
"Apa yang kalian katakan benar?" tanya Tetua Utama.
Wanita tua itu langsung berdiri ketika mendapatkan laporan dari Tuan Amber. Sementara Daisy berpura-pura menangis pilu di pelukan ibunya sebagai ungkapan kesedihan karena sudah ternoda.
"Tetua, kami menyesal dengan semua yang terjadi. Seandainya kami tahu akan berakhir seperti ini, lebih baik kami tidak mengadakan acara jamuan makan kemarin. Biar bagaimanapun juga William sudah beristri, bagaimana dengan nasib anakku yang kesuciannya direnggut. Tetua, mohon pertimbangan nasib putriku kedepannya. Siapa yang bersedia menikah dengannya yang tak bermahkota dimasa depan?" mohon Tuan Amber.
"Tetua, tolong berikan keadilan untuk putriku. Kami dengan hormat mengundangnya makan malam. Tapi tidak menyangka dia malah merenggut kesucian putriku!" mohon Nyonya Amber.
"Tentu saja aku akan memberikan keadilan. Tapi aku butuh penjelasan dari William dan klarifikasi darinya sebelum memutuskan," kata Tetua Utama. Wanita tua itu mengeratkan giginya sekarang. Tidak mengira Keluarga Amber dengan tidak tahu malu membuka aib keluarnya sekarang. Di hadapan semua orang yang hadir dan di hadapan tamu-tamu dari kolega bisnisnya.
"Baiklah, Tetua!" jawab Keluarga Amber.
"Cepat panggil William kemari sekarang juga!" titah Tetua Utama.
Dia tidak ingin reputasi Bangsawan Timur rusak hanya karena masalah ini. Jadi dia segera meminta seseorang memanggil William untuk menghadap. Kalau memang terbukti bersalah, maka William harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan kalau tidak setidaknya tamu-tamu mereka pulang tanpa isu miring terhadap wajah Bangsawan Timur.
Perintah dari Tetua membuat keempat orang itu tersenyum. Mereka tidak menyangka Tetua akan bergerak secepat ini. Tapi untuk lebih menarik simpati, mereka butuh sesuatu yang lebih dari ini. Akhirnya Nyonya Amber menoleh pada Peter dan suaminya, meminta ijin atas akting baik hati dan welas asih yang akan dia tunjukkan sebentar lagi dan diamini dengan anggukan dua pria serakah itu.
"Tetua, kami memang sangat terpukul atas apa yang menimpa Daisy. Tapi kami tidak bisa menutup mata bahwa William juga sedang berduka saat ini. Untuk itu, dengan kemurahan hati kami bersedia memberikan tenggang waktu sebagai ucapan bela sungkawa dan membiarkan William tenang. Dia pasti sedih atas tragedi yang menimpa istrinya," lanjut Nyonya Amber.
Kalimat itu akhirnya membuat seisi ruangan saling pandang. Tragedi apa, berkabung apa, apa terjadi sesuatu pada Joanna. Tapi kenapa tidak ada seorangpun yang tahu. Jika terjadi sesuatu, pasti akan ada pelayan yang segera menyampaikan beritanya. Apa William menyembunyikan sesuatu?
"Apa maksudmu?" tanya salah satu tetua yang ada di pihak William. Dia selalu berhubungan baik dengan William melalui Okta. Kalau memang terjadi sesuatu, Okta pasti akan menghubunginya.
"Peter, bukankah kau bilang sudah membereskan Joanna?" bisik Tuan Amber.
"Pa, aku yakin sudah melakukannya semalam. Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku juga yang membuatnya terjun bebas ke jurang dan tenggelam," jawab Peter dengan bisikan.
"Apa kau ingin Joanna cepat mati?" tanya Tetua Utama.
"Tetua, bukan seperti itu. Kami hanya mendapatkan kabar bahwa Nona Joanna hilang. Lalu,-"
"Tutup mulutmu. Siapa yang dengan lancang memberikan informasi palsu seperti itu. Biarkan aku membunuhnya agar tidak ada lagi yang berbicara sembarangan di masa depan!" hardik tetua pendukung William yang lainnya.
"T-Tetua?"
"Lain kali jaga bicaramu. Dia memang lama tidak terlihat karena sedang menghabiskan waktu di rumah ayahnya beberapa pekan terakhir," kata Tetua Utama tegas.
"Tetua, haruskah kita memanggil William sekarang juga agar kita tahu dimana akar masalahnya dan menyelesaikannya secepat mungkin?" tanya tetua yang lain.
"Baiklah, kirim seseorang untuk memanggil William kemari!"
.
.
.
