
"Ada apa dengan mobilmu, apa dia bermasalah?" tanya Louise sembari berjalan mendekati Joanna.
"Tidak," jawab Joanna.
Menyadari Louise yang mendekat ke arahnya membuat Joanna semakin mundur dan mundur sampai melekat erat di mobil.
"Lalu kenapa kau berhenti disini?" tanya Louise ketika jarak mereka hanya berjarak satu inci.
"Aku hanya mencari udara segar disekitar sini," kata Joanna beralasan. Tidak berani melihat Louise yang semakin menunduk untuk melihatnya.
"Udara segar?" ulang Louise.
"Eum," jawab Joanna.
Louise tersenyum sinis, ban mobil itu nyaris tanpa angin dan Joanna masih berani mengatakan bahwa mobilnya tidak bermasalah?
"Joanna, aku hanya akan bertanya satu kali padamu. Kau, membutuhkan tumpangan dariku atau tidak?" tanya Louise.
"Tidak," jawab Joanna singkat.
"Joanna, kau?" keluh Louise frustasi.
Kesabaran Louise habis juga. Meskipun Joanna menjawab tidak, nyatanya Louise tetap membawa Joanna bersamanya. Mengangkat tubuh ramping itu tanpa meminta persetujuannya dan meletakkannya di pundak layaknya karung beras.
"Louise, apa yang kau lakukan. Ini penculikan tahu?" teriak Joanna.
"Joanna, jangan berteriak sembarangan di hutan atau mulutmu akan miring. Lagipula siapa yang menculikmu. Bukankah kita sudah sepakat untuk berteman kemarin?" kata Louise memperingatkan.
"Oops!"
Joanna membungkam mulutnya sendiri. Tidak lagi berontak apalagi berteriak meskipun Louise membawanya pergi. Benar, lagipula mereka kan hanya teman.
"Naik!" perintah Louise setelah menurunkan Joanna dan membuka pintu mobil.
"Louise, apa kau ingin aku menyetir?" tanya Joanna ketika Louise membuka pintu mobil yang sepertinya salah.
"Aku tidak akan pernah membiarkan wanita mengendalikanku. Kecuali suatu hari nanti kau mau diatas, kau bebas," jawab Louise.
"Apa yang kau bicarakan, di atas mana?" tanya Joanna tak mengerti.
"Percuma memberitahumu sekarang. Cepatlah naik, kau bisa geser kesana!" perintah Louise.
"T-tapi,-"
"Joanna, apa aku harus selalu memaksamu?" tanya Louise tepat di telinga Joanna dengan sorot mata yang tajam.
Glek.
"Aku akan naik," jawab Joanna.
Joanna segera naik. Lalu bergeser ke sisi kiri sebelum Louise memberikannya tatapan mematikan, "Joanna, tenanglah. Louise hanya temanmu," batin Joanna.
"Apa yang kau lakukan. Kenapa tidak mulai menyalakan mesinnya?" tanya Joanna ketika Louise sudah naik tapi tidak melakukan apa-apa selain melihatnya.
"Apa yang kulakukan, bukankah kau sudah tahu?" jawab Louise sambil mengubah posisinya senyaman mungkin.
"Aku tidak tahu, Louise!" Joanna memperbaiki posisi duduknya, merapatkan kaki. Menjaga jarak dengan Louise sejauh mungkin di dalam mobil. Joanna takut, hal memalukan akan kembali terjadi kali ini.
Louise menelan ludahnya, jujur saja Joanna tidak pernah membuatnya tidak tergoda. Tapi tujuannya kali ini bukanlah itu, Louise hanya ingin tahu alasan apa yang membuat Joanna memutuskan hubungan dengannya, "Joanna, aku menagih hutang penjelasan darimu sekarang," kata Louise dingin.
"Louise, aku sudah mengatakannya. Aku hanya ingin seperti itu," jawab Joanna.
"Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu. Tidak bisakah mengatakan yang sebenarnya?" cecar Louise.
