CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Menggantikan Peran Juan



BRUK


Joanna merebahkan tubuhnya di kasur. Sepertinya dia kurang sehat setelah kembali dari kamar kakaknya. Louise yang melihat Joanna sedikit pucat pun segera menyusulnya.


"Joanna?" panggil Louise pelan.


"Eum, kenapa kemari?" tanya Joanna saat melihat Louise sudah duduk di pinggiran ranjang. Joanna bangun, mencoba membuka matanya yang terasa berat.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Louise kemudian menariknya ke pelukannya. Tidak lupa memeriksa suhu tubuh Joanna dengan punggung tangannya.


Kali ini Joanna tidak protes. Kepalanya sedikit pusing dan sepertinya butuh sandaran sekelas bahu Louise. Jadi dia bukan hanya diam saja, malahan menyandarkan kepalanya di dada pria bertubuh tinggi itu dan memeluknya.


"Kau demam," kata Louise saat merasakan badan Joanna yang hangat.


"Aku sedikit tidak enak badan," kata Joanna dengan mata yang kembali terpejam.


"Joanna, mungkinkah kau hamil?" tanya Louise.


"Aku ini masih perawan. Bagaimana mungkin aku hamil," jawab Joanna diambang kesadarannya.


"Kalau begitu beristirahatlah. Kau harus segera sehat untuk membayar hutang-hutangmu padaku," ucap Louise.


"Apa aku punya hutang?" tanya Joanna.


"Punya. Banyak sekali hutang yang harus kau bayar padaku," jawab Louise.


"Jangan khawatir. Aku akan mengembalikannya saat aku punya uang," janji Joanna.


Louise tersenyum, mendekap wanita bertubuh hangat itu semakin erat, "Hutangmu bukan uang. Tapi sesuatu di perutmu yang harus kau pinjamkan untukku," lanjut Louise.


"Aku pasti akan membayarnya lain kali," kata Joanna sebelum terkulai di pelukan Louise.


"Aku akan pergi memanggil Dokter untuk memeriksamu," kata Louise sambil merebahkan Joanna ke ranjang dan menyelimutinya.


Louise tersenyum sekilas, siap mendaratkan ciumannya di dahi Joanna. Tapi tongkat seseorang menghalangi pendaratan bibirnya.


"Kenapa bibirmu itu tidak bisa kau kendalikan saat melihat putriku?" tahan Sir Alex.


"Calon Ayah Mertua, apa yang sedang ayah lakukan?" protes Louise, menyingkirkan tongkat yang sebenarnya tidak ada fungsinya karena Sir Alex masih sangat sehat.


"Menghalangimu mencium anakku. Minggir, pergi sana. Biar aku yang merawat putriku sendiri!" usir Sir Alex.


"Aku saja. Ayah, kau ini sudah tua, tidak baik bagimu begadang malam-malam," usir Louise.


Akhirnya Sir Alex hanya bisa mengalah. Membiarkan Louise yang menemani anaknya semalaman setelah diperiksa seorang dokter.


"Jangan mengganggu kesenangan anak muda!" kata Louise. Mendorong Sir Alex pelan dan menutup pintu kamar Joanna.


"Baiklah, ini saatnya untuk belajar merawat istri kan?" gumam Louise. Dengan semangat Louise menyeka Joanna. Membersihkannya dari keringat dan debu yang menempel. Tidak lupa memanggil Diaz untuk membantunya mengganti pakaian Joanna.


Baru setelah itu dia bergegas membersihkan dirinya sendiri sebelum akhirnya menyusul tidur dan berbagi ranjang dengan Joanna entah untuk yang ke berapa.


.


.


.


"Louise!" teriak Joanna keesokan harinya. Sepertinya dia sudah kembali sehat, bisa diukur dari volume suaranya yang memekakkan telinga.


