
Jose melewati jalanan setapak yang ditumbuhi lebatnya ilalang disepanjang tepiannya. Mengayunkan kaki langkah demi langkah yang akan membawanya ke tempat peristirahatan mendiang ibunya di pinggiran hutan.
Rambutnya terikat ke belakang. Memakai pakaian berwarna serba putih dan berkacamata hitam. Membawa seikat bunga lily di tangannya lengkap dengan senyum tipis yang menghiasi sudut bibirnya. Dari kejauhan, Jose melihat seorang lelaki tua yang sangat dia rindukan. Lelaki yang memiliki cinta pertamanya dan lelaki yang membuatnya terlahir ke dunia.
Dia adalah Sir Alex, ayahnya yang sedang bersimpuh di pinggiran makam. Entah apa saja yang sedang dia bicarakan pada batu nisan ibunya. Pengawal dan pelayan pribadinya setia menunggu, berdiri dan berbaris rapi di belakang menundukkan kepala dengan takzim.
Jose semakin mendekat, tidak takut meskipun sekarang menginjakkan kaki kembali di kota kelahirannya setelah sekian lama. Tanah yang sudah lama dia tinggalkan, tapi juga sedikit dia rindukan. Pengawal dan pelayan mengangkat kepala mereka ketika menyadari kedatangan seseorang. Terkejut dan membuka mulutnya lebar-lebar saat tahu bahwa orang itu adalah Jose, nona mereka.
Adam, pelayan senior itu hendak memberitahu 'tuannya' bahwa putrinya datang, tapi Jose menahannya agar tidak mengganggu ayahnya yang sedang khusyuk berdoa. Adam menurut, kembali ke tempatnya semula tanpa bersuara. Sementara Jose, dia ikut bersimpuh di tempat yang tidak jauh dan sedikit di belakang ayahnya.
"Seandainya, engkau masih ada semuanya pasti berbeda. Jose kita pasti tidak akan pernah menderita, juga tidak perlu hidup terpisah. Maafkan aku, semua karena kesalahanku yang terlalu lemah," lirih Sir Alex.
Sir Alex menghela nafas panjang, bersiap untuk bangkit. Tapi suara seseorang menghentikannya.
"Bu, kenapa kau bisa menikahi pria lemah seperti ayah. Lihatlah, bahkan dia sedang menangis sekarang. Apa gunanya menangisi ibu yang sudah bersenang-senang di atas sana. Bu, ayah sangat jahat padaku. Dia membiarkan aku hidup di jalanan dengan ingatan yang hilang dan tampil sangat menyedihkan. Aku sangat malu melihat potret diriku selama lima tahun ini. Aku sangat ingin marah tapi aku takut kualat karena dia ayahku. Bu, jika seandainya ayah cepat mati dan bertemu dengan ibu disana nanti, tolong berikan hukuman yang berat untuknya. Jangan biarkan dia masuk ke rumah dan tidur di kasur yang sama dengan ibu," kata Jose lantang. Membuat para pelayan dan pengawal itu sedikit tersenyum disaat mengharukan seperti ini.
"Anak nakal, apa kau ingin ayah cepat mati?" protes Sir Alex sembari menyentil dahi Jose. Jose hanya tersenyum memperlihatkan delapan giginya lalu kembali melipat tangan dan berbincang kepada ibunya setelah meletakkan seikat bunga yang dia bawa.
"Bu, maaf! Sudah sangat lama Jose tidak mengunjungi ibu. Bukannya tidak mau, tapi sepertinya Jose terlalu nakal sehingga Jose harus mengalami sebuah kecelakaan dan melupakan semuanya. Tapi ibu tenang saja, Jose sudah mengingat semuanya. Cinta ibu, cinta ayah dan semua kenangan kita. Bu, tenanglah disana karena mulai sekarang Jose akan menjaga ayah. Apa ibu tahu, sekarang ayah sudah mulai menua, terlihat dari uban-uban yang tumbuh di kepalanya. Tapi, ayah masih sangat tampan dan keren juga masih setia dengan ibu. Jadi jangan mencemaskan ayah lagi. Lalu, tentang seseorang yang membunuh ibu Jose akan menyingkirkan mereka semua."
Jose sudah selesai berbicara dengan ibunya. Lalu setelah membuka matanya, saat itulah dia mendapatkan pelukan yang sangat dia rindukan. Pelukan dari seorang ayah yang rela terpisah dengannya demi mencari kesempatan untuk balas dendam, juga demi membangun kekuatan untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya jadi milik Jose, yaitu posisi pewaris keluarga utama.
.
.
.
"Ayah, makanlah ini!" pinta Jose. Meletakkan berbagai makanan kesukaan ayahnya di piring dan menyuapkan salah satunya ke mulut sang ayah.
Sir Alex membuka mulutnya dan memakannya dengan perlahan. Dia tersenyum tipis, tidak menyangka Jose yang keras itu akan bersikap manis seperti ini.
"Ini enak, kau yang membuatnya, atau pengasuhmu?" goda Sir Alex.
"Tentu saja aku," jawab Jose. Sedikit merengut dan langsung memasukkan sepotong daging ukuran besar ke mulut ayahnya untuk membungkamnya agar tidak berbicara.
"Seingat ayah, Jose yang dulu tidak suka memasak bukan?" tanya Sir Alex setelah bersusah-payah mengunyah daging ukuran besar itu.
"Mau bagaimana lagi, itu semua karena ayah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa ayah membuatku melakukan semua pekerjaan sendirian. Tapi ayah jangan khawatir, aku sudah bersumpah untuk tidak akan menyentuh peralatan masak lagi setelah ini," jawab Jose enteng.