"Aku hanya akan menyakitimu jika aku mengatakannya," lanjut Joanna.
"Kau pun sudah menyakiti sebelumnya, aku masih bisa menerima jika kau ingin menambah rasa sakit itu sekali lagi, Joanna," desak Louise.
"Tapi aku tidak ingin melakukannya," kata Joanna.
"Joanna, untukmu aku memiliki kesabaran yang lebih. Baiklah, aku akan memberimu waktu satu jam untuk mengatakannya dari sekarang," lanjut Louise.
"Bagaimana jika aku tetap tidak akan mengatakannya?" tanya Joanna.
"Joanna, apa kau lupa yang ku katakan padamu jauh sebelum ini. Apa yang ingin kudapatkan pasti akan kudapatkan. Jadi, mulailah memikirkannya karena aku hanya akan memberimu waktu satu jam saja. Kau, tidak akan bisa pergi sebelum mengatakannya," ujar Louise.
Joanna berpaling, tidak mengindahkan peringatan Louise.
30 menit berlalu.
Mereka masih saling diam. Louise bahkan menyempatkan diri untuk mengecek pekerjaannya melalui ponsel pintarnya. Joanna melirik sebentar, hanya sebentar tapi disadari oleh Louise, "Apa kau ingin mengatakannya sekarang, Joanna?" tanya Louise tanpa melihat kesamping.
Joanna pun juga menjawab tanpa melihat Louise lagi, "Tidak akan pernah."
Mendengar itu Louise tersenyum, "Masih ada tiga puluh menit lagi. Jadi pikirkanlah baik-baik."
Akhirnya, 50 menit berlalu dari waktu yang Louise berikan.
"Biarkan aku pergi," kata Joanna.
"Tidak akan. Masih ada sepuluh menit," jawab Louise.
"Louise, aku tidak bisa lebih dekat dari ini denganmu," kata Joanna pada akhirnya.
"Bisakah kau menjelaskan apa maksudnya. Kalau kau hanya mengatakan itu, apa kau pikir aku bisa mengerti?" tanya Louise.
"Masalahnya, hanya itu yang bisa ku katakan," jawab Joanna.
Sepuluh menit terasa sangat singkat bagi Louise, diapun segera meletakkan ponselnya dan mulai memperhatikan Joanna yang mulai panik, "Joanna, waktumu telah habis. Jadi, jelaskan maksudmu sekarang!" pinta Louise.
"Tidak ada yang bisa ku jelaskan. Percayalah, ini yang terbaik," kata Joanna.
"Lalu, jangan salahkan aku memaksamu untuk berbicara," ucap Louise datar tapi kemudian mendekati Joanna.
Tepat saat itu Joanna membuka pintu mobilnya, bersiap untuk turun dan lari. Tapi, sepertinya ada yang salah karena kakinya tidak menyentuh tanah sehingga menyebabkan dirinya oleng dan hampir jatuh.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan, apa kau ingin berenang di selokan?" teriak Louise panik dan dengan cekatan menahan lengan Joanna agar tidak jatuh.
Joanna pun secara refleks memegangi Louise yang menolongnya.
Tak
Tak
Tak
Terdengar bunyi yang tidak asing, sepertinya ada sesuatu yang rusak akibat tarikan Louise terhadap lengan Joanna yang terlalu kuat.
"Kau pasti sengaja parkir seperti ini kan?" protes Joanna setelah kembali menutup pintu dan menguncinya. Dia, sepertinya sangat marah. Terlebih saat ingat Louise tadi parkir terlalu ke tepian. Dan tepat di tepi itu adalah selokan.
"Aku,-" Louise tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia ingin menjawab tapi tidak fokus karena pemandangan yang tersaji di hadapannya.
"Louise, apa yang kau lakukan?" tanya Joanna ketika menyadari Louise telah merusak tiga kancing kemejanya tanpa sengaja.
"Joanna, aku hanya menolongmu agar tidak jatuh," jawab Louise dengan mata membesar, "Darimana kau tahu aku suka warna putih?" lanjutnya ketika melihat penutup berwarna putih di depannya.
