
"Hanya meletakkan hadiah saja kenapa sampai harus masuk ke kamarku sih?" dengus Joanna ketika pelayan itu sudah pergi. Joanna merasa sangat kesal, bahkan dia sempat menendang salah satu kotak hadiah berukuran besar yang diletakkan dilantai.
"Tunggu, apa hanya perasaanku. Kenapa kamar ini jadi lebih wangi?" batin Joanna, "Apa iya aroma dari hadiah-hadiah ini? Ya sudahlah, biarkan saja," gumam Joanna sendirian.
Joanna berjalan mendekati ranjangnya. Karena hari sudah semakin larut, Joanna yang sejak pagi sudah kelelahan akhirnya memutuskan untuk tidur. Tentu saja sebelumnya dia juga sudah meninggalkan pesan kepada Okta untuk tidak membiarkan siapapun mengganggunya.
Sebelum naik ke ranjangnya, Joanna menyingkirkan bunga-bunga yang bertaburan diatasnya dan segera membaringkan dirinya tepat di tengah-tengah ranjang. Dia tidak memikirkan William akan tidur dimana. Itu bukan urusannya, terlebih William masih belum pulang juga jadi biarkan saja dia tidur sofa nanti.
CTAK
Lampu terang itu sudah ganti menjadi temaram. Tanpa curiga Joanna segera memejamkan matanya dan tidur. Dia tidak menyadari, bahwa harum yang dia cium adalah aromaterapi yang sengaja dinyalakan oleh sekelompok pelayan tadi.
Bagus jika aromaterapi biasa, masalahnya adalah itu aromaterapi pembangkit gairah. Semakin banyak yang terhirup, semakin banyak pula peningkatkan gairah pada orang yang mencium aromanya.
Beberapa menit berlalu, Joanna yang terpengaruh mulai menunjukkan tanda-tandanya. Dia bergerak kesana-kemari karena kepanasan.
"Ada apa denganku?" tanya Joanna diambang kesadarannya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi perasaan ini biasanya hadir saat Louise menjelajahi setiap bagian dari dirinya.
"Apa aku terlalu merindukannya?" gumam Joanna.
Tak terasa setengah jam berlalu. Joanna semakin tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Kini dia sudah melepaskan luaran piyamanya, menggeliat dan mempertontonkan gesture aneh yang tidak bisa dia kendalikan.
Tepat saat itu, di bawah sana William telah kembali. Dia sempat bertanya pada Okta secara detail apa yang terjadi saat dia tidak ada. Tapi Okta mengatakan tidak ada yang aneh. Pelayan hanya memberikan hadiah dan pergi. Sementara Joanna tidur setelahnya.
Setelah mendengar penjelasan itu William segera masuk ke kamarnya. Dia mengira Joanna sudah tertidur, jadi dia membuka dan kembali menutup pintu kamar itu dengan sangat pelan sebelum akhirnya menguncinya rapat-rapat.
Tapi sepertinya William salah mengira, karena saat ini Joanna sudah sangat menderita karena terlalu banyak menghirup aromaterapi pembangkit gairah.
Di cahaya remang-remang itu, William yang berbalik arah dan bersiap tidur di sofa melihat Joanna terus merubah posisi tidurnya yang terlihat tidak nyaman. Bukan hanya itu, wanita itu bahkan sudah benar-benar membuang baju tidurnya.
"Ada apa dengannya?" batin William ngeri. William berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. Tapi dia mencium sesuatu yang aneh.
"Jangan-jangan ini?" William segera menutup hidungnya rapat-rapat. Mencari-cari sesuatu yang dia yakini penyebab Joanna bertingkah aneh. Benar saja di ujung sana, dia melihat dupa aromaterapi yang sudah terbakar nyaris tak tersisa.
"Sial, kenapa ada barang seperti ini disini?" umpat William.
William pun segera mematikan dupa itu dan membuka jendela kamarnya lebar-lebar sebelum bencana datang menghampirinya. Iya, William mungkin terbebas dari bencana mengerikan, tapi tidak dengan Joanna. Karena dia sudah sepenuhnya terjebak dalam lingkaran penderitaan itu.
"Louise, tolong!" kata Joanna memelas.
"Jo?" panggil William. Dia segera mendekat untuk memeriksanya setelah mendengar Joanna mengigau.
Joanna yang mendengar namanya disebut segera membuka matanya perlahan. Sangat sayu dan sudah salah mengenali orang. Sedangkan nafasnya memburu dan sangat tidak teratur.
"Louise, apa itu kau?" tanya Joanna.
"Ini aku, William!" jawab William.
"Louise, karena kau sudah datang, kenapa tidak segera kemari dan membantuku?" tanya Joanna.
"Jo, buka matamu lebar-lebar. Ini aku, bukan Louise," jawab William.
"Louise, jangan bercanda!" kata Joanna.
"Jo, jangan bilang kau menginginkannya?" tanya William panik.
