CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Permintaan Terakhir



"Kenapa kau tidak bisa membuatku berhenti jatuh cinta?" gumam Louise dengan senyum tipis saat melihat Joanna pergi meninggalkan ruangan yang penuh dengan mayat itu.


Sir Alex berjalan pelan, mendekati Louise yang terus-terusan melihat punggung Joanna yang semakin menjauh, "Louise, maaf kau harus melihat semua ini. Kau pasti kecewa sekarang kan?" tanya Sir Alex penuh sesal.


"Apa yang Anda katakan. Aku memang terkejut, tapi itu tidak masalah. Karena jika aku sendiri yang berada di posisi Joanna, aku pasti akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini," jawab Louise.


"Kau tidak marah atau menyesal karena ini?" tanya Sir Alex memastikan.


"Sama sekali tidak. Sebaliknya, sepertinya aku malah semakin jatuh cinta pada putrimu. Bagaimana ini, Ayah?" jawab Louise dengan senyum lebar.


"Sepertinya kau sudah tergila-gila stadium akhir pada putriku. Tapi kalau kau ingin mengatakan cinta, maka katakan padanya bukan padaku," kata Sir Alex.


Louise tersenyum, "Ayah, aku sudah berkali-kali mengatakannya. Tapi dia selalu mengabaikanku. Tapi jangan khawatir, meskipun dia sangat keras kepala tapi aku tidak akan pernah menyerah," kata Louise.


"Itu baru yang disebut sebagai anak muda. Tapi, kau baru saja memanggilku ayah. Maaf, anakku belum menikah. Kau tidak bisa sembarangan memanggilku dengan sebutan itu," tolak Sir Alex.


"Kalian memang sepasang ayah dan anak yang cocok. Sama-sama keras kepala dan sangat menyebalkan," keluh Louise di depan Sir Alex.


"Apa begini caramu berbicara kepadaku. Kalau kau tidak mengubah tata kramamu, jangan berharap aku akan memberikan restu untuk hubungan kalian," ancam Sir Alex, lalu memukul kepala Louise dengan pelan menggunakan pipa rokok yang baru saja dia keluarkan.


"Apa itu masih berguna. Aku sudah meratakan seluruh kota untuk kalian. Seharusnya memberikan Joanna padaku sebagai imbalannya pun pantas. Kenapa masih mengancamku dengan ancaman seperti itu? Lalu, sejak kapan ayah mengeluarkan benda itu. Apa tidak takut Joanna mematahkan tulangmu?" protes Louise saat melihat benda yang digunakan untuk memukulnya.


"Dia kan sudah pergi. Takut apa?" kata Sir Alex.


"Apa tidak takut aku akan mengadu padanya?" ancam Louise.


"Calon menantu berandalan. Kalau kau mengadu padanya, aku juga akan memberitahunya kalau Oskar bukan anakmu," ancam Sir Alex balik.


"Ayah mertua, apa kau ingin merusak rencana besarku. Kenapa kau sangat kejam padaku?" protes Louise lagi.


"Itu karena kau masih tidak juga sopan pada calon mertuamu ini, bajingan!" keluh Sir Alex.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan memperbaikinya lain kali. Tapi bisakah melarang mereka untuk membuka mulut dan menjadikan ini rahasia?" tanya Louise.


"Apa?"


"Jangan mengatakan bahwa Joanna yang menghabisi setengah dari mereka," jawab Louise.


"Tentu saja bisa," kata Sir Alex.


Disaat Louise dan Sir Alex sibuk berbincang-bincang. Di luar sana beberapa pengawal sedang dalam perjalanan untuk mengantar Arthur dan William menemui Louise. Mereka sempat berpapasan dengan Joanna tapi Joanna tidak mengatakan apapun.


Sir Alex pun menyambut kedua tamu pentingnya dengan suka cita. Louise tak kalah cepat, karena dia segera memperkenalkan Arthur dan William secara bergiliran. Sir Alex biasa saja saat menjabat tangan dan melihat Arthur, tapi tidak saat menjabat tangan dan melihat William.


