CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Louise vs Sir Alex



Louise membawa Joanna ke sebuah ruangan besar, tempat dimana tamu-tamu yang tidak mengikuti rapat dari ratusan perusahaan berkumpul. Disinilah tempat favorit mereka bertukar ide, ngobrol bareng atau sekedar ngadem bareng selain kantin.


Begitu pintu terbuka, seluruh pandangan tertuju pada mereka berdua. Suasana berubah menjadi sangat hening. Jika ada jam di dinding sekarang, pasti denting jarum jam yang berputar itu bisa mereka dengar sangking heningnya. Ribuan karyawan dari berbagai perusahaan itu memandang Louise dan Joanna. Kemudian segera berdiri dan menundukkan kepalanya setelah mengenali salah satunya yang tak lain adalah Louise Matthew, Presdir mereka.


"Selamat siang, Presdir!"


"Selamat siang, Nona!" kata mereka bersahutan.


Joanna terpana untuk sejenak, tapi tidak gemetar sedikitpun. Sepertinya dia berhasil mengingat potongan ingatannya lagi. Bahwa dia pernah terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini, ribuan pasang mata memberikan salam dan menyapanya sama persis seperti hari ini.


Dejavu?


Tentu saja.


Karena Joanna adalah salah satu putri terbaik keluarga bangsawan dari Kota Utara, tentu saja dia selalu menjadi pusat perhatian atas parasnya yang luar biasa. Bahkan beredar kabar bahwa dia sudah ditetapkan sebagai calon pengantin dari penerus utama keluarga bangsawan dari kota lainnya tepat setelah dilahirkan. Rumor yang sebenarnya sangat berdasar, karena memang hal itu sudah pernah dibicarakan oleh para tetua. Joanna kecil dan calon suaminya bahkan memiliki sebuah benda yang sama. Hanya saja pernikahan itu batal terealisasikan karena musibah dari pihak calon mempelai pria.


Sebuah musibah yang mengubah alur rencana yang sudah disusun indah. Sebuah musibah yang menyakitkan dari pihak calon mempelai pria itu, tapi sangat disyukuri oleh Sir Alex jauh di dalam hatinya. Karena sebagai seorang ayah, Sir Alex ingin membebaskan putrinya layaknya burung yang terbang di angkasa. Bebas melakukan apa yang dia suka, juga bebas memilih pengantinnya sendiri saat sudah dewasa. Bahkan, meskipun pada akhirnya pilihannya kembali jatuh pada pria yang sudah ditetapkan untuknya.


Joanna, pernah menjadi satu-satunya yang terbaik, terjaga dan paling berbakat diantara putri bangsawan lainnya sebelum sebuah peristiwa kelam mengubah semuanya. Sungguh sayang, bakat yang luar biasa itu tidak pernah dia tunjukkan lagi. Karena tidak ada satupun yang dia ingat setelah dia kehilangan ingatannya.


Bakat itu Joanna lupakan, akibat benturan keras yang diterimanya beberapa tahun silam. Jadi untuk sementara waktu ini, Joanna hanya bisa terlihat sebagai wanita biasa pada umumnya. Terlihat lemah dan mudah ditindas. Tentu saja, itu semua berubah ketika seorang Louise Matthew memilihnya menjadi wanitanya. Karena hanya dengan keberadaannya disisi Louise, Joanna kembali mendapatkan kehormatannya sama seperti waktu itu. Bahkan, jauh lebih bersinar seiring bertambahnya usianya yang kini menginjak 24 tahun.


"Apa ini, Louise?" tanya Joanna tidak mengerti.


Kenapa membawanya ke tempat seperti ini. Dihadapan ribuan orang, menggenggam erat tangannya, bersikap mesra dan mendekatkan wajahnya juga tersenyum padanya. Kira-kira, apa yang sedang ribuan orang itu pikirkan sekarang?


"Aku sedang mengajarimu bagaimana caranya menjadi musuh dari jutaan wanita," jawab Louise sambil berbisik di telinga Joanna dengan senyum lebarnya. Senyuman yang melelehkan hati jutaan umat manusia terutama kaum hawa.


"Apa, katamu?" tanya Joanna dengan nada yang ditekankan.


Benar saja, Joanna baru sadar lautan manusia itu sebenarnya tidak sepenuhnya diam. Tapi juga memperhatikan tangannya dan tangan Louise yang terus berpegangan sejak memasuki gedung.


"Louise, apa kau berencana membunuhku sekarang. Bukankah tadi kau yang bilang, asal aku diam dan merahasiakannya semuanya akan baik-baik saja. Lalu apa sekarang, kau sengaja membawaku kemari dan menunjukkannya di hadapan semua orang. Apa kau tahu, aku akan memiliki musuh sebanyak apa sekarang?" balas Joanna lirih dan penuh penekanan. Tentu saja dengan menyunggingkan senyum manis palsu yang ditujukan kepada ribuan pasang mata yang masih melihat kearahnya.