"Louise, apa yang sedang kau lihat?" tanya Joanna dengan nada yang sangat pelan tapi mematikan.
"Itu, hanya dua bukit yang menjulang tinggi," jawab Louise jujur.
Plak. .
"Auch," teriak Louise ringan, "Joanna, apa kau tahu berapa banyak uang yang harus kau bayar karena menganiaya seseorang?" tanya Louise.
"Siapa juga yang menganiaya orang, itu hanya balasan karena kau merusak bajuku dan melihat isinya sembarangan," jawab Joanna.
"Joanna, kalau kau ingin balas dendam, kau bisa merobek bajuku juga. Kenapa harus memukulku?" protes Louise.
"Kenapa juga aku harus merobek bajumu. Itu terlihat seperti aku akan memperkosamu saja. Aku tidak mau tahu, kau harus menjahit kancing bajuku sekarang juga," pinta Joanna.
Louise hanya melongo mendengar permintaan Joanna. Seorang Louise Matthew, pemilik kekayaan bersih sebanyak ratusan triliun. Pemilik puluhan ribu anak buah dan karyawan yang tersebar di penjuru dunia. Seorang Presdir muda berbakat yang di hormati banyak orang, kenapa harus menjahit pakaian wanita?
Seumur hidupnya, Louise bahkan tidak pernah menyentuh jarum meskipun dia juga memiliki jarum dengan ukuran yang berbeda.
.
.
.
Setengah jam kemudian,
"Ini," kata Louise sembari menyerahkan kemeja Joanna yang baru selesai dia perbaiki kancingnya. Meskipun sudah mendapatkan tutorial dari Joanna, nyatanya Louise membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan pekerjaan barunya meskipun sangat asal-asalan.
"Tutup matamu itu, jangan mengintip!" perintah Joanna. Lalu segera melepas jas milik Louise yang dia gunakan untuk menutupinya dan kembali mengenakan kemejanya.
"Apa sih, apanya yang jangan mengintip. Aku kan sudah pernah melihat semuanya hari itu. Tapi begini juga bagus, sepertinya dia tidak takut lagi," batin Louise kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Louise, jangan mencariku lagi. Karena aku sudah punya anak," kata Joanna tiba-tiba.
Louise yang masih melihat kearah lain kembali menoleh, "Joanna, jangan bercanda. Candaanmu itu, sama sekali tidak lucu!" ujar Louise.
"Louise, aku tidak bercanda," kata Joanna.
Louise tersenyum sinis, jadi inikah alasan Joanna ingin tidak menemuinya lagi.
Anak?
Lalu, bukankah berarti Joanna berstatus sebagai istri orang. Apakah Louise sedang mencumbui istri orang waktu itu?
"Joanna, kau?" kata Louise.
Joanna menunduk, "Bukankah kau bilang tidak akan marah?" kata Joanna mengingatkan.
"Joanna, aku sungguh tidak marah. Hanya saja, darahku benar-benar mendidih sekarang," jawab Louise.
Joanna menggigit bibirnya, melihat kearah lain untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Siapa ayahnya?" tanya Louise.
"Aku tidak tahu," jawab Joanna.
"Tidak tahu?" tanya Louise.
"Aku tidak ingat," jawab Joanna.
"Lalu siapa suamimu?" tanya Louise.
"Aku tidak punya," jawab Joanna.
"Lalu ceritakan bagaimana bisa kau punya anak?" tanya Louise.
"Aku tidak tahu," jawab Joanna.
"Joanna!" ucap Louise meninggikan nadanya.
"Aku, benar-benar tidak tahu Louise!" kata Joanna tak kalah nada.
"Kenapa, tak kau katakan sejak awal ada hal seperti ini?" Louise memijit keningnya. Tidak habis pikir dengan apa yang dia dengar.