Sir Alex rasanya pernah bertemu dengannya. Sentuhan ini sangat tidak asing. Tangan ini dia pernah menyentuhnya entah kapan dan dimana. Sangat persis seperti yang William rasakan saat melihat Joanna waktu itu.


"Namamu William?" tanya Sir Alex.


"Benar," jawab William singkat. Tidak tahu apa yang terjadi tapi Sir Alex belum juga melepaskan tangannya pada William.


"Apa kau mengenalku atau pernah bertemu denganku sebelumnya?" tanya Sir Alex tiba-tiba. Dia sedang memastikan, apakah dia benar-benar kenal William. Mungkin saja dia lupa karena usia, jadi menanyakannya pada William.


"Maaf, tapi aku tidak pernah bertemu atau kenal dengan Anda sebelumnya," jawab William.


"Oh, mungkin hanya perasaanku saja. Sepertinya aku pernah bertemu denganmu di suatu tempat," lanjut Sir Alex kemudian melepaskan tangannya.


"Ayo, aku akan menjamu kalian di tempat yang lain," ajak Sir Alex.


Ketiga pria itu mengikuti Sir Alex dari belakang. Membawanya ke sebuah ruangan dan menjamu mereka disana.


"Louise, William itu siapa?" tanya Sir Alex lirih saat ada kesempatan.


"Dia adikku," jawab Louise.


"Adik?" ulang Sir Alex.


"Iya, adikku. Ada apa?" tanya Louise.


"Bukan apa-apa. Sepertinya aku pernah mengenalnya. Mungkin hanya perasaanku saja," jawab Sir Alex.


"Ayah Mertua, itu karena kau sudah tua. Mungkin kau melihat orang lain yang mirip dengannya," goda Louise.


"Kau ini, kalau sudah tahu aku semakin menua kenapa tidak segera menikahi putriku?" protes Sir Alex


"Putrimu saja tidak buru-buru. Ada apa denganmu, Ayah?" tanya Louise.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan tangkapan besar," jawab Sir Alex.


"Maksudnya?" tanya Louise tidak mengerti.


"Aku ingin segera ingin memiliki menantu yang kaya," jawab Sir Alex tanpa sungkan.


"Calon menantu, kalau berani coba ulangi sekali lagi apa yang kau katakan barusan. Aku akan benar-benar memotong burungmu untuk yang kedua kalinya," ancam Sir Alex.


"Kalau dipotong lagi, apa yang tersisa untuk Joanna. Apa Ayah Mertua tidak ingin memiliki banyak cucu. Padahal baru-baru ini aku berencana untuk membeli lagi sebuah pulau yang lebih besar untuk dihuni cucu-cucumu nanti," kata Louise.


"Ah, bukankah pulaumu yang kemarin itu belum selesai di bangun. Kenapa membeli lagi?" tanya Sir Alex.


"Mau bagaimana lagi. Aku punya banyak uang. Lagipula udara di pulau itu sudah tercemar karena tersentuh oleh kalian," jawab Louise asal.


"Apa maksudmu karena aku dan teman-temanmu itu menyebarkan kuman saat menginjakkan kaki disana?" tanya Sir Alex. Sudah siap dengan pentungan yang di pegangnya.


"Eum," jawab Louise.


"Kau ini!" dengus Sir Alex. Mengangkat pentungannya tinggi-tinggi tapi memukul Louise dengan sangat pelan.


"Kenapa?" tanya Louise, menangkis pukulan lemah dari calon mertuanya.


"Benar-benar calon menantu idaman," puji Sir Alex.


"Itu karena aku banyak uang kan?" sindir Louise.


.


.


.


"Kalau kau ingin seseorang bertanggungjawab, maka matilah! Karena orang yang kau cari sudah lama mati!"


Sebuah kalimat yang dikatakan Louise masih terus terngiang-ngiang di telinga Agria. Dia sangat marah tapi juga sangat malu. Tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.