"Bahkan jika seluruh wanita di dunia menjadi musuhmu, aku akan tetap menyingkirkan semuanya hanya untukmu. Hari ini, aku membawamu kemari untuk menunjukkan pada mereka siapa itu yang disebut sebagai wanitaku. Agar mereka tahu sudah tidak ada harapan untuk mereka, sudah tidak ada lagi sisa-sisa tempat di hatiku karena semuanya sudah terisi penuh hanya dengan keberadaanmu seorang. Hanya dengan begini, mereka tidak akan lagi menggangguku atau mencoba melangkahkan kakinya lebih dekat lagi," jawab Louise tak kalah pelan dengan wajah yang semakin di dekatkan.


Jadi, itulah sebenarnya tujuan Louise. Memperkenalkan wanitanya, Joanna di hadapan semua orang meskipun belum mendapatkan persetujuan dari Joanna.


Setelah beberapa saat berdiam di tempat itu dan memberikan sepatah dua patah kata, Louise kembali menarik Joanna untuk melanjutkan perjalanannya dan kembali mengelilingi tempat-tempat yang lain.


Selama kunjungannya itu Joanna terpaksa terus-terusan tersenyum. Tidak lupa melambaikan tangan dan melontarkan pujian atas kerja keras mereka. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain berpura-pura menjadi wanitanya Louise yang cantik, ramah dan baik hati untuk memberikan citra yang baik di hari pertamanya menginjakkan kaki di gedung ini.


Sementara itu, dua pasang mata sedang memperhatikan mereka sekarang. Memperhatikan Louise dan Joanna dari kejauhan yang terlihat sangat serasi. Bahkan outfit yang mereka kenakan pun seolah merestui. Karena yang mereka kenakan sangat cocok meskipun mereka tidak janjian sebelumnya.


"Pa, kurasa aku kelaparan," kata Rose dari balik tiang besar, juga memeluk tiang besar itu.


"Bukankah kau sudah makan saat istirahat siang tadi?" tanya Jordan tanpa berkedip sedikitpun. Menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh istrinya.


"Tapi kenapa aku melihat anak-anak diantara mereka?" tanya Rose lagi.


"Berapa banyak anak yang kau lihat, Ma?" tanya Jordan.


"Itu dua, Pa!" jawab Rose.


"Ma, sepertinya aku lebih kelaparan darimu," lanjut Jordan


"Kenapa?" tanya Rose.


"Karena aku melihat empat anak yang lainnya selain Oskar," jawab Jordan.


Beberapa saat yang lalu asisten mereka memberi kabar bahwa Louise membawa seorang wanita ke perusahaan. Rose dan Jordan pun bergegas meninggalkan rapatnya untuk melihat pemandangan luar biasa langka sepanjang kehidupannya.


Mereka hampir saja bersorak ketika melihat putranya, Louise Matthew sedang menggandeng seorang wanita. Wanita yang sangat mereka inginkan jadi menantu mereka, Joanna Samantha.


.


.


.


"Seharusnya akting kita sudah cukup kan?" tanya Joanna kemudian melepaskan tangannya ketika mereka berada di dalam lift. Tidak ada siapapun di kotak besi ini, jadi sudah saatnya bagi Joanna untuk mengakhiri sandiwaranya.


"Kenapa?" tanya Louise saat Joanna mencoba melepaskan tangannya. Bukannya membiarkannya lolos, Louise malah menggenggam semakin erat, tidak ingin tangan itu lepas dari penjagaannya. Siapa juga yang sedang berakting, Louise sedang serius kok. Bahkan sudah serius sejak pertemuan pertama mereka.


"Pegel," jawab Joanna asal. Mencari alasan apapun agar Louise melepaskannya.


"Apa kau lelah, aku bisa mengangkatmu jika kau lelah?" tanya Louise.


"Tidak, aku tidak lelah," jawab Joanna dengan cepat. Tidak ingin adegan gendong-gendongan terjadi dan menjadi highlight berikutnya setelah adegan genggam-genggaman yang baru saja mereka lakukan.


Louise diam, dia tahu apa yang Joanna pikirkan. Lalu tersenyum ketika dia menyadari satu hal, bahwa Joanna masih menolaknya entah untuk yang keberapa. Tapi, Louise masih memiliki banyak kesabaran untuk Joanna. Hanya untuk Joanna seorang.


"Louise, apakah aku harus masuk kesemua ruangan yang ada di gedung ini?" tanya Joanna.


"Tidak, hanya tersisa satu lagi. Aku janji ini adalah ruangan yang terakhir," jawab Louise.


"Dimana?" tanya Joanna.


"Kau akan tahu nanti," jawab Louise.


