
"Jadi bagaimana, Dokter?" tanya Louise.
"Selamat, bayi Anda berjenis kelamin laki-laki," jawab Dokter.
"Apa ... laki-laki?" tanya Louise dengan mata lebar.
"Benar, bayi Anda berjenis kelamin laki-laki dan sangat sehat. Tidak ada masalah apapun dari hasil pemeriksaan menyeluruh," jawab Dokter.
Wajah Louise langsung berpaling, melihat Joanna yang berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.
"Dia pasti mengejekku di dalam hatinya," batin Louise curiga.
Louise sedikit loyo, padahal dia sangat berharap bayi yang ada di perut Joanna itu berjenis kelamin perempuan agar Joanna punya saingan dirumahnya kelak. Enak saja, bagaimana bisa di rumah yang besar itu dia yang paling cantik sendirian. Ini sangat tidak adil.
"Dokter, kenapa calon anakku bukan perempuan?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar tanpa terkontrol.
"Apa?" Kini gantian Dokter itu yang melebarkan matanya.
Apa terjadi lagi, kenapa pasiennya selalu saja aneh-aneh. Ada yang diberi laki-laki minta perempuan. Ada yang diberi perempuan mintanya laki-laki. Memangnya jenis kelamin itu Dokter yang menentukan, kenapa dia yang di protes?
"Dokter?"
"Pak, saya hanya Dokter yang memeriksa jenis kelaminnya. Selebihnya Tuhan yang menentukan," lanjut Dokter.
Joanna tersenyum. Dia bisa melihat ada semburat kekecewaan di wajah Louise. Dia pun segera memegang tangan Louise untuk memenangkannya, "Apa kau tidak senang calon anak kita laki-laki?" tanya Joanna.
"Joanna, kenapa kau bertanya begitu di depan Dokter. Dokter bisa mengira aku ini calon ayah yang jahat tahu?" jawab Louise.
"Lalu kenapa mukamu begitu?" tanya Joanna.
"Ehm, itu karena bertambah lagi satu sainganku. Lihatlah, dirumah kita sudah ada aku, ada Oskar, lalu masih ada anak ini. Joanna, kau pasti sengaja kan. Kau pasti selalu berdoa agar anak ini laki-laki kan. Kau hanya ingin di kelilingi banyak pria tampan dan membiarkan aku dan Oskar hanya memuja satu wanita cantik dan orang itu dirimu kan?" jawab Louise panjang.
Jawaban Louise langsung membuat Joanna dan Dokter saling berpandangan kemudian tertawa ringan. Dokter itu bahkan hanya bisa geleng-geleng kepala karena alasan konyol dari kliennya.
"Dokter, terimakasih! Kalau begitu kami permisi," pamit Joanna sopan.
"Sama-sama, tolong jaga kesehatan Anda. Semoga semuanya lancar sampai hari persalinan," kata Dokter.
Sepasang calon orangtua itu segera bangkit. Joanna terlihat tenang-tenang saja, tapi Louise sepertinya masih sedikit ngambek. Melihat itu, Joanna hanya bisa memberikan hiburan untuknya.
Tangannya meraih leher itu dan menciumnya, "Louise, lain kali kau bisa membuat lagi yang perempuan kan. Apa perlu memasang wajah begini. Lihatlah, kau sama persis seperti Oskar sekarang."
Louise tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Tentu saja aku akan membuatnya lagi nanti. Oh iya Joanna, aku ingin melihat calon anak kita nanti, apa boleh?"
"Louise, jangan berbicara sembarangan. Kau bisa melukainya," jawab Joanna.
"Joanna, apa kau tidak tahu. Ibu hamil harus sering-sering melakukannya terlebih saat hamil besar," kata Louise.
"Oh, benarkah. Bukankah itu hanya alasanmu?" tanya Joanna.
"Joanna, aku serius. Aku mendengar seseorang perah mengatakan ini. Jadi aku akan lebih sering menemui untuk ini," jawab Louise.
"Apa kau mau membunuhku?" tanya Joanna.
"Hei, jangan berbicara seperti itu. Hanya ini yang ku bisa untuk membantumu. Mereka bilang dengan sering melakukannya saat kau hamil besar itu bisa mempermudah jalannya. Kau akan melahirkan sangat lancar karena bantuanku," jawab Louise
"Terserah kau saja," kata Joanna kemudian segera menemui keluarganya di ruang tunggu.
.
.
.
"Bagaimana?" tanya Nenek Anne antusias.
"It's a boy, Oma!" jawab Louise.
"Boy?" tanya ketiganya serempak.
"Iya," jawab Joanna.
"Pa, kita punya jagoan lagi!" pekik Rose senang.
"Papa bisa bermain sepakbola dengannya nanti!" kata Jordan girang.
