CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Makam Juan Matthew



Pagi ini Louise berencana untuk membawa Oskar dan Joanna pergi ke suatu tempat. Keberangkatan mereka sempat tertunda selama beberapa hari lantaran Louise tidak mendapatkan ijin dari dokter sebelumnya.


Untunglah keadaan Oskar menunjukkan ada sedikit peningkatan sehingga Oskar diijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Tentu saja tidak semudah yang dibayangkan karena Oskar hanya diberikan ijin satu hari saja. Selain itu, dia harus mematuhi semua peraturan dokter seperti minum obatnya tepat waktu, tidak boleh terlalu banyak bergerak yang menguras tenaga dan harus banyak-banyak beristirahat.


Louise menggendong Oskar di tangannya, sementara Joanna berjalan mengikutinya disampingnya dengan membawa sedikit barang. Selama mereka lewat, seluruh pandangan tertuju pada mereka.


Orang berpikir, mereka adalah satu keluarga kecil yang sempurna. Ayah yang tampan, ibu yang cantik dan seorang anak yang menggemaskan.


Biasanya, Louise akan sangat risih jika menjadi pusat perhatian. Tapi kali ini berbeda karena dia tidak sedang berjalan sendirian, melainkan bersama dua orang kesayangan pemilik hati tertinggi miliknya.


Sesampainya di parkiran, Louise menyerahkan Oskar kepada Joanna. Sebelum membukakan pintu, Louise menyempatkan diri untuk memandangi Joanna yang menggendong Oskar dari atas hingga bawah. Pakaian yang dikenakannya itu, kenapa semakin hari semakin meresahkan?


Ada sedikit perasaan menyesal karena Louise tidak memperhatikan pakaian Joanna sejak tadi. Entah berapa banyak mata siluman yang beruntung dan bisa melihat Joanna dengan bebas sepanjang jalan tadi.


Tanpa berpikir panjang, Louise segera melepaskan jaket yang dia kenakan dan memakaikannya pada Joanna, "Kau ini seorang ibu. Jangan memakai pakaian seperti ini lagi di depan umum," kata Louise memperingatkan. Dia bicara dengan pelan, karena tidak ingin merusak suasana dan akhirnya kembali berdebat dengan Joanna.


"Lalu lihatlah dirimu. Apa kau berniat memamerkan ABS mu sekarang?" tanya Joanna begitu melihat banyak otot dari balik kaos putih tipis milik Louise.


"Lalu aku harus bagaimana. Aku ini pria, tidak masalah bagiku meskipun aku harus bertelanjang dada. Lagipula ini semua milikmu," jawab Louise.


"Milikku?" tanya Joanna.


"Bukankah kau sudah merasakan dan juga menyukainya. Apa kau lupa?" jawab Louise.


"Louise, jangan bicara sembarangan. Kapan aku merasakan dan menyukainya. Lalu, ambil kembali jaketmu ini aku tidak sedang kedinginan sehingga harus memakai jaket," ucap Joanna.


"Apa kau ingin memamerkan dada dan pantatmu yang besar juga pinggangmu yang ramping seperti tawon ini?" protes Louise.


"Memangnya kenapa kalau aku pamer. Apa hanya kau yang diijinkan untuk pamer?" tanya Joanna membalikkan kata-kata Louise.


"Joanna, jangan berdebat lagi. Sesuatu yang jadi milikku, hanya bisa bisa dilihat olehku, kau mengerti maksudku bukan?" gerutu Louise.


Setelah kembali berdebat singkat, mereka pun bergegas masuk ke mobil. Oskar hanya diam saja mendengar keributan yang 'orangtuanya' debatkan barusan. Sudah beberapa hari setelah kebersamaan mereka, jadi Oskar sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil mereka yang nyaris terjadi setiap hari.


"Kita mau kemana?" tanya Joanna.


"Kau akan tahu nanti," jawab Louise.


"Paman, apa kita akan pergi ke tempat yang paman janjikan malam itu?" tanya Oskar bersemangat.


"Hm, paman selalu menepati janji kan?" jawab Louise dengan senyumannya yang menawan.


Oskar terlihat sangat bersemangat, tapi sedikit sedih untuk sesaat disaat yang bersamaan. Sementara Joanna, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pertama, dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang sedang Louise dan Oskar bahas. Kedua, kenapa Oskar memanggilnya lagi dengan sebutan 'paman?"