Akhirnya, sampailah mereka di lantai teratas dan untuk pertama kalinya Louise mempersilahkan orang lain selain orangtuanya, William dan Arthur untuk memasuki ruangan kerjanya.


"Masuklah!"


Louise membawa Joanna masuk, kemudian menuntunnya untuk duduk di kursi kebesarannya, "Kau sangat cocok duduk disini," kata Louise memuji.


"Benarkah?" tanya Joanna, kemudian mengubah posisi duduknya dengan posisi yang lebih nyaman. Membiarkan Louise tersingkir dan duduk di meja kerjanya.


"Em," jawab Louise tulus, lalu menggerakkan tangannya untuk memainkan rambut Joanna, "datanglah kapanpun sesuka hatimu saat ada waktu!"


"Kenapa aku harus datang kemari?" tanya Joanna. Rencananya, harusnya ini adalah kali pertama dan terakhir baginya untuk menginjakkan kaki disini.


"Tentu saja untuk memeriksa bawahanmu. Sesekali, kau harus memastikan apakah mereka bekerja dengan baik atau tidak," jawab Louise.


"Louise, yang benar adalah bawahanmu," ralat Joanna. Dia ini kan hanya seorang pemilik toko kue dengan beberapa cabang, bawahannya bahkan tidak lebih dari 100 orang saja.


"Joanna, mulai sekarang apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga. Bawahanku pun juga begitu, mereka juga akan menjadi bawahanmu," kata Louise menjelaskan.


"Ah orang ini, aku selalu tidak tahu harus berkata apa di depannya," batin Joanna.


"Ayo!" kata Louise setelah berdiam diri di ruangan itu sekitar 15 menit.


"Kemana?" tanya Joanna.


"Olahraga?" tanya Joanna memperjelas pendengarannya.


"Em, aku tahu kau tidak akan menyukainya. Jangan cemas, kau hanya perlu diam dan melihatnya nanti. Tapi akan sangat menyenangkan jika kau bisa menikmatinya," jawab Louise.


"Apakah ada olahraga yang bisa dinikmati dengan diam?" tanya Joanna.


"Tentu saja ada. Pokoknya kau hanya perlu melihat, aku yang akan bekerja keras," lanjut Louise.


"Apakah ada olahraga semacam itu?" batin Joanna.


Mereka pun pergi, meninggalkan perusahaan menuju tempat selanjutnya untuk makan siang.


.


.


.


Ditempat yang lain, di Kota Utara.


"Apa?" tanya Sir Alex. Pria paruh baya itu segera bangkit dari duduknya setelah mendapat telepon dari pengawal rahasianya yang dia kirim untuk melindungi putrinya, Joanna.


"Kenapa tuan muda dari keluarga Matthew bisa bersama dengan putriku, bukankah dia sudah mati?" tanya Sir Alex.


"Tuan, yang tutup usia adalah tuan muda kedua. Sedangkan yang saat ini bersama nona adalah tuan muda pertama. Dia baru kembali dari luar negeri satu bulan yang lalu untuk melebarkan bisnisnya di dalam negeri," jelas pengawal.


"Pria itu akhirnya kembali? Apa yang dia lakukan kepada Josephineku, apakah dia mempersulitnya atau semacamnya?" tanya Sir Alex.


"Bukan seperti itu, Tuan. Malah sebaliknya, dia membela Nona," jelas pengawal.


"Membela?" tanya Sir Alex tak percaya.


"Tuan, sepertinya Tuan Muda Matthew memiliki hubungan yang khusus dengan Nona Josephine."


"Hubungan khusus yang bagaimana?" tanya Sir Alex tak percaya.


Pengawal akhirnya menjelaskan secara rinci apa yang baru saja terjadi. Termasuk Joanna yang dibawa pergi oleh Louise saat ini. Tapi melupakan sesuatu yang paling penting, bahwa Louise pernah mengatakan bahwa Joanna adalah calon istrinya.


"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Tuan? Saat ini mereka masuk ke villa. Haruskah kami memaksa masuk, karena kami tidak bisa memastikan keamanan Nona Josephine jika hanya menunggu diluar," tanya pengawal.


"Jangan lakukan. Mereka punya lebih banyak pengawal, terlebih disana adalah areanya. Jangan membuatnya marah apalagi menyinggungnya. Lagipula, karena pria itu sudah melindungi putriku sebelumnya, seharusnya putriku akan baik-baik saja."


"Baiklah, Tuan! Kami akan menunggu di luar sampai Nona keluar," kata pengawal kemudian menutup teleponnya.


Sir Alex panik. Tidak habis pikir kenapa Josephine kecilnya bisa berhubungan dengan tuan muda dari keluarga Matthew. Sir Alex mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Berpikir sejenak untuk memutuskan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Membiarkan Josephine seperti ini atau memisahkan mereka.


