
Jose akhirnya tersadar setelah sempat pingsan. Seorang dokter lapas yang sedang berjaga segera memeriksa untuk memastikan kondisinya. Jose patuh saja ketika dokter memintanya membuka mata dan mulutnya untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.
Sepertinya Jose sudah kembali sehat, terlihat dari dua orang sipir yang langsung datang untuk menjemputnya dalam waktu yang singkat. Membawanya kembali ke sel tahanan dan menguncinya di dalam. Di dalam ruangan dengan salah satu sisi dinding berjeruji besi itu, Jose duduk bersandar. Memejamkan matanya dan memikirkan apa yang dialaminya hari ini.
Jose mengangkat tangannya, menutup wajahnya dengan telapak tangan itu sebelum menyadari ada aroma yang tidak asing untuknya. Ditangannya, rupanya masih tertinggal sisa-sisa harum Oskar. Jose merapatkan giginya. Dalam hatinya mengutuk, sampai matipun dia tidak rela diperlakukan seperti ini.
"Mungkinkah Louise sudah tahu sejak awal bahwa Oskar adalah anaknya?" batin Jose. Untuk itulah dia sengaja mendekat dan mengambil kesempatan untuk mengakrabkan diri dengan Oskar. Sebelum akhirnya mengambil Oskar sepenuhnya dari pelukannya, bukankah seperti itu?
Jose tertawa seperti orang gila. Membenturkan kepalanya di dinding beberapa kali meskipun sangat pelan. Menyadari betapa bodohnya dia selama ini. Merawat seorang anak dengan sepenuh hatinya, membesarkannya dengan seluruh cinta yang dia miliki. Masih harus menerima begitu banyak cemoohan dan hinaan dari orang-orang karena memiliki seorang anak tanpa seorang ayah. Dan setelah semua kesulitan itu, tiba-tiba sang pemilik mengambilnya secara paksa.
Jose tertawa.
Mengingat betapa polosnya dia yang percaya dengan apa itu cinta yang Louise tawarkan. Itu bukan cinta. Louise hanya berbuat baik kepadanya, perhatian dan menyayangi Oskar karena Oskar adalah anaknya sendiri. Bukan menyayangi anak itu sebagai anaknya Joanna. Jika Louise bersikap baik kepadanya, mungkin karena dia hanya ingin mengucapkan semacam ucapan terimakasih karena telah membesarkan Oskar selama ini. Bukan untuk dirinya, apalagi karena mencintainya. Kata-kata tentang pernikahan, itu hanyalah pemanis bibir untuk mendapatkan sesuatu darinya.
Sekarang Jose akhirnya tahu, kenapa Louise begitu mati-matian mencari pendonor yang cocok untuk Oskar. Bukan untuk menyelamatkan nyawa anaknya Joanna tapi menyelamatkan nyawa anaknya sendiri bersama Agria. Sungguh, Jose sangat merutuki kebodohan dirinya yang telah dipermainkan oleh cinta. Cintanya yang sempat mekar untuk Louise yang terhormat.
Jose, dia memandang terlalu tinggi dirinya sendiri. Jose sangat percaya diri dengan wajahnya tapi apakah mungkin seorang pria seperti Louise mau menerimanya saat masih menjadi Joanna yang punya anak. Tentu tidak mungkin. Kecuali karena satu alasan yang pasti bahwa Louise sudah tahu siapa Oskar sebenarnya.
"Louise, apa kau benar-benar seperti itu, brengsek dan sialan seperti itu. Jika iya, maka tunggulah. Aku, bisa saja membunuhmu dengan tanganku sendiri," batin Jose.
Kini, Jose tersenyum setelah menyadari bahwa dirinya layaknya wanita murahan di mata Louise. Membawanya ke hadapan semua orang yang membuat jutaan wanita iri dengannya. Menggandeng tangannya, memamerkan kemesraan di hadapan semua orang. Masih mencium, memeluk dan merayunya dikala hanya berdua. Sungguh, Jose tidak menyangka bahwa dirinya semurah itu dihadapan pria itu.
Apa itu cinta?
Masihkah kau memuja cinta setelah mendapatkan pengkhianatan atasnya.
"Cih!" Sekali lagi Joanna mendesis, karena menyadari bahwa dirinya telah sepenuhnya kalah. Kalah dari Louise yang mempermainkan perasaannya dengan sangat luar biasa. Kalah dengan Agria yang menitipkan dan mengambil Oskar dari tangannya sesuka hatinya.
"Kalian berdua benar-benar brengsek!" umpat Jose tanpa mengecilkan suaranya.
Beberapa penghuni sel mendengar umpatan Jose. Mereka menghentikan aktivitasnya dan saling berpandangan. Mereka berdiri dalam waktu yang hampir bersamaan, mulai mendekati Jose dengan tatapan yang tidak ramah. Salah satu diantara mereka bahkan berkacak pinggang sambil memainkan tusuk gigi di sela-sela giginya yang menguning.
"Apa ada masalah?" tanya Jose santai. Masih duduk dengan tenang tanpa menyambut 'seniornya' di tahanan. Jose sempat tersenyum, tapi memancarkan tatapan layaknya milik dewa kematian. Sepertinya, Jose tidak takut dengan sekumpulan tahanan itu.
"Hei, anak baru. Apa kau baru saja mengolok kami?" tanya salah satu tahanan berperawakan gendut dengan suara keras. Mereka pikir, Jose akan menggigil karena takut atas gertakan mereka. Tapi sepertinya mereka harus gigit jari karena dugaan mereka meleset.
