
Wanita yang baru tiga hari melahirkan itu berdiri di depan pagar rumahnya. Menunggu Oskar dan beberapa pengawalnya yang belum juga kembali. Memang hanya lima menit saja sejak Oskar keluar. Tapi lima menit terlalu lama hanya untuk ukuran mengambil bola. Joanna mulai takut, terlebih saat tidak melihat sosok Oskar dan pengawal yang dia minta mengambil bola didepan rumahnya.
Kemana mereka. Apa bolanya menggelinding di jalan turunan itu?
Akhirnya, Joanna meminta sebagian besar maid dan pengawalnya berpencar untuk mencari anak itu. Lalu kembali menggeser layar ponselnya untuk menghubungi William.
"Ada apa denganku. Kenapa aku jadi beguni?" tanya Joanna.
Dia hanya ingin menelepon William, tapi tangannya tidak berhenti gemetar. Setelah menata hati dan pikirannya untuk tenang, akhirnya dia berhasil menekan tombol dial.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi William untuk mengangkat teleponnya. Tidak butuh waktu yang lama juga bagi Joanna untuk menceritakan apa yang terjadi secara singkat.
"Kau tunggulah di rumah. Jangan membawa Reagan keluar sembarangan. Aku akan segera kembali!" jawab William.
William yang belum sampai ke tempat tujuannya meminta sopirnya berhenti. Bukan hanya itu, dia juga menarik sopir itu untuk turun dan pindah, lalu segera menggantikan posisinya dan mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Bagaimana bisa dia hilang di depan rumahku sendiri?" umpat William dibarengi dengan menambah kecepatan mobilnya.
"T-tuan, siapa yang hilang?" tanya Okta.
"Oskar. Oskar hilang di depan rumah saat mengambil bola kesayangannya. Cepat hubungi siapapun untuk mencari anak itu di rumah!" kata William.
"Baik, Tuan!"
Okta langsung diam. Lalu langsung menghubungi rekan-rekannya untuk membantu mencari Oskar. Selain itu, dia juga menghubungi tetua dan mengabarkan bahwa mereka tidak jadi pergi.
Sementara itu. Di tempatnya, Joanna mulai lemas. Ingin sekali berlari tapi bagaimana dengan Reagan. Ingin sekali menyusul Oskar tapi jalan lahir miliknya masih tidak memungkinkan untuk itu.
Tapi, bagaimana dengan Oskar. Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Reagan jika dia meninggalkannya untuk mencari Oskar. Seandainya saja dia sehat dan Reagan lebih besar sedikit. Dia pasti akan langsung membawa Reagan bersamanya untuk mencari kakaknya. Lalu kenapa kakaknya belum juga datang. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Kenapa mereka lama sekali?" tanya Joanna.
Tidak berselang lama, seorang pengawal kembali dengan wajah pucat. Melaporkan bahwa mereka bertemu dengan pengawal yang Joanna minta memungut bola, tapi Oskar tidak bersama mereka.
"Apa?" tanya Joanna. Joanna menggigit bibirnya. Hampir menangis karena kesalahannya yang membiarkan Oskar lari tadi.
"Kalian semua, cepat pergi cari anakku!" titah Joanna.
"Semua? T-tapi bagaimana dengan Nona?" tanya salah satu maid.
"Iya, semuanya. Jangan pernah kembali jika tidak menemukan anakku!" ulang Joanna.
Seorang maid senior mematuhi perintah Joanna. Dia menyuruh semuanya pergi. Di rumah itu, sekarang hanya menyisakan Joanna, Reagan satu maid senior dan dua pengawal saja untuk menjaga Joanna.
"Kenapa aku selalu tidak berguna disaat seperti ini. Kenapa aku selalu tidak bisa menjaga anakku dengan benar. Bagaimana bisa dia hilang tepat di depan mataku?" batin Joanna.
Joanna segera menghubungi ayahnya. Memintanya untuk datang dengan membawa banyak pengawal. Tidak hanya itu dia juga menghubungi Louise yang sebenarnya belum tidur sejak kemarin.
"Oskar hilang?" tanya Louise. Pria itu langsung bangkit dari kursinya saking kagetnya.
"Dia ada di depan mataku lima menit yang lalu. Tapi,-"
"Tenangkan dirimu, aku akan segera kesana sekarang!" kata Louise.
Louise segera menutup teleponnya. Meninggalkan semuanya dan bergegas ke rumah William. Tidak lupa dia juga mengabari juniornya yang sekarang menunggu keputusannya.
"Junior, satu anakku hilang. Aku akan menghubungimu lagi nanti," kata Louise via telepon.
