
Louise meninggalkan perusahaan dengan mood yang buruk. Sangat buruk terlihat dari langkah kaki dan mimik wajahnya yang sangat tidak bersahabat. Hanya dengan melihatnya sekilas, membuat staff yang tak sengaja berpapasan dengannya beringsut dan menjauh.
Tidak ada sapaan yang keluar dari mulut mereka, yang mereka lakukan hanyalah menundukkan kepalanya meskipun tetap tak dilihat oleh Louise. Mereka takut, bosnya semakin marah dan berakhir dengan pemecatan masal yang menghebohkan seperti tempo hari jika masih ngeyel untuk menyapanya.
Setelah memasang sabuk pengamannya, Louise segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membelah jalanan menuju sebuah pusat kebugaran terkemuka di kota ini.
Tidak sampai sepuluh menit, Louise sudah berdiri di depan gedung mewah berlantai dua yang sepertinya masih sepi. Louise segera masuk kedalam, disana dia disambut oleh seorang owner yang juga merangkap sebagai instruktur di pusat kebugaran itu.
Sepertinya Louise memiliki hubungan yang baik dengan instruktur itu. Karena setelah melihat kedatangan Louise, orang itu langsung memberikan perintah kepada bawahannya untuk menolak seluruh tamu wanita yang datang hari ini. Sebagai gantinya, mereka akan diberikan diskon tertentu jika datang di lain hari dalam kurun waktu satu minggu.
Setelah berbincang-bincang sejenak, Louise segera mengganti bajunya dan memulai pemanasan ringan sebelum melakukan olahraga berat. Hanya dengan cara inilah dia bisa menurunkan hasrat lelakinya yang sedang dalam mode on maksimal. Untunglah Louise termasuk pria yang kuat, kuat mengalihkannya dan tidak mencari seorang wanita sebagai pelampiasan hasratnya untuk menggantikan Joanna.
Dua jam berlalu, Louise sudah berusaha dengan baik. Seluruh tubuhnya berkilauan karena keringat. Keadaannya juga sudah kembali normal. Selain itu, dia juga sudah bisa tersenyum ketika kenalannya di tempat ini menyapanya.
Kini Louise duduk di salah satu kursi di tepi ruangan, meneguk sebotol air mineral hingga tandas tak tersisa. Menyisakan botol kosong yang kemudian dia remas hingga tak berbentuk.
"Joanna, ku akui kau sungguh hebat. Bisa menyiksaku hanya dengan satu kata 'mandi' dan memaksaku berolahraga sampai tahap ini hanya untuk meredam kembali hasratku yang naik,"puji Louise sambil meletakkan salah satu tangan di dahinya dengan senyum yang tak bisa diartikan.
Louise melihat kearah jam dinding. Jam menunjukkan pukul 1 siang, itu artinya dia masih memiliki cukup waktu sebelum menemui Oskar untuk mengajarinya ice skating sore nanti.
Otaknya sepertinya sudah bekerja dengan baik. Karena dengan cepat dia tahu apa yang harus dilakukannya selagi masih ada waktu. Louise segera mengambil ponselnya, mencari satu nama yang sudah membuatnya seperti orang gila hari ini. Setelah beberapa waktu, terdengar jawaban dari orang itu. Orang yang tak lain adalah Joanna.
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga," ucap Louise tanpa basa-basi atau mengucapkan halo.
"Sekarang?" tanya Joanna dari seberang sana.
"Iya, sekarang. Katakan kau dimana, aku akan segera menjemputmu," pinta Louise.
"Tapi aku masih berbelanja."
"Tidak masalah, aku bisa menjemputmu setelah itu," jawab Louise.
Lagipula, dirinya harus mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat yang membanjir itu. Tidak mungkin dirinya menemui Joanna dengan keadaan lepek seperti ini bukan? Memang masih terlihat tampan, tapi bagaimanapun juga seorang Louise harus tampil ganteng paripurna untuk menemui Joanna yang cantik melebihi bidadari itu.