GLEK.


Memisahkan?


Apakah itu mungkin?


Tidak masalah jika prianya adalah orang lain. Tapi kali ini adalah Louise Matthew, itu diluar kemampuan Sir Alex meskipun dia punya kekuasaan yang cukup besar di Kota Utara.


Sir Alex masih terus berpikir bagaimana baiknya, dan teleponnya kembali berdering. Itu adalah telepon dari orang yang sama, pengawal rahasia yang dia kirim untuk putrinya.


"Ada apa lagi?" tanya Sir Alex tidak sabar. Tidak mungkin ada kabar buruk dalam waktu sesingkat ini kan?


"Tuan, kepala pelayan Tuan Muda Louise mengundang kami untuk masuk. Dia bilang Tuan Muda Louise ingin mengucapkan terimakasih karena kami telah melindungi Nona tadi siang," lapor pengawal.


"Darimana dia tahu kalian mengikutinya secara diam-diam?" tanya Sir Alex.


"Kami juga tidak tahu, Tuan!" jawab pengawal tak kalah kaget. Seingatnya mereka sudah berhati-hati agar tidak ketahuan.


"Kalau begitu masuk saja. Karena itu adalah keluarga Matthew, kita hanya bisa menunduk dan memenuhi keinginannya. Jika dia bertanya kalian siapa, katakan saja kalian hanya dikirim seseorang untuk memastikan Josephine baik-baik saja. Selebihnya, jangan menceritakan apapun dan jangan sampai mengungkapkan identitasnya yang sesungguhnya!" perintah Sir Alex.


"Baik, Tuan!"


"Tunggu!" cegah Sir Alex.


"Iya, Tuan?"


"Apakah, pria itu terlihat menyukai putriku?" tanya Sir Alex gugup. Sangat gugup melebihi gugupnya saat dia melewati hari pernikahannya dulu.


"Tuan, maaf aku lupa bilang. Sebenarnya, tadi siang tuan muda itu menyebut nona dengan panggilan sayang. Lalu, masih mengatakan bahwa nona adalah calon istrinya di depan semua orang," jawab pengawal.


"A-apa yang kau katakan, calon istri? Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Sir Alex.


Pria tua itu mondar-mandir. Dia tahu dia akan menjadi sangat sibuk setelah putrinya mengubah penampilannya. Tapi kenapa secepat ini, dan kenapa harus Louise Matthew. Karena jika itu dia, Sir Alex tidak bisa menembus lapisan pengawal milik Louise yang berlapis-lapis seperti kue lapis itu. Jika begini, bagaimana caranya melindungi putri tersayangnya? Terlebih, Josephine kesayangannya berada di kandang buaya sekarang. Bagaimana kalau Louise itu memakannya. Apa yang akan dia katakan pada mendiang istrinya di akhirat nanti?


"Tuan, saya juga tidak tahu," jawab pengawal.


"Baiklah, jika kau bertemu dengannya nanti, tolong katakan padanya untuk tidak menyakiti putri kesayanganku," kata Sir Alex. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain pasrah. Terlebih, mengingat bahwa putrinya yang secara sukarela menemuinya. Bukan karena Louise yang memaksanya.


"Apa maksudnya, Tuan?" tanya pengawal tidak mengerti.


"Tuan Muda Matthew, tolong lembut sedikit kepada Nona jika ingin melakukannya. Jangan sampai melukainya atau membuatnya lecet sedikitpun. Hanya katakan seperti itu jika ada kesempatan!" titah Sir Alex.


"Melakukan apa, Tuan?" tanya pengawal tak mengerti.


"Pokoknya hanya katakan seperti itu. Louise itu pasti tahu maksudku," jawab Sir Alex.


"Baik, Tuan!" kata pengawal kemudian menutup teleponnya.


"Anda terlihat sangat cemas, Tuan!" tanya seorang pelayan setia Sir Alex yang sejak tadi menemaninya, Adam.


"Bagaimana aku tidak cemas, bagaimana jika Louise itu menyentuh Josephineku yang berharga?" jawab Sir Alex.


"Kalau iya, maka seorang bayi akan lahir dan Anda akan menjadi seorang kakek seutuhnya," jawab pelayan itu dengan senyuman bahagia.


"Apa yang kau katakan, putriku itu masih terlalu kecil. Bagaimana bisa dia melahirkan seorang bayi?" tanya Sir Alex.


"Tuan, Nona Jose sudah berumur 24 tahun saat ini. Dia bukan anak kecil lagi, terlebih bukankah dia juga sudah memiliki Oskar?" kata pengawal mengingatkan.


"Tapi, di mataku anak itu akan tetap kecil sampai kapanpun juga."


"Tuan, kenapa Anda sangat kekanak-kanakan sekarang?" keluh Adam dengan menggelengkan kepala.


...***...