Bukan hanya itu, dia juga menghubungi orangtuanya dan mengabarkan bahwa cucunya hilang. Hari itu, akhirnya keluarga Matthew secara terang-terangan mendatangi Bangsawan Timur.
"Awas saja. Jika ternyata seseorang sengaja menculiknya dan melukai anak itu, aku akan mencincangnya sampai mati," geram Louise.
.
.
.
Beberapa menit yang lalu.
Oskar berlari mengejar pengawal yang diminta Joanna mengambil bola. Di persimpangan jalan yamg menurun di sudut jalan itu, pengawal mencari bola milik Oskar di sebelah kiri jalan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Anye.
"Mengambil bolaku," jawab Oskar.
"Bola ini milikmu?" tanya Anye.
"Eum," jawab Oskar.
Anye melihat ke sekitar. Tidak ada siapapun disekitar mereka selain beberapa pengawal yang semakin menjauh.
"Ingin main dengan Bibi?" tanya Anye.
"Tidak mau. Bibi, bisakah memberikan bolanya? Mommy sedang menungguku!" kata Oskar. Oskar menyempatkan diri untuk melihat wajah wanita yang berdiri di hadapannya. Hanya sekali lihat, dia tahu wanita ini jahat. Untuk itulah dia menolak dengan halus tawarannya.
"Apa kau pikir kau bisa menolak?" tanya Anye.
Oskar mulai mundur. Mulai berlari dan berteriak. Tapi pengawal milik Anye sudah terlebih dulu menangkap anak itu dan membungkam mulutnya.
"Apa yang akan kita lakukan pada anak ini, Nona?" tanya pengawal.
"Ada sebuah danau yang jarang kunjungi siapapun tidak jauh dari tempat ini. Karena dia ingin mengambil bolanya, maka paksa dia mengambil bolanya sendiri. Tapi sebelum itu, buang bolanya ke tengah-tengah danau. Aku ingin lihat, bagaimana Joanna itu menangisi kematian anak ini," jawab Anye.
Setelah mengatakan itu, Anye pergi dengan pengikutnya. Membiarkan Oskar dibawa empat pengawalnya yang lain menuju danau bersama dengan bolanya.
Sampai di tepian danau itu Oskar diturunkan. Bola kesayangannya di lemparkan sejauh mungkin. Lalu pengawal memaksanya untuk masuk ke danau.
"Ambil bola itu sekarang!" perintah pengawal dengan kasar.
"Tidak mau!" tolak Oskar.
"Aku bilang ambil!" hardik pengawal yang lainnya.
"Aku bilang tidak mau!" tolak Oskar. Anak itu sangat takut. Tapi tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Tidak ada siapapun di tempat ini.
"Lemparkan saja dia ke danau!" kata pengawal yang lainnya lagi.
Oskar semakin ketakutan. Kemudian memeluk satu kaki pengawal itu sebagai pegangan agar tidar dilemparkan.
"Dasar anak sialan!" hardik pengawal dan tanpa ragu memukul Oskar.
Sakit sudah pasti. Tapi Oskar menahan sakitnya agar pegangannya tidak lepas, "Siapapun, tolong aku!" batin Oskar.
"Daddy, mommy, papi. Siapapun tolong Xiao O. Xiao O sudah meninggalkan tandanya di jalan," batin Oskar.
.
.
.
"Kakak!" teriak Joanna ketika melihat Agria datang.
Agria segera menyambut pelukan Joanna. Kemudian menenangkannya dan menanyakan kronologinya secara singkat. Joanna pun menjelaskannya secara singkat dengan berderai air mata.
"Jangan menaangis lagi," kata Agria kemudian menghapus air mata adiknya dan memeluknya sebentar.
"Kakak, tolong!" pinta Joanna.
"Jose, kakak pasti akan menemukannya dan membawanya kembali untukmu. Percayalah!" kata Agria.
Agria menyempatkan diri untuk mencium adiknya beberapa kali. Lalu tersenyum sebentar sebelum bergegas pergi meninggalkan Joanna untuk mencari anaknya yang hilang.
Di jalanan itu Agria terus berlari. Dia juga terus memanggil nama Oskar di sepanjang langkahnya. Tapi tidak ada sahutan apapun selain suara orang lain yang juga memanggil-manggil nama Oskar.
"Anakku, sebenarnya kau dimana. Bola kesayanganmu menggelinding sejauh apa. Oskar, kau harus baik-baik saja. Karena kalau tidak, Mommy Joanna kesayanganmu akan sangat patah hati. Aku pun juga tidak ingin hidup lagi," batin Agria.
...***...