Joanna yang tidak kunjung mendapatkan pelayanan dari pria yang dia kira Louise pun bangkit. Dan memeluk William dengan erat, hingga William bisa merasakan benda kenyal itu menempel di perut bagian bawahnya.
"Joanna, sadarlah! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya William.
Joanna tidak menjawab, tangannya mulai meraba-raba dada William yang masih terbungkus kemeja.
William mencoba menahan tangan Joanna sebelum juniornya terbangun. William membalikkan tubuhnya, berencana untuk mengikat Joanna atau semacamnya tapi Joanna terus menyerang dan memeluk William. Saat ini mereka bahkan sudah tidak ada jarak diantara mereka.
"Joanna, apa kau berencana membunuhku?" pekik William.
William semakin bergidik ngeri, Louise akan membunuhnya jika tahu hal semacam ini terjadi.
Tapi Joanna semakin gerah, dia mencoba menurunkan pakaian dalamnya sendiri yang sudah melorot. William tak tinggal diam, dia segera menaikkan kembali pakaian itu selagi kewarasannya masih terjaga. Sialnya, pegangan tangannya untuk Joanna terlepas.
Hal itu segera dimanfaatkan Joanna untuk mencium bibir William yang sudah sangat dekat dengannya. William bukannya tidak menolak, dia mendorong Joanna hingga terhempas ke ranjang untuk menghentikan ciumannya. Tapi Joanna menariknya bersamanya dan semakin liar menjelajahi bibir William. Bau harum Joanna akhirnya tercium juga oleh William. Aroma wanita yang seksi, masih ada rabaan Joanna di dadanya dan ciuman Joanna menyerang kewarasan William.
"Damn it, apa aku sedang diperkosa seorang wanita?" batin William.
.
.
.
Joanna membuka matanya saat mendengar suara ayam berkokok. Merentangkan kedua tangannya dengan leluasa dan menghirup udara sepuasnya. Entah kenapa dia merasa sangat nyaman pagi ini.
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tapi tidak menemukan William disudut manapun.
"Apa dia membiarkanku sendirian di malam pengantin? Ah, sungguh menyebalkan. Seandainya Louise yang disini mungkin akan lebih menyenangkan," gerutu Joanna. Lalu menggerakkan kaki-kakinya karena geli akan pikiran liarnya.
"Ah," rintih Joanna.
Dia memegangi area sensitifnya karena sedikit nyeri. Sialnya, dia malah merasakan perih di daerah yang lain ketika membuka mulutnya.
Joanna pun memegangi area intinya dengan satu tangan dan memegang bibirnya dengan tangan yang lain.
Joanna terbengong sebentar, rasa sakit di daerah kewanitaannya terasa sangat familiar. Tapi dia lupa apa itu dan bagaimana. Otak Joanna seperti baru di refresh, tidak bisa berpikir jernih di hari yang cerah ini.
"Ah, sudahlah. Mana mungkin William memperkosaku," batinnya.
Setelah sakitnya mereda, Joanna menggapai cermin kecil yang terletak di laci meja.
Dia memperhatikan dengan seksama salah satu sudut bibirnya yang sedikit luka sehingga meninggalkan sedikit darah yang mengering.
"Kenapa tiba-tiba begini?" katanya penasaran.
Joanna mengecap mulutnya beberapa kali. Sepertinya ada rasa yang aneh. Apa makanan di rumah ini meninggalkan rasa yang berbeda? Tapi seingatnya, dia sudah menggosok giginya sebelum tidur kemarin.
Disaat Joanna masih sibuk memikirkan kejanggalan yang ada padanya, William terlihat keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.
Tubuhnya masih setengah basah, Joanna bisa melihat beberapa buliran air yang belum mengering sepenuhnya di badan tegap nan atletis yang tak kalah dari milik Louise.
"Kau bangun?" tanya William basa-basi.
"Eum," jawab Joanna.
Joanna meletakkan cerminannya, tidak tertarik lagi melihat luka di bibirnya karena ada sesuatu yang lebih menarik sedang tersaji di hadapannya sekarang.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kau tidak berencana memperkosaku kan?" tanya William sambil berjalan mendekati Joanna.
"Will, kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri. Kenapa juga aku harus memeriksamu?" jawab Joanna dengan mengalihkan pandangannya dari William yang sekarang berdiri tepat di sampingnya.
"Padahal aku kira kau mulai tertarik dengan perutku," sindir William.
"Kau ini bicara apa, aku ini wanita yang berpikiran lurus. Mana mungkin aku tergoda dengan kekasih sahabatku. Tidak, tidak, bukan hanya itu. Kau itu calon adik iparku," bela Joanna.
"Wanita berpikiran lurus kepalamu, lalu siapa yang hampir membuatku menodaimu semalam?" rutuk William dalam hati.
William berbalik arah untuk mulai mengeringkan rambutnya. Tapi mulutnya masih sempat mengingatkan Joanna untuk menjaga bicaranya.
