
"Cepatlah bangun dan mandi!" pinta William.
William segera memakai kemejanya, juga memakai celana panjangnya di hadapan Joanna tanpa rasa malu. Malu untuk apa, toh Joanna sudah mengorat-aritnya semalam meskipun sekarang sepertinya sudah terlupakan.
"Kau mau kemana?" tanya Joanna ketika melihat William sudah mengenakan pakaiannya dengan rapi.
"Tentu saja pergi kerja, apa lagi?" jawab William.
"Kerja, secepat itukah?" tanya Joanna.
Mereka itu pengantin baru, kenapa William meninggalkan Joanna begitu cepat. Setidaknya, bukankah harusnya ada acara bulan madu. Lupakan soal malam pertamanya, karena yang diinginkan Joanna hanya jalan-jalannya saja.
William yang sedang mengaitkan kancing di lengannya berbalik dan melihat Joanna, "Iya, mulai hari ini aku akan bekerja lebih keras karena sudah memiliki seorang istri yang harus ku hidupi," lanjutnya dengan senyum manis yang menawan.
"O-oh begitu?" respon Joanna canggung.
Entah senyuman William yang terlalu menawan atau kalimatnya yang terlihat sangat bertanggungjawab tapi itu sangat sukses membuat Joanna salah tingkah.
"Kenapa, apa kau tak ingin aku pergi?" tanya William.
"Bukannya begitu, tapi apa yang harus kulakukan selama kau tak ada?"
"Bangun, mandi dan menunggu suamimu pulang kerumah," jawab William.
"Will, apa kau tak ingin pergi besok saja?" tanya Joanna.
"Tidak bisa!" tolak William.
"Will!"
"Joanna, tidak ada gunanya aku tinggal lebih lama disini. Apa kau ingin membuatku menderita karena hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuhmu?" tanya William berterus terang.
"Will, please!" tahan Joanna. Bukannya apa-apa, tapi disini adalah tempat yang mengerikan.
"Joanna, please! Aku tahu kau cantik, tapi jangan menggunakan wajahmu itu untuk menahanku atau aku bisa khilaf kapan saja okey?" tolak William.
"Apakah kau baru memujiku cantik. Lalu apa yang kau bicarakan tentang khilaf?" tanya Joanna.
"Tidak, aku hanya salah bicara. Kau sangat jelek dan aku tidak akan mungkin khilaf padamu," jawab William.
William memukul kepala Joanna dengan sangat pelan tanpa membuat Joanna terluka sedikitpun. Kemudian dengan cekatan mengambil jas dan memakainya.
"Nikmati saja hari-harimu sebagai ratu disini. Aku, Louise dan Arthur akan memikirkan rencana selanjutnya agar ini segera berakhir" ujar William sebelum pergi dan menutup pintu.
Selepas kepergian William, Joanna bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Hari ini dan beberapa waktu yang akan datang, Joanna hanya akan menjalani hari-harinya sebagai istri William dan hanya berdiam diri dirumah.
Setelah beberapa menit, Joanna keluar dan mendengar seseorang mengetuk pintu. Joanna mempersilahkannya masuk, karena orang itu adalah pelayan yang akan mengganti sprei miliknya.
.
.
.
William berjalan keruangannya dengan santai. Orang-orang yang melihatnya menyapanya dengan ramah seperti biasa meskipun sedikit berbisik setelah William tak lagi terlihat.
"Lihatlah, aura pengantin baru memang beda ya?"
"Tapi bagaimana dengan Presdir Louise, apakah dia baik-baik saja melihat kekasihnya menikah dengan adiknya?"
"Entahlah, semoga saja tidak ada kekacauan di Matthews Group ini atau kita akan menjadi gelandangan."
William terus saja berjalan menuju ruangannya. Lalu melihat wajahnya sendiri dari cermin, "Aura apa yang mereka lihat?"
William tidak menemukan keanehan dalam dirinya, dirinya masih sama seperti biasanya. Jika ada yang berbeda, mungkin hanyalah keberadaan cincin pernikahan yang melingkar di jarinya dan tanda merah peninggalan Joanna di perutnya.
William tersenyum, menyangga dagunya dan melihat cincin itu dengan teliti. Kenapa dia merasa bahagia?
Berbicara tentang bahagia, sebenarnya ada hal lain yang membuat William bahagia, yaitu karena dirinya berhasil melewati malam yang menakutkan meskipun dia harus melakukan hal yang sangat kurang ajar. Untung saja dia bisa bertahan disaat paling genting.
William masih tidak menyangka akan melewati hari-hari seperti sekarang ini. Sedikit ngeri membayangkan apa yang akan menimpanya jika dia khilaf terlalu jauh.
Tapi anehnya, meskipun hanya semalam, kenapa dia sudah merasa lebih dekat dengan Joanna? Joanna yang dulu hanya dia lihat sekedarnya saja. Joanna yang keberadaannya dulu tertutupi secara sempurna oleh keberadaan Marissa.
"Louise, makan saja apa yang disebut cinta. Cinta tak menjamin kau bisa memilikinya seperti aku memilikinya bukan? Tapi aku, meskipun aku menikah dengannya tapi bukan dia yang kuinginkan," keluh William.
