
"Tuan William, apa Anda benar-benar akan menghadiri undangan dari keluarga Amber itu sendirian tanpa Nona Joanna?" tanya Okta.
"Siapa yang bilang aku sendirian. Aku kan pergi kesana dengan Tetua yang lain," jawab William santai.
Saat ini William baru saja kembali setelah menghadiri acara kebangsawanan di suatu tempat. Lalu malam hari nanti dia akan menghadiri undangan dari keluarga Amber tanpa ditemani Joanna.
Sesuai rencana yang telah Keluarga Amber susun, hari ini mereka mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan anak pertamanya. Pada kesempatan kali ini juga, mereka akan memanfaatkan situasi untuk mendekati Tetua untuk melancarkan niat liciknya.
Rencana pertama mereka adalah mencari cara agar Tetua memberikan kesempatan pada Daisy untuk menebus kesalahannya. Lalu membuat Daisy sering melakukan tugas kebangsawanan bersama William sebagai penebus kesalahannya. Dengan begitu, menunggu benih-benih cinta dari William untuk Daisy hanyalah soal waktu.
Toh selama beberapa waktu ini Daisy sudah kembali jinak tanpa William dan Joanna ketahui. Daisy sudah berpura-pura menyesal dan bersedia menerima hukuman yang lebih berat agar Tetua Utama percaya akan perubahannya. Jadi, seharusnya semuanya akan lancar asalkan William datang. Terlebih tidak ada Joanna sekarang ini, sudah pasti rencana mereka akan menjadi lebih mulus lagi.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita menghubungi Nona Joanna selagi ada waktu. Bukankah akan lebih pantas kalau Nona Joanna hadir bersama Tuan? Bagaimanapun juga semua orang mengira kalian sepasang suami istri. Saya bisa bersiap untuk menjemputnya sekarang juga," kata Okta memberi saran. Entah kenapa Okta merasa tidak rela membiarkan William pergi sendiri kali ini. Apa karena Daisy sudah pernah mencoba mencelakai Reagan sebelum ini sehingga membuatnya khawatir?
William menoleh, melihat Okta yang salah bicara. Semua orang mengira mereka suami istri katanya? Siapa yang bilang begitu, mereka kan memang benar-benar suami istri. Mereka menikah secara sah lebih dari setahun yang lalu meskipun menikah hanya untuk mencuri sesuatu yang berharga milik Bangsawan Timur.
"T-Tuan, apa saya salah bicara?" tanya Okta gelagapan saat melihat William berhenti berjalan dan melihatnya.
"Eum, kau sangat salah. Aku dan Joanna kan memang sepasang suami istri," jawab William. Pria itu kembali mengabaikan Okta, lalu mulai berjalan menuju ruang utama di rumahnya.
"Lalu, haruskah saya berangkat sekarang untuk menjemputnya?" tanya Okta.
"Jangan lakukan itu. Kemarin aku sudah bertanya padanya kapan dia ingin pulang. Tapi dia bilang ingin kembali besok. Tidak apa-apa, biarkan dia disana lebih lama. Dia pasti rindu dengan ayah dan kakaknya," jawab William.
Wajah William sayu. Sebenarnya dia juga ingin membawanya kembali tapi mau bagaimana lagi. Joanna masih ingin tinggal dirumahnya. Selain itu Joanna pulang ke Kota Utara juga karena kesalahannya yang membentaknya waktu itu. Meskipun William sudah minta maaf, tapi tetap saja dia masih merasa bersalah. Lain kali, di sisa waktu yang dia punya dengan menyandang status sebagai suami Joanna yang dia miliki, William berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi.
"Tapi bagaimana kalau keluarga Amber itu mencari masalah lagi?" tanya Okta.
William yang membuka kancing baju di lengannya itu langsung diam seketika. Dia terlalu sibuk beberapa hari terakhir, sampai lupa untuk tidak mencari informasi tentang Daisy. Terakhir kali, Tetua bilang sudah menahannya dan Okta bilang Joanna akan memberitahu masalah ini pada Louise agar Louise yang memutuskan apa yang ingin dia lakukan.
Mengingat sifat Louise yang over protektif terhadap Reagan, seharusnya dia sudah mengirim orang untuk membunuh Daisy setelah apa yang Daisy lakukan pada Reagan bukan. Tapi kenapa orangtuanya malah mengadakan pesta, apa itu berarti Daisy masih belum mati?
"Apa Daisy masih hidup?" tanya William.
"Tuan, apa yang Anda bicarakan. Tentu saja Nona Daisy masih hidup. Dia kan sedang ditahan Tetua Utama," jawab Okta.
Okta mulai jengkel sekarang. Bagaimana bisa tuannya bertanya padanya apakah Daisy masih hidup. Tentu saja dia masih hidup, dia masih sangat sehat saat ini. Lagipula apa-apaan pertanyaan itu. Bukankah kalau Daisy mati William harus melayat. Apa William merasa pernah melayat dengan mayat bernama Daisy?
