CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Minum Bareng



CTAK


Louise meletakkan gelas wine-nya di meja. Tepat disamping gelas itu sebotol wine telah nyaris kosong tanpa sisa.


Louise menuang lagi wine ke gelas kosong itu. Menenggaknya sekali lagi sebelum akhirnya menyangga kepalanya dengan tangan kirinya dan memainkan gelas kosong itu tanpa tahu apa tujuannya. Suasana hatinya sepertinya kurang baik, sangat terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedikit berbeda sekembalinya dari apartemen William tadi.


Sekembalinya dari apartemen tadi, Louise menyempatkan diri untuk mengunjungi kamar Oskar. Melihatnya sebentar, tentu saja juga menyampaikan apa yang William inginkan kepada Joanna. Setelah itu dia pamit keluar lagi dengan alasan kurang enak badan. Membiarkan Joanna membacakan dongeng sebelum tidur dengan nyaman kepada seorang keponakan yang beberapa waktu lalu mereka sebut sebagai anak mereka.


"Louise?" panggil Joanna ketika melihat Louise sedang menikmati wine di bar mini itu tanpa ditemani siapapun. Jika Joanna sudah disini, bisa di pastikan Oskar sudah tertidur pulas sekarang ini.


"Hm?" jawab Louise sebelum menenggak segelas wine yang ada di genggamannya.


"Kau kenapa. Masih memikirkan keputusan William yang kau ceritakan tadi?" tanya Joanna sembari menarik kursi dan duduk di sebelah Louise.


Joanna melihat ke meja, sebotol wine itu sudah benar-benar kosong karena sudah berpindah ke perut Louise. Hanya melihat mata itu sekilas saja Joanna tahu, bahwa Louise sedang tidak baik-baik saja sekarang.


"Joanna, mereka akan baik-baik saja kan?" tanya Louise.


Joanna terdiam. Biasanya Louise yang akan menghiburnya dan mengatakan semuanya pasti akan baik-baik saja. Louise selalu mengatakannya dengan kepercayaan diri yang tinggi. Melihat Louise yang sekarang sedikit ragu, Joanna pun juga tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti dokter akan melakukan yang terbaik untuk keberhasilan operasi," jawab Joanna.


"Joanna?" panggil Louise.


"Louise, apa kau takut?" potong Joanna.


"Aku takut. Tidak hanya takut, aku merasa sangat tidak berguna. Jelas-jelas aku ini pamannya, tapi kenapa malah William yang cocok sebagai pendonor. Ini sangat melukai hatiku," curhat Louise. Lalu membuka botol wine yang baru.


"Ini bukan salahmu," kata Joanna.


Joanna tidak pandai menghibur, jadi memilih menuangkan wine untuk Louise dan ikut-ikutan menuang wine untuk dirinya sendiri di gelas yang lain.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Louise.


"Menemanimu minum," jawab Joanna.


Louise menahan tangan Joanna, melarangnya untuk membiasakan diri dengan alkohol seperti dirinya, "Bagaimana kalau kau mabuk dan melakukan hal bodoh?" tanya Louise.


Joanna tersenyum, "Hanya beberapa gelas saja tidak akan membuatku mabuk. Apa yang membuatmu cemas?" jawab Joanna.


"Benarkah?" tanya Louise.


Joanna tidak menjawab. Dia hanya tersenyum untuk mengiyakan pertanyaan Louise, "Jadi ceritakan, apa yang membuatmu takut?" tanya Joanna.


"Joanna, aku pernah kehilangan Juan sebelumnya dan rasanya menyakitkan. Aku sangat takut kehilangan orang yang ku sayangi. Sekarang aku hanya bisa menunggu waktu sampai benar-benar melihat dua orang itu berjuang bersama di meja operasi. Aku takut terjadi sesuatu lagi, bagaimana jika aku kehilangan salah satunya atau bahkan keduanya. Kenapa bukan aku saja yang jadi pendonor untuk Oskar, kenapa harus William. Dia terlalu banyak melakukan operasi sebelumnya, Joanna!" keluh Louise.


"Louise, jangan terus-terusan menyalahkan dirimu. Ini bukan salahmu, bukan juga keinginanmu. Aku, kau dan kita semua, semuanya akan mati pada waktunya. Hanya tidak tahu kapan dan bagaimana caranya. Aku sangat berharap mereka akan baik-baik saja dan sehat kembali. Tapi tetap saja kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Aku pun juga cemas sama sepertimu. Tapi apa yang bisa kita lakukan selain mencobanya?" kata Joanna.