"Apa?" tanya William tak percaya.
Pria itu sedang sarapan meskipun hari sudah benar-benar siang. Duduk berhadapan dengan Joanna yang tidak menyentuh makanannya karena tidak selera makan. Joanna baru saja menceritakan semua yang terjadi semalam. Semuanya, tentu saja dengan merahasiakan apa yang dia lakukan. Membunuh, merayap di tembok dan menjebak Daisy dengan lima pria bayaran. Tentu saja yang paling dia rahasiakan adalah apa yang terjadi setelah mereka terjun ke sungai itu.
Joanna hanya mengatakan bahwa Okta menghubunginya setelah tahu Daisy ada di kediaman Amber. Lalu saat dia datang William sudah diselamatkan oleh Okta dan dia hanya membawa William pulang bersamanya. Benar, hanya itu yang Joanna katakan. Lalu apakah Okta dan pengawal itu tutup mulut dengan apa yang mereka lihat?
"Lalu apa yang terjadi saat aku berada di kamar Daisy. Aku tidak macam-macam kan?" tanya William dengan mata lebar.
"Tuan William, Anda memang tidak macam-macam. Tapi Nona Daisy yang macam-macam," jawab Okta.
"Apa maksudmu, Paman Okta?" tanya William lagi.
"I-itu, sebenarnya Nona Daisy sudah memanjat dan membuka kancing kemeja Anda," jawab Okta lagi.
"Memanjat dan membuka bajuku?" tanya William dengan mata lebar.
"B-benar. Seperti itu," jawab Okta.
William segera meletakkan alat makannya. Mengintip perutnya dan berhenti mengunyah. "Hanya bajuku saja kan?" tanya William.
"Apa kau berharap dia membuka celana yang kau pakai juga, Will?" tanya Joanna dengan menyeruput teh hangat.
"Tentu saja tidak. Syukurlah kalau hanya itu yang dia lakukan padaku," jawab William.
Pria itu langsung mengambil segelas susunya. Meminumnya beberapa teguk sebagai ucapan syukur karena aman dari sentuhan Daisy. Dia baru tenang beberapa saat tapi kembali gusar saat mengingat pakaiannya sudah diganti seseorang. "Tunggu, lalu siapa yang mengganti bajuku semalam. Apa itu kau, Paman?" tanya William pada Okta.
Okta hanya dehem pelan. Lalu berpaling kearah yang lain karena tidak yakin akan menjawab seperti apa. Dia tidak tahu menahu apa yang terjadi setelah mereka sampai di rumah ini. Dia hanya membantu membawa William masuk kamar lalu keluar begitu saja karena Joanna bilang dia akan mengurus sisanya.
"Paman, aku sedang bertanya padamu?" ulang Okta.
Joanna yang masih menikmati tehnya akhirnya kembali buka suara. Mengambil alih kesempatan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan William. "Tentu saja Paman Okta yang melakukannya. Kau pikir siapa lagi selain dia?" katanya singkat.
"Serius?" tanya William
"Eum, aku serius. Paman Okta dibantu Bi Asha. Mereka berdua tidak hanya memandikan tapi mengganti pakaianmu juga," jawab Joanna.
Okta dan Asha yang disebut namanya hanya bisa saling pandang. Sumpah mereka tidak tahu apa-apa. Asha bahkan tidak tahu kapan William dan Joanna pulang. Wanita itu hampir saja membuka mulutnya tapi segera disenggol Okta. Mengisyaratkan agar wanita itu diam saja.
"Lalu apa yang kau lakukan. Kau tidak ikut-ikutan kan?" tanya William lagi.
"Tentu saja tidak. Apa sih yang kau bicarakan," jawab Joanna
William tersenyum tanpa ekspresi sekarang. Bagus kalau Okta yang melakukannya, tapi kenapa Asha harus ikut. Apa itu berarti burungnya pun sudah dilihat olehnya. "Joanna,-"
"Will, tidak perlu sungkan. Kau juga tahu sendiri Bi Asha terbiasa memandikan Reagan bukan?" potong Joanna.
"Bukan itu maksudku!" keluh William.
"Lalu?" tanya Joanna.
"Bukan apa-apa," jawab William sambil mengusap wajahnya untuk menyingkirkan malu.
Kenapa Joanna masih tidak peka juga. Katakanlah Asha terbiasa memandikan Reagan. Tapi bagaimana dengan perbedaan ukuran burung perkutut itu. Meskipun Asha seusia Mama Rose, tapi tetap saja William malu setengah mati. Seandainya boleh memilih, bisakah Joanna saja saja yang melakukannya?
...***...