Louise yang namanya disebut mulai menggeliat. Perlahan membuka matanya dan melihat Joanna sudah melihatnya seolah ingin memakannya hidup-hidup, "Selamat pagi, Sayang!" kata Louise sembari mengumpulkan nyawanya. Pria itu tersenyum, kemudian duduk dan menciumi seluruh wajah Joanna bahkan dengan mata yang masih setengah tertutup.


"Apa yang kau lakukan padaku semalam. Kenapa aku berdarah?" tanya Joanna to the point.


"Berdarah?" tanya Louise dengan menggaruk kepalanya.


Dia pun segera memeriksa Joanna. Melihat dengan teliti wajah, tangan, kaki, leher dan bagian yang bisa dia jangkau. Tapi tidak menemukan darah yang dikatakan Joanna.


"Mana?" tanya Louise.


"Bukan disana," jawab Joanna.


Karena sebenarnya darah itu ada di sprei di bawah bokong Joanna.


"Lalu dimana?" tanya Louise.


"Apa yang kau lakukan semalam, Louise. Kau tidak memperkosaku selagi aku tidak sadar kan?" tanya Joanna.


"Aku tidak melakukan apapun kok. Kalaupun ada, paling-paling aku hanya menciummu," jawab Louise.


"Tapi kenapa aku berdarah?" tanya Joanna lagi.


"Sayang, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau sedang datang bulan. Apa kau lupa?" kata Louise mengingatkan.


"O-oh benar juga. A-aku lupa!" jawab Joanna gugup. Dia baru ingat, kali ini pasti datang bulan yang sesungguhnya. Karena kemarin adalah datang bulan yang palsu.


"Kau ini!" keluh Louise, kemudian kembali rebahan dan melingkarkan tangannya ke pinggang Joanna.


"Tapi kau tidak melakukan apapun kan. Tidak *****-***** dan nakal padaku kan?" tanya Joanna memastikan dirinya aman semalam.


"Joanna, apa kau merasa kalau aku menyentuhmu?" tanya Louise.


"Tidak sih!" jawab Joanna.


.


.


.


"Kau gila!" umpat William datar.


William melayangkan kalimatnya tanpa menoleh kearah Arthur yang duduk menyetir disebelahnya, ataupun Louise yang duduk di bangku belakang. Dia sangat setia melihat pemandangan di kejauhan dengan melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.


"Dengan siapa kau berbicara?" tanya Louise tak kalah datar dan tak kalah nyaman.


Louise terlihat sangat santai duduk di belakang sana dengan menopang dagu meskipun baru saja meratakan Kota Utara kemarin.


"Menurutmu?" jawab William singkat, masih tidak melihat kearah siapapun selain awan diatas langit.


Sementara itu Arthur hanya diam saja, dia tetap fokus pada kemudinya. Bukan karena tak ingin ikut campur, tapi dia tahu kepada siapa kalimat William itu ditujukan. Siapa lagi kalau bukan untuk Louise yang dari tadi tersenyum seperti orang bodoh di belakangnya.


Sama seperti William, Arthur berpikir bahwa Louise terlalu impulsif hari ini. Sebelumnya, Louise mengatakan tidak perlu membunuh siapapun selama mereka tidak melawan. Tapi, saat Arthur dan William kembali mereka melihat Joanna pergi dengan tergesa-gesa.


Lalu mereka lebih terkejut lagi saat melihat Sir Alex dan Louise juga ikut-ikutan meninggalkan ruangan yang penuh mayat bergelimpangan dengan tangan terikat.


"Apa maksudmu?" tanya Louise.


"Louise, kau menghabisi mereka di depan Joanna. Apa kau tidak merasa gila?" jelas Arthur.


Arthur malas berbasa-basi jadi dia langsung mengatakan apa yang ingin William katakan. Wajahnya terlihat sangat serius, terlebih jika menyangkut Joanna.


Louise tersedak nafasnya sendiri. Jadi inikah alasan dibalik Arthur dan William mendiamkannya sejak tadi?