"Tapi aku tidak membawa jas milikmu sekarang," jawab Joanna beralasan.
"Joanna, aku hanya ingin bertemu denganmu, bukan untuk meminta kembali jas itu. Apa kau pikir jas itu lebih penting darimu?" kata Louise.
"Ah, baiklah. Aku mengerti," jawab Joanna.
.
.
.
Setelah membersihkan diri tadi pagi, Joanna langsung pergi berbelanja dengan Bibi Diaz untuk kebutuhan toko kuenya. Ditengah-tengah aktivitas belanjanya dia mendapatkan panggilan dari Louise, entah apa yang diinginkannya tapi pria itu sepertinya sangat ingin bertemu dengannya.
Dan, disinilah Joanna sekarang. Menunggu Louise di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat Joanna berbelanja. Joanna baru masuk sekitar 10 menit, selama itu pula pandangannya fokus dengan ponselnya. Joanna tidak memperhatikan keadaan disekitarnya, juga tidak menyadari bahwa keberadaannya menarik perhatian pengunjung lain baik pria maupun wanita.
Antara terpesona, tertarik atau kagum. Sepertinya itulah alasan mereka memperhatikan Joanna. Dengan wajah yang cantik dan outfit yang menarik, siapa yang begitu bodoh untuk tidak melihatnya meskipun hanya sebentar?
Siang itu, Joanna memakai kemeja berwarna putih berlengan pendek dengan ujung yang sengaja dibiarkan menjuntai, dilengkapi dengan rompi berwarna biru tua dan sebuah bross cantik di dada bagian kanan.
Joanna memadukannya dengan jeans berwarna biru muda pendek yang mengekspose kakinya yang putih bersih, sangat kontras dengan sepatu boots berwarna hitam yang dia kenakan. Sedangkan untuk rambutnya yang sudah berubah warna menjadi hitam, Joanna hanya membiarkannya tergerai bebas dengan satu penjepit rambut berukuran kecil.
"Kakak itu cantik sekali," bisik salah satu gadis remaja yang kebetulan juga makan di cafe yang sama.
"Seandainya saja aku terlahir dengan wajah yang cantik seperti itu, hari-hariku pasti dipenuhi pelangi," ujar temannya yang lain.
Ketiga remaja itu tidak melepaskan pandangannya dari Joanna, bahkan sepertinya sekarang sudah memutuskan untuk menjadi penggemar beratnya.
Bukan hanya mereka bertiga, tapi masih banyak lagi orang yang melihat kearahnya bersama dengan pujian yang dia lontarkan untuk Joanna.
Sementara di meja yang tidak jauh dari tempat Joanna, dua orang pria asing mulai berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekati Joanna.
"Nona, apa kau sendirian?" tanya pria itu dan langsung duduk di salah satu kursi tanpa permisi.
"Apa kami boleh bergabung denganmu?" tanya pria satunya lagi dengan tatapan brengsek.
"Maaf, aku sedang menunggu seseorang. Bisakah kalian pergi sekarang? Jujur saja kedatangan kalian sangat menggangguku," jawab Joanna tanpa mengecilkan volume suaranya sebagai respons atas ketidaknyamanannya atas kehadiran pria asing ini.
Jawaban Joanna membuat seluruh pandangan kembali tertuju padanya. Orang-orang yang berada di cafe itu nampak setuju dengan penolakan Joanna. Bagaimanapun juga dua pria itu adalah orang asing. Sangat tidak punya etika dan sopan santun ketika mereka berani duduk di meja yang sama tanpa ijin Joanna.
"Nona, apa kau sengaja?" tanya pria itu mengintimidasi. Dia sepertinya tahu, apa tujuan Joanna berbicara dengan lantang.