"Joanna, apa kau tidak takut?" tanya Louise.


"Tentu saja aku takut. Aku sangat takut sama sepertimu. Tapi disampingku selalu dirimu yang membuatku tidak merasa takut lagi. Selain itu, apa boleh kita takut sementara mereka saja tidak takut. Apa boleh kita menunjukkan kesedihan kita dihadapan mereka yang akan berjuang bersama. Mereka saja sangat bersemangat, jadi apa boleh kita mengeluh dan ragu. Louise, jangan menunjukkan wajahmu yang seperti ini dihadapan mereka. Percayalah semuanya pasti akan baik-baik saja. Bahkan jika hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, setidaknya kita pernah mencobanya, kan?" jawab Joanna dengan menyentuh pipi Louise.


Dua orangtua pilihan Oskar itu akhirnya menghabiskan malam mereka dengan minum bersama. Saling menguatkan dan membicarakan banyak hal sampai-sampai tidak menyadari waktu telah berlalu.


Botol kosong itu terus bertambah seiring waktu yang berlalu. Bahkan Joanna menghabiskan lebih banyak wine daripada Louise. Louise masih baik-baik saja, masih waras dan memiliki kesadarannya. Tapi tidak dengan Joanna. Dia sudah setengah mabuk. Tapi kemampuannya melebihi ekspektasi Louise. Setidaknya, Joanna bukan peminum yang buruk seperti William yang akan tumbang hanya dengan beberapa gelas alkohol.


Louise tersenyum, melihat Joanna yang berbicara mulai ngelantur dan itu membuatnya semakin gemas dan tidak bosan melihatnya.


"Louise, aku tidak pandai menghibur. Apa yang bisa kulakukan untuk menghiburmu?" tanya Joanna di sela-sela mabuknya.


"Kau ingin menghiburku?" tanya Louise.


"Eum," jawab Joanna.


"Kenapa?" tanya Louise.


Disaat mabuk, seseorang akan mengatakan semuanya. Mengatakan isi hatinya tanpa ada yang di tutupi. Jadi Louise memilih memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu isi hati Joanna.


"Karena aku tidak suka melihatmu murung dan menyalahkan dirimu sendiri. Kau tahu, kau itu luar biasa. Kau sangat keren, tampan dan aku sangat menyukaimu," jawab Joanna dengan senyum lebar yang dia tebarkan kepada Louise.


"Joanna, apa kau benar-benar menyukaiku?" tanya Louise.


"Eum," jawab Joanna. Diikuti dengan anggukan kepalanya yang bergerak sangat cepat.


"Sungguh?" tanya Louise.


"Kau tidak percaya? Louise, aku ini sangat mengkhawatirkanmu," jawab Joanna.


"Kenapa kau mengkhawatirkan aku?" tanya Louise lagi. Kali ini Louise mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Joanna dari jarak yang lebih dekat lagi.


"Karena aku sangat mencintaimu," jawab Joanna.


"Mencintaiku?" ulang Louise.


"Kau tidak percaya padaku, Louise? Bagaimana caranya aku membuktikan agar kau percaya?" tanya Joanna.


"Kalau begitu cium aku, dengan begitu aku akan percaya," jawab Louise.


"Louise, apa kau mencoba mencuri kesempatan disaat aku mabuk. Kalau iya sepertinya kau harus kecewa. Karena meskipun aku mabuk, aku masih tahu batasan ku. Aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan," tolak Joanna.


"Benarkah?" tanya Louise.


Bukannya menjawab, Joanna malah bangkit. Sedikit terhuyung tapi dengan cekatan Louise menangkap dan membiarkan Joanna terjatuh di pelukannya. Dan sesuatu yang tidak Louise sangka adalah, tanpa dipaksa Joanna berinisiatif mendekatkan wajahnya dan menyambar bibirnya.


"Inikah yang kau bilang kau tahu batasan meskipun kau sedang mabuk barusan?" batin Louise tapi juga sangat senang.


Louise tidak membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja, jadi tanpa berpikir lagi dia membalas ciuman Joanna dengan mesra. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Tanpa di paksa, tanpa dicuri, Joanna memberikan ciumannya secara suka rela meskipun tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Lain kali, aku tidak akan membiarkanmu mabuk tanpa aku agar tidak ada yang mendapatkan ciuman ini darimu," batin Louise.


...***...