
"Apa maksudmu?" tanya Joanna.
"Memulai rencanaku," jawab Louise.
Tanpa menjelaskan maksudnya, Louise mulai mencium Joanna dan meskipun tidak mengerti rencana yang Louise katakan, tapi Joanna menyambut ciuman itu. Bahkan tidak ragu membalasnya dengan lembut.
"Kau semakin profesional. Kau tidak berlatih dengan William selagi aku tidak ada kan?" goda Louise setelah melepaskan ciumannya.
"Apa yang kau bicarakan. Aku menjadi profesional karena kau yang mengajariku setiap saat," jawab Joanna percaya diri. Mau bagaimana lagi, faktanya memang begitu.
"Aku yang mengajarimu menjadi profesional? Joanna, tapi ini hanya awalnya. Karena malam ini, aku akan menunjukkan padamu apa yang disebut dengan profesional," batin Louise.
"Kemari, biarkan aku menciummu lagi!" titah Louise.
Joanna mendekat, menyerahkan dirinya kepada Louise yang siap memberikan ciuman brutalnya. Tidak hanya *******, tapi mengigit juga menghisap. Telinga Joanna pun juga tak luput dari sasaran. Louise beberapa kali meninggalkan sentuhan di sana untuk memberikan sensasi yang lain kepada Joanna.
Gairah Joanna mulai bangkit ketika Louise menyusuri leher dan tetangganya. Terlebih ketika dua tangan kekar itu mulai menerobos dress selutut miliknya dan bergerak liar di dalamnya.
"L-louise," rintih Joanna dengan menutup matanya ketika gairahnya diantarkan ke level selanjutnya.
"Apakah terasa nyaman?" tanya Louise memastikan.
Sungguh pria idiot, masihkah perlu bertanya disaat matanya telah melihat bahwa Joanna sudah 'on fire'?
Joanna mengangguk, membuka matanya yang sayu, menggigit bibirnya sendiri dan kaki-kakinya bergerak aneh. Lagi-lagi Louise tersenyum, tapi dalam hatinya berkata, "Ini masih belum cukup, Sayangku!"
Louise menuntun Joanna ke ranjang, membaringkannya dan menyingkap dress itu dan mencari bola-bola kesayangannya. Memainkannya dengan profesional secara bergiliran. Entah tangan, bibir atau lidahnya, ketiganya tidak berhenti bekerja. Mereka bergerak saling melengkapi seolah tahu harus melakukan apa saat yang lainnya melakukan apa.
Sebagian besar pakaian itu telah tanggal, tapi Louise masih setia dengan mainan itu seolah tidak pernah bosan
"L-Louise," rintih Joanna dengan nafas mulai tak beraturan.
Joanna bangkit, mencari bibir Louise untuk mendapatkan ciumannya kembali. Berharap Louise segera membantunya, tapi Louise sepertinya enggan melakukannya.
"Louise," rintih Joanna lagi. Mata sayu itu sudah sangat menjelaskan betapa inginnya dia mengucurkan sesuatu dari bawah sana.
Tangannya mulai mencari tangan kekar Louise dan menuntunnya ke areanya yang sangat siap. Louise menciumnya ketika tangannya membelai dan menyibak labirin itu. Tapi enggan menuruti permintaan Joanna untuk menyelinap ke dalamnya.
"Louise, please!"
Louise tidak menjawab pertanyaan Joanna. Tapi kembali membaringkan Joanna ke kasur, meloloskan dress itu dan membuangnya ke lantai. Tidak cukup, dia masih melepas semua atribut yang menempel hingga membuat Joanna benar-benar polos dan langsung mencumbui bagian-bagian sensitif Joanna hingga membuatnya semakin terbakar gairah.
Louise berhenti setelah beberapa menit. Senyum tipis itu terukir saat melihat pintu masuk tempat dimana calon anaknya akan menginap.
Joanna sedikit berontak, mencoba merapatkan kakinya karena Louise terlihat sangat buas ketika melihat area itu. Tapi, didepan seekor singa yang kelaparan apakah tenaga kecilnya berpengaruh? Sudah pasti tidak sama sekali.
"Joanna, patuhlah! Bukanlah kau menginginkannya?" tanya Louise. masih membuat Joanna membuka pintunya lebar-lebar dan segera melahapnya.
Darah Joanna semakin terbakar gairah, menggeliat kesana kemari tak beraturan. Persetan dengan menahan teriakan, yang ada Joanna malah semakin bersuara dengan liar.