"Silahkan pergi!" respon Joanna datar. Tidak terlihat takut meskipun dia sedang mendapatkan intimidasi dari dua pria yang terlihat seperti bajingan itu.
"Nona, tidakkah kau pikir kau terlalu arogan. Apa kau merasa sangat cantik sampai mengusir kami dengan cara seperti itu?" tanya pria yang sejak kedatangannya masih diam.
"Memangnya kenapa kalau aku arogan. Itu tidak ada hubungannya dengan kalian. Lalu, tentu saja karena aku sangat cantik, sehingga kalian berinisiatif untuk mendatangi mejaku bukan?" balas Joanna.
Jawaban dari Joanna membuat semua pengunjung tertawa. Dua pria itu memang yang mendatangi Joanna terlebih dulu dan mengganggunya. Tapi kenapa mereka marah saat Joanna mengusirnya?
Wajah dua pria itu merah padam menahan malu, tangan salah satu dari pria itu mengepal dan hampir saja memukul Joanna tapi terhenti karena dua wanita yang baru saja memasuki cafe memanggil namanya. Dua wanita yang baru masuk itu adalah kekasih dari masing-masing pria itu.
Joanna melipat tangannya di dada. Memandangi dua wanita yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan sinis. Menunggu adegan selanjutnya yang sepertinya menarik.
"Apa yang kalian lakukan. Kenapa duduk satu meja dengan wanita ini. Apa wanita ini kenalan kalian, atau jangan-jangan selingkuhan salah satu dari kalian?" tanya gadis berambut lurus selurus tubuhnya itu curiga.
"Aku tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya. Mungkin saja wanita ini yang menggoda pacar kita," bisik wanita satunya lagi.
"Aku mana mungkin selingkuh darimu, sayang. Wanita ini yang mencoba menggodaku barusan, aku sudah mencoba menolaknya tapi dia terus berusaha mendekatiku," jawab pria itu.
Terlihat jelas bahwa pria ini sedang menggunakan kesempatan untuk memberi Joanna pelajaran melalui kedua gadis bodoh itu. Satu wanita melawan dua wanita, bajingan itu ingin lihat bagaimana akhir tragis dari Joanna karena berani mempermalukannya di depan umum.
"Tuan, apa sedang Anda bicarakan. Semua yang hadir disini juga tahu kalian berdua yang mendatangiku terlebih dulu," jawab Joanna sinis.
Salah satu wanita itu memicingkan matanya. Pacarnya baru saja mendapatkan promosi jabatan di salah satu anak perusahaan dibawah naungan Mattews Group. Menurutnya, meskipun pacarnya tidak terlalu tampan, tapi dengan gaji yang lumayan besar sudah pasti banyak wanita yang menggodanya. Dan mungkin saja salah satunya adalah Joanna. Bayangkan saja, wanita mana yang tidak menginginkan banyak uang?
"Nona, ku akui kau sangat cantik. Tapi caramu merayu kekasihku sangatlah rendahan," tuduh wanita tipis itu.
"Dimana urat malumu sebagai wanita. Merayu dua orang pria di hadapan umum di siang bolong. Tidakkah kelakuanmu mirip seperti wanita malam?" hardik wanita yang lain.
Joanna masih duduk santai meskipun mendapatkan perlakuan buruk. Dia sangat malas untuk menanggapi ocehan sekelompok idiot ini. Joanna memang hanya diam, tapi tidak dengan orang-orang yang berada disana.
Mereka secara bersamaan membela Joanna dan mencoba memberikan penjelasan kepada dua wanita gila itu. Salah satu pengunjung bahkan sampai melapor kepada pemilik cafe atas keributan yang terjadi di cafe itu.
Alih-alih mencoba mengerti dan meminta maaf, gadis itu malah terus memaki dan menyombongkan dirinya di hadapan semuanya. Bahkan dengan jumawa sesumbar bahwa orang kaya seperti dirinya tidak perlu meminta maaf pada siapapun juga.
...***...