Louise Matthew yang dia kira ayah anaknya, ternyata sedikitpun tidak pernah menyentuhnya. Jangankan menyentuh, melihat atau bertemu pun tidak pernah. Pertemuan pertama mereka bahkan baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.


Saat Louise sengaja mendatanginya secara pribadi untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Menjelaskan bahwa pria yang harusnya bertanggungjawab sudah tidak hidup lagi. Bukan hanya itu, Louise juga mengatakan bahwa seluruh pengikutnya sudah tidak ada lagi dan satu-satunya yang berkuasa sekarang adalah Joanna dan ayahnya.


Agria hanya diam saja karena tidak memiliki kekuatan. Bagaimana tidak, dia sudah memimpikan masa depan yang indah lalu terhempaskan begitu saja karena nyatanya fakta tidak sesuai apa yang dia kira. Agria, dia mengaku kalah. Kalah dari Jose yang dia kira akan mengalami apa yang dia rasakan saat ini.


Kriet.


Suara pintu terbuka. Agria bisa mendengar suara sepatu semakin mendekat, dan Agria tahu itu pasti Joanna. Agria enggan melihat, hanya menundukkan kepala dan melihat ke lantai. Bahkan sampai dia melihat ujung sepatu Joanna di bawah sana pun, Agria masih enggan mengangkat wajahnya.


"Bunuh aku!" kata Agria. Agria yang terikat, masih terlihat cantik. Dia bersuara sangat pelan dan nyaris tak terdengar.


"Kau ... ingin mati dengan cara seperti apa?" tanya Joanna.


"Menembak adalah keahlianmu. Memanah juga keahlianmu. Yang mana yang akan kau pakai keduanya sama-sama akan mengakhiri hidupku. Jadi kenapa masih bertanya padaku?" jawab Agria.


"Tapi, kematian yang seperti itu terlalu mudah untukmu."


"Kalau begitu lakukan saja sesukamu. Aku bahkan tidak bisa bergerak untuk melawan, apa yang membuatmu ragu?" tanya Agria.


"Masalahnya adalah, aku ingin melihatmu hancur berkeping-keping!" kata Joanna.


"Kalau begitu tembak aku berkali-kali sepuas hatimu, atau kau bisa menghancurkan jasadku nanti."


"Kalau begitu lihat aku sekarang. Apa kau tak ingin melihat wajahku yang akan membunuhmu?" tanya Joanna.


Agria menelan ludahnya, mengangkat kepalanya dan melihat Joanna yang sudah mengarahkan moncong senjata itu kearahnya. Tatapan mata itu, tidak pernah berubah. Dingin, datar dan menghanyutkan seperti milik dewa kematian. Tatapan mata dari seorang Jose yang sebenarnya yang sudah sangat lama tidak dia lihat.


Agria tersenyum tipis, dia tahu betul jika Joanna sudah mengangkat senjatanya maka tidak akan ada lagi kesempatan untuk hidup. Beberapa detik lagi, sepertinya dia akan segera pindah alam.


"Apa kau siap?" tanya Joanna.


"Aku siap kapanpun juga," jawab Agria.


"Apa ada permintaan terakhir yang kau inginkan. Mungkin ... aku bisa berbaik hati dan mengabulkannya untukmu?" tanya Joanna.


"Besarkan anakku dengan baik!" jawab Agria.


"Omong kosong. Tanpa kau meminta pun, aku akan tetap membesarkannya seperti lima tahun terakhir yang kujalani bersamanya," kata Joanna.


"Kalau begitu bunuh aku sekarang. Karena sudah tidak ada lagi yang ingin ku katakan!" pinta Agria.


"Sesuai keinginanmu, kakak!"


Joanna menghirup nafas panjang, kemudian menghembuskannya ke udara dengan pelan. Sebelum akhirnya menarik pelatuknya berkali-kali sepuas hatinya.


...***...