"Xiao O, kenapa memanggil ayahmu dengan sebutan paman. Pria ini ayahmu, kalau Xiao O tidak ingin memanggil dengan sebutan daddy, Xiao O bisa memanggilnya dengan sebutan yang lain," kata Joanna menerangkan.


"Tapi, dia bukan daddyku," jawab Oskar pelan.


"Ha, apa maksudmu?" tanya Joanna tak mengerti, dia hampir tidak mendengar apa yang Oskar katakan sangking pelannya.


"Dia baru akan jadi daddyku kalau dia menikah dengan Mommy Joanna," lanjut Oskar.


Joanna memijit kepalanya. Dalam hatinya sangat ingin mengatakan, "Oskar kau salah, yang benar adalah, aku baru akan jadi mommymu kalau aku menikah dengan ayahmu."


Dalam perjalanan, tidak banyak kalimat yang mereka katakan. Tidak ada selain satu pertanyaan dari Joanna dan ditutup dengan jawaban dari Louise.


"Louise, bukankah kau ayahnya. Apa kau tidak ingin memeriksakan dirimu. Mungkin saja kau cocok dan bisa jadi pendonor untuk Oskar bukan?" tanya Joanna.


Mendengar itu, Louise hanya menarik nafas dan membuangnya kembali ke udara, "Sayangnya aku tidak cocok," jawab Louise. Kemudian menyerahkan hasil tesnya kepada Joanna.


Joanna melihat hasil tes itu sebelum meraihnya. Sejak kapan Louise melakukan tes?


Joanna mengamati tes itu dengan seksama. Louise tidak berbohong, disana memang tertulis bahwa Louise tidak cocok sebagai pendonor.


Joanna merasa bersalah. Jauh sebelum ini, tepatnya saat berita yang beredar mengatakan bahwa Louise adalah ayah biologis Oskar, Joanna sudah sering marah.


Dia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa Louise tidak berinisiatif untuk memeriksakan dirinya. Padahal dia ayahnya, orang yang membuat Oskar terlahir ke dunia. Apa dia setega itu pada anaknya sendiri? Setidaknya itulah yang dia pikirkan selama ini tapi tidak berani mengatakannya.


Sekarang, semua pertanyaan itu terjawab tuntas. Ternyata Louise telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan tanpa sepengetahuannya. Lagi-lagi, Joanna merasa malu dan menyesal. Menyesal karena terus saja berprasangka buruk pada Louise.


Louise hanya melirik sebentar sebelum kembali fokus mengemudi. Tapi tangan kirinya menyempatkan diri untuk menggenggam tangan Joanna dan meremasnya, "Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku."


Setelah berkendara sekitar lima belas menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka. Louise turun terlebih dulu untuk membuka pintu untuk Joanna dan kembali menggendong Oskar.


Meskipun Louise menjadi sangat sibuk, dia masih saja menyisihkan waktu untuk memeriksa Joanna, tepatnya pakaian yang Joanna kenakan.


"Bisakah membantu paman untuk menarik resleting jaket mommy keatas?" tanya Louise kepada Oskar.


Oskar sangat patuh. Tidak hanya menarik resleting itu hingga menutupi rapat tubuh Joanna, tapi juga memakaikan penutup kepalanya. Saat ini Joanna sangat mirip seperti ulat putih tanpa bulu yang terbungkus daun pisang. Anehnya Joanna tidak lagi marah dan terlihat sangat patuh.


"Ayo!" ajak Louise.


Pria berumur 29 tahun itu sangat keren saat menggendong Oskar di tangan kirinya dan memegang Joanna dengan tangan kanannya.


Mereka berjalan pelan menyibak jalanan setapak di tengah makam. Joanna tidak tahu mereka akan ke makam siapa karena dia tidak mendapatkan jawaban apapun meskipun sudah bertanya 'kita mau kemana?'


Mereka baru berhenti ketika sampai di sebuah makam yang terlihat sangat terawat.


Juan Matthew.


Itulah nama yang tertulis di salib itu. Joanna baru ingat, Nenek Anne sering bercerita bahwa cucunya yang meninggal sangat persis dengan Oskar. Apakah ini makamnya, tapi kenapa Louise membawa Oskar kemari?