"Apa yang harus kau pikirkan. Hanya jangan temui aku lagi. Aku akan mengatakannya hari itu tapi kau bilang tak menyukai anak-anak. Aku takut kau melukai anakku," kata Joanna.
"Joanna, lihatlah aku!" kata Louise, "Kau benar-benar punya anak?" tanya Louise sembari menatap mata Joanna dalam-dalam.
Joanna mengangguk, menahan air matanya yang hampir tumpah, "Aku punya."
"Joanna?"
"Maaf!" kata Joanna.
"Apa yang sudah kau lakukan. Kenapa bahkan kau tak tahu siapa ayahnya?" tanya Louise.
"Louise, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak ingat," kata Joanna.
"Joanna, kau bohong," kata Louise.
"Aku tidak bohong," ucap Joanna.
"Tapi aku tidak percaya," kata Louise.
Siapa yang percaya. Jari-jarinya bahkan terjepit saat menyelami bagian itu. Apa iya jalan yang sudah dilewati kepala bayi bisa kembali serapat itu. Meskipun Joanna melakukan senam kegel atau semacamnya, tentu saja ada perbedaannya. Lalu, apa Joanna tidak pernah menyusui anaknya. Bukit itu juga sangat kencang. Perutnya juga sangat rata, selain itu juga tidak meninggalkan bekas apapun semacam operasi atau Stretch Mark.
"Kau tak percaya padaku?" tanya Joanna.
Bukannya menjawab, Louise malah mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak Joanna duga, "Joanna, apa kau sangat ingin punya anak?" tanya Louise.
"Apa maksudmu, aku sudah bilang aku sudah punya anak," jawab Joanna.
"Itu tidak mungkin, Joanna!" tolak Louise.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Joanna.
"Karena aku merasa itu tidak mungkin terjadi. Haruskah aku membuktikannya sekarang?" tanya Louise.
"B-bukti?" tanya Joanna.
"Bukti, bahwa kau belum pernah melahirkan sebelumnya," jawab Louise.
"Louise, kenapa kau sangat keras kepala?" tanya Joanna.
"Joanna, apa kau sengaja membohongiku. Mengatakan bahwa kau punya anak untuk membuatku pergi?" tanya Louise.
"Louise!"
"Joanna, kau memang selalu suka di paksa," kata Louise.
Louise menekan satu tombol di mobilnya, memastikan mobil itu tertutup sempurna agar tidak ada sepasang mata yang mengintip mereka.
Bersamaan dengan itu, Joanna terdorong ke belakang. Rupanya Louise telah merendahkan sandaran kursi dan menyerang Joanna dengan ciuman. Sesuatu yang tidak Joanna kira benar-benar terjadi kali ini. Berada di bawah Louise yang menjelma bagaikan singa kelaparan membuat Joanna ketakutan. Lebih takut lagi saat menyadari Louise mulai merobek apapun yang dipakai Joanna hingga membuatnya kehilangan sebagian besar atasannya.
"Louise, hentikan. Kenapa kau merusak bajuku lagi?" tanya Joanna ketika Louise menghentikan ciumannya.
"Louise, kau gila!" umpat Joanna lagi ketika sadar dimana mereka berada sekarang.
Tapi Louise tak peduli, dan lagi mulutnya tidak bisa menjawab karena disibukkan dengan mainan kembar yang tersaji di hadapannya. Bukan hanya mulutnya yang sibuk, tangannya pun begitu karena harus mengatasi perlawanan bertubi-tubi dari Joanna yang sebenarnya sama sekali tak berarti di hadapannya.
Di dalam mobil di tepi danau itu, dimana burung-burung berkicau di balik dedaunan Louise benar-benar semakin liar.
"Joanna, itu baru hidangan pembuka. Jika kau masih tidak ingin jujur, aku benar-benar akan memberikan sajian hidangan utama untukmu," ancam Louise.
"Tapi, aku benar-benar sudah jujur," jawab Joanna dengan menyembunyikan wajahnya. Mengatur nafasnya yang memburu dan memungut atasannya yang terkoyak.