"Terserah apa yang kau katakan. Tapi berhentilah menyebutku dengan sebutan calon adik ipar. Disini dan sekarang ini aku ini suamimu," kata William tegas.
Joanna tidak menjawab apapun, yang dikatakan William memang benar. Akan gawat jika sampai mereka keceplosan dan mengatakan sembarangan di hadapan cecunguk menyebalkan itu.
Ngomong-ngomong, mereka tidak sedekat ini sebelumnya, jadi suasananya sedikit canggung. Joanna melirik William sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Tapi kembali melihat William ketika menyadari ada sesuatu yang aneh di pantulan cermin.
"Will, kenapa badanmu merah-merah?" tanya Joanna kaget.
William pun sama kagetnya. Dia lupa menyembunyikan sesuatu yang akan membuatnya berada dalam masalah. Joanna tidak akan mencurigainya telah melakukan tidak senonoh itu bukan?
"Oh, ini-itu anu-" William tergagap.
William belum menemukan alasan apa yang harus ia katakan. Tidak mungkin William mengatakan jika tanda merah itu adalah ulah Joanna semalam kan?
Joanna menarik William untuk menghadap kearahnya, lalu menyentuh badan L-Men William. Memeriksanya dengan jelas, lalu menatap William tanpa mengatakan apapun.
"Sial, kenapa aku bisa ceroboh?Joanna pasti akan sangat marah dan mengadukan semuanya pada Louise. Tidak, aku harus berterus terang. Dengan begitu, mungkin bisa meredakan amarah Joanna nantinya," batin William.
"Jo, maaf!" ucap William pelan.
Joanna melipat kedua tangannya, kemudian melihat kearah lain, "Will, kau brengsek!"
"Jo, dengarkan aku! A-aku sama sekali tidak bermaksud melakukannya. Aku tidak sengaja, serius."
"Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?" tanya Joanna. Dia kembali menatap William yang semakin merasa bersalah. Terlebih ketika melihat luka yang dia tinggalkan di bibir Joanna semalam.
"Kau pasti akan marah jika aku mengatakannya," jawab William penuh sesal.
"Lain kali, bisakah kau memberitahu lebih awal?" pinta Joanna.
"T-tunggu, lain kali?" ulang William tidak mengerti.
"Kemarin, kau tak kunjung pulang meskipun sudah malam. Aku tahu kau pergi mengunjungi Marissa. Tapi, lain kali jika kau ingin menemuinya, bisakah melihat situasinya dulu dan memberitahu aku?" pinta Joanna.
"Eh, kenapa jadi Marissa?" batin William.
Dia membeku di tempatnya berdiri sekarang. Sebenarnya, kemana arah pembicaraan mereka saat ini? Apakah mereka sedang dalam jalan pikiran yang berbeda?
Joanna kembali memeriksa tanda merah di tubuh William, lebih dekat dan lebih jelas, "Aish, aku tak tahu Marissa akan melakukannya sampai begini. Sepertinya dia sangat berpengalaman. Benar kan, Will?"
William menarik nafasnya dalam-dalam. Rupanya dirinya terlalu banyak berpikir, hampir saja dia mengatakan hal yang sebaiknya disimpan saja. Tapi dia tidak mengira Joanna akan sebodoh ini. Baiklah, terserah Joanna saja. Anggap saja Marissa yang melakukannya seperti yang Joanna kira.
"Em, dia sangat hebat. Lalu, bagaimana denganmu?" tanya William.
"Hei, jaga bicaramu! Sudah kubilang aku ini wanita yang berpikiran lurus. Aku tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini," bantah Joanna.
"Kau serius?" tanya William menelisik.
"Apa-apaan wajahmu itu. Sudah kubilang sepertinya tidak pernah," bantah Joanna.
"Tapi Louise itu kan,-" lanjut William dengan menggantung kalimatnya.
Joanna melemparkan sebuah bantal kearah William karena kesal. William sangat senang melihat Joanna yang sepertinya berusaha menutupi sifat liarnya.
"Apa kau tak percaya padaku, Will?" tanya Joanna.
"Baiklah, aku percaya. Tapi, apa kau tidak ingin mencobanya?" tawar William.
"A-apa maksudmu, tolong jangan mengatakan hal ambigu seperti itu. Orang bisa saja salah paham mendengarnya," kata Joanna.
"Maksudku adalah, kalau kau ingin mencobanya. Kau bisa melakukannya disini, kebetulan sisi ini masih kosong," goda William dengan menunjuk bagian perut dan dadanya yang tidak meninggalkan tanda merah.
"Will, kau sejak kapan kau menjadi pria mesum seperti itu?"
Joanna segera membungkus dirinya rapat-rapat. Dia tidak menyangka, setelah berhasil lolos dari buaya yang satunya, kini malah terjebak dalam sangkar buaya yang lainnya. Jika terus begini, tidak tahu sampai kapan dia mampu bertahan hidup.
...***...