"Apa kalian tuli?" tanya Jose.
Jawaban itu seketika membuat tahanan gendut itu emosi dan menendang Jose. Membuat Jose yang masih duduk bersandar mulai marah. Jose melirik, membersihkan bagian tubuhnya yang kotor karena tendangan itu. Kemudian kembali menatap wanita gendut yang menendangnya.
"Baiklah, karena kalian yang memulai duluan. Maka aku tidak akan sungkan."
Lagi-lagi Jose tersenyum, tersenyum dengan sangat singkat karena sepersekian detik kemudian sudah mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat datar. Kemudian dengan sangat keras menendang tulang kering milik wanita gendut yang masih berdiri di depannya.
Wanita gendut itu tersungkur, menjerit kesakitan dan berguling-guling di lantai. Beberapa tahanan lainnya mundur, memberikannya ruang yang lebih banyak untuk tubuhnya yang besar. Sementara Jose masih duduk ditempatnya dengan tenang, menyangga dagunya seolah tak terjadi apa-apa. Malahan, sepertinya dia sangat menikmati pemandangan yang ada di depannya.
"Hei, jaga ucapanmu. Aku ini, berbeda dengan kalian."
"Apa kau pikir dirimu berbeda dengan kami?"
"Tentu saja. Aku ini bukan penjahat, mereka hanya terlalu bodoh sehingga salah tangkap. Penjahat yang sesungguhnya, akan segera menggantikan posisiku sekarang. Kalau kalian ingin memukul, pukul saja dia nanti."
"Hei, anak baru. Kau terlalu banyak bicara. Cepatlah meminta maaf sebelum kami marah," tegur seorang tahanan lainnya. Wanita itu sudah sangat emosi dan menyingsingkan lengan bajunya sehingga memperlihatkan timbunan lemak di tangannya.
"Kurasa tidurmu terlalu miring. Aku, minta maaf pada kalian? Jangan mimpi!" jawab Jose tegas.
"Kau, kurang ajar. Aku akan memberimu pelajaran!" Wanita itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bersiap memberikan pelajaran pada Jose dengan menamparnya. Tapi, Jose berhasil menahan pukulan itu dengan mudah.
Melawan beberapa pria tanpa menggunakan senjata, Jose memang tidak akan sanggup karena sudah pasti dia kalah tenaga. Tapi melawan satu wanita seperti yang ada dihadapannya saat ini, itu bukanlah perkara sulit. Karena sebagai seorang wanita, Jose memiliki ketangguhan diatas rata-rata. Terlebih dia bukan lagi Joanna yang lemah lembut dan gemulai itu.
"Lepaskan tanganku!" teriak wanita itu begitu menyadari Jose tidak melepaskan tangannya. Malahan semakin menggenggamnya dengan kuat.
"Kau pikir aku bodoh. Melepaskan tanganmu setelah kau berusaha memukulku. Seekor semut bahkan akan menggigit dan melawan saat terinjak," kata Jose tanpa takut sedikitpun.
Sepertinya, sakit hati karena kehilangan Oskar membuatnya menjadi kuat. Dan sakit hati karena patah hati membuatnya menjadi semakin kejam.
"Apa mau mu?" tanya wanita itu mulai takut.
"Mau ku, mematahkan tangan kotor mu yang berani menyentuhku," jawab Jose ringan.
Tanpa menunggu lebih lama, Jose benar-benar mematahkan tangan yang ada digenggamnya. Suara tulang patah itu muncul bersamaan dengan teriakkan yang memekakkan telinga dari wanita pemilik tangan. Dia jatuh tersungkur, masih terus berteriak karena sakit yang luar biasa.
Tahanan lain mulai menjauh, takut akan menjadi korban berikutnya. Dua orang sipir segera menghampiri sel begitu mendengar teriakkan. Tapi tidak melakukan apa-apa karena mereka bahkan tidak berani menatap mata Jose yang sudah kembali duduk tenang. Lalu pergi begitu saja membawa wanita yang tulangnya patah untuk mendapatkan perawatan dan membiarkan petugas pria mengurus Jose.
Karena membuat tahanan lain cidera, Jose terpaksa dipindahkan ke sel yang lain. Tidak ada siapapun disana selain dirinya sendiri. Ini lebih menyenangkan, karena tidak akan ada lagi seseorang yang mengganggunya.
Jose merebahkan dirinya di ubin yang dingin. Meringkuk di sel tahanan menghadap ke tembok. Dia bahagia, karena bisa mengingat kembali semuanya. Tapi juga bersedih karena terlalu khawatir dengan Oskar. Meskipun begitu, Jose enggan meneteskan air mata.
Menangis untuk apa?
Menangis lagi tidak akan membawa Oskar kembali. Menangis lagi hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan. Jose memilih untuk berpikir, berpikir apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Jose, dia sangat menyukai Oskar. Tapi, masalahnya adalah sekarang dia tidak tahu. Apakah dia masih memiliki perasaan yang sama setelah dia tahu siapa ayah dan ibunya. Lalu, apakah Oskar juga masih menganggapnya sebagai ibunya?
Jose mengangkat tangannya, menutupi wajahnya dari cahaya yang masuk melalui ventilasi udara. Membuka dan menutup jari-jarinya tanpa tahu apa tujuannya. Jose menikmati saat-saat ini. Saat-saat menyedihkan yang entah ke berapa kali dalam hidupnya.
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki semakin mendekat. Jose enggan menoleh tapi dia mendengar pintu sel kembali di buka.
"Nona Joanna, keluarlah. Kau telah dibebaskan!"
...***...