuk menyampaikan undangan makan kepada 'Paman Baiknya'.


"Oke."


"Bibi Joanna, aku akan pergi bersenang-senang dengan Oskar!" ujar Ebra sambil ikut-ikutan memeluk Joanna.


"Selamat bersenang-senang! Kalian harus berhati-hati saat bermain ice skating nanti, kalau ada sedikitpun lecet di kulit kalian, mommy akan memukul paman itu," pesan Joanna.


Oskar dan Ebra mengangguk bersamaan. Entah itu postur tubuh atau reaksinya, keduanya sangat mirip layaknya anak kembar. Hanya saja Ebra terlihat lebih besar sedikit. Setelah berpamitan, Marissa pun membawa keduanya naik mobil.


"Dadahhh!" teriak anak-anak itu bersamaan


"Aku mengantar mereka dulu," pamit Marissa.


"Hati-hatilah!" balas Joanna.


.


.


.


"Nyamannya!" seru Joanna sambil memejamkan kedua matanya. Menyandarkan tubuhnya ke dalam bathtub untuk merilekskan diri.


Joanna sedang menikmati saat-saat santainya dengan merendam dirinya sekarang. Bak mandi itu sendiri penuh dengan busa dan bunga, lalu masih ada bau aromaterapi dari sebuah lilin yang merefresh pikirannya.


Drrtt. .


Telepon Joanna berbunyi. Tertera nama Louise di layar datar itu, tapi Joanna tidak menyempatkan diri untuk membuka mata dan memeriksa siapa orang pertama yang menghubunginya pagi ini.


Pastilah Bibi Diaz, begitulah perkiraannya. Selama ini hanya Bibi Diaz dan Alexa yang akan menghubunginya sepagi ini. Atau jika dalam keadaan darurat, Arthur juga bisa dihitung.


Tapi karena Alexa sedang sibuk akhir-akhir ini dan Arthur baru saja pergi dari rumahnya pagi tadi, jadi Joanna mengira kali ini pasti Bibi Diaz yang menghubunginya.


"Hallo," jawab Joanna masih dengan mata terpejam.


Dari seberang sana, Louise mengernyitkan dahinya. Sayup-sayup dia bisa mendengar suara gemericik air, "Apa dia sedang mencuci piring?" batinnya.


"Ini aku," kata Louise kemudian.


"Eh, Louise?" tanya Joanna, dia langsung membuka matanya dan duduk ketika mendengar suara pria itu.


"Apa aku membuatmu kaget?" tanya Louise.


"Tidak, aku hanya tidak menyangka akan mendapatkan panggilan darimu sepagi ini. Ada apa?" tanya Joanna.


"Tentang makan malam di akhir pekan, sepertinya kita harus mengundurnya," kata Louise menjelaskan.


"Kenapa?"


"Aku ada beberapa urusan di luar kota satu minggu ini, maaf!" lanjut Louise.


"Oh, tidak masalah. Aku bisa mentraktirmu setelah kau kembali," kata Joanna.


"Sudah kubilang aku yang akan mentraktirmu nanti," keukuh Louise.


Sangat gengsi membayangkan ditraktir oleh Louise. Joanna tahu Louise kaya, tapi kalau hanya untuk mentraktirnya makan satu kali dia juga masih sanggup. Lagipula Joanna tidak ingin punya hutang kebaikan yang semakin menggunung kemudian tidak bisa membayarnya di masa depan.


"Ah begitu?" kata Louise lirih.


"Sepertinya, kau tidak suka. Kenapa?" tanya Joanna.


"Aku suka apapun asalkan itu denganmu. Hanya saja, ini pertama kalinya seorang perempuan mentraktirku," jelas Louise.


Joanna melongo sebentar. Kenapa orang ini masih menyempatkan diri untuk menggodanya disaat-saat seperti ini?


"Itu bukanlah hal yang memalukan. Jadi bersikaplah biasa saja," saran Joanna kemudian.


"Baiklah!" jawab Louise.