Di tengah-tengah kegembiraan mereka. Kini Joanna yang mulai pusing. Bagaimana dengan tumpukan baju bayi perempuan yang sudah mereka siapkan itu.
"Ma, bagaimana dengan baju bayi perempuannya?" tanya Joanna.
"Bisakah membelinya nanti saja?" pinta Joanna.
"Baiklah," jawab Rose kemudian tertawa sembari mengelus perut itu.
Terkadang, Joanna tidak habis pikir. Hanya memeriksakan jenis kelamin saja kenapa semuanya harus ikut. Setelah bercakap-cakap sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Belum juga melangkahkan kaki lebih jauh, mereka melihat William dan Marissa berjalan mengikuti ranjang pasien yang sedang di dorong oleh beberapa suster.
Tidak hanya William dan Marissa, tapi juga ada Arthur yang terus berjalan di samping ranjang berjalan itu.
"Bukankah itu Arthur. Ada apa kira-kira?" tanya Rose panik.
"Ayo, kesana!" ajak Jordan.
Mereka segera mengejar ranjang itu. Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di depan ruangan bersalin. Arthur masuk karena dia harus menemani Alexa. Sementara William dan Marissa hanya bisa menunggu diluar.
"William?" panggil Rose.
Marissa dan William menoleh saat kemudian menyambut rombongan Louise.
"Kenapa kalian bisa bersama mereka?" tanya Louise.
"Alexa menelepon Marissa sebelumnya. Lalu kami kesana, dan tidak lama setelahnya Alexa mengalami kontraksi," jawab William.
"Apa Alexa sudah akan melahirkan?" tanya Joanna.
"Eum, seharusnya sebentar lagi," jawab Marissa.
Disaat mereka sibuk bercakap-cakap, seorang Dokter masuk ke ruangan itu. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas, terlebih Joanna. Bukan dia yang melahirkan, tapi dia sudah sangat berkeringat sekarang.
Terlebih saat dari tempatnya berdiri terdengar bagaimana ributnya suasana di dalam. Suara Alexa yang mengejan itu pun Joanna juga mendengarnya. Entah kenapa nyalinya tiba-tiba menciut. Ini membuatnya takut. Apa melahirkan selalu sangat menyakitkan?
"Marissa, kau sudah pernah melahirkan sebelumnya. B-bagaimana rasanya?" tanya Joanna.
"Rasanya?" ulang Marissa.
"Apa itu sangat sakit?" tanya Joanna.
Marissa melihat Joanna dengan melongo. Yang namanya melahirkan tentu saja sakit. Kenapa dia masih bertanya hal ini?
"Tentu saja sakit," jawab Marissa.
William yang bisa mendengar pertanyaan Joanna hanya bisa mengangkat satu alisnya,
"Jo, apa kau takut?" tanya William.
Semua orang melihat kearah Joanna yang semakin pucat dan menertawakannya.
"Jangan takut. Memang rasanya sakit, tapi saat anak itu lahir semua sakitnya akan hilang," hibur Rose.
Satu bujukan dari Rose bisa membuat Joanna kembali sedikit tenang. Tapi itu hanya sesaat, karena saat ini lagi-lagi Joanna mendengar suara Alexa yang mengejan semakin keras dan sepertinya sangat kesakitan.
"Louise?" panggil Joanna.
Joanna langsung memegangi tangan Louise. Lalu mengetuk-ngetukkan jarinya disana pertanda bahwa dia sedang panik.
"Kenapa, hm?" tanya Louise.
"A-aku, aku tiba-tiba tidak ingin melahirkan. Bagaimana ini?" tanya Joanna tanpa mengecilkan suaranya.
Louise hanya diam tidak bergerak. Sementara yang lainnya melihatnya dengan senyum yang mereka tahan. Lalu William, dengan super julid langsung menanggapi ucapan Joanna barusan.
"Jo, masalahnya anakmu itu sudah di perutmu sekarang. Kalau kau tidak ingin melahirkannya lalu bagaimana?" tanya William.
"Louise, pikirkan sebuah cara. Aku sangat takut!" rengek Joanna.
Wanita itupun segera memeluk Louise. Berharap ayah dari anaknya punya cara untuk memiliki anak tanpa melahirkan.
"Jangan takut, apa yang membuatmu takut hm?" tanya Louise dengan mencium pucuk rambutnya.
"Louise, bagaimana kalau kepala bayi kita merobek jalan lahirnya dengan kasar?" tanya Joanna.
"Kalau begitu operasi saja agar jalan lahir itu tidak robek," jawab Louise santai.
Joanna diam. Benar, jalan lahirnya memang tidak akan robek. Tapi ganti perutnya yang akan dirobek.
...***...