"Louise, apa dia ini adikmu?" tanya Joanna pelan. Dia masih merasa bersalah karena selalu marah dan menaruh kecurigaan yang berlebih pada Louise akhir-akhir ini.


Padahal kalau dipikir-pikir, Louise tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal. Dia juga selalu menuruti keinginannya bahkan disaat dirinya belum meminta. Sejauh ini, kesalahan fatal Louise di mata Joanna hanyalah memiliki anak bersama Agria sialan itu dan selalu bertingkah mesum padanya.


Mata Joanna mulai berkaca-kaca saat Louise tidak menjawab pertanyaannya. Bagaimanapun juga, meskipun Louise sangat menyebalkan, tapi sejujurnya dia tidak suka didiamkan seperti ini.


"Apa dia marah?" batin Joanna.


Joanna berinisiatif menggenggam tangan Louise, merasakan kehangatan dari tangan kekar itu. Joanna hampir mengatakan 'maaf' lagi tapi sepertinya Louise lebih dulu membuka mulutnya.


"Joanna, mulai sekarang dia bukan hanya adikku tapi adikmu juga," jawab Louise.


Joanna semakin diam, menyadari bahwa di balik Louise yang mesum itu ternyata menyimpan kesedihan yang mendalam.


Louise yang tidak mendengar Joanna merespon kalimatnya akhirnya menoleh. Dia bisa melihat Joanna merubah ekspresi wajahnya. Terlihat menyedihkan dan hampir menangis. Ini membuatnya sangat iri pada mendiang adiknya. Kenapa Juan bisa membuat Joanna menjadi jinak begini, kenapa saat Joanna bersamanya malah sangat liar, tidak bisa dikendalikan dan selalu membuatnya sakit kepala?


"Joanna, ada apa denganmu?" tanya Louise.


"A-aku, aku hanya terbawa suasana," jawab Joanna gagap.


"Sepertinya kau lebih mudah tersentuh dan melunak kepada mendiang adikku daripada aku. Itu membuatku sangat marah," kata Louise.


"Ha?" kata Joanna tak percaya.


Joanna sedih dan hampir menangis karena membayangkan bagaimana rasanya jadi Louise. Dalam pikiran Joanna, Louise pasti kesepian, menderita dan bertingkah mesum hanya untuk menyembunyikan kesedihan yang sesungguhnya. Tapi lagi-lagi Louise mengatakan hal tak terduga yang menyebalkan. Joanna tiba-tiba merasa menyesal sempat sedih untuk Louise yang ternyata baik-baik saja.


"Louise, aku benar-benar marah sekarang. Cepat kembalikan air mataku!" kata Joanna pelan.


"Joanna,-"


Dua orang itu akan kembali berdebat, memperdebatkan hal yang tidak perlu mereka debatkan. Tapi berhenti ketika Oskar berkata dengan pelan, "Xiao O ingin turun."


Louise memeluk Oskar dengan erat, kemudian menciumi seluruh wajahnya yang sedikit pucat, "Paman akan menemanimu."


Sementara Joanna, dia seperti orang bodoh saat melihat tingkah aneh kedua pria itu, "Xiao O, kau mau kemana?" tanya Joanna.


"Berdoa untuk daddy," jawab Oskar pelan.


"Daddy?" tanya Joanna. Joanna menoleh kearah Louise, berharap Louise menjelaskan situasinya. Tapi Louise hanya meletakkan satu telunjuknya di bibirnya.


Oskar melangkahkan kakinya yang mungil, ditemani Louise yang menggenggam erat tangannya untuk mendekati makam Juan Matthew. Di depan pusara itu, Oskar mulai melipat tangannya. Tersenyum sebentar sebelum memejamkan matanya dan mulai berdoa.


"Daddy, Xiao O datang untuk berkunjung. Xiao O merindukan daddy, tapi paman bilang daddy tidak akan bisa kembali dan sudah beristirahat dengan tenang di surga. Jadi, Xiao O kemari untuk meminta ijin. Bolehkah Xiao O memanggil orang lain dengan sebutan daddy? Orang itu adalah Paman Louise."


Mendengar doa-doa yang keluar dari mulut kecil Oskar membuat Joanna menelan ludahnya. Dia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Apa maksud dari doa-doa barusan. Apa itu berarti Juan Matthew adalah ayah biologis Oskar yang sebenarnya dan Louise bukan?