"Kuharap kau baik-saja dan kembali dengan selamat," lanjut Joanna.


"Apa kau menungguku?" tanya Louise.


"Tentu saja, karena aku belum memenuhi janjiku untuk mentraktirmu," jawab Joanna.


Louise tersenyum, sepertinya hatinya berbunga-bunga meskipun dia sangat tidak suka bunga, "Baiklah, aku pasti akan baik-baik saja dan kembali untukmu."


Lagi-lagi jawaban Louise membuat Joanna pusing, kenapa juga harus menjawab dengan jawaban seperti itu. Itu seolah mereka sedang berpacaran saja, "Terserah kau saja," dengus Joanna kesal.


"Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Louise tiba-tiba.


Joanna membeku mendengar pertanyaan Louise. Pria itu sedang tidak ada dihadapannya saat ini. Tapi secara refleks Joanna menutup dada dan merapatkan kedua kakinya. Lalu menenggelamkan diri hingga dagunya ke air seolah Louise sedang melihatnya tanpa busana. Haruskah Joanna mengatakan bahwa dia sedang berendam saat ini?


"Joanna, apa kau mendengarku?" ulang Louise.


"Eh, aku mendengarnya kok."


"Lalu kenapa tak menjawab pertanyaanku?" tanya Louise penasaran.


Otak Louise mulai curiga, mungkinkah Joanna sedang bersama seseorang dan tidak ingin dia mengetahuinya? Dengan wajah secantik itu, tidak mungkin tidak ada pria yang mengejar cintanya bukan?


"Aku tidak akan mengatakannya padamu," jawab Joanna.


"Kenapa?" tanya Louise semakin penasaran.


"Karena aku tidak ingin."


"Joanna, meskipun kau tak mengatakannya aku tahu kau sedang bermain-main dengan air," kata Louise.


Dia sengaja mengatakan bermain-main dengan air, bukannya mencuci piring seperti dugaannya. Karena bagi Louise, sedikit tidak sopan jika harus mengatakan dua kata 'mencuci piring' kepada Joanna.


"Bermain-main dengan air katamu?" tanya Joanna.


Bajingan, darimana Louise tahu dia sedang bermain-main dengan air sekarang. Apa dia punya indera keenam atau semacamnya?


"Bukankah aku benar?" tanya Louise memastikan.


"Ah, kau benar. Aku sedang bermain-main air," jawab Joanna. Masih dengan menenggelamkan dirinya seperti tadi dengan wajah yang merah.


"Aku tidak tahu kau sangat rajin," komentar Louise.


"Apa sih yang kau katakan. Aku ini paling banyak hanya mandi dua kali sehari tergantung moodku. Apanya yang rajin dari itu?" ujar Joanna panjang lebar.


"Mandi?" tanya Louise.


Louise deg-degan menunggu jawaban dari Joanna. Dia yang tadinya duduk bersandar dan meletakkan kakinya di atas meja telah sepenuhnya bangkit dengan tubuh yang mulai berkeringat.


"Bukankah kau bilang sudah tahu?" jawab Joanna pelan.


"Tapi aku hanya bilang kau sedang bermain-main air," ujar Louise.


"Louise, kau bajingan!" umpat Joanna pelan. Dirinya merasa tertipu dan salah paham dengan apa yang dimaksud Louise dengan bermain-main air. Kali ini, wajahnya jelas semakin merah. Seandainya dia tidak sembarangan bicara pasti Louise itu tidak akan tahu bahwa dirinya sedang berendam saat ini.


Louise menundukkan kepala dan memijit keningnya, menyembunyikan senyum atas kesalahpahaman mereka. Tapi tunggu, jika Joanna sedang mandi sekarang, bukankah itu berarti dia tidak mengenakan apapun?


Sial. .


Otak Louise mulai liar. Bayangan Joanna yang polos tanpa memakai apapun langsung menyeruak dipikirannya. Membuat celana yang dikenakannya sesak seketika, bersamaan dengan bangunnya sesuatu yang awalnya tertidur dengan pulas.