"Soal itu saya juga tidak tahu. Tapi seharusnya Tuan Louise sudah mengetahuinya karena Diaz sempat mengatakan bahwa kemarin Nona berkunjung ke perusahaan dengan membawa serta anak-anak," jawab Okta.
William hanya manggut-manggut saja. Joanna memang datang ke perusahaan kemarin, tapi tidak tahu kalau Joanna tidak bertemu dengan Louise. Dia pun juga belum bertemu dengan Louise selain saat Louise mengantarkan Ebra ke ruangannya seperti anak kucing kemarin.
"Ya sudahlah, lebih baik aku mencari Louise dan membicarakan masalah ini besok," kata William.
"Baik, Tuan!" kata Okta.
Setelah itu, William kembali menjalankan aktifitasnya yang sempat tertunda tanpa mengatakan apa-apa. Dia sendiri tahu Louise sangat sibuk belakangan ini. Bukan hanya Louise saja, tapi dia dan Arthur pun juga sama. Mungkin alasan Daisy masih hidup saat ini karena Louise belum mengambil tindakan. Tapi meskipun begitu, seharusnya hidup Daisy tinggal menghitung hari.
William membiarkan Okta melakukan apapun yang dia suka. Sementara itu, dia langsung naik keatas dan masuk kekamarnya yang sepi tanpa adanya Joanna, Reagan ataupun Oskar. William memandangi setiap sudut ruangan yang rapi karena tidak tersentuh oleh anak-anak yang biasanya mengobrak-abrik tatanannya. Ayunan bayi kesukaan Reagan itu bahkan tidak bergoyang sedikitpun meski tertiup angin.
Melihat itu semua membuat William menyadari sesuatu yang baru dia rasakan hari ini. Bahwa dia kesepian tanpa mereka. "Kenapa rasanya sangat berbeda?" tanya William.
Pria itu berbaring di ranjangnya yang dingin, meringkuk menghadap sisi lain yang biasanya dikuasai oleh Joanna. William menyentuh sprei yang bersih itu, menepuk-nepuk beberapa kali sebelum membatin, "Maafkan aku. Aku sangat menyesal telah membentakmu dengan kasar hari itu. Kalau aku tahu kau akan pergi selama ini, aku pasti memilih untuk menerima apapun yang ingin kau lakukan padaku hari itu," sesal William.
Karena matahari masih lumayan tinggi, William akhirnya memutuskan untuk tidur. Beberapa hari ini dia kurang tidur. Jadi, karena hari ini ada sedikit waktu senggang maka biarkan dia mengisinya dengan mengistirahatkan dirinya dengan tidur siang.
Pria itu baru saja memejamkan matanya dan tanpa disangka sudah pergi ke alam mimpi di menit berikutnya. Mungkin dia sudah mencapai batasnya, mungkin dia terlalu menyesal, mungkin dia terlalu lelah terus terjebak di batas hati antara Marissa dan Joanna sampai membuatnya terlelap begitu saja.
Panggilan makan siang dari Asha dia abaikan. Begitupun panggilan dari Okta yang datang belakangan. Okta bahkan sampai masuk ke kamar untuk memastikan apa yang sedang William lakukan. Tapi kembali keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun juga setelah melihat tuannya tertidur lelap.
Yah, pria itu tertidur sangat lelap. Tanpa tahu bahwa Daisy sudah tidak ditahan hanya untuk hari ini. Tanpa tahu Daisy sudah menyiapkan perangkap tambahan tanpa sepengetahuan keluarga besarnya. Tanpa tahu sebuah rencana licik sudah menyambutnya di kediaman Keluarga Amber nanti malam.
Sebuah jebakan yang akan membuat William melakukan sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan fatal yang hanya akan diketahui oleh Joanna sebagai satu-satunya saksi mata tapi memilih untuk diam seolah tak terjadi apa-apa demi masa depan William dan Marissa.
Sebuah kesalahan yang pada akhirnya tetap diketahui oleh William meskipun bukan dari mulut Joanna melainkan dari mulut Louise Matthew yang berkuasa dan terhormat. Sebuah kesalahan yang akan dijadikan alasan oleh Louise Matthew untuk mengakhiri semuanya dan mengatakan hal yang tidak pernah dibayangkan oleh William sedikitpun.
Sebuah kalimat itu bahkan membuat William melakukan hal yang belum pernah dia lakukan selama ini, yaitu menghajar Louise kakaknya sendiri yang sangat dia agungkan saking kecewanya seorang William. Dan yang lebih membuat William marah adalah, dia baru tahu semuanya saat dia baru saja bercerai dengan Joanna.
Karena pagi harinya William telah tertipu oleh wajah polos Joanna yang memintanya segera menandatangani surat perceraian mereka. Iya, William akan tertipu oleh wajah yang penuh senyum itu. Tanpa tahu wanita itu telah menyembunyikan semua lukanya sendirian.
...***...