Rupanya mereka mengira dirinya lah yang menghabisi orang-orang itu, lebih parahnya lagi mereka mengira dirinya melakukan semua itu di depan Joanna.


"Aku tidak keberatan jika kau ingin membunuh siapapun. Tapi setidaknya jangan menunjukkannya di hadapan wanita. Mereka berbeda Louise, tidak semua manusia itu kuat seperti dirimu," lanjut Arthur.


"Tapi bukan aku yang memulainya. Apa kalian tidak percaya padaku?" tanya Louise mencoba membela dirinya karena faktanya memang bukan dia yang memulai.


"Tidak!" jawab Arthur dan William bersamaan.


Louise membuang nafasnya dengan kasar, tidak lupa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Memikirkan bagaimana baiknya menghadapi momen yang kacau seperti ini. Kenapa dua pria idiot itu tidak mempercayainya meskipun dirinya telah berkata jujur?


Sumpah, Louise sangat yakin William dan Arthur akan mati karena serangan jantung seandainya mereka tahu bahwa Joanna lah yang memulai membunuh sebagian dari orang-orang terikat itu.


"Aku tidak tahu bagaimana keadaan Joanna setelah melihatmu menghabisi mereka. Kami mencemaskannya, dan kau tersenyum seperti orang idiot di belakang sana. Tidakkah kau sangat keterlaluan?" lanjut William akhirnya.


"William, Arthur, dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan," bela Louise.


"Jangan beralasan!" potong Arthur.


"Sungguh, bukan aku yang mengawalinya. Kalian bisa bertanya pada calon mertuaku jika tidak percaya," lanjut Louise.


"Apa yang sedang kau bicarakan sekarang?" tanya Arthur.


"Kau sedang ingin mengatakan bahwa bukan kau yang menghabisi mereka duluan. Apa aku benar?" tebak William.


"Ya, benar seperti itu," jawab Louise dengan cepat.


"Hanya ada kau, Sir Alex dan Joanna disana. Dan kau bilang bukan kau yang melakukannya. Kau pikir kami akan percaya?" sembur Arthur.


"Tapi sungguh bukan aku!" bela Louise tak berdaya.


"Lalu, haruskah aku mempercayai bahwa Sir Alex yang membunuh mereka?" tanya Arthur.


"Sebenarnya, bukan dia juga," jawab Louise pelan.


"Apa lagi ini. Tadi kau baru saja mengatakan bahwa bukan kau yang menghabisi mereka, dan sekarang kau mengatakan lagi bahwa bukan Sir Alex yang melakukannya. Apa maksudmu, apa kau baru saja ingin mengatakan pada kami bahwa Joanna yang melakukannya?" tanya William


"Kalau aku mengatakan iya, apa kalian akan percaya?" tanya Louise.


"Hanya orang idiot yang akan mempercayai kata-katamu barusan," jawab Arthur singkat.


"Cih, dasar!" umpat William lagi.


"Ya, dan kalianlah orang idiot itu karena tidak mempercayai kata-kataku barusan" batin Louise.


Mereka bertiga diam untuk sesaat. Hanya sesaat, karena Arthur dan William kembali menyerang Louise dengan berbagai pertanyaan.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Arthur.


"Tentu saja melanjutkan hidup dengan tenang," jawab Louise singkat.


"Bodoh! Maksud Arthur adalah, apa yang akan kau lakukan setelah semua ini. Apa kau tak ingin segera menikah?" tanya William.


"M-menikah?" tanya Louise kaget.


"Kenapa ekspresimu seperti itu. Keponakanmu itu sudah berusia lima tahun sekarang. Tidakkah kau ingin segera menikah dan menggantikan posisi Juan sebagai ayahnya?" tanya Arthur.


"Tunggulah sebentar lagi. Joanna tidak ingin menikah jika anak itu masih sakit," jawab Louise


...***...