"Louise, aku akan menutup teleponnya sekarang," pamit Joanna buru-buru tanpa tahu bahwa dia telah membuat Louise tersiksa tanpa sepengetahuannya.


"Em, baiklah!" jawab Louise dengan suara berat.


"Suaramu sedikit aneh, ada apa?" tanya Joanna dengan polos.


"Tidak ada, aku hanya sedikit terkejut. Sepertinya adikku baru saja bangun," jawab Louise dengan jujur tapi tidak dimengerti oleh Joanna.


"Kau punya adik?" tanya Joanna.


"Tentu saja aku punya," jawab Louise.


Joanna menerawang sebentar, Louise itu tampan jadi adiknya pasti lucu meskipun tidak selucu Oskar. Tapi, memujinya seharusnya bukan masalah, "Dia pasti sangat lucu," lanjut Joanna.


"Apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Louise.


"Tidak, aku menutup teleponnya sekarang," pamit Joanna sebelum semakin malu.


"Baiklah," jawab Louise pasrah.


Louise melemparkan teleponnya ke sofa setelah memastikan sambungan telepon itu terputus. Membuang jauh-jauh khayalan tentang Joanna yang melayang-layang dibenaknya.


"Apa yang dia katakan. Adikku sangat lucu? Heh, Joanna. Tentu saja dia sangat lucu, tapi apakah kau tahu. Dia tidak hanya lucu tapi juga sangat kuat sampai bisa membuatmu berteriak sepanjang malam," gerutu Louise dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Louise, tenangkanlah dirimu. Dia tidak sedang menggodamu," kata Louise kepada dirinya sendiri.


Dahinya basah karena keringat. Louise menarik nafasnya dalam-dalam mencoba kembali tenang dan menganggap tak ada apapun yang terjadi sebelumnya. Beberapa menit berlalu. Bukannya berhasil menenangkan diri, Louise malah semakin kepanasan karena imajinasi liarnya yang ternyata lebih dominan.


"Akhhh!" teriak Louise akhirnya.


Louise membuang jasnya kelantai, menggulung lengan panjangnya hingga siku dan membuka tiga kancing teratas kemejanya. Di ruangan yang dingin itu Louise semakin kepanasan meskipun sudah mengatur suhu hingga batas terendah.


"Sialan! Apa AC nya rusak?" keluh Louise.


Lagi-lagi dia melemparkan remote control AC yang ada di tangannya dan mengumpat kepada benda mati yang tak bersalah sedikitpun. Sebenarnya, bukan pendingin ruangannya yang salah. Hanya saja hasrat lelakinya sedang naik dan ingin dilepaskan.


Tak berselang lama, suara pintu diketuk. Sudah pasti hanya William seorang yang berani dan diijinkan masuk kesana.


"Oh My God! Kenapa dingin sekali. Tunggu, ada apa dengannya. Apa-apaan dengan pakaiannya itu. Apa dia ingin mati kedinginan?" batin William ketika baru memasuki ruangan dan melihat Louise yang nyaris telanjang dada.


Belum sempat William membuka mulutnya, dia sudah mendapatkan tatapan mata yang tajam dari Louise yang sedang duduk dengan menundukkan kepalanya.


"Will, apa mereka tidak mengecek pendingin ruangan secara rutin. Kenapa suhunya tidak dingin? Aku akan keluar sekarang. Saat aku kembali nanti, aku ingin AC di ruanganku ini sudah kembali berfungsi dengan baik," perintah Louise tanpa membiarkan William mengeluarkan sepatah kata pun dan pergi begitu saja.


Lagi-lagi William yang tak tahu apa-apa ikut terkena amukan dari Louise, "Apa Louise sudah mati rasa. Suhu sedingin ini kenapa dia tidak bisa merasakannya. Lagipula, pendingin ruangan di ruangan ini kan baru di ganti dengan yang baru seminggu yang lalu," lirih William plonga-plongo tak berdaya.