"Ya, teruslah seperti itu," batin Louise puas.
Louise tidak perduli dengan teriakan itu, tidak menyuruhnya diam atau mengecilkan volume suaranya. Karena itulah tujuan Louise, agar pelayan-pelayan itu mendengarnya. Agar mata-mata yang dikirim itu malu sendiri dengan apa yang di dengarnya.
Louise masih terus memainkan mainannya, tidak berniat berhenti meskipun Joanna bilang 'hentikan' karena yang dia inginkan adalah mengantarkan Joanna ke puncak, membawanya ke puncak, terus menuntunnya ke puncak hingga menggenggamnya bersama-sama menuju puncak.
"Louise, aku-ah!" akhirnya Joanna menyerah dan berteriak.
Joanna meremas rambut Louise kuat-kuat, sementara kakinya menjepit kepala Louise yang masih di bawah sana. Sepertinya, Joanna telah melewati puncak pertamanya.
"Louise, i want more!" pinta Joanna dengan menggigit jari-jari Louise.
"This?" tanya Joanna dengan menyentuh benda terlarang itu.
"Yes, Babe!" jawab Louise.
"But it's so big. Do you want to killing me?"
"Joanna, trust me!"
"But,-"
"Bukankah kau harus melahirkan seorang anak agar William naik ke posisi itu?" kata Louise mengingatkan.
Joanna diam, apa ini cara yang sempat Louise katakan. Cara yang bisa membuatnya segera mengakhiri pernikahannya dengan William?
"Bagaimana?" tanya Louise.
Sialan, apa ini benar. Kenapa Joanna harus menjalani kisah percintaan yang rumit. Siapa Louise sekarang. Kekasihnya, atau kakak ipar angkatnya?
Masa bodoh. Joanna mencintainya, dan Louise juga mencintainya. Kalau mereka sama-sama menginginkannya, maka lakukan saja.
Joanna tidak mengatakan apapun, tapi tangannya membantu Louise melepas atributnya dan melihat benda terlarang yang seolah mengatakan 'hallo' padanya.
"Joanna, i will put it inside. Are you ready?"
"Louise?"
"Joanna, just enjoying it!"
Louise sempat mencium bibir itu, sebelum membiarkan Joanna melihat benda pusaka itu mulai hilang diantara kakinya karena Louise mulai menanamnya.
"Sakit," rintih Joanna. Dia tersentak ketika sepertiga benda itu mulai menerobos masuk dan ada rasa seperti terbakar di bawah sana.
"Sayang, maaf! Aku akan pelan-pelan!" bujuk Louise.
Louise kembali memberikan hidangan pengalihan agar Joanna kembali rileks. Hasilnya, benda itu semakin masuk dan masuk. Joanna meringis, dia menggigit bahu Louise dan mencengkeram pundaknya saat benda itu sepenuhnya tenggelam.
Louise maklum karena ini kali pertama Joanna melakukannya, dia pun kembali mencium Joanna untuk meredakan sakitnya.
"Bertahanlah sebentar, Joanna. Ini akan sangat nikmat sebentar lagi," bisik Louise.
Joanna hanya mengangguk, disaat tangan dan mulut Louise menjelajah, di bawah sana Louise mendiamkan 'adiknya' sebentar, memberikan waktu kepada Joanna untuk mulai terbiasa dengan keberadaan benda asing yang merobek selaput daranya.
Louise mulai memaju mundurkan tubuhnya dengan pelan ketika Joanna mulai terbiasa. Setiap kali Louise menusuk, Joanna akan selalu merintih. Itu membuat Louise semakin bergairah.
"L-louise, akh!" teriak Joanna ketika tusukan itu semakin intens dan dalam. Membakar Joanna dalam rentetan kenikmatan yang tak ada habisnya.
"Bagus, panggil terus namaku. Sangat nyaman bukan?"
Louise terus bergerak dan tidak membiarkan Joanna berhenti berteriak sampai Louise merasakan jepitan yang kuat dari terowongan yang sempit.
"L-louise, it's so hard. It's so deep," pekik Joanna tapi tertahan karena Louise membungkam mulut Joanna dengan mulutnya.
"Sstt!"
Joanna tidak mengerti kenapa Louise membungkam mulutnya, dan tidak ingin mengerti. Karena yang dia inginkan hanyalah menikmati.
Nafasnya semakin memburu setelah puncak keduanya. Louise mencium kening Joanna yang basah oleh keringat.
...***...