"Lalu bagaimana jika Oskar ingin makan masakanmu?" tanya Sir Alex.
"Itu pengecualian. Hanya untuk Xiao O saja, bukan untuk ayah," jawab Jose.
"Lalu bagaimana jika Louise juga ingin makan masakanmu?" tanya Sir Alex lagi.
"Kenapa jadi membicarakan pria brengsek itu?" tanya Jose.
"Brengsek, bukankah kau menyukainya?" kata Sir Alex.
"Apa ayah ingin aku jadi pelakor?" tanya Jose.
"Tidak masalah, pria seperti itu memang pantas untuk di perebutkan. Lagipula putriku sangat cantik, dia pasti tidak bisa menolaknya kan?" jawab Sir Alex.
"Ayah, kenapa pemikiran ayah semakin menyimpang dari hari ke hari. Aku ini sangat mahal, mana mungkin aku jadi pelakor?" protes Jose dengan menusuk keras daging di piringnya.
"Masalahnya, bukankah kau sudah masuk ke rumahnya. Katakan pada ayah, apa yang kau lakukan disana. Apa kau masih mahal?" goda Sir Alex.
Pertanyaan itu membuat Jose membiru sekaligus membeku. Sangat marah tapi juga sangat malu disaat yang bersamaan, "Ayah, aku tidak tahu. Joanna yang masuk ke villa itu, bukannya aku."
Sir Alex tersenyum mendengar jawaban dari putrinya. Dia tahu, putrinya sedang menutupi sesuatu. Jadi dia menanyakan sesuatu yang pernah dia tanyakan pada Louise untuk menggodanya.
"Apa itu artinya cucuku akan segera lahir?" tanya Sir Alex lagi.
"Kenapa kau sangat bodoh. Kenapa tidak memanfaatkan kesempatan yang tidak akan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Kau tahu, jika kau melahirkan anak Louise kau akan sekaya apa?" tanya Sir Alex.
"Ayah, cukup! Kenapa ayah menjadi sangat menyebalkan, memiliki pemikiran menyimpang dan menjadi sangat matre. Bukankah kita tidak kekurangan uang?" jawab Jose bersungut-sungut.
"Tapi, dibandingkan dengan uang miliknya. Milik kita tidak ada apa-apanya. Jangan salah paham, ayah hanya ingin yang terbaik untukmu dan calon cucuku," lanjut Sir Alex tanpa beban. Membuat Jose kehilangan seleranya untuk makan.
"Ayah, jangan membicarakannya lagi. Aku tidak menyukainya," keluh Jose.
"Apa karena kau sudah mengingat semuanya sehingga tidak ada tempat untuk Louise di hatimu. Jose, katakan apa kau menyukai Edgar?" tanya Sir Alex lagi.
"Kenapa jadi Edgar?"
"Karena dia selalu bersamamu untuk melindungimu sejak dulu. Dia juga tampan meskipun sangat berandalan. Tapi dia sangat bertanggungjawab, buktinya dia memenuhi janjinya kepada ayah untuk melindungimu dengan cara yang berbeda," jelas Sir Alex.
"Jika aku menikah dengannya, apa ayah keberatan?" tanya Jose.
"Jose, dengarkan ayah. Pikirkan semuanya baik-baik. Entah itu Louise, Edgar, atau siapapun. Jika kau menyukainya ayah tidak akan pernah keberatan dengan hubungan yang akan kau jalani. Hanya satu pesan ayah, hiduplah dengan orang yang kau cintai dan juga mencintaimu. Apa kau mengerti?" tanya Sir Alex dengan membelai rambut Jose.
"Jose mengerti, Jose akan memikirkannya."
"Jose, apa berita itu benar. Apa Louise benar ayahnya Oskar?" tanya Sir Alex dengan wajah serius.
"Aku tidak tahu," jawab Jose.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang, Jose Kecil?" tanya Sir Alex.
"Aku tidak akan memberitahu ayah," jawab Jose.
"Baiklah, ayah mengerti. Jadi, kapan kau mengunjungi Oskar, dia sangat merindukanmu," kata Sir Alex.
"Aku akan mengunjunginya nanti," jawab Jose.
"Pastikan kau pergi dan kembali dengan aman!"
"Aku tahu, aku sudah mempersiapkan semuanya," jawab Joanna.
"Apa ada yang bisa ayah lakukan untukmu?"
"Tidak perlu!"
"Kenapa?" tanya Sir Alex.
"Aku tidak akan membiarkan orang tua repot-repot membantuku," goda Joanna.
"Oh, benarkah? Tapi salah satu calon menantu brengsekku itu bahkan tidak sungkan menerima bantuan dari ayah," kata Sir Alex.
"Ayah, sudah kubilang jangan bicara macam-macam!" protes Jose.
"Baiklah!"
"Ayah, aku lupa mengatakan sesuatu. Kenapa dandananmu sangat jelek?" protes Jose.
"Jose, apa yang kau katakan?" tanya Sir Alex.
"Aku tidak suka ayah berpenampilan seperti ini. Ayah, ayah itu masih sangat tampan jadi jangan mencoba untuk menyembunyikannya. Keluarkan otot-otot sehatmu!" pinta Jose.
"Jose!"
"Ayah, ayah baru berumur 50 th sekarang. Jangan menyembunyikan ketampananmu dan berdandan seperti kakek tua seperti ini. Aku tidak mau tahu, aku tidak akan menemui ayah lagi jika tidak membuang semua samaran ini," kata Jose lagi. Tangannya dengan lincah mengambil rambut palsu juga pakaian tebal yang menutupi tubuhnya yang sebenarnya masih sangat sehat dan berbentuk.
...***...