"Astaga, apa sih yang aku pikirkan. Ini kan hanya sementara, karena setelah ini semua berakhir aku tetap akan menikahi Marissa, dan Louise akan menikahi Joanna," batin William meralat keluhannya.
William masih termenung melihat cincin pernikahannya dengan menyangga dagunya. Tapi sekelebat bayangan muncul saat dia melihat jari-jarinya.
DEG.
Tiba-tiba jantung William berdetak lebih kencang dan tak karuan.
"Sialan!" lagi-lagi William mengumpat.
William menelungkupkan wajahnya di meja, memukul-mukul meja dan menutup wajahnya yang memerah karena mengingat kejahatan tak terampuni yang dia dan Joanna lakukan semalam.
William menelan ludahnya dengan kasar saat dia mengingat dengan jelas bagaimana berantakannya Joanna. Tubuh itu William juga sudah melihatnya. Dia juga ingat bagaimana teriakan histeris yang keluar dari mulut Joanna setelah wanita itu membimbing tangannya menyenangkannya.
"Joanna, kau benar-benar seperti setan. Kenapa membuat tanganku yang bersih ini kembali ternoda. Kenapa bisa begini, aku sangat pusing sekarang. Tidak akan ada yang tahu tentang ini selain diriku kan?" ujar William sedikit gelisah, "Sudahlah, anggap saja kemarin itu rejeki yang tak bisa ditolak," ujar William lagi mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Sekali lagi, William melihat jari-jarinya dengan tatapan sinis, sepertinya jarinya lebih beruntung daripada juniornya.
"Ngomong-ngomong sepertinya kau masih perawan. Aku harus berhati-hati lain kali. Tapi, jika benda sekecil ini bisa membuatmu terbang ke awang-awang, bagaimana dengan yang lebih besar. Aku tidak bisa membayangkannya, mungkin saja lebih menyenangkan bukan?" gumamnya pelan sambil membayangkan Joanna yang terkapar seperti kemarin.
Lagi-lagi William memukul kepalanya sendiri, mencoba membawa pikirannya yang sesat kembali ke jalan yang benar. Tapi pukulan di kepalanya tidak meredakan tingkat kehaluannya yang sudah another level. Yang William rasakan kini malah celananya yang awalnya longgar menjadi semakin sesak. Sepertinya ada yang terbangun hanya karena dia memikirkan Joanna. Kenapa Joanna bisa sehebat ini, dia hanya memikirkannya sebentar tapi kenapa ada sesuatu yang mulai memberontak?
"Aku bisa segera mati jika setiap hari terus begini," keluh William.
"Kenapa kau bisa mati?" tanya seseorang yang kini sudah berdiri di hadapannya.
William tidak sadar kapan orang brengsek ini datang. Tanpa banyak bicara William segera bangkit dan melayangkan bogem mentah ke wajahnya, tapi bisa ditepis dengan mudah.
"Kau brengsek!" umpat William. Entah umpatan yang keberapa.
"Will, apa begini sikapmu setelah menikah. Ngomong-ngomong bagaimana dengan malam pertama kalian?" ejek orang itu lagi.
"Louise, apa kau sedang mengejekku?" tanya William sambil melepaskan tangannya dari genggaman Louise.
Iya, orang yang berdiri di hadapannya adalah Louise. Pria yang mengantarkan wanita yang dicintainya menjadi istri sah William.
Louise tertawa, dia tidak tahu apa yang membuat William sampai marah begini. Dan lagi, kenapa dia begitu cepat bekerja?
Louise memperhatikan William, dia bisa melihat bekas luka di dahi William yang sepertinya luka baru. Entah siapa yang melakukannya.
"Louise, cepat pikirkan sebuah cara!" perintah William.
"Cara apa?" tanya Louise tak mengerti.
"Tentu saja cara untuk segera mengakhiri semua ini," jawab William.
"Mengakhiri kepalamu, kalian baru menikah kemarin."
"Tapi aku bisa segera mati jika terus bersama Joanna," jawab William keceplosan.
Louise menatapnya dengan tajam, menelisik arti dari kalimat William.
"Will, apa maksudmu. Kau tidak menyentuhnya bukan?" tanya Louise dengan nada mengintimidasi.
William merasakan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, jadi dia mulai menceritakan kejadian yang menimpanya semalam. Mulai dari adanya aromaterapi pembangkit gairah. Tentu saja dengan memotong bagian dimana Joanna menyerangnya dengan ciuman.
"Terimakasih, Will. Karena kau tidak melakukannya," kata Louise.
"Kenapa dua sejoli ini sangat idiot?" Batin Will.
Seharusnya Louise merah atau apalah, bukannya berterimakasih. Dia memang tidak melakukannya pada Joanna tapi dia membantunya menghilangkan efek dari aromaterapi itu dengan cara yang unik. Tapi ya sudahlah. Biarkan saja dua orang idiot itu seperti itu.
"Carilah cara agar semua ini cepat selesai!" pinta William.
"Apa kau setuju aku menggunakan cara apapun?" tanya Louise.
"Aku setuju," jawab William.
"Kalau begitu baiklah," jawab Louise.
...***...